
Setelah membubarkan pergelaran musik metal di dalam perut Kana, mereka langsung menuju tempat kosan Kana dulu, tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada orang-orang asing yang terasa sudah seperti keluarga sendiri. Sepanjang perjalanan dari mulut gang hingga masuk ke dalam area kos, tak satu inci pun Arif melepaskan genggaman tangannya dari Kana, seolah Kana ada terbang melayang seperti tisu yang terhempas karena tertiup angin.
Sesampainya di kosan, Kana meminta Arif untuk menunggu sebentar di depan gerbang kosan, bersembunyi. Karena Kana ingin memberikan kejutan untuk para tetangganya yang sudah menjadi saksi hidup bagaimana Arif berusaha mendapatkan Kana, dan Kana berusaha mendorong Arif.
Semua pintu kosan diketuk Kana sambil berlari, kemudian dia menunggu di tengah teras, dimana itu adalah spot yang akan langsung terlihat begitu semua orang membuka pintu kamar kos mereka.
Kana tersenyum dengan sangat lebarnya, merentangkan tangannya begitu semua orang keluar dari kamar mereka.
"Lho, Kana, katanya kamu mau pulkam? Nggak jadi?"
"Iya, kok malah ke sini, ada apa?"
"Lah iya, malah senyum-senyum gitu. Nggak kesurupan, kan?"
"Peluk dong! Peluk, aku kangen!" Pinta Kana seperti anak kecil yang minta dipeluk ibunya.
"Wah, mencurigakan nih."
Meski begitu, para tetangga itu pun mendekat dan memeluk Kana meski saling melempar pandang penuh tanda tanya ada apa gerangan dengan mantan anak kosan itu.
Setelah adegan berpelukan ala Teletubbies selesai, Kana masih saja menampilkan senyum pasta giginya, senyuman yang hampir tidak pernah terlihat oleh para tetangganya karena si Kana kebanyakan galau sebelum memutuskan untuk pulang kampung.
"Kalian nggak tanya kenapa aku kesini?"
"Lah kan udah tadi."
"Oh, iya, lupa. Hehehehe." Kana terkekeh geli sendiri.
"Kana kamu baek-baek aja kan? Kenapa jadi aneh gini deh?"
"Kamu beneran Kana kan? Bukaan Kunti yang lagi nyamar?"
"Ish, mana ada Kunti yang pake cincin nikah kayak aku gini." Kana menunjukkan cincin manis yang melingkar pada jari manis tangan kanannya.
Beuh, tidak perlu ditanya bagaimana hebohnya tim tetangga itu, mereka bahkan sampai saling menutup bibir karena takut kehisterisan mereka membuat warga memanggil pasukan damkar. Mereka sampai mengangkat dan menurunkan tangan Kana bolak balik hanya untuk melihat penampakan cincin itu lebih jelas dari segala sudut pandangan mata.
Heboh mereka bertanya-tanya siapa yang akhirnya berhasil mendapatkan hatinya. Siapa yang akhirnya bisa meluluhkan hatinya, meski mereka hanya punya satu kandidat nama.
"Tebak dong!" ujar Kana di atas angin karena mengira teman-temannya itu tidak akan berpikir kalau dia akhirnya menikah dengan Dokter yang selama ini dia tolak.
"Dokter Arif!" jawaban itu serempak dibunyikan oleh mereka seperti paduan suara.
"Ih, nggak seru. Masa tebakannya sama semua? Nggak ada nama lain memangnya?" Kana pura-pura bersungut.
"Lah memangnya ada lagi selain Pak Dokter yang deketin kamu?"
__ADS_1
"Ya, anggap aja ada gitu, misalnya Reza Rahardian." sahut Kana sambil nyengir.
"Jiaaaaah! Itu mah kamu lagi menghalu."
Kana terkekeh.
"Jadi kamu nikah sama Pak Dokter, kan?"
"Plis banget jangan bilang Pak Dokter ditikung cowok lain. Aku bisa ikut mengsedih loh."
"Iya, aku juga."
"Lho, kok kayaknya kalian pro banget sih ke Dokter Arip?"
"Ya gimana ya, dia baik banget, tulus juga sama kamu, kayaknya sedih aja gitu kalo misalnya kamu malah pilih cowok lain."
"Heeh, pengen aku embat Dokter Arifnya, tapi pasti Dokter Arifnya nggak mau, wong cintanya mentok di kamu kayaknya."
Kana terkekeh. Begitu dengan Arif yang sedari tadi mendengarkan perbincangan perempuan-perempuan itu dari balik gerbang kosan. Ia cukup bersyukur, meski kehidupan istrinya dulu dijalani dengan sulit, setidaknya Kana dikelilingi orang-orang yang tulus padanya.
"Oke, aku panggil dulu suami aku ya." Kana melangkah menuju gerbang, menghilang sebentar, membuat para tetangga rasa saudara itu saling berpegangan tangan, berharap dengan tulus kalau suami yang akan dikenalkan Kana kepada mereka adalah...
"Dokter Arif!" Ah, lagi-lagi mereka heboh berteriak begitu melihat Kana menggandeng Dokter Arif masuk ke dalam. Perempuan-perempuan itu bergerak hendak memeluki Arif saking senangnya, tapi dengan cepat Kana berdiri di depan Arif sambil merentangkan tangan dan kakinya seperti perisai.
"Duh, dulu aja diusir-usir mulu, sekarang dicolek dikit aja kaga boleh."
*
*
*
Tepat satu bulan setelah akad dadakan antara Arif dan Kana terjadi, acara resepsi yang dilakukan di kampung halaman Kana pun berjalan dengan sangat baik tanpa gangguan. Juni juga datang memberikan ucapan selamat yang tulus dan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang Kana dapatkan. Dokter Yoga, Dokter Jodi, Winna dan beberapa dokter lainnya juga ikut datang menghadiri resepsi pernikahan Arif dan Kana.
Kana juga sudah mulai menjalani sesi konsultasi ke psikolog. Syukurnya, Kana yang polos dan jujur-jujur saja membuat setiap sesi konsultasi bejalan tidak alot, dokter Ani, yang menangani Kana pun tidak terlalu sulit membantu Kana karena Kana sungguh mudah untuk bekerja sama.
"Saya ingin cepat sembuh, Dok. Tolong bantu saya, saya harus gimana supaya saya bisa menghilangkan trauma saya?" Itu yang dikatakan Kana ketika kali pertama dia bertemu dengan dokter Ani. Karena keterbukaan Kana dan sikap positifnya, membuat dokter Ani cukup mudah mengarahkan Kana untuk bisa mengatasi rasa takutnya.
Dokter Ani pun cukup terkejut dengan perkembangan Kana yang cukup cepat belajar untuk bisa mengatasi rasa ketakutannya. Biasanya dalam kasus seperti Kana, Dokter Ani membutuhkan waktu tiga sampai empat bulan untuk bisa pasiennya menunjukkan perkembangan kemajuan yang positif. Tapi tidak dengan Kana. Dia cukup pintar mengelola emosinya, dia cukup baik menerima saran dan masukan dokter, sehingga dokter tidak perlu meresepkan obat-obatan apapun.
"Kenapa kamu ingin cepat sembuh?" tanya Dokter Ani saat itu.
"Karena saya ingin menyempurnakan pernikahan saya dengan suami saya, Dok." Begitulah jawaban Kana yang membuatnya selalu positif dalam menjalani sesi konsultasinya.
Sore itu, setelah jadwal sesi konsultasi selesai, Kana langsung kembali ke apartemen, dia menunggu suaminya pulang kerja dengan tidak sabar. Memasak dan membenahi apartemen pun tak bisa mengalihkan penantiannya dari kedatangan sang suami tercinta.
__ADS_1
Ia mengelap meja yang sudah mengilat Kana bahkan bisa melihat pantulan dirinya bahkan bekas jerawatnya juga sampai kelihatan.
Suara pintu dibuka pun akhirnya membuat Kana bergerak menuju pintu menyambut kedatangan suaminya yang baru saja pulang.
Arif langsung memeluk Kana yang sudah merentangkan tangannya di depan Arif. Ia memeluk tubuh Kana dengan erat, tak lupa menghidu dalam-dalam aroma itu. Ah, menenangkan sekali, dengan cara yang sangat ajaib, semua rasa lelahnya hilang, lenyap tak tersisa.
"Mas..."
"Hemm..." Arif masih memeluk Kana, masih menenggelamkan wajahnya pada tengkuk leher Kana.
"Lepas dulu deh peluknya." kata Kana sambil melepaskan diri dari dekapan hangat suaminya.
Meski enggan, dan bingung, karena biasanya, Arif akan terus bergerak dari depan pintu ke kamar dengan Kana yang nemplok seperti cicak pada tubuh Arif.
"Ada apa?" Ia bertanya dengan bingung juga khawatir karena Kana tiba-tiba memintanya melepaskan pelukannya. "Kamu nggak kangen? Aku kangen banget padahal."
"Kangen dong! Kangen banget malah, tapi aku mau praktekkan sesuatu dulu."
"Praktek apaan?"
"Aku mau coba apa yang dokter Ani bilang ke aku, dan caranya aku bisa tau hal itu sudah berhasil atau belum adalah dengan praktek langsung."
"Tentang apa?"
"Coba Mas cium aku."
Arif mematung sejenak. Bukan karena tidak mau, sesungguhnya Arif sudah sangat lapar ingin mencium bahkan menggarap Kana. Tapi dia menahan diri demi kebaikan istrinya. Dia tidak mau memaksakan keegoisannya selama Kana belum dinyatakan siap oleh ahlinya. Jadi, permintaan Kana yang sangat tiba-tiba ini tentu saja memberikan efek kejut yang membekukan sejenak.
"Cium?" Arif menaikkkan kedua alis matanya, bertanya untuk meyakinkan sekali lagi.
"Iya. Dokter Ani bilang, aku sudah bisa mengendalikan ketakutanku dengan baik. Aku juga udah nggak pernah lagi mimpi buruk, aku udah nggak pernah lagi imsonia."
"Insomnia." Arif tak tahan untuk tak mengoreksi.
"Iya itu maksudnya." Kana mengangguk. "Jadi, dokter Ani bilang, aku harus menguji diriku sendiri. Dan ketakutan itu hanya muncul kalau aku merasa terancam. Dan ciuman adalah hal yang membuat ketakutan itu muncul. Jadi, coba Mas cium aku."
"Kamu yakin?" Sekarang Arif yang malah terdengar ragu. Ciuman yang diminta Kana rupanya adalah sebuah tes untuk melihat perkembangan Kana sendiri. Justru sekarang Arif yang takut. Takut, percobaan itu malah membuat Kana kembali masuk dalam lubang ketakutannya.
"Yakin, seratus persen!" Kana mengangguk mantap.
Huh, kenapa sekarang malah Arif yang deg degan?
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~