
Dua minggu berlalu semenjak Kana kena prank dari Jodi yang mengatakan Arif pingsan di rumah sakit, akhirnya Arif bisa mengajukan cutinya selama tiga hari, dan tiga hari itu akan digunakan untuk melancarkan misi balas dendam pada mantan kekasih Kana juga pada sahabat yang telah tega merebut kekasihnya. Kana sudah lebih lihat dalam menggunakan kuas untuk menyapukan make up yang natural pada wajahnya, hingga tidak berlebihan tapi malah mengeluarkan aura cantik pada Kana. Dengan dress, tas juga sandal kekinian yang feminin yang semuanya disponsori oleh Dokter Arif, Kana melangkah masuk ke dalam mobil Arif yang sudah menunggunya di depan gang kosan Kana.
Kang ojek yang ngetem di bibir gang pun tak kuasa untuk tidak melihat dan menggoda Kana dengan siulan dan pertanyaan, "Neng, sendirian?" pertanyaan khas yang kadang membuat wanita-wanita kesalnya sampai ke ubun-ubun.
"Saya dah ada yang tungguin, Kang. Tuh!" Kana menunjuk Dokter Arif yang gagah, ganteng dan bersandar pada pajero hitam yang tengah melambaikan tangan pada Kana. Seketika abang-abang bermulut iseng itu pun beringsut mundur,
Kana segera menghampiri Arif dengan wajah kesal membuat dokter Arif melepaskan kaca matanya.
"Kenapa?" tanya Arif.
"Apa semua laki-laki ganjen, ya, Dok?" tanya Kana dengan bibirnya yang manyun.
"Eh? Maksudnya?"
"Itu tadi, abang-abang ojek disana, pada ngegodain saya. Dikira saya seneng kali digodain kayak gitu." Gerutu Kana membuat Arif tersenyum dan mengacak puncak kepala Kana.
"Dah lah, nggak usah di ambil hati. Lebih baik kamu siapkan mental kamu untuk menghadapi mantan dan sahabatmu itu."
Kana menghela napas kemudian menngangguk.
.
.
.
Dua jam perjalanan dari ibu kota menuju kampung halaman Kana akhirnya sampai tepat di halaman depan rumah orang tua Kana yang sederhana. Suara ban yang beradu dengan jalana yang berkerikil dan suara mesin mobil yang berhenti, membuat pemilik rumah keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang.
"Ibu!" Kana berlari menghampiri ibunya yang sepertinya belum sadar dan belum yakin kalau anak gadis yang tengah memeluknya itu adalah benar anaknya. "Ibu, Kana kangen!"
"Kana?" Ibu melepaskan pelukan mereka. "Ini Kana anakku?" tanya Ibu melihat Kana dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.
"Iya Ibu!"
Begitu yakin bahwa gadis manis di depannya itu memang anaknya setelah memastikan tanda lahir di belakang telinga kiri Kana, barulah wanita paruh baya itu teriak senang memanggil nama suamui juga nama seseorang lagi.
"Bapak! Rudi! Coba lihat ini siapa yang datang!" Saking senangnya dengan kepulangan anak gadisnya, Ibu Ana sampai tidak menyadari seorang pria tampan dan gagah keluar dari dalam mobil dan berdiri tak jauh dari mereka.
Pak Tomo dan Rudi, anak remaja bertubuh tinggi dengan rambut tebal yang keriting.
"Bapak!" Kana pun juga langsung berhambur dalam pelukan pria baruh baya dengan uban yang memenuhi rambutnya.
"Kana?" tanya Pak Tomo.
"Kak Kana?" Rudi pun sama terperangahnya dengan tampilan Kana.
"Ya Allah, pangling sekali, Bapak ngelihat kamu." Pak Tomo menyeka cairan bening yang keluar dari sudut matanya yang keriput, begitu pun dengan Ibu Ana.
"Kalau Mas-nya siapa?" tanya Rudi penuh selidik pada Arif yang sedari tadi tanpa suara melihat adegan haru di depan matanya, hanya senyuman yang terpeta pada wajah.
Seketika, Ibu Ana dan Pak Tomo pun mulai melihat Arif dan kendaraan besar yang terparkir memenuhi halaman rumah.
"Saya Arif, Pak, Bu." Arif memperkenalkan diri dengan sopan sembari mencium punggung tangan Ibu Ana dan Pak Tomo, dan menyalami Rudi yang masih melihatnya dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Siapanya Kak Kana?" tanya Rudi lagi, jelas terdengar nada posesif dari pemuda itu.
"Saya pacar Kana." jawab Arif, yang sukses membuat empat orang di depannya melongo tak percaya.
"Pacar?" Rudi lebih dulu tersadar. Rudi melihat Kana dan Arif bergantian. "Udah nikah, Mas?"
"Eh?"
"Eh, kamu ini gimana sih, Rud, lah wong tadikan katanya pacarnya Kana." Ibu Ana menepuk bahu anak laki-lakinya.
"Ya siapa tau aja, Masnya nipu Kak Kana, ngaku single tapi nggak taunya udah nikah dan punya anak." ujar Rudi yang sukses mendapatkan pukulan di lengannya dari Kana, ia melirik tak enak pada Arif, meski un tak mengerti dengan jawaban Arif yang malah mengaku sebagai pacarnya Kana.
"Benar ini, Nak?" Pak Tomo bertanya pada Kana.
"Eh," Kana melirik Arif yang tersenyum padanya. Kana harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan bapaknya, karena begitu dia mendukung pernyataan Arif, maka dia harus terus bersandiwara. Tapi kalau dia tidak mendukung pernyataan Arif, maka dia akan membuat Arif malu.
"Eh, iya, Pak. Mas Arip pacarnya Kana." jawab Kana takut-takut.
Biasanya Arif selalu kesal ketika dulu Kana sering kali menyebut namanya dengan P, tapi sekarang entah bagaimana prosesnya, ketika Kana menyebut namanya dengan P, ia sama sekali tidak merasakan kekesalan, justru sebaliknya, ia merasa lucu.
Hah! Lucu banget deh gue! Kenapa malah jadi senang dengan jawaban si Curut?
Kana takut-takut melihat bapak, ibu juga adik laki-lakinya itu. Perubahan penampilan Kana dan kedatangan Arif sebagai kekasihnya pasti membuat keluarganya berpikiran yang iya-iya pada Arif dan Kana. Apa lagi begitu Pak Tomo bergerak, mendekati Arif yang tinggi berdiri di depannya, sehingga Pak Tomo harus mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat jelas wajah Arif, membuat jantung Kana nyaris meledak sakit berdebar cukup hebatnya.
"Benar kamu pacar anak saya?" tanya Pak Tomo dengan suaranya yang tegas.
"Benar, Pak." jawab Arif dengan sopan.
"Benar, Pak. Saya single dan hanya Kana kekasih saya." jawab Arif.
"Single?" Pak Tomo memiringkan kepalanya untuk bertanya pada Rudi.
"Maksudnya, masih lajang, Pak. Belum menikah sama." Rudi menjelaskan. Pemuda itu masih setia menatap Arif dengan tatapan tajamnya.
"Oh." Pak Tomo mengangguk-angguk.
Tegang suasana di teras rumah yang sangat sederhana namun asri itu. Kana *******-***** tangannya sendiri, memanjatkan segala doa yang dia hapal di dalam kepalanya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Pak Tomo. "Si Ibu baru saja masak tumis kangkung, ikan asin layang, sambel terasi sama lalapan terong."
Ibu Ana mengangguk cepat.
"Belum, Pak."
"Kalo gitu, ayo kita makan!" Wajah pria paruh baya yang tadinya tegang itu pun seketika melunak, dan langsung berjinjit untuk merangkul pria yang sudah mengaku sebagai kekasih anak gadisnya. Ibu Ana pun seketika tersenyum lembar seperti model iklan pasta gigi. Lalu dua orang itu membawa Arif masuk ke dalam rumah meninggalkan Kana dan Rudi yang bingung di teras.
"Aku masih anaknya Bapak dan Ibu, kan?" tanya Kana pada Rudi.
Rudi hanya menggelengkan kepala, seraya membawakan tas ransel Kakak perempuannya seraya merangkul tubuh mungil Kakaknya.
"Kenapa Bapak sama Ibu jadi begitu?" tanya Kana.
Rudi mendesah berat. "Gara-gara mantannya Kak Kana. Bapak sama Ibu cukup jadi bahan bual-bualan selama sebulan lebih. Banyak yang bilang kalau Bapak dan Ibu terlalu memforsir Kakak untuk kerja di sawah sampe Kakak jadi jelek dan laki-laki nggak mau sama Kakak." jelas Rudi.
__ADS_1
"Orang-orang bilang begitu?" Kana menutup mulutnya. Hatinya teriris mendengar penjelasan Rudi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana orang tuanya pasti sangat sedih dan terpukul dengan pengkhianatan yang dilakukan Rudi juga sahabatnya.
"Sampai akhirnya Ibu bilang, kalau Kakak sekarang kerja di kota, dan nanti pasti akan bisa dapat pacar orang kota yang sayang sama Kakak dan keluarga, yang setia dan nggak akan berkhianat seperti yang dilakukan Mas Danu dan Kak Juni."
"Trus orang-orang bilang apa?"
"Mereka bilang, mana ada orang kota yang mau sama Kakak, lah laki-laki dari kampung sendiri aja nggak mau."
"Kok jahat banget sih!"
"Tapi, Mas Arip tadi, bener kan, pacarnya, Kakak?"
"B-bener lah!"
"Apa dia juga yang bikin Kakak jadi berubah gini?"
Kana mengangguk. "Dokter, eh, Mas Arip orang yang sangat baik, Rud. Dan aku pastikan kok, kalao Mas Arip memang belum nikah."
Rudi mengangguk. "Semoga dia setia, ya, Kak. Nggak banyak gaya kayak Mas Danu."
Kana tersenyum tipis.
***
"Kirain wong kota nggak doyan masakan kampung kayak gini, taunya lahap, ya." kata Ibu Ana senang melihat Arif yang makan dengan lahapnya.
"Saya suka, kok, Bu, masakan seperti ini. Sangat menggugah selera. Dulu almarhumah nenek saya juga sering membuatkan masakan seperti ini, dan Kana juga." jawab Arif setelah selesai mencuci tangan setelah menghabiskan makanannya dengan nikmat. Makan sambil lesehan di lantai dapur yang luas dan terbuka.
"Kana? Kana masak untuk Mas Arip?" tanya Ibu.
"Iya, Bu." jawab Arif sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kok bisa?" tanya Rudi.
"Bisa lah, kan aku memang biasa masak." jawab Kana polos.
"Maksudnya, kok bisa Kakak masak untuk Mas Arif? Masaknya dimana? Dikosan Kakak? Apa dirumahnya Mas Arif."
"Rumahnya Mas Arip, lah, di kosan aku mana ada kompor." jawab Kana benar-benar sejujur itu.
"Rumahnya Mas Arip?" tanya Ibu dan Bapak bersama seperti paduan suara.
"Iya. Kan Kana pembantu di rumahnya Mas Arip."
"Hah?!"
.
.
.
Bersambung ya~
__ADS_1