
Sepertinya bukan hanya kupu-kupu, tapi belalang, kumbang sampai lebah berkumpul dan beterbangan di dalam perut Kana ketika Arif semakin dalam menyatukan bibir mereka dengan dalih alasan untuk tahu perasaan apa yang dirasakan Kana. Masalahnya, Kana tetap tidak tahu bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang tengah dia rasakan saat ini selain menjabarkan kalau di dalam perutnya itu seperti penuh dengan serangga yang berhamburan kesana kemari.
Sentuhan lembut, dan sedikit menuntut karena terbawa suasana dan hasrat yang tiba-tiba dan pasti muncul karena olahraga bibir yang Arif lakukan.
"Mas..." Kana mendorong dada Arif, yang mau tak mau Arif harus melepaskannya dengan enggan.
"Kenapa?" tanya Arif seraya mengusap bibir Kana yang sepertinya akan menjadi candu keduanya.
"Kenapa perut aku semakin aneh, ya, Mas?" tanya Kana dengan nada bingungnya.
Arif menaikkan kedua alis matanya, menahan sekuat tenaga senyum sumeringah ya, bahagia sekali rasanya melihat respon tubuh Kana yang benar-benar sudah menunjukkan kemajuan yang sangat baik.
"Kayaknya aku harus ngomong ke dokter Ani deh." kata Kana kemudian.
"Ngomong apa?"
"Ya ini, kenapa perut aku kayak gini, trus disini," Kana menunjuk tengah dadanya, "jantung aku deg degan. Aku mau tanya ini normal atau enggak. Gitu." Kana hendak melepaskan lingkaran tangan Arif dari pinggangnya, tapi pria itu menahannya.
"Mau kemana?"
"Mau telepon dokter Ani. Dokter Ani bilang aku harus laporan ke dia kalo aku ngerasain rasa-rasa yang aneh." jawab Kana. Ya ampun, ekspresinya juga serius sekali.
"Nggak perlu, sayang." kata Arif.
"Lah kenapa?" Kana bingung. "Aku beneran ngerasain aneh loh Mas ini. Aku nggak pernah soalnya ngerasa kayak gini."
"Coba jelasin ke aku, selain ngerasa diperut kamu banyak kupu-kupu dan jantung kamu yang berdebar, apa lagi yang kamu rasain?"
"Hemmm..." Kana menggerakkan bola matanya ke atas, berpikir dengan sangat serius untuk bisa menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan apa yang dia rasakan. "Apa ya, ini tuh kayak geli-geli gimana gitu, tapi..."
"Tapi?"
"Tapi aku kayak nggak mau udahan. Pengennya terus aja gitu. Kayak ada yang maksa aku untuk minta terus. Itu pertanda bagus nggak ya, Mas?" Lain halnya dengan ekspresi Kana yang bingung dan khawatir kalau apa yang dia rasakan adalah hal negatif, Arif justru ingin sekali menyambar tubuh istrinya itu lalu melemparkannya di atas kasur yang empuk dan menggarapnya habis-habisan.
Kepolosan Kana kadang membuat frustasi, tapi juga menggemaskan disaat yang bersamaan.
"Nggak apa-apa, sayang, itu hal yang wajar kok."
"Kok Mas tau itu hal yang wajar?" Kana mengerutkan kening, kemudian menyipitkan mata, menatap Arif dengan tatapan menyelidik. "Mas dulu gitu ya sama mantannya Mas?"
"Hah?" Nah kan! "M-maksud kamu apa, sayang?" Arif tersenyum canggung.
Duh, kok jadi ke mantan nih?
"Iya itu, Mas kok bisa tau kalo yang aku rasain ini hal yang wajar, apa dulu Mas juga sering cium-cium sama mantannya Mas yang Mbak-mbak cantik itu ya? Trus Mas juga ngerasain apa yang kayak aku bilang tadi, makanya Mas bilang itu wajar? Hayo ngaku!" Kana mulai mencebik, dengan tatapan matanya yang masih penuh selidik.
Astaga, kenapa lucu sekali jadinya ini! Arif bermonolog.
"Yunia maksud kamu?"
"Memang Mas punya mantan ada berapa?"
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Arif malah terkekeh, membuat Kana semakin jengkel dibuatnya.
"Ish, malah ketawa. Nyebelin!"
"Hei, kamu cemburu, ya?"
"Enggak!" Kana memalingkan wajah. Arif menarik dagu Kana dengan jemarinya, tapi Kana berusaha mengelak, oh tapi Arif tetap membuat Kana melihat wajahnya lagi.
"Cemburu juga nggak apa-apa, aku malah seneng banget kalo kamu cemburu." Arif menyunggingkan senyum jahil.
"Nggak usah senyum-senyum gitu deh."
"Mau aku jawab nggak nih pertanyaannya?"
"Nggak usah, nggak penting juga." jawab Kana kemudian. "Lagian, itu kan udah masa lalu. Kalau pun Mas udah ngapa-ngapain sama Mbaknya, ya udah, aku bisa apa?"
Arif sungguh kehilangan kata-katanya. Setiap harinya, Kana selalu saja membuatnya menggila. Kepolosannya, kejujurannya, ketulusannya, bahkan kecemburuannya membuat Arif terkadang hampir tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menerkam Kana.
Arif menarik Kana, mendekapnya, menenggelamkan Kana dalam dada bidangnya, ia mengecupi puncak kepala Kana dengan sayang. Dia eratkan lingkaran tangannya pada tubuh Kana yang mungil.
"Kamu pikir, kenapa Yunia sampai mengkhianatiku?"
"Ya mana aku tau."
"Alasan dia mengkhianatiku sama seperti alasan Danu mengkhianatimu. Dia berselingkuh dengan sahabatku sendiri dengan alasan, Alex selalu ada untuknya, dan Alex nggak pernah ragu untuk... melakukan hal yang lebih dari sekadar berpegangan tangan. Sementara aku, katanya terlalu kolot, terlalu kuno, terlalu banyak aturan." Arif tersenyum masam.
"..."
"Masa?"
Arif mengangguk.
"Kalo kamu heran kenapa aku bisa tau apa yang kamu rasakan itu hal yang wajar, ya karena aku merasakan itu saat kali pertama aku menciummu, walaupun bedanya saat itu, aku sangat menyesali apa yang aku lakukan karena aku merasa aku menyakitimu."
"Jadi... Mas sama mantan Mas belom pernah ngapa-ngapain?"
"Ya, karena memang nggak ada sedikit pun keinginan aku untuk ngapa-ngapain sama dia."
"Trus kok Mas malah maksa cium aku waktu itu?"
"Karena aku terbawa suasana. Aku cemburu, aku nggak terima, aku membayangkan kamu sama laki-laki lain, ah... Rasanya aku bisa menghancurkan apa saja saat itu, makanya, aku nekat, aku nekat melakukan apa pun agar kamu jadi milikku."
Arif mengeratkan lagi dekapannya. "Maaf buat kamu takut saat itu. Maaf aku menyakitimu pasti saat itu."
"Iya, sih, waktu itu Mas Arif nyebelin banget. Rasanya pengen aku pukul pake sapu."
"Trus kenapa nggak kamu pukul?"
"Takut. Takut Mas Arif nuntut aku trus aku dipenjara."
Arif berdecak. Mencium kembali puncak kepala Kana dengan sangat sayang. Ada terbesit kembali rasa bersalahnya. Kata maaf pun tak cukup untuk menghapus kebodohannya kala itu.
__ADS_1
"Kalo kamu mau pukul aku sekarang, nggak apa-apa kok." kata Arif.
"Nggak lah. Sekarang kan udah nggak nyebelin kayak waktu itu."
"Perasaan tadi baru aja bilang aku nyebelin."
"Ya, sekarang mah nyebelinnya beda."
"Bedanya?"
"Sekarang nyebelinnya bikin aku bahagia."
Arif mengangkat wajah Kana, menatap istrinya dengan penuh lope lope. Ia mendekati wajah, mengecup kening, mata, pipi, hidung dan kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Kana. Tangan Arif pun mulai bermain, tidak hanya melingkari pinggang atau menahan tengkuk Kana. Tangan besarnya mulai bergerak, mengelus punggung, pinggang dan bok*ng Kana.
"Mas!" tiba-tiba saja Kana bergerak mundur seraya mendorong dada Arif. Wajahnya jauh lebih bingung.
"Ada apa?"
"Eng.... Itu aku..." Kana terlihat ragu menjelaskannya.
"Itu kamu? Itu apa?"
"Itunya aku lho.... itu..." Kana menunduk sambil menunjuk pada bagian diantara kedua pangkal pahanya.
"Eh... Kenapa?"
"Eng... Kenapa aku merasa seperti itu berkedut, ya?"
Oh my God!!!!
Apa yang harus Arif lakukan sekarang? Kepolosan Kana mengungkapkan semua rasa yang dia rasakan dengan cara yang paling jujur membuat sebuah hasrat semakin bar bar naik kepermukaan dada.
"Itu tandanya kamu..."
"Aku apa Mas? Apa aku bermasalah?" kedua alis mata Kana bergerak naik.
"Kamu sudah siap." jawab Arif dengan senyuman sejuta pesona yang bergelora.
"Siap? Siap untuk?" Sejenak Kana belum klik dengan apa yang dimaksud Arif, tapi kemudian dia sadar sesadar sadarnya. "Apa ini artinya tubuh aku udah siap untuk itu?"
"Apa kamu takut? Apa ada rasa takut sekarang?"
"Aku..."
.
.
.
Bersambung dulu ya ❤️
__ADS_1
Kretekkin jempol dulu nih othor nya 🫰🏼