Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 30


__ADS_3

Yoga dan Jodi tak hentinya tertawa sampai tersedak brokoli dari capcay yang menjadi salah satu menu makan siang di kantin rumah sakit, bahkan tidak peduli dengan tatapan para perawat yang memilih kantin sebagai tempat untuk menikmati waktu istirahat sejenak.


"Rasain!" kata Arif dongkol melihat Jodi yang tersedak dan Yoga menepuk-nepuk punggung kawannya itu. Setelah menceritakan keresahan hati dan jiwanya kepada dua temannya itu yang dia dapat bukannya mendapat solusi malah mendapat ledekan dan gelak tawa yang akhirnya membuat Jodi tersedak.


Arif mendorong piringnya yang masih setengah utuh, sudah tidak bernafsu untuk makan lagi. Pikirannya bingung, hatinya gundah, dan raganya terlalu lemah untuk menanggapi dua temannya.


Dan si Jodi masih sempatnya terkekeh lagi setelah tersedaknya reda.


"Ya lagian lo juga aneh, Rif! Mau ngelamar tapi caranya horor gitu. Masih mending si Kana keluar dari lift cuma langsung ngibrit lari doang, kalo gue jadi Kana, itu mulut lo udah gue sambit pake sandal jepit." kata Jodi menghakimi Arif yang semakin nelangsa.


"Trus gue harus gimana? Gue bener-bener kebawa emosi, dan suasana." Arif berdecak frustasi sambil mengusap wajahnya.


"Ya pepet terus lah, jangan sampe lolos." Timpal Yoga.


"Caranya?" Arif benar-benar dalam mode Lola. Loading lama.


"Nih ya, lo beli lakban, trus lo deketin si Kana, trus lo lakban dia ke badan lo." Jodi menjawab.


"Sialan! Gue serius!"


Lagi-lagi Jodi dan Yoga tertawa. Benar-benar cobaan hidup sekali curhat dengan dua lelaki di depannya itu. Tapi alih-alih pergi dari dua mahkluk menyebalkan bernama sahabat, Arif malah melongsorkan setengah tubuhnya di atas meja kantin.


"Oke, gini, hal pertama yang harus lo lakukan adalah minta maaf, lo nggak usah dulu ngebahas soal perasaan dan ngebet kawin, yang penting lo tunjukin dulu penyesalan lo sampe dia nggak takut lagi deket-deket sama bujangan ngebet kawin kayak lo."


Meski rasanya ingin sekali Arif menjitak kepala Jodi dengan kaki, tapi dia tahan karena kali ini Jodi sudah mulai serius.


"Trus, lo cari tau dimana club tempat dia kerja. Kalo bisa lo temuin pemilik clubnya, dan minta si pemilik club nggak perpanjang masa kerja Kana, ya kalo memang cinta, lo keluarin kocek untuk bayar pinalti kontrak kerjanya."


Arif mengangguk mendengarkan saran kedua dari Yoga.


"Tapi pasti dia marah kalo gue sabotase kerjaannya."


"Ya pasti lah, tapi disitu seninya bro, lo harus berjuang mendapatkan hati dari orang yang udah lo sosor. Hahahahaha!"


Sialan memang teman-temannya ini!


*


*


Setelah jam praktek dan dipastikan tidak ada jadwal operasi hari itu, Arif keluar dari rumah sakit dengan sangat tepat waktu. Bukan untuk pulang, tapi untuk menjalankan sesegera mungkin saran dari Jodi. Ya, meminta maaf.


Ia jalankan mobilnya menuju kosan Kana. Tapi sayangnya, jalanan yang selalu dipadati pengguna jalan membuat perjalanannya terhambat dan mandeg selama satu jam.


Mobilnya berhenti di depan gang, ia mengatur napasnya guna meredakan rasa gugup yang menyerang sekampung. Ini kali pertama Arif merasa gugup untuk menghadapi seorang wanita. Dulu, saat menyukai dan menyatakan perasaannya pada Yunia, ia tidak segugup dan sesalah tingkah ini.


Sepanjang perjalanan yang macet tadi dia gunakan untuk berlatih bicara dan menyusun kalimat permintaan maaf yang natural dan tidak terkesan memaksa. Kata per kata dia pilih yang paling pas untuk menyentuh hati Kana. Dia yakin, permintaan maafnya akan membuat Kana tersentuh.

__ADS_1


Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari Kana hanya mengurung dirinya di dalam kosannya. Tidak membuka tirai jendela bahkan mendadak ijin tidak masuk kerja sebagai pengasuh siang ini.


Ingatan tentang bagaimana kasarnya Arif pagi tadi saat memaksa ******* bibir Kana selalu membuat tubuhnya bereaksi berlebihan. Gemetaran dan keringat dingin. Kana tidak bohong dan tidak mengada ada saat mengatakan dia takut. Ya, dia memang takut.


Alasannya bukan hanya karena sikap Arif yang agresif. Tapi karena apa yang terjadi tadi pagi melempar Kana kepada ingatan masa lalu yang membuatnya pernah hampir kehilangan kehormatannya.


Kana masih ingat ketika ia sedang di sawah beberapa tahun lalu, ketika hari menjelang sore, ketika semua petani sudah meninggalkan ladang, Kana memilih untuk tetap di sawah hanya untuk menikmati kesendiriannya kemudian dua orang orang laki-laki, entah dari mana, yang jelas dua lelaki itu bukan berasal kampung yang sama, mereka tiba-tiba menyeret Kana ke sebuah saung kosong di tengah ladang yang sepi. Kana berontak, memukul, mencakar, menendang, tapi semakin Kana melawan, semakin dua lelaki itu menggila.


Lelaki yang satu membekap mulut Kana, sementara yang satu berusaha melucuti pakaian Kana, seraya berusaha membuka celananya sendiri.


Sekuat apa pun Kana berusaha untuk berteriak dan melawan, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga dua lelaki yang kesetanan. Sampai si lelaki yang sedang berusaha membuka celananya itu lengah, saat itu lah sekuat tenaga yang dia punya Kana menendang alat vital yang sudah terlihat menegang dibalik bahan celana lelaki itu.


Lelaki itu menunduk memegangi burungnya yang berdenyut hebat, melihat temannya yang kesakitan, lelaki yang membekap Kana pun juga ikut lengah, saat itu Kana menggigit kuat tangan lelaki itu sampai Kana yakin gigitannya merobek kulit tangan lelaki itu.


Makian pun keluar dari mulut mereka. Kana tak peduli, ia mencakar mata lelaki yang dia gigit tangannya karena lelaki itu hendak menyentuh Kana lagi. Dan Kana kembali menendang ******** lelaki yang masih berdenyut itu. Dan dengan cara itu akhirnya Kana melarikan diri, tertatih-tatih keluar dari ladang, berteriak meminta bantuan, saat itu lah tiba-tiba Kana mendengar suara. Suara seorang lelaki yang memanggil namanya. Kana menengok, tapi tidak ada siapa pun.


"Kana! Kana! Buka pintunya!" Suara itu semakin jelas disertai sebuah gedoran. Kana kembali tersedot pada masa sekarang, ia mengerjap. Entah sejak kapan dia sudah terlungkup di atas lantai. Pipinya menempel sempurna pada lantai yang dingin, tapi keringat sebesar-besar biji jagung memenuhi keningnya.


"Kana! Saya tau kamu di dalam. Tolong buka pintunya!"


"Lagi di kamar mandi, kali Mas." suara menyahut dari sebelah kosan. Tetangga Kana yang kemarin malam bertemu dengan Arif, kembali menongolkan diri.


"Apa dia lagi keluar ya?"


"Kayaknya enggak deh, tadi pagi-pagi memang keluar, kerja katanya. Tapi trus balik lagi, abis itu nggak keluar-keluar lagi."


"Dobrak aja Mas. Takutnya kenapa-kenapa di dalem." Ujar tetangga yang lainnya.


"Nggak apa-apa, nanti saya ganti rugi." ujar Arif.


"Oh yaudah, nggak masalah kalo gitu, dobrak aja Mas, khawatir juga nih kita-kita."


Arif mengangguk, ia pun mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu dengan menggunakan tubuhnya sendiri.


1...2...3


Tap! Tap! Tap!


Ceklek!


Pintu bergerak terbuka tepat saat Arif dalam pose mendobraknya, hasilnya pria itu pun terjatuh mencium lantai ketika pintu terbuka lebar.


"Akh!"


Tetangga-tetangga yang menyaksikan pun ikut meringis.


"Mbak Kana nggak apa-apa?" tanya tetangga.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok." jawab Kana, meringis tak enak hati melihat Arif yang terjatuh dan tetangga-tetangganya yang berkumpul di depan kamarnya.


"Oalah, Masnya sampe khawatir banget Mbak Kana nggak nyaut-nyaut dari tadi."


"Saya nggak apa-apa." kata Kana memberikan penekanan, seolah jawaban itu juga dia berikan pada Arif yang bangkit sambil mengusap sikunya.


"Yaudah, Mas udah ketemu ya sama Mbak Kananya, kita pamit dulu, jangan berduaan di dalem ya Mbak Mas, biar nggak digrebek."


Arif menipiskan bibir mendengar ucapan terakhir si tetangga sebelum akhirnya tinggalah Arif dan Kana saja di depan kamar itu. Lebih tepatnya, Arif berdiri di depan kamar, sementara Kana berdiri di dalam kamar dengan pintunya yang hanya dia buka setengah, dan Kana berdiri disana memegangi pintu.


"Ada apa Dokter datang?" tanya Kana, enggan melihat wajah Arif.


"Kamu sakit? Kenapa pucat gitu?" Alih-alih menjawab, Arif malah mengajukan pertanyaan lain.


"Enggak, saya cuma kebanyakan tidur."


Implusif Arif mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Kana, tapi secara refleks yang berlebihan, Kana malah menepis tangan Arif dengan sangat kasar.


"Saya udah bilang saya nggak apa-apa. Mendingan sekarang Dokter pulang aja." Kana hendak menutup pintu, tapi Arif menahannya, menggunakan kakinya sebagai penghalang.


"Tunggu, Kana, saya mau bicara sama kamu."


"Bicara apa lagi, Dok?"


"Saya mau minta maaf soal tadi pagi."


"Saya udah bilang, saya udah maafin. Sekarang Dokter bisa pulang aja, kan?"


"Tapi kamu menghindari saya, Kana."


Kana menatap Arif dengan tatapan tak percaya. "Ya, memang saya menghindari Dokter, karena saya takut. Memang apa yang Dokter harapkan dari respon saya?"


"Ya, saya tau, saya udah keterlaluan. Saya menuduh kamu, menghakimi kamu, menyinggung kamu, sampai membuat kamu takut begitu sama saya. Saya sungguh minta maaf, Kana. Tolong, tolong... jangan takut sama saya. Jangan mengabaikan saya." Pinta Arif. Memelas.


Kana menghela napas panjang. Ia memejamkan mata, memalingkan wajahnya dari Arif yang menatapnya sendu.


"Kalo gitu, saya butuh waktu. Karena sekarang saya masih takut."


Penyesalan terbesar Arif adalah disaat dirinya sudah begitu menyadari perasaannya pada Kana, disaat ia ingin menjadi seseorang yang dapat memberikan tempat berlindung dan bersandar, justru ia menjadi seseorang yang membuat perempuan yang dia cintai takut kepadanya.


Ironis.


Tapi, ada satu hal yang tertangkap pada penglihatannya pada sikap Kana, tubuh Kana yang bergetar. Dan entah bisikan dari mana, Arif yakin ketakutan Kana bukan hanya dikarenakan kejadian pagi tadi. Ada sesuatu yang memicu ketakutan Kana menjadi besar.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2