Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 14


__ADS_3

Susah payah Arif menelan makan malamnya yang dibuatkan oleh Kana. Bukan karena rasanya ajaib, tapi karena piktor alias pikiran kotornya masih sesekali merasuki otak Arif. Ia hanya sesekali menyahuti celotehan Kana yang unlimited, seperti tidak ada lelah otot-otot bibir gadis itu untuk bergerak berbicara. Mulai dari hal yang tidak penting sampai hal yang paling tidak penting. Seperti menanyakan apakah Arif pernah melihat seekor cicak BAB?


Setelah selesai makan malam yang cukup menyiksa bagi Arif, karena tubuhnya yang selalu saja panas dingin setiap kali melihat Kana mengangkat kedua tangannya untuk mengikat rambutnya agar tidak menganggu pekerjaannya, atau ketika Kana mengangkat kedua tangannya untuk memasukkan piring-piring kering ke dalam lemari kitchen set. Ia benar-benar tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya juga jantungnya yang berdebar-debar seperti menunggu hasil sidang desertasi.


"Pak... eh, Dok, saya ijin pamit pulang, ya." kata Kana seraya melepaskan apron dari tubuhnya.


Semakin jadi lah rasa panas dingin menjalar pada tubuhnya.


Kalau begini ceritanya, gue nggak bisa nih ngikutin sarannya Yoga dan Jodi untuk minta Kana tinggal di sini. Bisa bahaya!


"Iya. Selamat malam." kata Arif sambil berlalu menuju kamarnya.


Kana sedikit merasakan sedih tak kala Arif menanggapinya dengan datar. Bahkan selama makan malam tadi, Arif tidak banyak bicara, malah lebih banyak menghindari tatapan mata Kana. Ia juga tidak terlalu merespon pertanyaan-pertanyaan Kana.


Si Pak Dokter kenapa, ya? Apa jangan-jangan udah nyesel ya ngebayarin aku ini-itu, mungkin baru cek rekeningnya kalo ternyata tabungannya habis gara-gara aku? Keluh Kana dalam hatinya yang mendadak sendu.


Padahal, dia sudah sekuat tenaga untuk menepis perasaan-perasaan yang tiba-tiba saja mampir dalam hatinya. Sebuah rasa haru juga sangat bersyukur karena mempunyai majikan yang begitu baik, dan juga sebuah rasa suka yang menggelitik perutnya setiap kali Arif melihatnya dengan tatapan takjub dengan perubahan penampilan dirinya. Bahkan ketika Arif bersandiwara di depan mantan dengan memanggil Kana dengan sebutan 'sayang', Kana dapat merasakan bagaimana sesuatu berdesir dalam setiap pembuluh darahnya. Tatapan intens dan dalam yang diberikan Arif, bahkan sentuhan tangan pria itu dipinggangnya tadi membuat organ-organ dalam tubuh Kana mendadak joget dangdut.


Dengan langkah gontai, Kana memadamkan kobaran dalam hatinya, mengambil semua kantong belanjaan, dan berjalan menuju pintu keluar.


Tau diri, Kana! Siapa kamu dan siapa Pak Dokter. Kalian bagaikan langit dan kubangan air becek. Pak Dokter penuh dengan bintang yang bercahaya, sementara aku seperti kubangan air yang diinjak-injak.


"Saya antar." Suara Arif menghentikan langkah gontai dan tatapan sendu Kana. Pria itu sudah mengenakan jaket hitam, dan membawa jaket hitam lainnya yang kemudian diberikannya pada Kana.


"Pakai ini, sudah malam." kata Arif, sambil berlalu lebih dulu keluar dari apartemennya.


Kana menguatkan dirinya agar tidak terlampau senang dengan perhatian yang diberikan oleh majikannya.


***


Keesokan paginya, Kana sudah tiba di apartemen Arif, seperti janjinya bahwa ia akan datang lebih pagi. Dan semalaman dia sudah belajar untuk menyapukan make up dengan kuas dan sponge yang sudah dibelikan. Trial dan eror tidak membuat Kana putus asa, ia sungguh mempraktekan semua yang diajarkan Sis Jena, hingga sejak subuh ini, dia sudah lebih baik dalam mentap-tap kan cushion pada wajahnya agar terlihat lebih natural dan tidak ketebalan, begitu pun ketika ia menyapukan bedak, dan blush on.


Ia ingin buru-buru menunjukkan hasil belajarnya pada Arif, tapi sayangnya begitu sampai di apartemen, tempat itu masih gelap. Sepertinya Arif masih tidur. Lalu, secarik kertas berwarna kuning menempel pada pintu kulkas, dilihatnya kertas itu, tertera tulisan tangan Arif khas tulisan tangan dokter yang nyaris tidak bisa dibaca oleh Kana.


Tapi akhirnya dengan usaha keras yang tak sia-sia, Kana bisa menerjemahkan serentetan kalimat yang seperti ditulis dengan huruf yang tertera pada benda-benda pusaka.


*Saya ada operasi mendadak\, jadi tolong kamu antarkan nanti bekal makan siang saya.*


Satu kalimat singkat yang mampu membuat bibir Kana menyunggingkan senyum manis dengan hati yang berdebar.


***


"Gimana hasil make over Kana kemaren? Berhasil?" tanya Jodi sambil menyeruput kopi pahit untuk membuat matanya melotot setelah melakukan operasi panjang yang melelahkan.

__ADS_1


Sama halnya dengan Arif, dia juga menyesap kopi instannya sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya yang tinggi. sepertinya dia membutuhkan aroma Kana saat ini juga agar dirinya masih tetap waras untuk menjalankan jadwal operasi dua jam lagi.


"Berhasil." jawab Arif sambil memejamkan matanya. Kembali teringat dengan penampilan Kana ketika menyiapkan makan malam semalam di apartemennya.


"Jiaaah mulai senyum-senyum nih." Goda Jodi sambil tertawa.


Arif segera membuka matanya, dia sendiri tidak menyadari kalau sembari membayangkan Kana, rupanya bibirnya juga ikut menyulam senyuman pada wajah letihnya.


"Kena karma kan, lo."


"Karma apa?" Arif pura-pura amnesia.


"Nggak usah pura-pura lugu deh lo. Siapa yang waktu itu bilang nggak akan suka sama Kana? Dih, taunya sekarang malah senyum-senyum sendiri."


"Eh, gue senyum-senyum juga bukan karena kepikiran si Kana, ya, tapi karena operasi rumit tadi berhasil, pasien tertolong dan wajah-wajah penuh syukur dari keluarga itu yang ngebuat gue senyum-senyum. Bukan karena mikirin Kana yang semalem manis banget pake apron, rambut dicepol asal, dan-" Arif tidak lagi meneruskan kalimatnya begitu menyadari kebodohannya karena sudah keceplosan sendiri sampai membuat Jodi tertawa meledeknya.


"Gue jadi penasaran kayak gimana hasil make overnya. Terakhir ngelihat dia pas mukanya belom dapet perawatan dari si Yoga. Abis itu belom lihat lagi gue."


Mendengar bagaimana Arif begitu ingin melihat Kana yang telah berubah total, membuat Arif tidak rela. Entah atas dasar apa Arif harus merasa tidak rela. Pacar bukan. Suami apa lagi. Gebetan juga bukan. Dia cuma majikan yang nggak punyak hak untuk melarang orang lain menyukai ARTnya, atau melarang ARTnya menyukai orang lain.


Tapi tetap saja, secuil rasa tidak suka itu membuatnya gusar dengan angan-angan Jodi ingin bertemu dengan Kana. Insting melindungi Kana dari godaan dan rayuan maut si dokter playboy cap golok itu membuat Arif khawatir, takut Kana yang sepolos kertas HVS harus ternoda oleh kepiawaian Jodi untuk menggaet wanita.


"Nggak usah macem-macem lo, Jod. Si Kana itu masih suci, masih polos, jangan sampe lo godain dan terjerat rayuan gombal lo."


"Dokter Arip cemburu ya?" Jodi menaik-naikkan kedua alis matanya, menggoda gengsi rekan sekaligus sahabatnya itu.


"Siapa yang cemburu, sih? Biar gimana juga, keselamatan si Kana itu adalah tanggung jawab gue selaku majikannya."


"Oh majikan." Jodi sok memahami ucapan Arif. "Berarti kalo gue mau pedekate sama Kana, gue harus ijin dulu dong sama lo?"


"Mau ngapain lo pedekate segala sama Kana?" Wajah Arif seketika tegang.


"Ya untuk mengenal Kana lebih jauh, dan dekat di hati lah."


"Nggak usah aneh-aneh dah lo, Jod. Anak orang tuh, nggak usah lo main-mainin."


"Dih, siapa yang mau main-mainin. Sejujurnya, gue memang udah menaruh perhatian pas pertama kali ketemu Kana, sih. Berhubung lo cuma menganggapnya ART dan lo majikan yang cuma bertanggung jawab atas keselamatannya, boleh dong kalo gue deketin Kana, mana tau dia jodoh gue."


Sumpah demi masa depannya yang belum jelas siapa jodohnya, Arif sangat melempar Jodi dengan seprangkat alat tensi darah. Tapi, dia juga tidak mempunyai alasan untuk melakukannya.


Entah dia tidak rela karena tahu Jodi hanya seorang playboy kawakan atau tidak rela karena jauh dalam lubuk hatinya dia...


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Masuk!" Arif mengalihkan tatapan malasnya dari Jodi, dan menegakkan tubuhnya, begitu pintu terbuka, Arif sudah bisa tahu siapa gerangan yang datang dari aroma yang seketika menyeruak masuk memenuhi ruang dokter bedah itu.


"Selamat siang, Dok." Kana datang, dengan memakai celana panjang, kaus yang dilapisi sweater kebesaran, tas selempang yang membelah sesuatu pada dadanya, lengkap dengan rambut panjangnnya yan diikat asal. "Eh, ada Dokter Jodi juga." Kana tersenyum sopan.


"Wah, Kana, kan? Wah, saya sampai pangling loh, kamu beda banget dari terakhir sebelum perawatan sama Yoga." Puji Jodi dengan tulus.


"Heheh, makasi Dok, ini semua berkat Dokter Arif yang udah banyak bantu saya." Kana tersenyum pada Dokter Arif seraya meletakkan kotak bekal makan siang Arif di atas meja.


"Saya yakin sih, mantan kamu itu pasti bakalan ngemis-ngemis minta balikan sama kamu." Lanjut Jodi. "Omong-omong, kalo mantan kamu minta balikan, gimana, Kan? Kamu mau terima nggak?"


"Enggak lah, ngapain! Dia udah jahat sama saya, khianatin saya dan nikah siri sama sahabat saya sendiri. Kayak nggak ada cowok lain aja." kata Kana kini jauh lebih percaya diri.


Arif cukup senang melihat Kana yang mulai menunjukkan kepercayaan dirinya.


"Bagus!" Jodi mengacungkan dua ibu jarinya. "Oh, ya, Kan, kalo saya libur, kamu mau nggak kalo saya ajak kamu jalan-jalan. Itung-itung saya akan ajarin kamu cara menaklukkan hati buaya kayak mantan kamu trus kalo udah takluk, kamu depak deh."


"Emang Dokter tahu caranya?" tanya Kana lugu.


"Bukan tau lagi, dia mah ahlinya kalo soal menaklukkan hati seseorang, trus ditinggalin deh." Cibir Arif. Ia merasa itu adalah kesempatan untuk Arif memberikan pesan tersirat pada Kana untuk tidak terperangkap rayuan dan pujian Jodi untuk nantinya mau diajakn jalan berdua dengan si buaya darat itu.


"Oh kalo gitu boleh juga tuh Dok saya belajar sama Dokter, saya juga nggak tau nanti gimana harus bersikap di depan Mas... ehm, mantan saya. Saya sih pengennya langsung cakar aja mukanya, tapi kata Dokter Arif saya harus balas dendam yang elegan."


"Nah, pas banget. Saya bisa ajarin kamu secara rinci dan nunjukin gimana parkteknya langsung."


"Oke, deh, Dok, saya mau!" kata Kana dengan kobaran semangat terpancar pada kedua matanya.


"Eh! Eh! Siapa yang ngasih ijin kamu jalan-jalan?" Arif segera memotong dan menyiramkan air dingin pada kobaran semangat Kana untuk belajar menjadi seorang playgirl.


Jodi mulai senyum-senyum penuh arti melihat bagaimana perubahan ekspresi Arif yang sangat tidak setuju dengan usul Jodi apa lagi Kana terlihat iya-iya saja.


"Tapi Dok, saya kan harus elegan katanya."


"Nggak perlu sama Jodi, saya juga bisa ngajarin kamu." Tukas Arif, melemparkan tatapan sebal pada Jodi yang kini menutup bibirnya dengan masker hijau.


"Oh gitu Dok?" Kana membulatkan kedua matanya. Kedua mata yang indah yang seketika meluruhkan semua rasa letih dan penat kepalanya.


Jodi sebagai pakar percintaan langsung peka dengan setruman yang merambat di udara diantar dua orang itu.


"Duh, gue mau istirahat dulu lah. Selamat beristri, eh, beristirahat maksudnya. Bye, Kana. Nanti kapan-kapan kita jalan-jalannya deh, kalau udah diijinin sama Dokter Arip." Jodi segera menyeret tubuhnya keluar dari ruangan Arif sebelum pulpen lainnya mendarat pada jidatnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2