
"Dokter?" Kana terperangah melihat bagaimana Arif dengan ekspresi dingin mengangkat tubuh Kana, menggendongnya dengan mudah dan membawa Kana keluar dari club.
Arif diam seribu bahasa walau pun Kana memintanya untuk menurunkan tubuhnya, sampai mereka benar-benar berada di luar bangunan itu.
Tanpa banyak bicara, Arif menyuruh Kana masuk ke dalam mobilnya.
"Eh, kita mau kemana, Dok?" tanya Kana heran. "Saya masih harus balik kerja, Dok!"
Tapi Arif diam saja. Ia malah menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat begitu saja.
"Dokter! Dokter nggak bisa bawa saya pergi gitu aja! Nanti saya kena tegur bos kalo pergi gitu aja di jam kerja! Berhenti Dok! Dokter! Dokter Arif!"
"Kamu nggak akan kena tegur." jawab Arif datar. "Karena kamu udah nggak kerja lagi di tempat itu."
"Maksudnya? Tunggu, jangan bilang saya dipecat gara-gara tadi?"
"Kamu nggak dipecat, tapi saya yang minta ke atasan kamu untuk nggak lagi mempekerjakan kamu di tempat itu."
"Apa? Mana bisa begitu!"
"Bisa. Buktinya ini bisa."
"Tapi gimana sama gaji saya? Sisa kontrak kerja saya?"
"Semuanya udah saya handle, kamu nggak usah pusing."
"Hah?!" Kana melotot. "Nggak bisa gitu dong, Dok. Itu kan kerjaan saya, mana bisa Dokter semau-maunya begitu sama apa yang udah jadi kerjaan saya!" Omel Kana.
"Berenti Dok! Saya harus balik ke sana lagi." Kana meminta, tapi tidak direspon oleh Arif. "Berenti Dok, atau saya akan lompat."
"Jangan bikin drama, Kana!" Ujar Arif, dingin. "Gigi saya sepertinya patah, dan gusi saya sepertinya ada yang berdarah gara-gara tadi, jadi saya minta kamu nurut dan nggak banyak drama. Kita bicara di rumah nanti." Tegas Arif.
Satu jam kemudian, mereka sampai di apartemen Arif. Suasana temaram seketika terang benderang begitu Arif menyalakan sakelar lampu. Kondisi apartemen itu tidak serapih biasanya. Kana bisa melihat bagaimana Arif tidak sempat membenahi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Arif langsung menuju dapur, mengambil segelas air dengan campuran garam untuk dia jadikan kumur-kumur di atas wastafel. Sebenarnya, Kana gatal sekali ingin sekali membereskan kekacauan apartemen itu. Tapi dia harus manahannya, ada hal yang lebih penting untuk dibahas dari pada membereskan apartement.
"Saya bayar denda dan pinalti untuk kamu, jadi, kamu nggak perlu lagi balik kerja disana." Arif membuka omongan, karena melihat sepertinya Kana memilih untuk menutup mulutnya.
Dan pernyataan Arif mampu membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan tak mengerti.
"Tapi kenapa? Kenapa Dokter harus membuat saya kehilangan pekerjaan saya?"
"Seseorang memukulmu, lalu sekarang saya menyaksikan sendiri bagaimana kamu dilecehkan orang mabuk disana. Lalu apa yang harus saya lakukan? Diam saja, begitu? Sementara keluarga kamu taunya saya adalah calon suamimu, apa kata keluargamu jika saya malah membiarkan calon istri saya bekerja di club sebagai cleaning services?"
Seperti ada yang mencubit hati Kana. Kenapa ya, rasanya kok sedih mendengar alasan Arif adalah semata-mata karena janjinya dan sandiwara mereka di depan keluarga Kana?
"Keluarga saya nggak perlu tau saya kerja dimana dan apa yang saya kerjakan." jawab Kana, seraya memalingkan wajahnya dari wajah Arif yang terdapat luka. Jika dia tidak memalingkan wajahnya, dia takut akan mengambil kotak obat dan mengobati luka itu, sementara dirinya sekarang sedang dalam mode ngambek.
Arif menghela napas panjang. Mengatur emosinya, mengontrolnya agar tidak lepas dan meledak. Ia tahu, sikap Kana yang membatasi diri diawali karena kebodohan Arif sendiri.
"Kana," Ucap Arif jauh lebih tenang. "Saya tau saya sudah membuat kesalahan, saya membuat kamu takut, saya mencemari rasa percaya kamu terhadap saya. Saya mengakui kebodohan saya yang telah gegabah dan menyinggung perasaan kamu. Tapi, tidak ada sedikit pun niat saya untuk menyakiti kamu. Sebaliknya, saya ingin menjadi seseorang dimana kamu bisa merasa aman dan nyaman. Bukan merasa takut."
Kana kehilangan kata-kata. Ia ingin sekali menghambur memeluk Arif, menumpahkan segala kegundahan, air mata dan menceritakan semua ketakutan yang dia pendam selama ini sendirian. Tapi, kenyataan alasan Arif melakukan semua kebaikan itu hanya karena memikirkan omongan keluarganya, membuat hati Kana mencelos. Ia sudah lelah, ia ingin bersandar.
"Apa kamu pikir saya hanya sekadar pencitraan?"
"Memangnya bukan?"
"Apa kamu pikir, permintaan saya pada kamu untuk menikah dengan saya hanya sebuah pencitraan?"
"Bukan, tapi itu adalah sebuah sandiwara yang kita sepakati di depan keluarga saya."
Arif menghela napas panjang. "Kana..."
"Terima kasih Dokter sudah nolongin saya tadi. Besok saya akan cari kerjaan baru yang nggak akan merusak citra Dokter. Saya permisi pulang sekarang." Kana bergerak, berbalik badan dan hendak membuka pintu, tapi kaki panjang Arif telah membawanya lebih cepat mencapai pintu dan menahan pintu itu agar tetap tertutup.
"Apa kamu benar-benar berpikir semua yang saya lakukan hanya karena pencitraan di depan keluarga kamu?"
__ADS_1
"Ya."
"Apa nggak pernah terlintas dalam benakmu kalau bisa jadi saya melakukannya karena saya yang menginginkannya. Karena saya yang memang ingin melindungimu. Karena saya yang ingin menjagamu. Karena saya... jatuh cinta sama kamu."
Kana membeku. Kehilangan seluruh kosa kata dalam otaknya, kedua lututnya lemas tapi dia harus bertahan untuk tetap berdiri tegak sementara tatapan mata Arif menatapnya lekat dan dalam.
Sunyi.
Hanya ada suara detak jantung masing-masing.
Jedag jedug jedag jedug!
"Dokter bercanda!" Akhirnya dua kata itu yang lolos dari bibir Kana. Menolak untuk percaya, dia tidak mau bermimpi terlalu tinggi, dia terlalu takut untuk terjatuh dari mimpinya yang terlampau batas ketinggian.
"Apa saya terlihat seperti bercanda?"
"Tapi... Tapi kenapa? Saya nggak memiliki apa pun, saya nggak cantik, saya..."
"Kamu sempurna. Bagi saya, kamu sempurna." Ujar Arif lembut. Tangan besarnya perlahan meraih tangan Kana, menggenggamnya, meremasnya lembut, menghantarkan rasa hangat dan meyakinkan Kana akan perasaannya yang sudah tidak lagi bisa dia abaikan.
Kehangatan meledak diantara mereka, bunga-bunga seperti bermekaran. Oh, demi apa pun, Kana sungguh ingin percaya dengan kata-kata manis Arif. Sungguh ingin dia percayai bahwa semua kebaikan yang Arif lakukan karena memang pria itu jatuh cinta, seperti apa yang dia utarakan.
Tapi, lagi-lagi pengalaman dan ketakutan dalam hatinya membuatnya terjebak dalam lingkaran yang dinamakan trust issue. Mantan kekasihnya dulu pun juga pernah mengatakan hal yang serupa. Menyanjung Kana bahwa dia adalah satu-satunya perempuan yang dicinta, satu-satunya perempuan yang sempurna untuk menjadi istri. Tapi apa yang terjadi kemudian, Danu menginginkan mencicipi kehormatan Kana lebih dulu sebelum menghalalkannya, dan ketika tujuannya tak tercapai, pengkhianatan pun terjadi.
"Bisakah saya mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kesungguhan saya?"
Hati Arif mencelos begitu ia merasakan Kana melepaskan tangannya dari genggaman Arif.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Kana sebelum pergi meninggalkan Arif dengan perasaannya yang tak menentu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~