
"Boleh saya cium kamu?"
Pertanyaan itu mengundang orkes dangdut menggelar konser di dalam dada Kana.
Dung tak, dung dung tak, dung dung dung tak... Tariiikk maaang!
Mata Kana membulat, jantungnya jedag jedug. Permintaan Arif yang sangat tiba-tiba membuat Kana jadi panas dingin. Masih hangat dipikiran saat pertama kali ciuman pertamanya dicuri paksa oleh Arif waktu itu. Saat itu situasi dan kondisinya sungguh berbeda. Saat itu Arif boro-boro minta ijin, yang ada malah nuduh Kana macem-macem, dan nyosornya juga bikin Kana ketakutan.
Kali ini, dia juga merasa takut, tapi takutnya lain. Kalau sekarang ia takut, tapi juga mau. Mau tapi juga takut. Gimana kalau tubuhnya malah bereaksi berlebihan seperti waktu itu? Gimana kalau ciuman pertama setelah sah ini malah membuat traumanya kembali muncul dan bikin suasana malah jadi tidak nyaman.
"Boleh?" tanya Arif lagi.
Karena Kana tak kunjung memberikan jawaban tapi juga tidak menunjukkan penolakan. Tapi Arif cukup memahami bahasa tubuh Kana. Ia memaklumi. Dirinya pernah membuat Kana merasa takut karena kebodohannya sendiri, wajar jika sekarang meski sudah memaafkan, meski sudah sah, Kana masih membutuhkan sedikit waktu tambahan.
Ia juga ingat saat mengejar Kana ke lift, bagaimana tubuh Kana yang gemetaran setelah dia mencuri paksa ciuman pertama gadis itu.
"Ya udah, nggak apa-apa." Arif tersenyum. Ia mengusap rambut Kana yang tergerai, sebagai gantinya, Arif mengambil kedua tangan Kana dan mengecupnya.
"Maaf, kalau saya pernah bikin kamu takut. Saya janji, saya nggak akan memperlakukan kamu seperti itu lagi."
"Kalo dokter ingkar? Atau kalau misalnya saya yang masih nggak siap-siap, tapi dokter nggak lagi bisa menunggu trus..."
"Kamu bisa pukul saya pake teflon yang biasa kamu pake buat nyeplok telur."
"Ih, KDRT dong!"
Arif tersenyum. "Saya nggak akan ingkar. Laki-laki itu yang dipegang adalah janjinya."
"Tapi banyak laki-laki juga yang ingkar sama janjinya."
"Anggap lah saya bukan seperti kebanyakan laki-laki."
Kana menipiskan bibir.
"Ya udah, istirahat deh, kamu juga pasti capek, besok saya bantu kamu packing ya."
Kana mengangguk.
Arif bergerak hendak turun dari tepi kasur Kana, saat tiba-tiba Kana menahan tangan Arif.
Arif menengok.
"Sebenernya saya...sebenernya saya ijinin kok kalo Dokter cium saya, cuma..."
"Cuma?"
"Cuma saya takut."
"Takut? Kamu masih takut sama saya karena kejadian waktu itu?"
Kana menggeleng. Ia menghindari tatapan mata Arif yang penuh selidik.
"Saya udah nggak takut sama dokter, tapi..." Kana menggantungkan kalimatnya. Ia menggigit bagian dalam bibirnya.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu bisa ceritakan semua yang selama ini kamu simpan sendirian ke saya. Saya suami kamu. Tempat untuk kamu pulang, bersandar dan berkeluh kesah mulai hari ini." ujar Arif seolah tahu dan bisa mendengar dengan jelas isi kepala Kana.
Tiba-tiba Kana memeluk tubuhnya sendiri, ia menghindari tatapan Arif, mengusap tengkuknya dengan gelisah.
"Kana," Arif menuntun dagu Kana dengan jemarinya, hingga mata mereka saling beradu tatap. Pria itu menatap lekat Kana dengan sorotnya yang hangat juga lembut. "Apa pernah terjadi sesuatu sama kamu di masa lalu?"
Pertanyaan itu mengundang cairan bening yang memberikan efek berkaca-kaca pada kedua mata Kana.
Kana memalingkan wajahnya kemudian ia memilih untuk merebahkan dirinya. Dan memunggungi Arif.
Arif menghela napas.
"Kalau itu adalah hal yang membuat kamu terluka, saya minta maaf kalau saya membuka kembali luka itu. Hanya saja, luka kalau nggak diobati bisa menjadi infeksi. Saya nggak akan memaksa kamu untuk memberitahukan luka itu, tapi kamu perlu tahu, kalau kamu nggak bisa mengobati sendiri lukamu, kamu bisa minta tolong bantuan dokter."
Arif mengusap kembali rambut Kana.
Ia hendak turun dari tepi kasur saat suara Kana menghentikan pergerakannya.
"Saya pernah hampir diperk*sa." Satu kalimat itu, kalimat yang selama ini Kana pendam sendiri. Kana tanggulangi sendiri rasa takut dengan segala kenangan buruknya. Dan Kana atasi hadapi sendiri segala mimpi buruknya.
Satu kalimat itu seperti sepanci air panas yang mendidih menyiram Arif. Ekspresi tenang yang sedari tadi tergambar pada wajahnya berubah seketika seperti orang yang kehilangan jiwa.
"Siapa? Siapa pelakunya?" tanya Arif dengan nada suara rendah, menahan segala bentuk emosi dan kemarahan yang membakar dadanya. Terjawab sudah apa yang menjadi penyebab saat itu Kana begitu ketakutan sampai gemetaran di lift. Ada sebuah masa lalu yang membuat wanitanya begitu kesakitan.
"Apa Danu yang..."
"Bukan. Saya nggak tau siapa mereka."
"Mereka?"
"Bajingan!" Umpat Arif dengan suara tertahan. Ia mengepalkan kedua tangan, memukul pahanya sendiri saking emosi jiwa dan raganya.
Kana kemudian menceritakan dengan singkat kejadian yang menimpanya saat dulu itu. Meski tidak melihat Arif, suaminya itu tahu betul bagaimana Kana menahan sekuat tenaga ketakutannya dan tangisnya. Suara Kana bergetar, begitu pun tubuhnya meski Kana menutupinya dengan kain selimut.
"Mas Danu juga pernah minta kami melakukan itu sebelum nikah, tapi saya nolak." kata Kana melanjutkan setelah selesai dengan cerita dua pemuda asing yang pernah melecehkannya.
Yang itu, Arif tahu, Rudi pernah memberitahunya.
"Bajingan!" Ulangnya mengumpat.
"Maaf..."
"Kenapa kamu minta maaf, Kana? Kamu nggak salah apa-apa. Justru saya... Saya merasa menjadi bajingan juga karena pernah melecehkan kamu juga, membuka luka lama kamu, saya bajingan!"
"Enggak!" Kana kembali duduk, kembali melihat suaminya yang menahan kuat emosinya. "Dokter nggak seperti mereka. Dokter salah paham waktu itu, Dokter kebawa emosi. Tapi mereka memang secara sadar mau melecehkan saya."
"Tetap saja apa yang saya lakukan itu nggak dibenarkan."
"Tapi dokter mengakuinya, dokter bertanggung jawab dan sekarang... Dokter suami saya. Saya bercerita bukan untuk membuat Dokter ngerasa kalo Dokter sama kayak orang-orang itu. Dokter beda. Makanya saya minta maaf, karena masa lalu saya, saya takut untuk... untuk melakukan... Itu. Saya butuh waktu untuk benar-benar ngilangin rasa takut saya. Masalahnya, saya nggak tau sampe kapan saya bisa. Maaf kalo saya nggak memenuhi harapan dokter, saya-"
"Kana," Sela Arif dengan cepat. "Bukan salah kamu. Ngerti? Apa yang membuatmu seperti ini bukan salahmu." Arif mengusap wajahnya. Menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya.
"Tapi gimana sama Dokter?"
__ADS_1
"Gimana sama saya?"
"Gimana kalo saya nggak siap-siap, gimana kalo saya nggak bisa hilangin rasa takut ini?" Kini Kana terdengar khawatir membayangkan jika ia tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis suaminya karena ketakutan yang dia rasakan.
"Kita akan buat janji dengan psikolog. Kamu nggak perlu lagi memendamnya sendirian, psikolog akan membantu menyembuhkan kamu dari rasa takut itu."
"Oh ya?" Kana terlihat takjub. "Gimana caranya?"
"Psikolog itu yang tau nanti."
"Pasti harga berobatnya mahal."
Arif menyulam senyum. "Nggak perlu risau soal harga ya, yang penting kamu sembuh."
Kana mengangguk. "Supaya saya bisa melayani Dokter."
Arif menggeleng. "Ini bukan soal melayani dan dilayani, Kana. Tapi ini demi kamu. Bukan demi saya. Hidup dalam bayang-bayang ketakutan semacam itu pasti nggak mudah untukmu selama ini."
Kana hanya meringis. Ia tidak lagi mengingat berapa kali dia harus terjaga karena mimpi buruk. Berapa malam dia lalui tanpa tidur, dan memilih untuk mengalihkan pikirannya dengan bekerja. Entah sudah berapa kali dia berkeringat dingin selama berada ditengah-tengah kerumunan orang.
"Dokter nggak akan tinggalin saya?"
Arif menelengkan kepalanya. "Saya pasti sudah digigit zombie dan berubah jadi zombie kalau saya sampe ninggalin kamu."
"Dokter nggak nyesel nikah sama saya?"
"Nyesel? Saya otak saya pasti eror kalo saya nyesel nikah sama perempuan hebat seperti kamu, Kana."
"Tapi yang lebih cantik dan hebat banyak."
"Memang, tapi cuma kamu yang bikin saya klepek-klepek, gimana dong?"
Kana terkekeh sambil mengusap air matanya. Arif pun ikut tersenyum melihat kembali senyum manis itu pada wajah istrinya.
"Kamu bahagia?" Arif bertanya.
Kana mengangguk. "Otak saya pasti eror kalo saya nggak bahagia." Ujar Kana mengutip ucapan Arif. "Coba aja dokter bayangin, perempuan kampung kayak saya, yang sehari-hari kerjaannya di sawah, bukan berasal dari keluarga berada, punya hutang pula, punya trauma, malah dinikahi sama dokter kota yang mapan, baik, tulus dan dapet bonus ganteng begini, masa iya saya nggak bahagia."
Arif tersenyum lebar, selebar lapangan golf. Ia menarik lembut Kana ke dalam pelukannya. "Apa saya udah bilang kalo saya cinta banget sama kamu?"
"Udah." jawab Kana malu-malu dan deg deg seeer.
"Kalo gitu, setiap hari saya akan bilang itu terus."
"Kalo dokter lupa?"
Arif mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah Kana dan menjawab, "Nggak akan "
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya ~