Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 39


__ADS_3

Makan malam sederhana di rumah makan yang ada di kota dekat dengan desa disponsori oleh dokter Arif untuk menghargai kedatangan dan kesediaan orang-orang untuk datang pada acara akad nikah sederhana dirinya dan Kana. Bagi para jomblowan dan jomblowati tidak disarankan melihat keunyuan dan kemanisan sikap Arif kepada Kana.


Sepanjang makan malam, Arif selalu menggenggam tangan Kana, ketika makan dimana Jodi dan Yoga bisa bernapas lega karena tidak harus melihat Arif yang terus-terusan menggenggam tangan Kana seolah Kana adalah buronan yang akan kabur kalau ada celah secuil saja, tangan Arif malah pindah merangkul pundak, kadang pindah ke pinggang, kadang pindah lagi ke pundak.


Astaga! Jiwa-jiwa para bujangan itu meronta-ronta ingin menjalani taaruf saja supaya tidak pusing mencari jodoh yang Solehah.


Beberapa tamu dekat ibu dan bapak tak hentinya memuji Arif dan Kana, mengatakan bagaimana beruntungnya keluarga mereka mempunyai mantu sebaik Arif. Mereka bersyukur hubungan Kana dan Danu berakhir.


Setelah selesai dengan makan malam, Jodi, Yoga dan Winna pun ikut pamit untuk kembali ke ibu kota. Sementara Arif masih memiliki waktu cuti 1 hari lagi, jadi bisa dia gunakan untuk menginap di rumah keluarga Kana. Masalahnya, Kana. belum siap untuk melakukan kewajiban malam pertamanya. Apalagi, rumah orang tua Kana yang hanya berdindingkan papan triplek, dan kamar Kana yang sempit membuat Kana semakin ragu.


Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, kamar itu dimasuki oleh orang lain, yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Ehm, Dokter yakin mau nginep disini?" tanya Kana ragu-ragu ketika Arif masuk ke dalam kamar Kana setelah mengambil dan memindahkan kopornya dari kamar Rudi ke kamar sang istri.


"Memangnya saya harus nginep dimana? Di hotel yang itu?"


"Jangan!" Kana refleks melotot.


"Hahahaha, bercanda. Ngapain saya ke sana kalau disini lebih nyaman sama... Istri."


Aduhhh terbang....terbang dehhh.


"Tapi kamar saya sempit, kasurnya kecil, dan..."


"Dan?"


"Temboknya nggak kedap suara."


Arif mendadak mengulum senyum, apa lagi melihat bagaimana Kana yang tiba-tiba pipinya bersemu. Ah, lucu sekali.


"Memangnya... kenapa kalo nggak kedap suara?" Suara Arif sengaja dibuat rendah, ia bahkan merendahkan juga tubuhnya untuk melihat lebih jelas wajah imut-imut gemes yang sudah bikin hati, jantung, pankreas dan kawan-kawannya jungkir balik.


"Eng.... Itu... Eng...." Kana benar-benar salah tingkah. Malu, tapi takut, takut tapi malu, ya begitu deh.


"Apa kamu pikir kita akan itu?" tanya Arif, dia cukup dewasa untuk tahu apa yang dipikirkan Kana.


"Orang baru nikah biasanya memang begitu, kan? Malam pertama, katanya."


"Kamu mau?"


"Hah?" Kana melongo.


"Kamu mau?" Arif bertanya ulang, dilengkapi dengan sorot matanya yang tajam menyoroti setiap inci wajah Kana dengan lekat dan bikin meleyot sebadan-badan. Untuk perempuan yang gampang baper memang tidak disarankan untuk melihat tatapan mata Arif yang ini, benar-benar tidak disarankan saudari-saudari.


"Dokter... Mau?" Kana malah balik bertanya.


"Kalo kamu tanya saya, tentu saja saya mau. Bahkan sejak kali pertama saya sentuh bibir ini." Arif menyentuh bibir Kana dengan ibu jarinya, mengusapnya lembut, mengalirkan aliran aneh yang menyengat sekujur tubuh Kana.

__ADS_1


Kalau di flashback ulang, si Pak Dokter bahkan udah merasa tegang tidak karuan sejak kali pertama Kana make over dan masak makan malam di apartemennya, kali pertama Arif berfantasi liar bagaimana jika Kana hanya memakai apron. Seperti saat Rose hanya memakai kalung untuk dilukis oleh Jack. Ah, harusnya dia mewujudkan fantasinya itu sekarang dibalik dinding-dinding yang tak kedap suara ini?


"Saya...."


"Jujur, saya bahkan bisa saja melakukannya sekarang juga, tapi saya nggak mau kamu beranggapan hal itu dilakukan karena semata-mata itu adalah kewajiban kamu." ujar Arif sambil menuntun Kana duduk di pinggir ranjang, sementara dirinya berlutut di depan Kana, menggenggam tangan Kana di dalam tangan besarnya yang hangat.


"Karena itu juga kewajiban saya, hak saya dan hak kamu. Jadi, saat kita akan melakukannya, saya nggak mau kamu atau saya merasa tertekan apa lagi terpaksa. Saya nggak akan merasa tertekan apa lagi terpaksa melakukannya dengan kamu. Tapi, hal itu lain bagi perempuan. Kata orang, kali pertama untuk perempuan akan terasa kurang nyaman. Jadi, kalau memang kamu belum siap, katakan saja."


"Trus Dokter akan menunggu?"


"Engga, saya akan terjun dari tebing."


"Hah?!"


"Hahahaha! Ya nggak lah. Tentu aja saya akan menunggu kamu siap dan ikhlas untuk memberikan dan merelakannya ke saya." Senyum tulus dan tatapan hangat sungguh menggetarkan jiwa Kana. Entah kesabaran macam apa yang sudah dia lakukan sepanjang hidupnya bisa diberikan rejeki suami seperti Arif.


Kana membalas senyuman Arif.


"Saya memang belum siap, Dok. Maaf."


"Hei, nggak perlu minta maaf. Kita punya waktu seumur hidup, nggak harus melakukannya pada malam pertama pernikahan, kan?" Arif tersenyum lebar. "Lagi pula, seperti katamu, dinding disini nggak kedap suara." Arif mengedipkan sebelah matanya.


DUAR! DUAR! Siapa yang ngeledakkin kembang api di dalam jantungnya Kana? Siapa?!


Malam semakin larut, Kana masih duduk di pinggir kasur menunggu suaminya selesai mandi, sementara dirinya sudah lebih dulu mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, kaos dan celana pendek selutut. Dia sudah bolak-balik menata kasurnya yang sempit agar nanti bisa nyaman untuk Arif tempati.


"Apa ini?" tanya Arif.


"Karpet." jawab Kana sesuai dengan kenyataan yang ada.


"Maksud saya, untuk apa?"


"Tidur."


Arif menipiskan bibir. Ia lupa, terkadang istrinya yang polos itu bisa memberikan jawaban yang begitu logis.


"Saya tau, Kana. Tapi untuk apa? Siapa yang tidur di lantai? Saya? Apa kamu nggak mau tidur seranjang sama saya?"


"Bukan Dokter, tapi saya yang tidur di karpet." jawab Kana dengan ekspresi seriusnya.


"Hah?" Arif kembali loading. "Kamu yang tidur di karpet? Dan saya di atas ranjang?"


"Iya. Dokter pasti capek banget hari ini, kan, jadi harus tidur yang nyaman. Kasur saya memang nggak seempuk kasurnya Dokter di apartemen, tapi lebih baik lah dari pada karpet. Kalo saya udah biasa tidur begini. Di kosan yang dulu juga nggak ada kasurnya." jawab Kana dengan penjelasan yang semakin membuat Arif mengalami roaming.


"Kana..."


"Iya?"

__ADS_1


"Kita tadi sudah ijab qobul, kan, ya?"


"Iya, udah. Disaksikan sama Pak RT juga."


"Berarti kita sudah sah suami istri, kan, ya?"


"Kata penghulu sih gitu."


"Kalo gitu, apa pernah kamu lihat, pasangan suami istri yang baru nikah, tidur nggak seranjang? Atau apa pernah kamu lihat ada suami yang enak-enakkan tidur di atas kasur sementara istri tercintanya tidur beralaskan karpet?"


"Sejauh ini saya nggak pernah lihat, Dok, nggak pernah juga lah periksain pasangan suami istri tidurnya gimana. Apa lagi ngintip pasangan suami istri yang baru nikah."


Arif menepuk jidatnya. Apa lagi melihat Kana yang terlihat tidak ada yang salah dengan jawabannya. Karena memang begitu. Mana ada orang yang ngintipin suami istri tidurnya gimana? Aneh, kan? Yang ada dianggap tidak sopan.


"Maksud saya, nggak ada suami istri yang baru nikah tidurnya nggak seranjang." Arif menjelaskan dengan sabar.


"Tapi kasurnya nggak muat untuk ditempati berdua, Dok."


Arif menghela napas melihat kasur Kana yang memang tidak cukup untuk mereka tempati berdua. Kana cukup logis untuk hal-hal semacam ini. Kenapa kemarin-kemarin pikiran gadis itu justru lebih rumit. Huft!


"Udah nggak apa-apa, Dok, saya sama sekali nggak masalah tidur di lantai. Super!" Pakai Segal menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V segala di depan wajah Arif.


Arif memang tidak mengharapkan akan adanya malam bergelora malam pertama mereka, karena situasi dan kondisi memang tidak memungkinkan, tapi tidak begini juga.


"Kalau gitu, lebih pantas kalo saya yang tidur di lantai, kamu yang di kasur dong. Masa saya ngebiarin istri saya di lantai, sementara saya di kasur."


"Memang nggak boleh ya kalo kayak gitu?"


"Ya... Boleh saja sih, tapi nggak pantes aja. Apa lagi saya sehat-sehat saja."


"Tapi kan pasti Dokter capek. Nggak mungkin saya biarin Dokter tidur di alas karpet."


"Tapi saya-"


"Udah tidur aja, Dok. Nggak apa-apa."


"Masalahnya saya yang nggak nggak apa-apa. Saya maunya tidur sambil peluk kamu."


"Hah?"


.


.


.


Bersambung ya kawand-kawand 🫰🏼

__ADS_1


__ADS_2