
Setelah selesai makan siang bersama, akhirnya kedua sahabat yang sudah lama tidak saling bersua. Sedikit ada rasa canggung dan tidak seperti biasanya lagi, sehingga awal pembicaraan mereka juga masih terasa hambar.
"Ris, kenapa tadi kamu berada di tempat itu dan membawa tas ransel? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu sedang kabur dari rumah?" cecar Steven.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya, Marisa hanya bisa menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di dinding.
"Aku diusir oleh suami dan mertuaku, Stev. Karena diam-diam suamiku ternyata memiliki wanita lain, dan mereka sudah sangat lama bermain api dibelakang ku." jelas Marisa.
Steven pun langsung terkejut saat mendengar jawaban dari sahabatnya. Ternyata benar, jika sahabatnya sudah memiliki kekasih atau lebih tepatnya sudah bersuami.
"Lalu, kamu masih mempertahankan hubungan kalian?" tanya Steven lagi.
Gadis itu kini langsung menatap lekat wajah sahabat lamanya. Sebenarnya gadis itu sedikit merasa malu, karena telah gagal untuk membina rumah tangganya dengan pria yang mati-matian dibelanya.
Dan lagi-lagi Marisa menghela napas panjang sambil tersenyum getir. Gadis itu saat ini seperti orang Bodooh yang harus menerima kenyataan pahit, bahwa rumah tangganya hancur tepat satu bulan pernikahannya.
"Tidak, Stev. Bagiku rumah tangga yang sudah tersulut api, pasti akan terbakar dan akhirnya hangus juga. Jadi percuma jika aku mempertahankan rumah tanggaku dengan pria seperti dia. Dan seandainya aku melakukannya, pasti aku akan menjadi wanita yang sangat bodooh." jelas Marisa.
Steven pun langsung tersenyum kecil saat mendengar penjelasan dari sahabatnya. Pria itu seperti sedang menyimpan sesuatu dari gadis di depannya.
'Berarti setelah ini, aku masih memiliki harapan untuk mendekatimu, Risa. Dan aku juga berharap jika suatu saat nanti, kamu akan menerimaku. Karena sangat berat untukku jika terus memendam perasaan ini yang sudah bertahun-tahun lamanya.' batin Steven.
Marisa yang masih menatap sahabatnya, kini langsung menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia merasa malu, karena kegagalan dalam membangun rumah tangga impiannya.
'Pasti sekarang Steven menjadi ilfil kepadaku, karena aku akan menjadi janda di usiaku yang masih terbilang masih sangat muda.' batin Marisa.
Kini hanya kesunyian di dalam ruangan bernuansa serba putih tulang itu. Marisa yang masih sibuk dengan pikirannya, begitu juga dengan Steven yang masih memikirkan tentang cara, untuk mendekati gadis yang menjadi incarannya sejak dulu.
"Stev?"
__ADS_1
"Ris?"
Keheningan pun langsung terpecah, saat keduanya saling memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Kamu duluan." ucap mereka secara bersamaan.
Akhirnya mereka pun terkekeh bersama, saat keduanya saling beradu panggilan.
"Hahaha... Ladies first, Marisa!" ucap Steven dengan seulas senyum manisnya.
"Baiklah. Terimakasih, Pangeran kodok." balas Marisa sambil terkekeh.
Steven pun kini ikut terkekeh saat mendengar panggilan baru untuknya. Apapun panggilan dari gadis itu, baginya tidak akan menjadi masalah untuknya.
"Em... Sebelumnya maaf jika aku sudah menceritakan tentang privasi ku kepadamu, Stev. Mungkin saat ini kamu juga menganggap ku seperti gadis bodooh, yang sangat mudah tertipu dengan sosok pria yang belum lama aku kenal. Dan mungkin juga kamu merasa ilfil 'kan? Saat mendengar penjelasan dariku. Karena sebentar lagi statusku akan menjadi janda di usiaku yang masih muda." jelas Marisa sambil tersenyum getir.
"Tenang saja, Ris. Bagaimana pun keadaan mu nanti, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku juga akan menjadi sahabat terbaikmu." ucap Steven dengan tulus.
'Dan aku juga akan menjadi orang pertama yang akan selalu pasang badan untukmu, Risa. Karena bagiku, status janda itu tidaklah penting. Yang terpenting kamu bisa segera bebas dari pria itu, agar aku bisa untuk mendekatimu. Entah kamu akan menerimaku atau tidak, itu akan menjadi urusannya nanti. Yang terpenting aku akan meyakinkan mu, jika aku tidak sama dengan pria yang kamu maksud itu.' gumam Steven dalam hati.
Marisa yang melihat ketulusan dari sorot mata sahabatnya. Perlahan gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Semoga saja kamu tidak meninggalkan ku lagi, Stev. Karena hanya kamulah sahabat terbaik yang aku miliki." ucap Marisa sambil tersenyum getir.
Gadis itu kini masih menahan buliran bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Bahkan pria yang saat ini masih berada di depannya, juga bisa melihat embun yang hampir menetes dari kedua sudut mata gadis muda itu.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu merasa lega! Karena setelah ini, aku berjanji tidak akan ada tangisan kesedihan di dalam hidupmu. Karena selanjutnya aku yang akan membuatmu menangis haru dengan sebuah kebahagiaan." ujar Steven.
Baru selesai Steven mengatakan hal itu, tangis Marisa pun akhirnya pecah. Kemudian gadis itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Awalnya Steven hanya membiarkan Marisa meluapkan semua emosi dan rasa sakitnya. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama, karena pria itu langsung mendekati gadis itu dan langsung memeluknya.
"Keluarkan semua rasa sakit itu, Ris. Dan setelah ini gantilah rasa sakit itu dengan sebuah kebahagiaan. Bukankah kamu adalah gadis yang kuat dan tangguh? Jadi kamu harus bisa segera bangkit dan jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan ini." ujar Steven.
Marisa yang sudah merasa sedikit tenang, kini langsung mendongakkan kepalanya. Tepat di saat itulah pandangan mereka saling bertemu dan terkunci sesaat.
'Cantik, manis dan menggemaskan.' batin Steven.
'Ternyata kalau dilihat dari sedekat ini, Steven terlihat sangat tampan dan sempurna.' batin Marisa.
Namun, Marisa yang langsung tersadar. Kini langsung mendorong tubuh kekar Steven dan semua itu membuat Steven sedikit merasa terkejut.
"Ris, kenapa kamu tiba-tiba mendorongku? Hampir saja aku terjengkang, jika saja aku tidak siaga." protes Steven.
Marisa yang merasa bersalah karena telah mendorong tubuh pria itu, kini hanya bisa merutuki dirinya sambil tersenyum tipis.
Seketika tangisan itu langsung terhenti, saat melihat wajah cemberut Steven yang terlihat sangat lucu. Setidaknya Marisa sedikit merasa lega, karena di saat dia terpuruk masih ada orang yang mempedulikannya selain kedua orangtuanya.
"Terimakasih, Stev. Karena kehadiran mu, sedikit meredakan rasa sakit ini. Ya, setidaknya tingkah konyol dan perhatianmu, sedikit bisa menghiburku." ucap Marisa sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
Steven yang kembali melihat senyuman manis gadis di depannya, kini langsung membalasnya dengan senyuman manis juga.
"Sama-sama, Ris. Aku akan selalu siap untuk menjadi badut mu, agar aku selalu bisa melihat senyum manis ini." ucap Steven lirih.
"Hah? Apa Stev? Kalimat terakhirmu tadi tidak terdengar olehku. Coba kamu ulangi lagi!" pinta Marisa.
Steven pun langsung gelagapan. Karena kalimat terakhirnya memang sengaja tidak dia katakan dengan jelas, agar Marisa tidak bisa mendengarnya.
"Apa? Aku tidak mengatakan apapun, Risa. Mungkin kamu salah dengar." elak Steven.
__ADS_1