
"Sayang, apa lagi ini? Jadi selama ini kamu dikejar-kejar sama pria ingusan seperti mereka?" rengek Steven saat mendengar ucapan adik sepupunya.
'Hah?! Sayang? Jadi Kak Marisa dan Kak Steven? Oh My God! Jangan sampai aku terseret dalam pertikaian mereka! Sebaiknya aku segera pergi dari sini sekarang juga.' batin Natasha yang merasa terkejut dengan perubahan sikap manja Kakak sepupunya.
"Maaf, Kak! Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Kalau begitu aku permisi dulu ya? Masih ada tugas yang harus aku selesaikan,' ucap Natasha yang sudah merasa sangat gugup.
Di saat gadis remaja itu ingin beranjak dari tempatnya, tiba-tiba satu tangan kekar langsung mencekal pergelangan tangannya. Sehingga membuat gadis itu terlonjak dengan gerakan tiba-tiba Kakak sepupunya.
"Tunggu, Sha! Jangan pergi dulu! Masuk!" titah Steven dengan tegas.
'Duh! Mapoes!' batin Natasha.
Akhirnya mau tidak mau gadis itu masuk ke dalam mobil sesuai dengan perintah dari Steven.
"Katakan kepadaku! Siapa saja yang berani menyimpan foto kekasihku, Sha?" titah Steven dengan tatapan penuh selidik.
GLEK!
Dengan susah payah, Natasha menelan ludahnya yang masih tercekat di tenggorokan.
"Em, itu... Anu, Kak. Dia...."
Natasha seketika gugup dan Marisa kini langsung ikut menimpali ucapan sahabatnya.
"Stev, jangan seperti itu! Kasian sepupu kamu 'kan? Coba lihatlah, dia seperti tertekan dengan interogasi mu. Dan seharusnya kamu juga tidak perlu bersikap seperti itu, karena kita-"
"STOP! Jangan mengatakan apapun dulu, Ris! Aku hanya ingin tau, seberapa terkenalnya kamu di kampus ini." potong Steven dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Marisa yang belum menyelesaikan ucapannya karena Steven sudah memotongnya. Wanita itu memilih untuk bungkam dan menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jawab, Natasha!" bentak Steven.
Natasha yang belum pernah mendengar intonasi suara Steven yang meninggi. Akhirnya dia pun menjelaskan semuanya yang dia ketahui.
"Mereka adalah teman sekelas ku, Kak Stev. Dan mereka mendapatkan foto-foto itu dari akun media sosial Kak Marisa." jelas Natasha sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Inilah sikap posesif dari seorang Steven Milano jika menyangkut seseorang yang sangat berarti di dalam hatinya. Bahkan dia bisa bertindak lebih dari yang mereka pikirkan saat ini.
"Baiklah. Terimakasih atas penjelasan mu, Sha. Sekarang kamu bisa pergi." ucap Steven tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Natasha pun akhirnya bisa bernapas dengan lega saat Steven melepaskan dirinya setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Sekarang aku mau lihat akun media sosialmu, Sayang. Siapa saja orang-orang yang menjadi pengikutmu." pinta Steven dengan penuh harap.
Marisa yang tidak ingin mendebatnya, kini langsung memberikan ponsel pintarnya kepada pria posesif itu tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Dengan cepat Steven menyambarnya dan langsung berselancar di akun media sosial milik pujaan hatinya.
"Dih, apa-apaan ini?! Dasar bocah genit ingusan! Awas saja kalau aku bertemu dengannya, akan ku pastikan dia akan menyesal karena telah merayu kekasihku!" umpat Steven dengan gigi yang bergemeletuk.
Marisa yang mendengar umpatan Steven, kini hanya bisa pasrah dengan alis mata yang saling bertautan.
"Kekasih? Sejak kapan kita-"
"Sejak sekarang, detik ini dan menit ini juga. Dan aku tidak mau menerima penolakan apapun darimu, Marisa Aurelie Argantara!" tegas Steven dengan tatapan mata tajam.
Dan lagi, lagi Marisa dibuat melongo dengan ucapan sekaligus pemaksaan dari pria itu.
Steven yang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Marisa, kini langsung menoleh dan melihat wajah kusut sahabatnya.
"Jadi kamu ingin aku menyatakan perasaan ku dengan cara apa, Sayang? Katakanlah! Agar aku melakukannya sekarang." ujar Steven sambil menatap lekat wajah wanita yang masih berada di sampingnya.
"Pikir saja sendiri. Udah, ah! Aku mau pulang. Pasti Mamah dan Papah sudah menungguku di rumah." celetuk Marisa.
Steven yang tidak ingin tertinggal, kini langsung menarik lengan Marisa sebelum keluar dari mobilnya.
"Aku ikut!" rengek Steven.
Marisa yang masih merasa malas dengan sikap sahabatnya hanya memberikan isyarat dari anggukan kepala.
"Yes! Baiklah. Aku akan mengikutimu dari belakang, Sayang." ucap Steven dengan antusias.
__ADS_1
"Berhentilah memanggilku dengan panggilan Sayang, Steven! Karena kita belum resmi menjalin hubungan apapun." tegas Marisa dengan tatapan mata tajam.
Pria itu akhirnya memilih untuk mengalah dan mengikuti keinginan pujaan hatinya. Meskipun setelah Marisa keluar dari mobilnya, pria itu langsung mengerucutkan bibirnya.
Di sepanjang perjalanan membelah keramaian Ibukota, Steven terus mengekor di belakang Marisa tanpa ingin tertinggal sedikitpun.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya mereka pun sampai di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Pak Setya yang melihat mobil sahabat Nona mudanya, kini langsung mengangguk setelah mendapatkan perintah dari wanita muda itu.
'Sepertinya mereka sudah berbaikan. Baguslah. Jadi aku tidak akan merasa kasihan lagi dengan Den Steven. Semoga saja mereka terus akur seperti ini.' batin Pak Setya sambil mengulum senyum.
Setelah melewati halaman luas, dua mobil terparkir di depan rumah keluarga Argantara. Marisa yang lebih dulu berjalan, kini langsung disusul oleh Steven yang selalu mengekornya.
"SIAPA YANG MENGIJINKAN MU UNTUK MASUK KE SINI?! DASAR PRIA TIDAK TAU DIRI!" umpat Mario yang saat ini sedang berada di ruang tamu bersama dengan istrinya.
GLEK!
Susah payah Steven menelan ludahnya saat mendapati tatapan tajam dan permusuhan dari Ayah sahabatnya.
"Pah, aku yang mengajaknya ke sini. Karena ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua. Dan ini juga menyangkut tentang rencana kita." celetuk Marisa untuk meredam bom waktu yang hampir meledak.
Tubuh Steven yang sudah terasa lemas dan bergetar kini langsung tegak kembali setelah mendapatkan pembelaan dari Marisa.
'Syukurlah! Untuk saja ada Marisa, kalau tidak? Bisa kupastikan jika aku akan tamat hari ini juga oleh Om Mario.' batin Steven.
"Baiklah. Duduk!" titah Mario.
Mario yang masih menunggu penjelasan dari putri semata wayangnya, kini masih mencoba untuk meredam amarahnya yang hampir saja meledak saat melihat Steven yang mengekor di belakang Marisa.
"Jadi begini, Pah. Aku dan Steven akan melakukan kesepakatan, sebelum kami memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius." jelas Marisa.
Mario dan Amara saling beradu pandang saat mendengar ucapan dari putri mereka. Bahkan mereka juga belum mengetahui kesempatan apa yang telah mereka lakukan.
Sedangkan Steven yang sama sekali belum tau tentang kesepakatan itu, kini langsung menoleh ke arah wanita yang saat ini berada disampingnya.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Risa? Mengapa aku sama sekali tidak diberitahu sebelumnya?' batin Steven dengan penuh tanda tanya.
Marisa pun langsung tersenyum disertai dengan seringai liciknya, sehingga membuat ketiga orang yang melihatnya masih merasa kebingungan dengan sikap wanita muda itu.