Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
32. Dendam dan Permusuhan


__ADS_3

"Good morning, all?" sapa seseorang yang sedang berjalan dengan santainya dari arah pintu utama.


Di saat beberapa orang sedang saling melempar candaan dan disertai dengan gelak tawa renyah. Tiba-tiba semua itu berubah menjadi senyap saat beberapa orang yang tidak menyukainya melihat kedatangannya.


"Morning too, Boy! Papi kira kamu sudah lupa pulang," sindir seorang pria paruh baya yang langsung menyambut putra kesayangannya.


Sedangkan ketiga orang yang melihat keakraban mereka, kini memilih untuk bungkam dan hanya melanjutkan sarapan pagi mereka.


"Tidak mungkin aku lupa pulang, Pi. Apalagi aku kan masih pewaris Sah di keluarga ini. Jadi apakah aku harus meminta izin terlebih dahulu untuk berkunjung kemari?" celetuk Steven sambil melirik ke arah ketiga orang yang sedang menikmati makanannya.


Uhuk...


Uhuk...


Uhuk...


"Pelan-pelan, Sayang." ucap Stella sambil menyodorkan satu gelas air putih kepada suaminya.


Kevin yang sangat paham tentang ucapan atau lebih tepatnya sebuah sindiran, langsung tersedak makanannya sendiri.


"Duduklah, Boy! Ikutlah sarapan bersama dengan kami." pinta Riko sambil menarik tangan putranya ke arah kursi di dekatnya.


Renata yang melihat perhatian Riko kepada putra semata wayangnya dari pernikahannya dengan Naura. Kini justru semakin menyulut api dendam dan permusuhan kepada pemuda yang sama sekali tidak bersalah.


'Awas kamu, Steven! Kita lihat! Siapa yang akan tersisihkan dari rumah ini? Aku atau kamu? Dasar, parasit!' umpat Renata.


Kevin dan Stella yang sudah selesai lebih dulu, kini masih menunggu Ayah dan adik tirinya agar menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.


Setelah semuanya selesai, wanita muda itu langsung membuka suaranya dan meminta sesuatu kepada sang Ayah. Sehingga membuat kedua pria beda usia itu saling beradu pandang setelah mendengar permintaan dari putri kesayangan Renata.


"Pi, bolehkan kalau pagi ini suamiku ikut ke perusahaan pusat dengan Steven dan tentunya dengan jabatan baru sebagai Manager di sana?" cetus Stella dengan penuh harap.


"Papi tenang saja. Mas Kevin saat di perusahaan cabang, pekerjaannya selalu bagus kok dan dia juga tidak pernah bermasalah sama sekali." sambung Stella.

__ADS_1


Steven yang sudah bisa mengendus rencana licik mereka, kini langsung memutar otaknya untuk mencari ide yang tepat untuk memberikan pelajaran kecil kepada dua benalu itu.


'Ah, aku tau apa yang harus kulakukan sekarang.' batin Steven disertai dengan seringai tipis.


"Tapi--"


"Tentu saja, Kak. Tetapi sebelum Kakak ipar menempati jabatan barunya, dia harus bisa melewati beberapa tes dariku terlebih dahulu selama satu bulan. Dan jika nanti dia lolos, maka aku akan langsung memberikan jabatan itu secara terhormat di depan semua karyawan lainnya. Apakah kamu setuju?" tawar Steven yang sesekali melirik ke arah sang Ayah.


Riko yang baru saja ingin membuka suaranya, kini langsung merasa heran dengan perubahan sikapnya kepada Kakak tirinya. Padahal sebelumnya mereka selalu saja bertengkar, seperti tikus dan kucing saat bertemu.


"Tapi, Stev?!"


"Papi tenang saja. Percayalah! Aku pasti akan meluluskan Kakak ipar dan dia bisa segera menempati jabatan itu." ucap Steven yang mencoba untuk meyakinkan sang Ayah.


Mau tidak mau akhirnya Riko patuh dengan ucapan putranya. Karena dia sangat yakin dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki oleh Steven.


Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari Perusahaan pusat, Riko memang menyerahkan seluruh tanggungjawabnya kepada putranya.


"Baiklah. Papi percaya kepadamu, Boy." ucap Riko.


Namun semua itu berbanding terbalik dengan pikiran Renata yang sudah dipenuhi dengan kobaran api kebencian. Wanita itu merasa sangat muak dan ingin segera menyingkirkan putra dari mendiang Naura.


Bahkan dia juga berencana untuk menguasai harta Atmajaya dan mengalihkan namanya menjadi dirinya, agar nanti setelah semuanya terbongkar Riko hanya bisa menyesali kebodohannya sendiri.


'Bersenang-senanglah terlebih dahulu anak pembawa sial! Karena setelah ini kamu akan menyusul Ibumu ke alam baka!' kecam Renata dalam hati.


Steven yang menyadari arti tatapan itu langsung memberikan senyuman kecil kepada wanita ular itu. Bahkan dia sama sekali tidak merasa gentar sedikitpun saat berhadapan dengannya.


Bukan hanya sekali atau dua kali Renata ingin menghabisinya, tetapi sudah sangat sering. Tetapi rencananya selalu saja gagal dan meleset dari target utamanya.


'Aku tau apa yang kamu pikirkan saat ini, Renata. Karena ular berbisa sepertimu bisa menyemburkan racunmu kepada kami sewaktu-waktu. Dan aku pastikan sebelum kamu melakukannya lagi, lidah berbisamu itu kupotong dengan tanganku sendiri.' batin Steven.


Riko yang notabenenya adalah orang peka. Kini langsung juga lan menyadari tentang tatapan dari dua kubu yang saling bermusuhan.

__ADS_1


Bahkan pria itu juga baru sadar, bagaimana perangai dari istrinya setelah mendapatkan beberapa rekaman dan foto dari nomor tidak dikenal dan seseorang yang belum dia tau identitasnya.


'Apakah benar jika Renata adalah dalang dari semua masalah ini, termasuk kematian Naura? Tetapi mengapa aku masih meragukan tentang bukti itu? Dan siapa sebenarnya pengirim pesan, rekaman dan foto itu?' batin Riko.


Di saat ketiga orang itu sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, kini sepasang pengantin baru itu justru saling melempar senyuman.


Mereka berpikir jika sebentar lagi akan segera menyingkirkan putra semata wayang Atmajaya dan mengalihkan semuanya kepada mereka.


'Yes! Sebentar lagi keinginanku untuk menjadi penguasa harta Atmajaya akan tercapai. Bahkan aku juga tidak menyangka jika pria yang sangat dikenal dengan kecerdasannya, kini hanya seperti seekor kambing dunguu yang bisa dikelabui oleh serigala.' batin Kevin dengan penuh kemenangan.


Seandainya saja pria itu tau jika ini hanyalah salah satu rencana yang dilakukan oleh Steven untuk membalaskan dendamnya kepada sepasang pengantin baru itu.


Bisa dipastikan mereka akan merengek dan memohon ampun kepada Steven yang notabenenya adalah pria cerdas dan cerdik dalam menyusun sebuah taktik jitu.


"Baiklah, Pi. Sepertinya aku harus berangkat sekarang." pamit Steven sambil menyalami punggung tangan pria paruh baya itu.


Namun dia tidak pernah melakukan hal itu kepada Renata yang notabenenya adalah Ibu sambung Steven.


"Oh, iya. Kakak ipar nanti menyusul saja ya? Karena aku sudah tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu. Sebentar lagi aku ada meeting bersama dengan orang sangat penting." ujar Steven sambil menatap wajah Kakak iparnya yang sedang berbinar.


"Baik, adik ipar. Aku pasti akan segera menyusul bersama dengan istriku." sahut Kevin dengan seulas senyum.


Setelah berpamitan dengan semua keluarganya, Steven langsung mengemudikan mobilnya berlawanan arah dari kantornya.


Karena saat ini dia ingin mengatakan hal penting kepada seseorang, dan bisa dipastikan orang itu akan langsung tersenyum saat mendengar rencananya nanti.


"Tunggu aku! Karena sebentar lagi aku akan memberikan informasi yang sangat penting kepadamu." gumam Steven.


Meskipun jalanan sudah mulai ramai dan padat merayap. Steven selalu bisa mencari celah dan beberapa kali mencari jalan lain agar bisa segera sampai di tempat tujuannya.


Tepat pukul tujuh pagi, mobil Steven sampai di depan rumah bernuansa putih dengan corak emas di pintu masuk dan beberapa tempat lainnya.


TING! TONG!

__ADS_1


__ADS_2