
"Halo?"
"........."
"Datang ke kantor sekarang juga! Aku mempunyai tugas penting untukmu!" titah Steven.
"........"
Tut...
Tut...
Tut...
Setelah mendapatkan jawaban dari seseorang yang berada di seberang panggilan, Steven langsung mematikan panggilan suara tersebut.
"Nanti akan Saya kabari lagi. Silahkan Anda keluar dulu, Pak Andhika!" titah Steven dengan sopan.
"Baik, Pak Steven." jawab Pak Andhika dengan seulas senyum.
Meskipun usia asisten sekaligus sekretarisnya terpaut beberapa tahun lebih tua darinya, tetapi Steven selalu menghormatinya seperti Ayahnya sendiri.
Bahkan antara Steven dan Pak Andhika seperti seorang Ayah dengan putranya sendiri di saat jam kerja. Dan mereka hanya bersikap formal dan profesional saat berada di Kantor saja.
Jika dia mengingat bagaimana cara Pak Andhika yang selalu menyayanginya seperti putranya sendiri. Terkadang hal itu juga mengingatkan kembali bagaimana cara Ayahnya yang selalu menyayanginya sebelum dua benalu itu datang.
"Seandainya saja Papi tidak bertemu dengan wanita ular itu, pasti aku dan Mami masih bisa hidup bahagia bersama. Tetapi semua itu hanyalah tinggal sebuah mimpi untukku, karena Mami lebih meninggalkan ku terlebih dahulu selamanya." keluh Steven sambil menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
Tak berselang lama kemudian, akhirnya seseorang yang dia tunggu datang dan pria muda itu pun langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Akhirnya kamu datang juga, Ril." ucap Steven sambil menjabat tangan pria muda yang sebaya dengannya.
"Aku pasti selalu datang, Brother. Katakanlah! Apa yang bisa aku bantu sekarang?" ujar Syahril, satu-satunya sahabat Steven yang menjadi kaki tangan kanannya.
"Seperti biasa, Ril. Bisa kan kamu menggantikan aku untuk meeting dengan Abimanyu group? Please! Siang ini aku sudah ada janji dengan-"
"Dengan Marisa Aurelie Argantara?" potong Syahril yang langsung menebak siapa seseorang itu.
Steven pun langsung mengembangkan senyumannya sehingga menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kamu memang cenayang yang hebat, Ril. Padahal aku belum mengatakan siapa orangnya, tetapi kamu sudah memberikan jawaban yang tepat." gurau Steven sambil terkekeh.
"Ckk! Bukankah hanya dia wanita satu-satunya yang selalu membuatmu hampir gila? Bahkan sudah bertahun-tahun lamanya kamu memendam perasaan itu, tetapi kamu sama sekali tidak mempunyai nyali untuk menyatakan cinta kepadanya. Dasar payah!" ejek Syahril sambil berdecak.
__ADS_1
Steven yang mendapatkan ejekan dari sahabatnya, kini langsung mencebikkan bibirnya sambil memutar bola mata malas.
"Kalau kamu tidak bisa bertindak sebagai seorang pria sejati, maka aku sangat siap untuk menggantikan mu juga sebagai pemilik hatinya. Dan itupun jika kamu tidak keberatan ya?" ejek Syahril lagi.
Pria muda itu yang awalnya tidak menggubris perkataan sahabatnya, tiba-tiba langsung mendelik tajam.
"Awas saja kalau kamu berani mendekatinya tanpa sepengetahuanku! Kamu akan tau akibatnya, Ril!" ancam Steven sambil menyipitkan matanya.
Syahril yang masih bersikap cuek langsung tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
"Jika aku menginginkannya, pasti sudah ku lakukan sejak dulu, Stev. Kamu ini masih saja posesif dengan dia yang belum tentu menjadi milik kamu." ujar Syahril sambil menggeleng-gelengkan kepala kecil.
"Kamu tenang saja, Ril. Karena sebentar lagi aku pasti akan mendapatkannya. Dan kamu tunggu saja kabar baiknya. Okey?" cetus Steven dengan penuh percaya diri.
Syahril yang melihat semangat dan kesungguhan dari sahabatnya, kini langsung menganggukkan kepalanya.
"Yasudah. Kalau begitu bersiaplah! Aku juga akan bersiap terlebih dahulu sebelum menjadi pengganti mu." pinta Syahril.
Akhirnya kedua pria muda itu bergegas untuk melanjutkan tugasnya masing-masing.
Setelah selesai keduanya pun langsung berjalan beriringan menuju ke lokasi yang seharusnya.
Steven yang sedang menyamar sebagai Syahril, kini langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena sebelum bertemu dengan Marisa, dia harus mengubah penampilannya terlebih dahulu.
Sebelum dia pergi ke tempat tujuannya, Steven terlebih dahulu mampir ke sebuah kedai yang menjual makanan kesukaan Marisa atau lebih tepatnya camilan kesukaannya.
"Sepertinya aku harus men-stok semua camilan ini setelah Marisa menjadi istriku nanti." gumam Steven sambil menatap beberapa camilan yang tersedia.
Setelah memutuskan untuk membeli beberapa macam camilan, akhirnya Steven segera membayar semuanya dan bergegas menuju ke Kampus pujaan hatinya.
Tring...
Tring...
Tring....
Baru saja masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama sang pujaan hatinya.
"Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru saja aku ingin memberikan surprise kepadamu, Risa. Kamu sudah menelpon ku duluan." gumam Steven sebelum menjawab panggilan itu.
Karena tidak ingin membuat Marisa menunggu jawaban panggilan itu terlalu lama, Steven langsung menggeser tombol berwarna hijau agar panggilannya langsung terhubung.
"Assalamu'alaikum, Risa?" salam Steven.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Stev." jawab Marisa.
"Apakah kamu sudah keluar dari Kampus?" tanya Steven to the point'.
"Em.. Iya, Stev. Kalau kamu sibuk, aku bisa meminta Pak Doni untuk menjemput ku." jawab Marisa.
"Jangan, Ris! Kamu tenang saja, semua pekerjaan sudah terhandle kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu tunggu ya? Sebentar lagi aku akan segera sampai. Assalamu'alaikum, Risa?" ujar Steven yang langsung memutuskan panggilan suara itu secara sepihak, sebelum mendapatkan jawaban dari Marisa.
Tut...
Tut...
Tut...
Karena tidak ingin membuat Marisa menunggunya terlalu lama, akhirnya Steven memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, mobil Steven pun berhenti tepat di depan seorang wanita muda, yang memakai Hem batik dengan setelan celana kain sebagai penyempurna penampilannya.
"Maaf, Ris! Jika membuatmu menunggu lama." ucap Steven sambil membukakan pintu untuk Marisa.
"Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, karena telah mengganggu waktu kerjamu?" sahut Marisa dengan kekehan kecil.
Steven pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, Ris. Kamu tenang saja, semuanya sudah aman terkendali." cetus Steven dengan penuh percaya diri.
Marisa yang sama sekali tidak mencurigai gelagat dari sahabatnya, kini langsung mempercayainya begitu saja.
"It's okey. Kalau begitu boleh dong aku memintamu untuk mengantarkan aku ke suatu tempat?" tanya Marisa sambil memakai seatbelt-nya.
Steven yang sudah mempersiapkan dirinya dengan mantap langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Apapun dan kemanapun hari ini kamu meminta, pasti aku akan menurutinya." jelas Steven dengan seulas senyum.
Akhirnya mobil berwarna hitam itu melaju dan membelah keramaian Ibukota yang sedikit padat.
Setelah beberapa kali melewati jalan yang jarang dilewati oleh Steven, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuannya.
"Kamu yakin akan segera menyelesaikannya sekarang, Ris? Apa kamu tidak mau menuntut apapun darinya?" tanya Steven dengan hati-hati.
Marisa yang masih menatap ke arah bangunan bertingkat itu hanya tersenyum getir sambil menghela napas panjang.
"Ya, Stev. Untuk apa aku mempertahankan semua ini jika hanya semakin menyakiti ku saja. Bukankah lebih baik aku segera menyelesaikannya dengan cepat?" ujar Marisa dengan tatapan mata sendu.
__ADS_1