
"Siapa dia, Risa? Mengapa kamu membawa pria asing lagi ke rumah ini? Apakah kamu tidak kapok juga, setelah dipermainkan oleh pria itu, huh?!" gertak Mario.
Marisa pun hanya menghela napas panjang, sebelum menjelaskan semuanya kepada kedua orangtuanya perihal tentang sahabat lamanya itu.
"Pah, Mah, dia Steven Milano Atmajaya. Masa sih kalian sama sekali tidak mengenali pria culun ini?" ucap Marisa.
Mario dan Amara kini saling beradu pandang, saat mendengar ucapan putri semata wayangnya.
"Benarkah kamu Steven? Kemana saja kamu selama ini? Apakah Riko jadi mengirim mu ke California setelah kalian lulus sekolah?" cecar Mario.
Amara yang masih ingat bagaimana sikap dan perilaku sahabat putrinya, kini masih menatap pria muda itu dengan tatapan penuh selidik.
Perlahan Steven mengayunkan kakinya ke arah sepasang suami-isteri itu. Namun saat langkahnya terhenti tepat di hadapan mereka, tiba-tiba dia dikejutkan dengan hadiah dadakan dari seseorang.
"Dasar, anak nakal! Untuk apa kamu datang menemui kami lagi? Bisa-bisanya kamu membuat putri kami menangis sesenggukan, karena menunggumu di depan rumah. Apakah kamu melupakan janji itu, huh?!" pekik Mario sambil menjewer telinga Steven.
Sedangkan Steven kini hanya pasrah dan meringis, saat merasakan panas yang menjalar dari telinganya.
"Papah?!" pekik Marisa dengan raut wajah yang merah padam, karena menahan malu.
"A-ampun, Om! Aku tau jika telah mengecewakan kalian semua, maka dari itu aku ingin meminta maaf kepada kalian. Tolong, maafkan Steven, Om, Tante!" pinta Steven dengan raut wajah yang memelas.
Akhirnya Mario melepaskan jeweran itu, dan langsung memeluk putra dari sahabatnya.
"Baiklah. Kali ini Om akan memaafkan mu, tapi ingat jangan sampai kamu membuat putri kesayangan kami kembali menangis hanya karena janji palsu mu." tegas Mario sambil menepuk-nepuk punggung Steven.
Setelah pelukan itu terlepas, Steven gantian memeluk Amara yang sejak tadi masih bungkam.
"Tante harap kamu bisa membuat senyum Marisa kembali, Stev." bisik Amara tepat di samping telinga Steven.
Steven pun seketika tertegun, saat mendengar bisikan dari Ibu sahabatnya. Pria itu pun mencoba untuk mencerna ucapan dan maksud dari pria berkepala empat tersebut.
__ADS_1
"Jangan lupa, kamu harus menebus kesalahan mu ini dengan harga yang mahal, Steven Milano Atmajaya!" tegas Amara dengan kekehan kecil.
.
.
"Makanlah yang banyak, Stev! Karena setelah ini kamu harus bersiap untuk melindungi putriku dari seseorang." goda Mario di sela makan malam mereka.
Ya, Amara memang sengaja menahan Steven agar bersedia untuk makan malam bersama keluarga mereka. Semua itu sengaja dia lakukan karena ada sesuatu hal yang sedang direncanakan oleh wanita itu.
"Tentu saja, Om. Karena aku juga sangat merindukan masakan Tante, yang selalu membuat nafsu makan ku semakin bertambah setelah memakan masakannya. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk menghabiskan semua makanan ini." jawab Steven dengan seulas senyum.
Marisa yang masih menikmati makanannya, hanya tersenyum tipis saat mendengar candaan kedua orangtuanya dengan sahabatnya.
'Mengapa Mamah dan Papah selalu bersikap hangat kepada Steven? Apakah karena Steven putra dari sahabat mereka?' batin Marisa.
Setelah makan malam selesai, Amara masih meminta Steven untuk tinggal sejenak. Karena ada sesuatu hal yang akan dia sampaikan kepada pria muda itu.
"Mah?"
Mario pun menggelengkan kepalanya perlahan, karena dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah yang sedang dihadapi oleh putri semata wayangnya.
Sejujurnya Mario dan Amara Sudja mengetahui, siapa wanita yang menjadi duri di dalam rumah tangga putri mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ingin menyeret seseorang di dalam masalah mereka.
"Pah, Mah? Jangan libatkan Steven! Ini adalah masalah ku, jadi aku ingin menyelesaikan sendiri tanpa ingin melibatkan orang lain." tegas Marisa.
Ya, saat ini Marisa juga tidak ingin menyeret Steven. Karena gadis itu juga tau, siapa wanita muda yang sedang dihadapi itu.
"Kenapa, Ris? Kenapa kamu tidak ingin aku terlibat di dalam masalah mu? Bukankah kamu masih menganggap ku sebagai sahabat?" tanya Steven sambil menatap ke arah Marisa.
Marisa pun langsung melirik ke arah kedua orangtuanya, agar mereka bisa memberikan alasan yang tepat kepada pria itu.
__ADS_1
Mario yang mengerti tentang kode itu, kini segera memutar otaknya untuk memberikan jawaban yang tepat kepada putra dari sahabatnya.
"Kamu tenang saja, Stev. Nanti jika kami membutuhkan bantuan, pasti kami akan segera menghubungimu." ucap Mario yang mencoba untuk meyakinkan pria muda yang saat ini masih berada di samping putri mereka.
Mau tidak mau, Steven pun akhirnya menyetujuinya. Karena dia juga tidak ingin terlalu mencampuri urusan sahabatnya, apalagi itu menyangkut kehidupan pribadinya.
"Baiklah, Om, Tante. Jika nanti kalian membutuhkan bantuan dariku. InsyaALLAH aku akan selalu siap untuk membantu kalian." ucap Steven yang mulai pasrah.
Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya Steven memutuskan untuk pulang dan akan kembali esok hari, untuk menjemput Marisa yang melanjutkan kuliahnya karena sempat tertunda beberapa bulan belakangan ini.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya Om, Tante dan Risa. Besok pagi aku akan menjemput dan mengantar Marisa ke Kampus." ucap Steven dengan sopan.
Marisa dan kedua orangtuanya pun langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka mengantar Steven hingga teras rumah, dan setelah mobil itu menghilang dari balik pintu gerbang. Ketiganya kembali memasuki rumah dan melanjutkan rencana mereka.
"Pah?" panggil Marisa saat mereka sudah tiba kembali di ruang keluarga.
"Iya, Sayang." jawab Mario.
"Apakah kalian sudah mengetahui jika wanita itu adalah kakak tiri dari Steven?" tanya Marisa.
Sebelum menjawab pertanyaan dari putrinya, Mario terlebih dahulu menatap istrinya untuk meminta persetujuan. Dan setelah mendapatkan persetujuan itu, Mario langsung menceritakan semuanya kepada putri mereka.
"Iya, Sayang. Dia adalah kakak tiri Steven, yang dibawa oleh istri muda Riko yang bernama Renata, setelah sepeninggalan Naura." jelas Mario.
Marisa masih bergeming dan menunggu penjelasan lainnya dari sang Ayah. Karena dia sama sekali tidak tau menahu tentang wanita itu, apalagi saat di tau kalau dia adalah salah satu pewaris Atmajaya.
"Renata adalah mantan kekasih dari Riko, yang terpaksa dia putuskan karena perjodohan keluarganya. Tetapi setelah mereka beberapa bulan berpisah, ternyata wanita itu telah mengandung darah daging Riko. Sedangkan Riko sama sekali tidak tau menahu tentang kehamilan wanita itu, karena setelah menerima perjodohan itu Riko sama sekali tidak menghubungi Renata lagi. Dan akhirnya mereka pun dipertemukan kembali, sebelum Naura sakit." jelas Mario lagi.
Marisa pun akhirnya tau harus berbuat apa setelah ini. Karena dia juga tau, jika usia mereka hanya terpaut empat tahun saja.
"Baiklah. Aku tau apa yang harus aku lakukan, Pah. Dan aku juga sudah memiliki rencana untuk menghancurkan wanita ular itu." cetus Marisa.
__ADS_1