Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
25. Rencana Marisa


__ADS_3

"APA?! Jadi benalu itu adalah selingkuhan pria brengseek itu? Astaghfirullah! Pantas saja kemarin Papi mau mengundang calon suami Stella. Jadi mereka berdua adalah biang keroknya. Awas saja kalian!" geram Steven saat mengetahui tentang rencana wanitanya.


Marisa yang sudah menduga jika Steven akan terkejut dengan cerita sekaligus rencananya, kini hanya terdiam sejenak.


Beberapa menit sebelumnya..


"Apa sebenarnya rencanamu, Sayang? Kenapa kamu melibatkan dia? Bukankah kamu sudah sepakat jika akan melakukan pembalasan itu sendiri, tanpa melibatkan pria di sampingmu ini?" cecar Mario saat sesekali melirik ke arah Steven berada.


Steven yang mengetahui jika orangtua sahabatnya masih marah kepadanya, kini hanya bisa pasrah dan menurut saja tanpa ingin membantah.


"Awalnya aku memang tidak ingin melibatkannya dalam rencana ku, Ayah. Tetapi setelah dia nekat untuk meyakinkan aku tentang.... perasaannya. Kini aku sudah memikirkan cara untuk mendapatkan kepercayaannya kembali, meskipun nanti dia kesulitan dalam menentukan pilihannya." jelas Marisa yang sesekali juga melirik ke arah Steven.


'Jadi Steven sudah menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepada Marisa. Lalu mengapa aku merasa jika akan terjadi sesuatu hal yang sama sekali belum bisa aku prediksi?' batin Amara.


"Baiklah. Katakan kepada kami, apa sebenarnya rencanamu? Ayah tidak ingin jika nanti DIA membuatmu terluka dan menitikkan air mata lagi." cetus Mario sambil menekankan kata DIA kepada Steven.


Kemudian Marisa langsung menghadap ke arah Steven, sebelum mengatakan apa rencananya.


"Baik, Stev. Dengarkan aku baik-baik. Jadi sebelum aku bisa menerima cintamu, kamu harus membalaskan dendamku kepada Kevin dan Stella, Kakak tirimu. Dan aku mau jika kamu memberikan akses kepadaku agar aku bisa mengunjungimu sewaktu-waktu di Perusahaan mu. Apa kamu bersedia?" tawar Marisa sebelum kesepakatan dilakukan.


Steven yang sangat terkejut saat mendengar nama Kakak tirinya, kini pria itu sangat yakin jika Stella adalah duri dalam hubungan sahabatnya yang kandas. Dan bisa dipastikan wanita benalu itu juga dalang dari semua permasalahan yang mereka alami.


"Benar-benar memalukan! Aku pikir setelah dia ketahuan menjadi selingkuhan suami orang, wanita itu akan taubat. Tetapi ternyata seekor ular yang berbisa, akan selalu menebar bisanya dimana pun dia berada." celetuk Steven disertai gemuruh di dalam dada.


Mario yang juga melihat sorot kebencian kepada wanita benalu itu, kini semakin yakin jika pembalasan dendam putrinya akan segera tercapai.


"Jadi bagaimana, Stev? Apa kamu sanggup untuk membantu putriku?" tanya Mario dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


Steven yang juga sudah sangat muak dengan kedua benalu yang tiba-tiba hadir di dalam keluarganya, tanpa berpikir panjang lagi pria itu langsung menyetujuinya.


"Tentu saja aku sanggup, Om. Bahkan aku juga sudah sangat muak dengan mereka dan aku juga ingin segera menyingkirkan mereka, sehingga parasit seperti mereka bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal." jelas Steven dengan penuh keyakinan.


Setelahnya....


Akhirnya keempat orang itu sepakat dengan kesepakatan yang mereka lakukan. Bahkan dengan penuh percaya diri Steven langsung membalik kesempatan mereka.


"Baiklah, sekarang giliran ku. Aku ingin jika kita berhasil membuat mereka mendapatkan ganjarannya, Marisa bersedia untuk menerima perasaanku sekaligus bersedia menjadi istriku. Apakah kamu bersedia, Sayang?" ujar Steven dengan tatapan penuh harap.


Marisa yang mendengar kata terakhir Steven langsung mendelik. Karena wanita itu sebelumnya sudah memperingatkan Steven agar tidak memberikan panggilan itu sebelum mereka resmi menjalin hubungan.


"STEVEN?! Kita belum sepakat ya? Jadi jangan-"


"Jangan memanggilku dengan sebutan SAYANG? Ayolah, Risa! Come on, baby! Aku rasa Om dan Tante juga tidak keberatan dengan panggilan itu. Iya 'kan Om, Tante?" celetuk Steven dengan penuh semangat.


"Terserah kalian saja. Yang penting kamu tidak membuat putriku menangis lagi, Stev. Om dan Tante berharap jika kamu adalah pria terakhir yang menjadi pelabuhan setelah Marisa melewati dermaga yang penuh dengan deburan ombak." jelas Mario dengan seulas senyum.


"Kalau begitu kami mau ke kamar dulu. Kami harap kalian bisa selalu akur tanpa adanya drama Korea lagi." pamit Mario sambil menggandeng tangan istrinya.


Melihat keharmonisan pasangan suami-istri paruh baya itu, semakin membuat Steven yakin jika dia dan Marisa bisa seperti itu kelak.


"Apa kamu tidak ingin seperti kedua orangtuamu, Sayang? Bahkan aku ingin secepatnya bisa menjadi seperti mereka. Pasti kebahagiaan akan terus bersama dengan kita dan aku pastikan kamu akan bahagia saat bersamaku nanti." ujar Steven dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Marisa yang sudah malah untuk mendebat perihal tentang panggilan yang selalu Steven berikan, kini hanya bisa memutar bola mata malas.


"Ya, ya. Semua itu akan terjadi jika kamu benar-benar bisa menjaga hati kamu, Stev. Dan aku berharap hanya aku satu-satunya ratu di dalam hatimu nanti." ucap Marisa sambil mengulum senyum.

__ADS_1


Setelah mendapatkan lampu hijau dari keluarga Marisa, akhirnya Steven langsung memeluk tubuh mungil itu dengan erat.


"Terimakasih, Sayang. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu selalu tersenyum dan bahagia. Karena hanya kamulah sumber kebahagiaan ku saat ini, Sayang." jelas Steven.


Setiap mendengar panggilan itu, telinga Marisa selalu memanas. Bahkan setiap kali pria itu memeluknya, seketika tubuhnya langsung menegang bagai tersengat listrik.


'Semoga saja aku bisa mempercayai ucapanmu, Stev. Dan aku juga berharap jika kamu adalah pelabuhan terakhirku, setelah aku terombang-ambing oleh ombak yang besar,' harap Marisa dalam hati.


Hanya melalui anggukan kepala, Marisa memberikan jawaban itu. Karena tiba-tiba lidahnya menjadi kelu untuk menjawab setiap pertanyaan dari sahabatnya.


"Sekali lagi terimakasih, Sayang. I love you?" ucap Steven sambil merenggangkan pelukannya.


Setelah pelukan itu terlepas, Steven langsung menangkup kedua sisi wajah Marisa. Pria itu sangat berharap jika wanita itu membalas perasaannya.


"I love you more, Steven." balas Marisa dengan raut wajah yang sudah memerah.


CUP!


Kecupan singkat di kening Marisa tidak bisa terelakkan. Meskipun sebenarnya Steven sangat ingin merasakan bibir ranum wanita itu, tetapi seketika dia langsung menepis pikiran itu jauh-jauh.


Karena tanpa dia minta, pasti akan menjadi miliknya juga. Jadi untuk sementara waktu dia harus bersabar terlebih dahulu sebelum memetik buah yang manis itu.


Sengatan listrik itu semakin membuat Marisa menegang dan terpaku ditempatnya. Bahkan wanita itu juga sempat membelalakkan matanya setelah mendapatkan serangan kecil yang tiba-tiba.


Sesaat pandangan mereka saling terkunci. Namun saat jarak mereka mulai terkikis, tiba-tiba seseorang datang sehingga membuat mereka kelabakan.


"Hay? Maaf jika aku mengganggu waktu kalian berdua! Karena ada sesuatu yang tertinggal." cetus seseorang itu.

__ADS_1


__ADS_2