
"Ah, Sayang! Jangan terburu-buru seperti ini! Pelan saja." rengek Stella dengan manja.
Kevin yang sedang menuruti kemauan dari kekasihnya, dengan penuh semangat dia juga melampiaskan hasratnya yang selalu dia pendam saat berada di dekat Marisa.
'Kamu akan selalu menjadi pelampiasan hasratku, Stel. Karena kamu aku kehilangan wanita bersegel ku dan kamu adalah penyebab utamanya. Aku memang bodooh karena telah melepaskan mangsa terlezat ku, hanya demi mendapatkan buronan bekas orang lain.' batin Kevin.
Kevin yang sedang memimpin permainan mereka, dengan cepat Kevin memacunya agar dia bisa merasakan kepuasan tersendiri dari wanita itu.
"Kamu selalu membuatku mabuk kepayang, Sayang. Dan aku juga selalu ingin memakan mu sewaktu-waktu. Lembah sungai mu yang selalu membuatku merasa candu dan melayang Hingga terbang ke nirwana." racau Kevin sambil memacu belut listriknya.
Stella yang selalu terpuaskan oleh permainan yang Kevin lakukan, kini hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh pria itu.
Setelah satu jam melakukan permainan panas di apartemen milik Stella, akhirnya Kevin dan Stella tiba di puncak nirwana bersama.
Kevin yang merasa puas kini langsung terkulai lemas diatas tubuh polos Stella. Sedangkan wanita muda itu kini masih menetralkan napasnya yang masih terengah-engah.
Akhirnya tubuh kekar Kevin ambruk di samping Stella yang masih polos dan hanya tertutup oleh selimut tebal. Sesaat pria itu merapatkan kembali tubuh mereka dan saling berpelukan.
"Sayang, kapan kamu akan melamar ku? Bukankah urusan mu dengan wanita itu juga sudah selesai, karena pernikahan kalian hanya palsu?" tanya Stella dengan penuh harap.
Sejenak Kevin pun terdiam dan mencoba untuk meyakinkan wanita itu agar bisa menunggunya beberapa waktu lagi.
"Sabarlah, Sayang. Bukankah aku juga masih berjuang untuk masa depan kita? Aku tidak mau jika nanti hanya dikatakan sebagai parasit di dalam keluarga mu. Kamu kan tau sendiri kalau-"
CUP!
Kecupan singkat mendarat di bibir tebal Kevin dan semua itu dilakukan oleh Stella agar pria itu menghentikan ucapannya.
"Jangan memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak akan pernah terjadi, Sayang! Percayalah! Jika nanti Papi akan segera memberikan jabatan yang tepat untukmu, tetapi setelah kita menikah tentunya. Karena aku tidak mau jika kamu meninggalkan aku setelah kamu berada di posisi itu." ujar Stella sambil mengerucutkan bibirnya.
Kevin yang merasa gemas dengan ucapan sekaligus tingkah manja Stella. Tanpa ba-bi-bu dia langsung menyambar bibir ranum itu dan menciumnya lebih dalam.
Pergulatan panas diantara mereka pun tidak bisa terelakkan lagi. Karena saat itu juga Kevin sudah kembali turn-on dan Stella juga sudah siap untuk menyambutnya.
.
.
"Jadi pria brengseek itu sekarang sedang asyik dengan wanita ular itu? Baiklah. Kita lihat saja, bagaimana jika nanti aku sendiri yang akan membongkar rahasia dan kebusukan kedua wanita itu di depan Riko. Dan aku yakin jika Riko tidak akan tinggal diam dan langsung menendang dua benalu yang sudah berani merusak tanaman indahnya." celetuk Mario saat mendapatkan beberapa informasi terbaru dari salah satu orang kepercayaannya.
Amara yang saat ini juga mendengarnya juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya.
"Apakah kita harus menunggu lebih lama lagi untuk melihat kehancuran dua benalu itu, Pah? Bukankah saat ini juga kita bisa membongkar kebusukan mereka di depan Bang Riko?" tanya Amara yang sedang duduk di samping suaminya.
Mario pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, Sayang. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk kita, karena Marisa juga belum membalaskan dendamnya kepada pria itu dan Steven juga belum mengetahui tentang masalah ini. Jadi lebih bersabarlah sedikit lagi agar rencana yang sudah tersusun rapi tidak akan sia-sia begitu saja." jelas Mario dengan suara lembut.
Wanita itu pun patuh dengan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Aku ikut gimana baiknya saja, Pah." ucap Amara.
"Tapi bagaimana dengan hubungan Marisa dan Steven? Apakah kita juga akan melanjutkan semua rencana kita?" tanya Amara lagi.
"Tentu saja, Mah. Kita akan melanjutkan rencana kita, karena jika dilihat secara langsung Steven juga memiliki perasaan lebih kepada putri semata wayang kita, tetapi putri kita saja yang belum menyadarinya. Memang ya wanita itu tidak perasa dan kurang peka kepada kita kaum pria." ujar Mario sambil melirik ke arah istrinya.
__ADS_1
Amara yang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh suaminya, kini langsung mendelik dan memukul dada bidang suaminya.
BUGH!
"Awh, Sayang! Hatiku retak. Kenapa kamu selalu memukulnya? Apakah kamu ingin membuatku kehilangan sebuah rasa?" goda Mario yang mengaduh sambil memegangi dadanya yang mendapatkan pukulan dari sang istri tercinta.
Wanita yang baru memasuki kepala empat itu kini hanya memutar bola mata malas, setelah melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya.
"Dih, jangan lebay deh, Pah! Jangan terlihat lemah dan seperti orang teraniaya begitu! Tidak akan mempan lagi jika hanya untuk merayuku." cetus Amara.
Mario yang melihat wajah menggemaskan istrinya, kini langsung memberikan ciuman lembut secara tiba-tiba di bibir ranum itu.
"Emph! Papah, ih...." rengek Amara yang langsung mendorong tubuh kekar suaminya.
"Sayang, please!" mohon Mario dengan wajah yang memelas.
Amara yang tidak ingin terjebak dan luluh dengan sikap manja suaminya, kini langsung beranjak dari tempat duduknya.
Namun, baru beberapa langkah kakinya terayun. Tiba-tiba tubuhnya terasa langsung melayang karena tidak menginjak lantai lagi.
"Papah?!" pekik Amara.
"Ssttt! Diamlah, Sayang! Kalau kamu berisik, yang ada nanti para pelayan akan kemari dan kamu pasti akan merasa malu sendiri nanti." goda Mario disertai dengan kerlingan mata.
Akhirnya Amara memilih untuk bungkam dan hanya bisa pasrah. Karena jika sudah seperti ini dia sudah hafal bagaimana perangai dari suaminya.
Setelah sampai di sebuah ruangan yang cukup luas dengan desain unik dan modern. Sepasang suami-isteri paruh baya itu langsung menuju ke tempat favorit mereka.
Mario yang masih menggendong tubuh ramping istrinya, dengan perlahan dan lembut dia menurunkannya di atas ranjang.
Mau tidak mau, jika sudah seperti ini Amara tidak bisa menolak keinginan suaminya. Karena dia tidak ingin membuat pria paruh baya itu merasa kecewa akibat dari penolakannya.
Pernah sekali Amara menolak keinginan suaminya dan semua itu membuat dia kelabakan saat suaminya merajuk dan memilih untuk tidur sendiri di sofa.
"Iya, Sayang. Aku selalu siap untuk memberikan seluruh hidupku kepadamu. Dan aku harap hanya aku satu-satunya ratu di dalam hatimu." jelas Amara yang langsung mengalungkan tangannya di leher Mario.
Mario pun langsung mengangguk disertai dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Terimakasih, Sayang. Kamu harus percaya? Jika hanya Amara Wardhana yang menjadi ratu di hati Mario Argantara." ucap Mario dengan suara lembut.
Perlahan Mario semakin mengikis jarak diantara mereka. Permainan panas di siang hari pun tidak bisa terelakkan lagi.
.
.
Di saat ada dua pasang di lain tempat sedang asyik memadu kasih. Di lain sisi sepasang sahabat kini masih menghabiskan waktu bersama dengan santainya.
"Apakah kamu tidak takut jika Papah akan marah dan memberikan hukuman lagi kepadamu, Stev? Bukankah ini sudah di luar jam kuliah ku? Dan kamu belum meminta izin kepadanya untuk mengajak putrinya berkelana." gurau Marisa sambil terkekeh kecil.
Steven yang sudah kebal dengan hukuman-hukuman kecil dari Ayah sahabatnya kini hanya mengedikkan bahu dengan santainya.
"Tidak. Untuk apa aku takut dengan Om Mario? Bukankah beliau juga tau, jika kamu pergi denganku? Apakah beliau tau kalau kamu punya sahabat pria lain selain aku?" tanya Steven sambil menyipitkan matanya.
"Hah?! Sahabat pria lain? Mana ada, Stev. Kamu ada-ada saja." cetus Marisa.
__ADS_1
Steven pun akhirnya bernapas lega. Karena setelah kepergiannya selama tiga tahun, sahabatnya tidak mencari pengganti untuk posisinya.
"Baguslah. Karena aku juga tidak yakin, kalau kamu akan mendapatkan sahabat pria yang sabar dan pengertian lebih dariku. Dan aku berani bertaruh jika pria yang mendekatimu hanya mengincar harta dan kecantikan mu saja." ujar Steven dengan penuh percaya diri.
Marisa yang sudah hafal bagaimana watak dari sahabatnya, kini langsung mencebikkan bibirnya.
"Percaya diri sekali sih kamu, Stev. Apa kamu menantang ku untuk mencari penggantimu?" gerutu Marisa dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Big No! Berani kamu dekat-dekat dengan pria lain, aku akan langsung memberikan hadiah istimewa kepadanya!" kecam Steven dengan tatapan mata tajam.
Marisa yang melihat tatapan berbeda dari iris mata sahabatnya, kini langsung diam dan menatap lekat wajah pria itu.
"Kenapa kamu sekarang menjadi posesif sekali kepadaku, Stev? Bukankah seharusnya kamu bersikap seperti biasanya saja tanpa ikut campur dalam urusan pribadiku?" cecar Marisa dengan tatapan penuh selidik.
Steven yang mendapatkan pertanyaan dari Marisa, kini tatapannya langsung terkunci.
"Karena aku mencintaimu sejak kecil, Ris. Dan kamu tidak pernah menyadarinya." jelas Steven sambil menggenggam erat tangan Marisa.
Marisa yang mendengar ucapan sahabatnya, kini langsung tertawa lepas. Karena wanita itu berhasil mengerjai sahabatnya.
" Hahaha... Steven, Steven.. Dasar kamu! Sejak pulang dari California, kenapa sekarang kamu jadi baperan seperti ini sih? Apakah kamu tidak bisa membedakan mana yang serius dan hanya bercanda saja? Astaghfirullah, Stev!" ujar Marisa yang disertai dengan gelak tawa.
Steven yang merasa di kerjai oleh sahabatnya, kini langsung melepaskan genggaman tangannya dan segera meninggalkan wanita itu.
"Lho, lho... Stev, mau kemana?" tanya Marisa yang sedang mengejar langkah panjang pria muda itu.
Steven yang sudah terang-terangan menyatakan perasaannya, kini sedikit merasa kecewa karena Marisa hanya mengerjainya saja.
"Steven, tunggu!" panggil Marisa.
Setelah berhasil menyusul sahabatnya, kini mereka tiba di samping mobil Steven.
"Ayo, kita pulang!" titah Steven dengan suara datar.
Marisa yang melihat perubahan sikap dari sahabatnya kini hanya menatap punggung pria itu yang sedang berputar untuk masuk ke dalam mobil.
"Ada apa dengan Steven? Mengapa dia tiba-tiba berubah cuek sekali?" gumam Marisa.
Di sepanjang perjalanan Steven hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bahkan Marisa yang duduk di sampingnya juga masih berpikir tentang kesalahan yang dia lakukan, sehingga membuat sahabatnya merajuk.
'Kenapa kamu tidak peka sih, Ris? Apakah semua perhatian mu selama ini hanya kamu anggap sebagai sahabat saja? Apa kamu tidak bisa merasakan ketulusan hatiku?' gumam Steven dalam hati.
Setelah menambah kecepatan mobilnya, akhirnya Steven tiba di depan pintu gerbang dan segera masuk setelah pintu gerbang terbuka.
"Terimakasih, Stev. Apakah kamu tidak mau keluar dan mampir dulu? Pasti Papah dan Mamah juga sudah menunggumu." ujar Marisa dengan penuh harap.
"Tidak, Ris. Salam saja untuk Om dan Tante. Aku masih ada urusan penting. Assalamu'alaikum?" ucap Steven tanpa senyuman di wajahnya.
Marisa pun hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Karena dia tidak ingin memaksa sahabatnya, sehingga dia harus merelakan kepergian sahabatnya itu.
"Baiklah. Terimakasih, Stev. Wa'alaikumsalam." balas Marisa.
Mobil sport berwarna hitam itu kini langsung berputar untuk meninggalkan halaman luas itu.
'Ada apa denganmu, Stev? Mengapa setelah kamu mengatakan hal itu, kamu menjadi berubah? Apakah kamu......?"
__ADS_1