Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
35. Kejahilan Marisa


__ADS_3

"HAH?!" pekik Steven.


"Lepaskan, Sayang! Mengapa kamu bisa berubah menjadi seperti ini? Ada apa denganmu?" celetuk Steven menangkup kedua sisi wajah Marisa.


Marisa yang sudah sangat muak dengan pertengkaran mereka. Tanpa ba-bi-bu lagi dan di depan kedua orangtuanya, wanita itu langsung menarik kembali tangan kekar kekasihnya hingga terjerembap ke arahnya.


Ciuman singkat di bibir itu pun tidak bisa terelakkan. Entah mengapa rasa malunya kepada kedua orangtuanya seakan terkikis dan sama sekali tidak ada.


"RISA, HENTIKAN?!" pekik Mario.


Amara yang melihat sikap putrinya menjadi lebih agresif dari sebelumnya, kini langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.


.


.


"Apa-apaan kamu, Risa? Mengapa kamu menjadi seperti wanita murahaan yang begitu mudahnya memberikan segalanya kepada seorang pria, huh?!" hardik Mario.


Marisa yang sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang selama ini selalu dia hindari. Pada akhirnya wanita itu pun langsung mengatakan semuanya kepada sang Ayah.


"Bukankah Steven lebih menyukai wanita yang agresif dan murahaan? Jadi apa salahnya jika aku juga melakukan hal itu kepada kekasihku sendiri. Sebentar lagi kita juga akan menikah 'kan?" celetuk Marisa tanpa memikirkan Steven yang sudah mulai panas dingin karena tatapan intimidasi dari calon mertuanya.


GLEK!


Susah payah Steven menelan ludahnya sendiri yang saat ini tercekat di tenggorokan. Bahkan lidahnya terasa kelu saat dia hendak memberikan penjelasan kepada pria paruh baya itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Stev? Sepertinya kamu bisa menjelaskan semuanya kepada kami." cetus Mario dengan penuh penekanan.


Ayah mana yang terima jika putrinya tiba-tiba bisa berubah secara drastis. Bahkan sebelumnya wanita muda itu selalu menolak setiap sentuhan dan paksaan yang dilakukan oleh kekasihnya.


Namun semua itu berbanding terbalik saat mereka sudah berada di dalam kamar, di saat mereka hanya berdua dan hampir bertindak melewati batas.

__ADS_1


"STEVEN?! JELASKAN!!" pekik Mario yang menaikan satu oktaf intonasi suaranya.


'Metong, aku! Bisa-bisa asetku disembelih oleh Om Mario, jika beliau tau kalau aku sering mengancam Marisa dengan python ku.' batin Steven yang mulai dilema.


"APA SEKARANG KAMU MENJADI BISUU, STEV?!" bentak Mario.


Steven yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba langsung terlonjak dengan raut wajah yang sudah pucat pasi.


"Ma-maaf, Om! Aku tidak bermaksud untuk membuat Marisa menjadi seperti itu. Karena aku hanya ingin--"


"Cukup! Aku sudah mengerti sekarang. Jadi benar apa yang dikatakan oleh putriku. Baiklah kalau begitu aku akan memotong asetmu agar tidak bisa lagi mengancam putri kesayanganku. Dan setelah itu, aku akan membiarkan dia untuk mencari penggantimu." potong Mario.


Seketika raut wajah Steven pun langsung memucat setelah mendengar ancaman Ayah kekasihnya. Bahkan seluruh tubuhnya pun bergetar dan keringat dingin pun mulai bercucuran.


"A-ampun, Om! Ma-maafkan aku!" pinta Steven dengan suara terbata.


"BUAHAHAHAA...."


Bahkan rencananya juga berjalan lancar dan sukses membuat kekasihnya mati kutu di depan kedua orangtuanya. Meskipun sebenarnya ada rasa kasihan, tetapi dia langsung menepisnya.


Steven yang mendengar tawa renyah kekasihnya, seketika langsung tertegun dan kembali menatap ketiga orang di depannya secara bergantian.


"Bagaimana, Stev? Apakah kamu suka saat putriku bertindak lebih agresif darimu? Apa kamu merasa terkejut saat putriku bisa membuat rencana seperti ini?" cecar Mario.


Steven langsung tersadar dan langsung menatap kekasihnya yang masih cekikikan. Pria itu bahkan tidak pernah menyangka jika kekasihnya akan menjadi sejahil itu kepadanya.


"Jadi kamu sudah merencanakannya, Sayang? Apakah kamu tidak merasa kasihan kepadaku yang benar-benar ketakutan tadi?" tanya Steven kepada kekasihnya tanpa menjawab pertanyaan dari Mario.


"Maaf, Hubby! Habisnya kamu selalu saja membuatku merasa jengah dengan keraguanmu kepadaku. Jadi aku ingin sedikit memberikan pelajaran kepadamu dan aku berharap setelah ini kamu bisa merenungkan tentang ketulusanku ini." jelas Marisa dengan seulas senyum.


Sejujurnya pria itu ingin marah dan mengamuk. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia langsung memahami jika kekasihnya hanya ingin dimengerti dan dipahami olehnya.

__ADS_1


Apalagi kaum wanitanya yang notabenenya selalu ingin dihargai dan dihormati, pasti mereka akan melakukan apapun agar prianya bisa melihat kesungguhan hatinya.


"Baiklah. Aku akui ini semua memang kesalahanku yang masih meragukan tentang perasaanmu, Sayang. Dan untuk Om dan Tante, aku juga minta maaf karena telah membuat Marisa terluka karena keegoisan saya." ujar Steven sambil menatap ketiga orang itu secara bergantian.


Akhirnya Steven menyadari jika sikapnya memang sudah keterlaluan. Apalagi saat dia terus saja mengancam kekasihnya untuk berbuat sesuatu yang melebihi batas.


Jadi wajar jika wanita itu sampai merencanakan semuanya untuk mengerjai sekaligus menyadarkan dirinya tentang perasaan yang tulus dari wanita itu.


Bahkan saat ini dia sudah memutuskan untuk segera melamar kekasihnya agar dia selalu bisa berada didekatnya. "Baiklah. Setelah ini, aku akan meminta Papi untuk melamarkan Marisa untukku, Om, Tante." cetus Steven yang langsung meraih tangan Marisa.


Marisa yang awalnya hanya bercanda, sama sekali tidak pernah menyangka jika Steven akan melakukan hal yang tadi dia katakan secara tidak sengaja.


Tetapi saat dia melihat kesungguhan dari kekasihnya, akhirnya senyum lebar pun menghiasi wajah wanita muda itu. Bahkan pancaran aura kebahagiaan pun langsung bersinar hingga membuat kedua orangtuanya saling melempar senyuman.


"Kamu sedang tidak mempermainkan perasaan putri kami 'kan, Stev?" tanya Amara dengan tatapan penuh selidik.


Steven yang memang sudah memiliki rencana untuk melamar pujaan hatinya, dengan mantap pria itu menganggukinya tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Tentu saja aku serius jika menyangkut tentang perasaanku, Om. Apalagi Om dan Tante juga tau kalau sejak dulu aku sudah memendam perasaan ini kepada Marisa. Jadi aku tidak ingin kecolongan lagi untuk kedua kalinya." jelas Steven dengan tegas.


Mario dan Amara pun akhirnya bisa bernapas lega karena setelah kejadian ini sikap kedewasaan putra dari sahabatnya langsung muncul secara tiba-tiba.


Bahkan mereka pun sangat mempercayai pemuda itu tanpa meragukannya lagi. Dan setelah drama Korea itu terjadi, Steven memutuskan untuk membawa pergi Marisa ke Kantornya.


Sesuai dengan rencananya tadi, jika Kevin akan datang bersama dengan Kakak tirinya. Sehingga dia tidak ingin jika kekasihnya melewatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu kepada mereka.


Di sepanjang perjalanan, Steven terus saja menggenggam erat tangan kekasihnya dan enggan untuk melepaskannya. Meskipun pandangannya fokus ke depan, tetapi dia tidak ingin membuat kekasihnya terabaikan oleh sikapnya.


Karena setelah kejadian itu dia langsung menyadari jika wanita itu sangat sensitif dengan perasaannya. Apalagi Marisa yang sudah pernah merasakan sebuah pengkhianatan. Jadi Steven sangat memaklumi sikap dan sifat wanita yang saat ini duduk di sampingnya.


"Terimakasih, Sayang. Semoga kamu tidak akan menyesal untuk menerima semua kekurangan yang aku miliki. Dan jika nanti aku melakukan kesalahan lagi, tolong ingatkan aku kembali!" ujar Steven.

__ADS_1


__ADS_2