
"Pah, tolong bantu aku agar secepatnya bisa membalaskan dendam kepada mereka tanpa diketahui oleh Steven! Karena aku sudah tidak ingin bertemu ataupun melihatnya." pinta Marisa setelah menjelaskan semuanya kepada kedua orangtuanya.
Sejujurnya saat mengatakan hal itu, hatinya terasa sakit dan sesak sekali. Bahkan kepercayaannya kepada seorang pria pun saat ini kembali menguap begitu saja karena tuduhan Steven.
Setelah beberapa hari tidak saling berkabar dengan sahabatnya, wanita muda itu selalu merenungkan tentang perasaannya yang selalu tidak tenang saat tidak mendengar kabar dari pria itu.
'Aku pikir kamu pria yang berbeda dari yang lainnya, Stev. Tapi ternyata aku salah. Kamu sama saja dengan mereka datang sebagai pelangi yang membawa kebahagiaan, namun sewaktu-waktu bisa menjadi petir yang menyambar tanpa adanya hujan.' batin Marisa.
Kini hati yang sempat patah mampu disatukan oleh kehadiran sosok sahabat prianya. Tetapi setelah itu dia langsung dipatahkan kembali oleh pria itu sendiri.
'Semoga saja aku tidak akan goyah lagi di saat kamu datang dengan harapan kosong itu lagi, Stev! Dan aku akan menutup rapat hatiku, agar bisa lebih fokus lagi untuk melancarkan aksi balas dendam ku kepada mereka.' batin Marisa lagi.
"Papah dan Mamah pasti akan selalu siap untuk melakukan apapun demi kebaikanmu, Sayang. Dan Papah juga berjanji akan menjadi perisaimu saat mereka kembali menyerangmu dari segala penjuru." jelas Mario sambil menatap sendu ke arah putrinya.
Pria paruh baya itu kini merasakan sesuatu hal yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Putri kesayangannya yang selalu memberikan teka-teki tentang kehidupan pribadinya, saat ini dia sudah siap untuk memecahkannya.
'Papah yakin, Sayang. Jika kamu sudah mulai menyadari tentang perasaanmu kepada Steven, setelah dia menyatakan perasaannya beberapa hari yang lalu. Semoga setelah ini badai yang menerjang kehidupanmu segera usai.' harap Mario dalam hati.
Sedangkan di lain sisi, wanita yang sedari tadi memeluk tubuh mungil putrinya hanya bisa menahan sesak di dadanya.
'Mengapa kamu tega mematahkan kembali hati putriku, Steven? Setelah aku mempercayai bahwa kamu bisa membuatnya merasa bahagia dengan hal-hal sederhana yang kamu lakukan. Kini aku sudah sangat kecewa dengan sikap dan tindakan yang kamu lakukan kepada putriku. Dan aku berharap jika kamu tidak akan pernah mengusiknya lagi.' keluh Amara dalam hati.
Kini ketiga orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan ketiganya juga sama-sama merasakan sebuah kekecewaan kepada satu orang yang sama.
.
.
__ADS_1
"Ril, tolong bantu aku ya, please! Cuma kamu yang bisa aku andalkan selama ini dan aku yakin jika kamu juga bisa mengatasi kesalahpahaman ini." pinta Steven kepada sahabat prianya.
Syahril yang melihat wajah kusut sahabatnya, kini hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk kecil.
"Ya, ya, ya. Gue tau kalau Lo datang ke sini tanpa diundang pasti ada sesuatu yang tidak bisa Lo lakuin sendiri, Stev. Dan gue lagi yang harus bantuin Lo buat nyelesaiin masalah yang telah Lo buat sendiri." cetus Syahril sambil mendengus.
Bukan tanpa sebab pria itu merasa kesal kepada sahabatnya. Karena setiap permasalahan yang dihadapi Steven pasti akan berimbas kepadanya. Dan dia juga harus ikut memusingkan hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan.
"Nah, gitu dong dari tadi, Brother. Kenapa harus menunggu aku mengemis dulu sih?" protes Steven sambil mencebikkan bibirnya.
Syahril yang melihat tingkah kekanak-kanakan sahabatnya, kini langsung memutar bola mata malas.
"Kalau Lo protes terus, gue nggak akan bantuin Lo lagi, Stev. Jadi kalau Lo mau gue bantu, jangan banyak ngeluh dan protes! Gue juga masih punya kerjaan lainnya, jadi gue harap Lo nggak akan merusak rencana gue." tegas Syahril yang tiba-tiba merasa geram dengan sikap sahabatnya.
Mau tidak mau, Steven langsung menganggukkan kepalanya dan memilih bungkam setelah mendengar ucapan sahabatnya.
"Okey. Aku tau jika saat ini kamu mengusirku secara halus, Ril. Thanks ya? Aku harap bisa mendengar kabar baik secepatnya." ucap Steven sambil menepuk pundak sahabatnya.
Syahril pun langsung menganggukkan kepalanya dan mengantar pria muda itu keluar rumahnya.
Di sepanjang perjalanan Steven terus saja memikirkan tentang ucapan sekaligus larangan dari Ayah sahabatnya itu.
"Mengapa aku bisa seceroboh dan bisa menuduh Marisa seperti itu sih? Bodooh kamu, Steven! Bodooh!" maki Steven kepada dirinya sendiri.
Meskipun sebenarnya dia belum bisa merasa tenang setelah bertemu dengan sahabatnya. Tetapi dia meyakinkan bahwa sahabatnya bisa membantunya agar bisa mendapatkan kembali pujaan hatinya kembali.
"Aku sangat yakin, Risa. Jika kamu sudah mulai terbiasa dengan kehadiranku dan setelah beberapa hari aku tidak menghubungimu, kamu sudah mulai menyadari tentang perasaanku kepadamu." gumam Steven dengan sepercik harapan.
__ADS_1
Jalanan yang ramai dan padat, kini membuat pria muda itu menjadi bosan. Suara klakson mobil pun saling bersahutan agar para pengguna jalan bisa memecah kemacetan itu.
"Huft! Kalau saja tadi Syahril tidak mengusirku. Pasti aku tidak akan terjebak dalam kemacetan ini." keluh Steven saat melihat deretan mobil seperti rombongan seekor semut yang beriringan.
.
.
"Pi, kenalin ini calon suamiku namanya Kevin dan aku ingin segera menikah dengannya. Aku harap Papi bisa menerima dan merestui hubungan kami." pinta Stella saat bertemu dengan Ayahnya di sebuah Cafe dekat kantornya.
Riko yang sering melihat wajah pria muda itu, kini hanya bisa menghela napas berat. Karena dia tidak ingin membuat putri kesayangannya merasa sedih. Jadi mau tidak mau dia harus menurutinya.
"Apapun itu jika semuanya yang terbaik untukmu, pasti Papi akan menurutinya. Semoga saja dengan pernikahan, kalian bisa hidup bersama dan selalu dilimpahkan kebahagiaan." ucap Riko dengan seulas senyum.
Namun, saat dia melihat gelagat mencurigakan dari pria yang berada di samping putrinya. Dia sedikit mencurigainya dan akan mencari tau terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat.
'Mungkin aku harus mengalah terlebih dahulu agar bisa bergerak cepat untuk mencari tau tentang pria ini. Karena aku merasa jika pria ini memiliki tujuan tertentu kepada putriku.' batin Riko saat melihat gelagat dari Kevin.
Sedangkan Kevin yang sedang merasa gugup, kini hanya bisa pasrah dan menurut saja dengan kemauan kekasihnya.
'Semoga saja Pak Riko tidak mencurigaiku dan aku bisa mendapatkan apa yang aku mau.' batin Kevin dengan penuh harap.
Saat berhadapan dengan pemilik Atmajaya group, pria muda itu juga sangat takut meskipun sudah menyiapkan mentalnya.
"Baiklah, Kevin. Saya harap kamu tidak pernah mengecewakan putri Saya, karena jika sedikit saja kamu melakukan kesalahan ataupun menyakitinya. Maka kamu akan berhadapan langsung dengan Saya." cetus Riko dengan tegas.
GLEK!
__ADS_1