
Keesokan harinya...
Seperti biasa Steven menjemput Marisa terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kantor dan mereka pun berangkat bersama.
"Sayang, nanti kamu pulang jam berapa? Biar nanti aku jemput. Kan kamu tidak membawa mobil." ujar Steven dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Marisa yang sejak awal ingin membawa mobil, tetapi tidak diperbolehkan oleh Steven. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginannya agar menghindari perdebatan di siang hari.
"Em, mungkin setelah makan siang aku sudah pulang, Stev. Jadi di waktu itu kamu pasti senggang 'kan?" jelas Marisa.
"Baiklah, Sayang. Nanti sebelum kamu pulang aku sudah berada di sini." ucap Steven sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
Marisa yang melihat raut wajah yang berbinar dari pria yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya, langsung membalasnya dengan senyuman manisnya.
"Oke. Kalau begitu aku masuk dulu ya?" pamit Marisa.
Namun, belum juga Marisa beranjak dari tempat duduknya. Pria itu tiba-tiba menahannya terlebih dahulu.
"Tunggu!" pinta Steven.
"Ada apa, Stev?" tanya Marisa yang merasa kebingungan dengan perubahan sikap sahabatnya.
"Aku akan mengantarmu sampai di depan kelas, agar tidak ada pria lain lagi yang melirik mu." cetus Steven.
Setelah mengatakan hal itu, Steven langsung turun dari mobilnya dan membuka pintu sampingnya agar Marisa bisa segera turun.
"Stev, ini tidak perlu. Kamu tenang saja, tidak akan ada yang berani menggangguku. Percayalah!" ujar Marisa.
Steven yang tidak mau kecolongan lagi, dengan sikap keras kepalanya langsung menggandeng tangan Marisa dan berjalan lebih dulu, padahal Steven sama sekali tidak tau letak kelas Marisa dimana.
Di sepanjang perjalanan Steven dengan wibawanya menggandeng tangan Marisa tanpa enggan untuk melepaskannya.
"Stev, kenapa kamu jadi posesif sekali sih?" gerutu Marisa sambil berbisik.
"Aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka, jika kamu sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan berstatus sebagai istri orang." balas Steven.
Bisik saling berbisik pun terjadi diantara kedua orang itu. Bahkan tanpa di sadari jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian para mahasiswa/i di kampus itu.
Keluarga Steven dan Marisa yang notabenenya adalah donatur di Kampus tersebut. Kini dengan santainya pria posesif itu menunjukkan siapa dia sebenarnya saat bersanding dengan seorang putri semata wayang keluarga Argantara.
__ADS_1
"Kak Steven? Kak Marisa? Hay?" sapa Natasha.
Steven yang melihat kedatangan sepupunya dengan malas dia pun mengekor pada Marisa yang langsung menghampiri gadis itu.
"Hallo, Sha. Kamu juga ada jadwal pagi ya? Oh, ya.. Kamu ambil jurusan apa?" tanya Marisa.
Steven yang merasa diacuhkan oleh wanitanya, dengan cepat pria itu langsung menyambar tubuh mungil Marisa dan segera membawanya ke depan kelasnya tanpa menunggu jawaban dari sepupunya.
"Sudah. Ayo, Sayang! Nanti kamu akan terlambat." sewot Steven tanpa mempedulikan Natasha yang masih ingin berbicara dengan wanitanya.
"Stev, aku masih ingin mengobrol dengan Natasha. Kenapa kamu justru membawaku pergi sih?" protes Marisa.
"Sekali lagi kamu protes, aku cium kamu disini, Sayang." ancam Steven sambil mencebikkan bibirnya.
Marisa yang tidak ingin membuat moodnya rusak di pagi hari hanya bisa menuruti keinginan Steven.
Setelah tiba di depan kelas, tanpa di duga tiba-tiba pria itu memberikan kecupan singkat di kening Marisa. Dan perlakuan tiba-tiba itu membuat Marisa terpaku di tempat dengan mata yang membola sempurna.
"Selamat belajar, Sayang. Nanti siang aku akan menjemputmu. I love you?" ucap Steven dengan penuh kasih sayang.
"I-iya, Stev- maksudku Sayang. I love you more." jawab Marisa sambil terbata.
Karena tidak ingin membuat Steven malu di depan teman-temannya. Terpaksa Marisa harus membalas ucapan pria posesif itu.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Hati-hati di jalan ya?" balas Marisa dengan seulas senyum.
Setelah kepergian Steven, wanita muda itu langsung mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam kelas.
Tanpa dia sadari jika ada dua pasang mata yang sejak tadi sudah ingin menghampirinya.
"Risa?" panggil seorang wanita muda yang sebaya dengannya.
Marisa yang merasa dipanggil, kini langsung membalikkan badannya untuk melihat sosok wanita itu.
"Naura? Hay?" sapa Marisa.
Dengan langkah panjang Naura langsung berjalan dengan cepat ke arah Marisa tanpa mempedulikan Nathan yang masih mengekornya.
"Dia kan pria yang sudah membuatmu patah hati? Kenapa dia-"
__ADS_1
"Ssttt! Jangan keras-keras dong, Nau! Kamu mau membuatku malu di depan teman-teman ya?" protes Marisa.
Naura yang sejatinya selalu bertingkah bar-bar dan ceplas-ceplos. Kini langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya dengan cepat.
"Maaf, Ris! Aku keceplosan. Hehehe...." balas Naura sambil terkekeh.
Nathan yang masih bergeming di samping kekasihnya, saat ini masih menunggu penjelasan dari teman wanitanya.
"Jadi?" tanya Naura.
"Nanti aku jelaskan setelah jam pelajaran pertama selesai ya? Saat ini sudah tidak ada waktu lagi." kilah Marisa.
Akhirnya Naura dan Nathan langsung menganggukinya, karena sebentar lagi mata kuliah mereka juga akan dimulai.
Dua jam telah berlalu...
Naura yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari teman wanitanya, kini langsung berlari kecil ke arah bangku Marisa.
"Sekarang katakan, Risa! Jangan membuatku penasaran seperti ini! Sejak tadi aku sudah tidak fokus untuk mengikuti mata kuliah Mr. Frans. Jadi kamu harus menjelaskannya sekarang juga!" titah Naura sambil menatap tajam ke arah Marisa.
Mau tidak mau Marisa harus menjelaskan semuanya di saat itu juga di depan kedua temannya yang memiliki tingkat kekepoan yang tinggi.
"Ya. Seperti yang kalian lihat tadi. Aku dan dia......"
Marisa yang sengaja menggantungkan ucapannya, hanya bisa menahan tawa saat melihat raut wajah penasaran kedua temannya.
"Jangan bertele-tele, Ris! Jelaskan kepadaku, sekarang! Dan aku sangat memaksa." celetuk Naura sambil mencebikkan bibirnya.
Akhirnya tawa renyah Marisa pecah. Tetapi tawa itu tidak berlangsung lama, karena Naura dan Nathan langsung mendelik saat mendengar tawa itu.
"Oke, oke. Sorry, guys! Baiklah. Sekarang aku di mode serius ini. Kalian jangan marah dulu, okey?!" ujar Marisa yang masih menahan tawanya.
Sebelum melanjutkan penjelasannya, sejenak Marisa menghirup pasokan oksigen dan menghela napas perlahan.
"Baiklah. Dengarkan aku! Aku dan Steven memang memiliki hubungan khusus setelah kami melakukan kesepakatan. Tetapi maaf, karena aku tidak bisa mengatakan kesepakatan itu kepada kalian. Karena ini sangat menyangkut tentang masalah pribadiku yang masih sangat rumit. Jadi aku mohon, untuk yang satu ini kalian tidak memaksaku lagi." jelas Marisa dengan seulas senyum tipis.
Naura dan Nathan yang tidak ingin terlibat dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh temannya. Kini langsung menganggukkan kepala dan memakluminya.
"It's okey, Ris. Tetapi jika kamu membutuhkan bantuan kami. Kami akan selalu siap untuk membantumu sebisa kami. Jadi kamu jangan sungkan untuk mengatakannya ya?" ujar Nathan.
__ADS_1
"Tentu saja. Kalian memang teman terbaikku." ucap Marisa dengan tulus.
"Hanya teman?" protes Naura.