Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
14. Kelicikan Kevin


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu menjadi melamun terus semenjak wanita gembeel itu pergi? Apakah kamu menyesal sudah menalaknya?" rengek Stella.


Kevin yang baru tersadar dari lamunannya, kini justru langsung gelagapan karena telah tertangkap basah oleh kekasihnya.


"Eh, siapa bilang aku menyesal, Sayang? Tidak kok. Aku hanya sedang memikirkan tentang acara lamaran kita nanti. Kamu tau sendiri kan, bagaimana keuangan ku saat ini? Dan jika keluarga mu meminta ku untuk merayakan pernikahan kita nanti, aku harus menjelaskan apa?" kilah Kevin.


Sebenarnya Kevin memang sangat menyesal karena telah mengucapkan talak kepada Marisa. Sejujurnya perasaannya kepada wanita muda itu selalu ada sampai sekarang. Apalagi Marisa bisa menerima apapun keadaan dan kondisinya, tanpa menuntut apapun darinya.


"Ah, Sayang. Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir, karena aku yang akan menanggung semuanya tanpa sepengetahuan dari keluarga ku. Yang terpenting adalah kamu harus segera membereskan masalah mu dengan calon mantan istrimu itu, agar dia tidak mengganggu kita nantinya." jelas Stella sambil bergelayut manja.


Inilah yang sangat dia sukai dari Stella. Karena sifat royalnya kepada Kevin dan Ibunya, sehingga membuat Ibu dan anak itu menjadikan wanita itu sebagai ATM berjalan mereka.


"Terimakasih, Sayang. Sebenarnya aku sangat malu kepadamu. Bukankah seharusnya aku yang memberikan mu segalanya, tetapi ini justru kamu yang memberikan semua itu kepadaku dan Ibu." ucap Kevin yang selalu berakting di depan Stella.


Jika saja bukan karena Stella kaya, Kevin juga sangat enggan untuk menjalin hubungan dengan wanita manja itu. Tetapi karena Stella adalah salah satu pewaris Atmajaya, dengan terpaksa dia harus bersedia demi kemewahan yang diberikan oleh wanita yang usianya lebih tua darinya.


Dilihat dari segi materi dan ekonomi, Stella memang bisa memberikan segalanya. Namun jika dilihat dari paras dan sikapnya, Marisa memang jauh lebih baik darinya. Apalagi Marisa juga masih sangat muda dan memiliki body ideal.


'Tidak apa-apa aku melepaskan segelintir emas, tapi aku bisa mendapatkan bongkahan berlian dan permata. Dan setelah ini aku akan merubah kehidupan ku yang tidak memiliki apa-apa, menjadi kehidupan yang serba ada dan bergelimang harta.' batin Kevin.


Ya, jika dibilang Kevin licik dan serakah itu memang benar adanya. Karena yang dia incar dari Stella memang hanya hartanya saja, meskipun paras dan bodynya tidak seperti Marisa tetapi dia bisa mengesampingkan hal itu.


"Kamu jangan merasa sungkan jika membutuhkan sesuatu, Sayang. Aku pasti akan melakukan apapun untuk melanjutkan hubungan kita, dan aku yakin jika kita akan hidup bahagia selamanya." ucap Stella dengan penuh semangat.


Kevin pun langsung menganggukkan kepalanya. Pria muda yang sangat licik dan serakah itu saat ini sedang memikirkan cara untuk mendapatkan beberapa aset dari keluarga Atmajaya.


'Karena hubunganku dengan Marisa juga sudah selesai, maka aku harus segera mengatasi satu masalah lagi, yaitu menikahi calon pewaris Atmajaya.' batin Kevin dengan rencana liciknya.


.


.

__ADS_1


"Ris, nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Steven setelah menurunkan Marisa di depan Kampusnya.


Marisa yang belum tau jadwal selanjutnya, kini mengedikkan bahunya.


"Entahlah. Aku juga belum tau, Stev. Memangnya kenapa?" jawab Marisa dengan melayangkan pertanyaan juga kepada Steven.


"Aku hanya ingin menjemputmu saja, Ris. Dan setelah itu kita bisa lanjut makan atau melakukan sesuatu hal." jawab Steven sekenanya.


Marisa sesaat bergeming dan termenung sejenak, karena dia juga sedang memikirkan sesuatu yang belum membuatnya tenang.


"Em, bukankah hari ini kamu sangat sibuk, Stev? Apakah tidak apa-apa jika kamu menjemput ku? Aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan mu saja." tanya Marisa dengan hati-hati.


Steven pun langsung terkekeh saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya.


"Kamu tenang saja, Ris. Aku akan membereskan tugas-tugas ku dengan cepat, agar aku bisa segera untuk menjemputmu. Jadi nanti kamu kabari saja jika jadwalmu sudah selesai." jawab Steven.


Mau tidak mau, akhirnya Marisa menganggukinya.


"Siap, Tuan Putri." balas Steven sambil terkekeh kecil.


Setelah selesai dengan candaan singkat mereka, akhirnya Steven memutuskan untuk segera ke kantor setelah berpamitan dengan sahabatnya.


Tiga puluh menit tak terasa Steven sudah sampai di depan kantornya, dan dia pun langsung keluar dari mobilnya dan memberikan kuncinya kepada scurity seperti biasanya.


Aura kebahagiaan pun kini memancar dari wajah pria muda yang saat ini sedang berjalan dengan penuh wibawanya.


"Sepertinya Pak Steven sedang bahagia ya?" tanya salah karyawan Atmajaya group.


"Iya. Karena tidak seperti biasanya Pak Steven tersenyum semanis itu kepada kita." jawab salah satu Karyawan yang berada di sebelahnya.


Steven yang mendengar kasak-kusuk dari beberapa karyawannya, kini hanya membalasnya dengan senyuman tanpa memikirkan hal yang tidak penting baginya.

__ADS_1


'Terserah mereka mau mengatakan apa tentang ku. Jika itu tidak mencemarkan nama baik, maka aku hanya akan diam. Karena selama ini aku juga tidak bertindak keterlaluan kepada mereka, kecuali dua ular itu.' batin Steven.


Suasana hatinya tiba-tiba sedikit menjadi kacau, karena teringat dengan dua benalu yang hadir tanpa permisi di dalam keluarganya.


"Ah, gara-gara teringat mereka sekarang suasana hatiku kembali memburuk lagi kan. Benar-benar dua wanita pembawa sial! Gara-gara mereka sekarang hubungan ku dengan Papi juga bermasalah, dan mereka adalah penyebab utamanya." gumam Steven dengan tangan terkepal kuat.


Karena tidak ingin terlalu lama memikirkan hal yang selalu membuat darahnya naik, Steven memutuskan untuk mengecek beberapa berkas yang sudah ada di atas mejanya.


"Huft! Ternyata pekerjaan ku hari ini sangat banyak. Semoga saja nanti semuanya selesai tepat waktu, sebelum aku pergi untuk menjemput Marisa." gumam Steven lagi.


Pada akhirnya Steven memilih untuk berkutat dengan beberapa berkas-berkas yang harus dicek dan ditandatangani.


Tok...


Tok...


Tok...


Setelah beberapa kali terdengar suara ketukan pintu, Steven langsung meminta seseorang itu untuk masuk.


"Ya, masuk!" titahnya.


"Maaf, Pak Steven! Hari ini ada meeting dadakan dengan Abimanyu group. Katanya mereka ingin menyampaikan hal penting secara langsung kepada Anda. Apakah hari ini Anda bisa melakukan meeting itu?" tanya seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya.


Sejenak Steven pun terdiam dan memikirkan tentang janjinya kepada Marisa.


'Apakah aku menunda saja rapat ini, agar aku bisa menjemput Marisa? Tetapi.......'


Kini Steven pun menjadi dilema karena dua hal yang sama-sama penting untuknya. Menjemput dan menghabiskan waktu dengan pujaan hatinya adalah impiannya sejak dia kembali ke Indonesia. Tetapi meeting dengan Abimanyu group juga sangat penting karena mereka sedang melakukan proyek yang sangat besar.


Setelah membuat keputusan, akhirnya Steven segera mengambil ponsel pintarnya dan mencari nama seseorang.

__ADS_1


"Halo?"


__ADS_2