
Sesuai dengan rencana Steven, setelah jam makan siang usai. Akhirnya keempat orang itu bertemu kembali di ruangan Presiden Direktur Atmajaya Group.
"Silahkan kalian baca poin-poin ini! Karena poin ini sebagai penentu lolos atau tidaknya kandidat Manager di kantor pusat ini. Oh, ya, satu lagi. Jangan membawa nama keluarga saat di kantor! Seperti yang Kak Stella tadi katakan, jika kita harus bersikap profesional." ujar Steven sambil menyodorkan satu map berwarna merah ke arah sepasang pengantin baru itu.
Poin demi poin pun langsung dibaca dengan seksama oleh mereka. Awalnya semuanya baik-baik saja saat mereka membaca beberapa poin diawal, tetapi setelah mereka menemukan hal yang janggal di dalam syarat itu. Stella langsung memprotes dan kembali memaki adik tirinya.
"Apa-apaan ini, Stev?! Syarat macam apa ini? Apakah setiap manager harus menuruti permintaan dan melayani mu dengan sesuka hatimu? Dan ini juga setiap hari wajib lembur sampai malam? Apa kamu sedang mempermainkan kami, huh?!" pekik Stella.
Sesuai dengan prediksi Steven, pasti Stella akan memprotes beberapa poin yang memang sengaja dia ubah sendiri. Bahkan ada beberapa tambahan poin yang membuat wanita itu sangat merasa keberatan.
"Kalau kalian keberatan yasudah. Jangan pernah berpikir jika aku akan memberikan posisi itu kepada Kak Kevin! Dan jika kalian tidak mempercayai poin-poin ini, maka silahkan kalian temui Manager di perusahaan ini! Pasti sebelumnya dia juga mengikuti syarat yang aku ajukan." tegas Steven.
Pria itu awalnya masih bersikap santai, tetapi setelah melihat sikap dari Kakak tirinya yang semakin keterlaluan. Mau tidak mau, Steven harus bertindak tegas sebagai pimpinan tertinggi di Atmajaya Group.
"Apapun syaratnya aku akan menyetujuinya, adik ipar." timpal Kevin.
"Sayang?" rengek Stella.
'Kena kamu, Kevin! Setelah ini kamu akan mendapatkan beberapa hadiah istimewa dariku, karena kamu sudah berani mempermainkan Marisa!' batin Steven.
Kevin yang sama sekali tidak menghiraukan rengekan istrinya. Dengan cepat pria yang haus akan kekayaan dan kekuasaan itu, tanpa berpikir panjang dia langsung mengulurkan tangannya sebagai tanda jika dia menyetujui persyaratan tersebut.
"Baik, adik ipar. Apapun syaratnya, aku akan berusaha untuk memenuhinya. Semoga saja aku bisa lolos seleksi dari pimpinan tertinggi di perusahaan ternama ini." ujar Kevin.
Steven langsung menyambut uluran tangan dari kakak iparnya. Bahkan saat tangan mereka saling menjabat, sesekali dia melirik ke arah Marisa yang masih berada di pangkuan Steven.
__ADS_1
"Oke. Deal! Mulai besok Kak Kevin bisa memulainya. Semoga Kakak bisa membuatku merasa puas dengan perjuangan Kakak sebulan ke depan." sahut Steven dengan seulas senyum tipis.
'Ternyata Hubby benar-benar ingin membantuku untuk membalaskan dendam kepada mereka. Baiklah. Sesuai dengan janjiku kepadanya, setelah semuanya selesai aku akan memberikan segalanya kepadanya, termasuk hati dan ragaku setelah kita menikah nanti.' batin Marisa sambil mengulum senyum.
"Apakah masih ada keperluan lainnya, Kak?" tanya Steven berbasa-basi.
Sejujurnya dia sudah sangat muak dengan kehadiran dua parasit itu, tetapi dia juga tidak ingin menggagalkan rencana yang telah dia pikirkan secara matang.
"Oh.. tidak, Stev. Kalau begitu kami permisi. Dan besok aku akan datang lebih awal darimu." sahut Kevin.
Stella yang sejak tadi memilih untuk bungkam, kini langsung bangkit dari tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada mereka.
Marisa dan Steven sama sekali tidak memusingkan hal-hal sepele, apalagi tentang sikap dan perilaku dari wanita yang sama sekali tidak tau tata krama.
Kevin pun langsung berpamitan dan segera menyusul istrinya. Karena dia tidak ingin membuat istrinya merajuk, jadi dia harus mengeluarkan jurus andalannya untuk merayu wanita itu lagi.
Namun, saat benda kenyal itu baru saja terlepas dari kening Marisa. Tanpa ba-bi-bu, wanita muda itu langsung menyambar bibir tebal kekasihnya dan memberikan ciuman lembut di setiap gerakannya.
Steven yang mendapatkan serangan tiba-tiba, kini langsung membelalakkan matanya. Pria itu tidak menyangka jika Marisa bisa seagresif itu kepadanya.
.
.
Sore pun tiba. Steven langsung mengantarkan kekasihnya untuk kembali pulang ke rumah dan menyerahkan kembali putri kesayangan keluarga Argantara kepada keluarganya.
__ADS_1
"Tumben kamu pulang lebih awal, Stev? Biasanya kamu akan mengembalikan putri kami setelah usai Magrib." sindir Mario.
Marisa yang melihat keposesifan cinta pertamanya, kini hanya bisa mengulum senyum. Ternyata sifat posesif itu tidak hanya dilakukan oleh pria yang berstatus sebagai kekasihnya, tetapi juga sang Ayah yang selalu menjadikannya tuan putri di keluarga kecilnya.
"Bukankah bagus jika aku mengembalikan putri kesayangan Om sebelum batas waktu yang ditentukan. Jadi nanti aku bisa mengajaknya kembali tanpa adanya drama Korea lagi kan?" ucap Steven sambil terkekeh.
Kedua pria beda usia itu memang selalu terlihat seperti seorang anak dan ayah pada umumnya. Tetapi siapa sangka jika saat ini mereka hanya orang lain yang kebetulan sudah saling mengenal satu sama lain.
Namun, Mario yang sejak awal memang sudah terbiasa dengan sikap dan perilaku putra dari sahabatnya, kini sama sekali tidak pernah membedakan antara putri kandung dengan putra sahabatnya.
Bahkan dia juga tidak menyangka jika Steven akan benar-benar menjadi putranya di saat dia menikahi putri semata wayangnya.
"KePeDean sekali kamu, Stev. Memang siapa yang akan memberikan izin kembali kepadamu? Apa kamu pikir kamu bisa sebebas itu untuk membawa putriku kemanapun yang kamu mau, sebelum kamu resmi menjadikannya ratu satu-satunya dihatimu?" ketus Mario.
Seketika pria itu pun langsung mengembangkan senyumannya sambil menatap wajah kekasihnya yang selalu membuat dia tergila-gila saat melihatnya.
"Jadi aku bisa melamar Risa secepatnya, Om?" tanya Steven dengan antusias.
Mario pun menggelengkan kepalanya dan memberikan tatapan mata tajam kepada putra sahabatnya. "Tidak! Karena aku sudah menjodohkan putriku dengan putra dari sahabatku yang lain. Saat ini aku sadar, jika putriku terlalu lama menunggumu. Bisa-bisa dia terpancing lagi kepada pria rubah seperti kemarin." tegas Mario.
Steven dan Marisa yang mendengar ucapan pria paruh baya itu langsung membelalakkan matanya. Mereka tidak pernah menyangka jika pria itu akan berubah pikiran dengan begitu cepatnya.
"Tidak bisa! Aku tidak mau jika harus menikah dengan pria lain selain Steven, Pah. Apa Papah tau jika aku sudah sangat mencintai dia? Apa Papah tega membuatku tersakiti untuk kedua kalinya?" tolak Marisa dengan tegas.
Tatapan wanita muda itu langsung mengembun dan membuat kekasihnya semakin mengeratkan genggaman tangannya. Bahkan Steven juga akan menolak keinginan orangtua kekasihnya, dan menentangnya dengan tegas.
__ADS_1
"Aku juga tidak akan pernah melepaskan putri Om. Dan setelah ini jika Om akan memisahkan kita, maka aku akan membawa putri Om dari kalian semua." tegas Steven.