
Di saat Steven sedang menikmati drama pagi hari kekasihnya. Di lain pihak Kevin dan Stella sedang sibuk untuk mempersiapkan diri mereka. Kedua orang itu sudah tidak sabar untuk segera pergi ke Kantor pusat Atmajaya group.
Bahkan Stella yang juga sangat antusias untuk ikut pergi, saat ini masih mempercantik penampilannya dengan dress selutut yang senada dengan suaminya.
"Sayang, bagaimana penampilanku? Apakah ada yang kurang?" tanya Stella melalui pantulan kaca riasnya.
Kevin yang masih merapikan pakaiannya, sesaat pria itu menoleh ke arah istrinya untuk melihat penampilannya. "Seperti biasa, Sayang. Kamu sangat cantik dan sempurna." puji Kevin.
'Cantik apanya? Kalau kamu tidak memakai make up juga wajahmu biasa dan standar saja, La. Bahkan jika dibandingkan dengan Risa, kamu tidak ada apa-apanya.' batin Kevin.
Sedangkan Stella yang mendapatkan pujian dari suaminya, kini langsung tersipu dan wajahnya terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Ah, gombal! Kamu tuh memang sangat pandai sekali untuk merayuku, Sayang." ucap Stella.
Wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah suaminya berada. Dengan lekuk tubuhnya yang seksi, Stella langsung memberikan ciuman singkat di bibir tebal suaminya.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Kevin sambil memeluk pinggang ramping istrinya.
"Sudah, Sayang. Tetapi mengapa tiba-tiba aku sangat menginginkanmu pagi ini. Aaahh...." goda Stella disertai dengan lenguhan menggoda.
GLEK!
Kevin yang notabenenya adalah penggila sekss. Seketika pria itu langsung turn-on, sehingga olahraga panas di pagi hari tidak terelakkan. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan penampilan yang sudah rapi.
Tanpa ba-bi-bu, pria itu langsung membawa istrinya ke atas ranjang. Sehingga pergulatan panas pun tidak bisa dihindari. Karena keduanya memang sama-sama memiliki hasrat yang tinggi.
Satu jam berlalu. Tepat di pukul sebelas menjelang siang, akhirnya permainan panas mereka pun usai. Sepasang suami-istri itu pun kembali membersihkan diri dan bergegas untuk ke Kantor.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau adik ipar marah? Bisa-bisa aku tidak bisa diterima di perusahaan pusat olehnya. Apalagi kata Papi dia sangat disiplin dan tepat waktu.
Bagaimana jika nanti dia langsung menolakku karena alasan tidak disiplin dan bertanggung jawab? Pasti impianku untuk naik jabatan akan sirna begitu saja." ujar Kevin yang merasa sangat khawatir.
Stella pun dengan cepat langsung mengalungkan lengannya di leher suaminya. "Kamu tidak perlu mencemaskan tentang hal itu, Sayang. Karena jika Steven melakukannya, masih ada Papi yang akan turun tangan secara langsung." timpal Stella.
Setelah mendapatkan secercah harapan dari istrinya. Pria itu langsung menyambar bibir ranum istrinya dan kembali memberikan ciuman singkat di bibir itu.
"Terimakasih, Sayang. Aku tau jika kamu tidak akan membiarkan suamimu ini direndahkan oleh siapapun, apalagi oleh adik iparku." ucap Kevin disertai dengan senyuman manis.
'Bagus. Selangkah demi selangkah aku pasti bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, dan semua itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Dasar, wanita bodooh!' batin Kevin.
Setelah selesai keduanya pun langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Riko yang melihat putrinya yang masih berada di rumah, kini hanya menatap penuh keheranan.
"Lho, Stel. Kenapa kamu dan suamimu masih berada di rumah? Bukankah seharusnya kalian sudah berada di Kantor sejak tadi pagi?" tanya Riko.
"Sebentar lagi kan makan siang, Pi. Jadi aku sengaja pergi ke sana siang ini, karena aku ingin mengajak adik kesayanganku untuk pergi makan bersama sekaligus untuk membahas tentang rencana kami tadi pagi." jelas Stella dengan santainya.
Riko yang sudah sangat hafal bagaimana perangai dari putri sulungnya. Kini hanya bisa pasrah dan menurut saja tanpa ingin memberikan wejangan apapun.
"Baiklah. Kalau begitu segeralah berangkat dan hati-hati di jalan." ucap Riko dengan seulas senyum tipis.
"Okey, Pi. Oh, iya. Tapi dimana Mami? Kenapa dia tidak terlihat?" timpal Stella sambil mengedarkan pandangannya.
Riko pun hanya mengulum senyum tipis saat mendengar pertanyaan tentang keberadaan istrinya. "Biasa, Stel. Mami sedang keluar bersama dengan teman-teman arisannya. Katanya mereka ingin membuat agenda kegiatan sebelum tahun baru nanti." jelas Riko.
Stella pun hanya manggut-manggut saja, karena jika sudah seperti itu pasti Maminya akan sibuk dengan dunianya sendiri tanpa mengingat tentang dirinya.
__ADS_1
"Baiklah. Yasudah. Kalau begitu aku dan Mas Kevin dulu ya, Pi. Bye?" pamit Stella.
Akhirnya kedua orang itu pun langsung melenggang pergi setelah mendapatkan anggukan kecil dari pria paruh baya itu.
"Mengapa sifat Stella sangat menurun dari Renata? Bahkan sifat dan sikapnya juga sangat berbanding terbalik dengan Steven." gumam Riko.
Meskipun memiliki istri, tetapi pria itu selalu merasa kesepian. Karena istrinya selalu saja keluar rumah untuk mencari kesenangannya sendiri. Sedangkan Riko seperti terabaikan oleh sikapnya yang selalu saja ingin menang sendiri.
"Rena, kenapa sekarang kamu sangat berubah? Kapan kamu memiliki waktu penuh untukku? Bahkan untuk sekedar bergurau saja kamu tidak pernah ada waktu senggang untukku." keluh Riko.
Baginya Renata yang dia kenal dulu dan sekarang sangat berbanding terbalik sifatnya. Karena Renata yang dulu tidak pernah mengabaikannya walau hanya sedetik saja.
Namun, semua itu sangat berbeda setelah dia bertemu kembali dengan wanita itu yang justru hanya mencari kesenangan untuk dirinya sendiri, tanpa mengingat tentang kenangan masa lalunya.
"Aku sangat merindukan dirimu yang dulu, Ren. Kapan kamu bisa berubah kembali seperti sebelumnya? Sejujurnya aku merasa jika kamu hanya ingin menikmati hartaku saja tanpa mengharapkan kehadiranku." cetus Riko.
Setelah pikiran dan hatinya sedang berkecamuk. Tiba-tiba bayangan Naura kembali melintas di dalam pikirannya. "Nau, kenapa kamu meninggalkan aku lebih dulu dan memilih untuk pergi bersama dengan anak kita?"
Entah mengapa di saat rasa sepi datang menghampiri Riko. Dia bisa memikirkan dua wanita yang sangat berbeda sifat dan karakternya. Seperti halnya saat ini saat dia mengeluhkan tentang istri keduanya, tiba-tiba saja dia juga langsung teringat dengan istri pertamanya, Naura.
"Aku sangat merindukanmu, Nau. Seandainya saja kamu masih bersamaku saat ini, pasti aku akan menjadi pria yang sangat sempurna dan tidak kesepian seperti ini." ucap Riko dengan suara parau.
Setelah larut dalam pikirannya, Riko memutuskan untuk mengunjungi tempat yang sangat berpengaruh besar untuk ketenangan hatinya.
"Lebih baik aku pergi ke tempat itu sekarang, daripada aku hanya berdiam diri di rumah tanpa ada seorang pun yang menghargaiku." cetus Riko.
Akhirnya pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap dengan pakaian santainya.
__ADS_1