
Keesokkan harinya, di saat Marisa belum ingin beranjak dari ranjangnya. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang digedor-gedor dari luar.
"Risa, bangun! Sudah jam berapa ini? Mengapa kamu belum bangun dan membuat sarapan untuk kita?!" pekik sang Ibu mertua dengan suara lantang.
Marisa yang sengaja melakukannya, kini masih bersantai di dalam kamarnya. Karena semalam dia memilih untuk mengunci pintu dari luar, sehingga Kevin tidak bisa masuk ke dalam kamar.
Wanita muda itu juga tidak peduli, suaminya akan tidur dimana. Bahkan dia juga tidak memikirkan, bagaimana keadaan suaminya yang tidur di luar.
"Ish! Berisik banget sih! Biasanya sebelum aku di rumah ini, dia juga sendirian saat membuat sarapan. Mengapa setelah ada aku, semuanya harus aku yang kerjakan?" gerutu Marisa yang sengaja menutupi kedua telinganya menggunakan bantal.
"Risa?! Apa sekarang kamu menjadi tulii, huh?! Dasar menantu tidak berguna!" hardik Ema yang terus saja menggedor pintu dan memanggil namanya.
Mau tidak mau, akhirnya Marisa memilih mengalah untuk beranjak dari ranjang dan membukakan pintu untuk mertuanya.
CEKLEK!
"Ada apa sih, Bu? Mengapa berisik sekali? Ini masih pagi lho, bagaimana jika para tetangga terusik dengan suara Ibu?" cecar Marisa.
Marisa yang sejak awal selalu menghormati Ibu mertuanya, seketika rasa hormat itu langsung menghilang begitu saja, setelah dia mengetahui sifat asli dan kebusukan yang disimpan oleh suami dan Ibu mertuanya.
"Oh, jadi sekarang kamu mulai berani ya? Oke! Aku akan memanggil Kevin, agar dia melihat bagaimana sikap istrinya yang tidak tau diri ini." ancam Ema.
__ADS_1
Marisa kini hanya mengernyitkan keningnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sikapnya saat ini seperti sedang menantang Ibu mertuanya, tanpa sedikitpun rasa takut di dalam hatinya.
"Kevin? Cepat kemari! Coba lihat, bagaimana cara istrimu yang sama sekali tidak bisa menghargai Ibumu?" titah Ema saat memanggil putra kesayangannya.
Dengan langkah kaki panjang, akhirnya Kevin pun tiba di tengah-tengah kedua wanita beda usia itu. Kemudian Kevin langsung menatap tajam ke arah Marisa yang saat ini masih bersikap santai, dan sama sekali tidak peduli dengan dua orang di depannya.
"Oh, jadi begini ternyata sifat asli kamu, Ris? Aku pikir kamu adalah gadis lugu dan penurut, tetapi ternyata aku salah. Kamu hanyalah memakai topeng saja, dan akhirnya hari ini semuanya terungkap dengan sifat dan sikap aslimu ini." ucap Kevin sambil menatap tajam ke arah Marisa.
Marisa yang awalnya hanya diam, kini justru tergelak saat mendengar ucapan pria yang masih berstatus sebagai suaminya. Gadis itu tidak pernah menyangka, jika ternyata Kevin hanyalah anak mami dan tidak memiliki berpendirian.
"Hahaha... Apakah kalian tidak salah bicara? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu? Apa kalian lupa, jika semalam kalian sudah menampakkan sifat asli kalian yang sangat menjijikkan itu, huh?!" pekik Marisa.
"Bagus, Risa. Sekarang kamu sudah mulai berani ya? Ingat, Ris! Di rumah ini kamu hanya numpang, dan sebentar lagi aku akan segera membuatmu jadi gembel, karena telah berani menentang ku dan Ibu." ancam Kevin.
Marisa yang sudah tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaganya lagi, kini memutuskan untuk masuk ke dalam kamar kembali dan membanting pintu tersebut dengan kencang.
BRAK!
"KURANG AJAR! DASAR ISTRI DURHAKA! LIHAT SAJA, RISA! AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN KEPADAMU SETELAH INI!" kecam Kevin dengan suara lantang.
Marisa yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi, dengan terpaksa dia tidak mandi terlebih dahulu. Karena dia tidak ingin berdebat lagi dengan suami dan mertuanya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku segera pergi untuk menemui Papah dan Mamah. Aku yakin, jika mereka pasti akan memaafkan ku." gumam Risa dengan penuh keyakinan.
Meskipun tidak mandi, Risa memutuskan untuk sedikit merias diri dan menyemprotkan parfum agar tidak terlihat pucat dan bau.
"Okey! Bismillahirrahmanirrahim. Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana ku." harap Marisa.
Saat keluar dari kamar, ternyata Kevin dan Ibunya saat ini sedang berada di meja makan. Dan tepat saat Marisa melewati mereka, tiba-tiba Kevin langsung mencengkeram erat lengannya.
Gadis itu pun langsung terperanjat, karena dia sama sekali tidak menengok ke arah suaminya. Dengan tenaga yang dia miliki, Marisa mencoba melepaskan cengkeraman Kevin yang membuat lengannya sedikit terasa nyeri.
"Lepaskan aku, Mas!" titah Marisa yang terus memberontak.
Kevin yang masih tersulut emosi, kini satu tangannya langsung menampar keras pipi Marisa.
"Mau kemana kamu sepagi ini? Mengapa kamu serapi ini, huh?! Bangun siang dan tidak membuat sarapan, lalu apa ini? Kamu dandan dan berpenampilan cantik seperti ini, untuk siapa?" cecar Kevin.
Marisa yang masih bergeming di tempat sambil memegangi pipinya yang terasa panas, hanya menatap tajam ke arah suaminya.
Gadis itu tidak pernah menyangka jika Kevin yang dulu selalu bersikap lembut kepadanya, kini justru menamparnya dan lebih memilih untuk membela Ibunya.
"Kamu memang sudah berubah, Mas. Ternyata selama ini kamu hanya menggunakan topeng saja saat mendekati ku, dan aku sangat menyesal karena lebih mempercayai mu daripada mereka." ucap Marisa dengan tatapan tajam.
__ADS_1