Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
16. Makan Siang Bersama


__ADS_3

"Apa?! Buku nikahnya palsu? Kok bisa, Pak?" pekik Marisa saat menyerahkan buku nikahnya kepada salah satu pegawai yang bertugas di Pengadilan Agama di Kotanya.


"Benar, Bu. Buku ini palsu. Apakah sebelumnya Anda tidak mengeceknya terlebih dahulu sebelum menandatanganinya? Sebentar, Saya akan menunjukkan contoh buku nikah yang asli!" ujar salah satu pria berpawakan tinggi dan berkumis tipis.


Steven yang juga berada di samping Marisa juga tidak kalah terkejutnya. Pria itu juga tidak habis pikir dengan suami sahabatnya, bisa-bisanya dia membohongi Marisa dengan memalsukan data pernikahan mereka.


"Jadi selama ini pernikahan kalian cuma sekedar permainan semata, Ris. Dan itu semua mereka rencanakan tanpa sepengetahuan mu. Benar-benar sudah tidak waras mereka itu ya? Pengen aku samperin terus aku cincang buat bikin sate manusia tuh orang, Ris. Greget banget deh gue! Kesel!" maki Steven saat mendengar ucapan dari salah satu pegawai di tempat itu.


Marisa yang masih sedikit syok, kini langsung sadar karena mendengar makian sahabatnya. Wanita muda itu juga tidak pernah menyangka, jika pria yang dia bela mati-matian ternyata seekor rubah yang sangat berbahaya.


"Jadi selama ini kalian melakukan hubungan suami-istri itu jatuhnya zina dong." bisik Steven.


Marisa pun langsung mendelik dengan gelengan kepala kecil.


"Tidak, Stev. Kalau soal itu tidak perlu dibahas dulu. Aku tidak ingin jika nanti kamu akan menilai ku dengan kesalahpahaman yang belum kamu ketahui faktanya. Jadi aku mohon, sekarang fokus dulu dengan masalah yang berada di depan mata." pinta Marisa sambil berbisik juga.


Steven yang mengerti dengan kondisi Marisa, mau tidak mau pria itu pun langsung menuruti permintaan dari sahabatnya.


"Baiklah." sahut Steven singkat.


Tak berselang lama kemudian, pria itu pun kembali dengan membawa contoh buku nikah asli. Kemudian dia menjejerkan dua buku nikah itu dan menjelaskan perbedaannya.


"Silahkan Anda perhatikan logo, tulisan dan simbol yang ada di kedua buku ini, Bu! Pasti Anda bisa melihat kejanggalan buku yang Anda bawa tadi." ujar pria itu sambil menyerahkan buku nikah yang asli kepada Marisa.


Saat melihat perbedaan yang sangat jelas dan mencolok, wanita muda itu langsung menyodorkan kembali contoh buku nikah yang asli kepada pegawai pria itu.


"Baiklah, Pak. Terimakasih atas penjelasannya. Saya permisi." ucap Marisa yang langsung berpamitan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Steven yang sempat tertinggal, kini langsung mengejar Marisa yang berjalan dengan cepat.


"Tunggu, Ris! Pelan-pelan dong!" rengek Steven.


"Kalau kamu tidak ingin mengikuti ku. Silahkan kamu pulang, Stev. Aku bisa pergi sendiri untuk menyelesaikan semua urusanku." tegas Marisa dengan tatapan tajam.


Steven yang belum pernah melihat amarah yang membara melalui sorot mata sahabatnya. Kini sempat terkejut dengan perubahan sikapnya setelah mengetahui permainan dari pria rubah itu.

__ADS_1


"Baik, Ris. Aku tidak akan banyak berkomentar lagi. Karena aku akan ikut kemanapun kamu pergi hari ini. Jadi sekarang kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu." ujar Steven yang mencoba untuk mengalah dari wanita muda yang sedang dibakar amarahnya sendiri.


"Aku ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu sebelum membalas perbuatan mereka, Stev." ucap Marisa yang mulai merendahkan intonasi suaranya.


Steven pun langsung menganggukkan kepalanya dan segera meraih tangan wanita itu menuju ke mobilnya. Marisa patuh dan mengikuti langkah kaki panjang Steven.


Setelah sampai di mobil Steven, pria itu belum menanyakan apapun lagi kepada Marisa. Karena dia tau sedikit saja kesalahan yang dia lakukan, maka kobaran api itu akan kembali membakar sahabatnya.


Sepuluh menit lamanya di dalam mobil terasa sangat hening. Steven yang memilih untuk bungkam dan membiarkan Marisa menjernihkan pikirannya kembali, dengan sabar pria itu menunggunya sambil memejamkan mata.


"Stev?" panggil Marisa.


"Hem?" sahut Steven dengan deheman.


"Apakah aku sebodoh dan seburuk itu, sehingga mereka memperlakukan aku seperti orang bodooh?" tanya Marisa sambil menghela napas berat.


Setelah menggelengkan kepalanya, Steven langsung meraih tangan wanita muda itu dan segera mensejajarkan tubuh mereka.


"Jangan pernah mengatakan hal itu, Ris! Bagiku kamu adalah wanita yang sangat sempurna. Dan dialah pria yang sangat bodooh sehingga tidak bisa melihat kecantikan dan ketulusan yang kamu berikan untuknya. Jadi mulai sekarang jangan pernah kamu sesali apa yang sudah terjadi. Tutup rapat lembaran yang sudah ternoda dan cobalah untuk membuka lembaran baru lagi dengan orang baru, Ris. Percayalah jika tidak semua pria itu sama seperti dia!" cetus Steven dengan seulas senyum.


"Iya, Stev. Kamu benar. Aku juga berharap jika suatu saat nanti aku bisa bersama dengan seseorang yang tulus dan bisa menerimaku apa adanya, tanpa melihat status sosial dan sudut pandang dari segi materi saja." ucap Marisa.


Akhirnya Steven merasa sangat lega, karena saat ini Marisa sudah lebih baik dari sebelumnya. Amarah yang hampir meledak kini bisa diredam oleh wanita itu sendiri setelah merenung beberapa saat.


"Aku berharap jika orang itu adalah aku, Ris." gumam Steven lirih dan hampir tidak terdengar.


"Kamu barusan bilang apa, Stev?" tanya Marisa dengan tatapan penuh selidik.


Steven pun langsung gelagapan, karena hampir saja dia keceplosan saat mengatakan hal yang belum waktunya dia katakan.


"Eh, apa? Memangnya apa yang kamu barusan dengar? Aku saja tidak mengatakan apapun kok, Ris." kilah Steven.


Meskipun Marisa belum mempercayai ucapan sahabatnya, terpaksa dia mengangguk sambil mengalihkan pandangannya ke depan.


"Ya sudah. Lebih baik kita makan siang dulu, aku lapar." sewot Marisa.

__ADS_1


Steven yang melihat perubahan sikap Marisa, kini hanya menggigit bibir bawahnya tanpa membalas ucapan sahabatnya.


'Maaf, Ris! Bukannya aku tidak ingin jujur kepadamu. Hanya saja, saat ini belum saatnya aku menyatakan perasaan ini kepadamu. Apalagi masalah mu belum juga selesai, jadi aku harus menahannya terlebih dahulu untuk beberapa saat.' batin Steven.


Disepanjang perjalanan suasana tidak seperti biasanya yang selalu ramai meskipun hanya berdua. Kali ini suasana menjadi sedikit sepi karena Marisa lebih banyak diam dan hanya berbicara jika Steven yang mengawali pembicaraan itu.


"Sekarang kamu mau makan apa, Ris?" tanya Steven untuk memecahkan keheningan.


Sejenak wanita muda itu pun terdiam dan memikirkan tentang makanan yang dapat menjernihkan pikirannya kembali.


"Apakah kamu ada saran, Stev? Makan yang cocok untuk menghilangkan rasa kesal misalnya."


Bukannya menjawab pertanyaan dari Steven, kini Marisa justru menanyakan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh pria itu.


Ya, meskipun Steven sering kesal dan jengkel tetapi dia selalu melampiaskan semuanya kepada makanan yang di sukai oleh Marisa.


"Em, apa kamu mau makan bakso dan mie ayam yang berada di taman kota? Biasanya aku makan di sana kalau sedang merasa kesal. Apalagi kalau ditambah sambal yang banyak, pasti mantap tuh." cetus Steven sambil terkekeh.


Wanita muda itu sejenak berpikir kembali, karena itu adalah salah satu makanan favoritnya juga. Dan tidak ada salahnya juga jika dia makan itu di siang hari yang sangat panas ini.


"Boleh juga ide kamu, Stev. Masih hafal juga ternyata kamu salah satu makanan favorit aku." ucap Marisa dengan kekehan kecil.


Setelah memutuskan tempat makan siang, akhirnya Steven langsung menambah kecepatan mobilnya agar mereka segera sampai di tempat tujuannya.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, mereka pun sampai di sebuah taman kota yang beberapa tahun terakhir sering mereka kunjungi, sebagai salah satu tempat favorit mereka.


"Wah, ternyata sudah lama juga ya kita tidak pergi ke taman ini bersama. Biasanya setiap pulang sekolah pasti kita selalu mampir ke sini untuk membeli cemilan atau makanan." ucap Marisa yang berjalan beriringan dengan Steven.


"Iya, Ris. Setelah kepergian ku ke California, aku juga sering merindukan momen-momen penting kita yang sederhana tetapi juga memiliki kesan tertentu. Apalagi saat aku menjahili mu, itu adalah salah satu momen yang sangat aku rindukan." goda Steven sambil terkekeh.


Dengan cepat Marisa langsung mendelik dan memberikan cubitan kecil di lengan Steven, sehingga membuat pria itu mengaduh sambil meringis.


"Awh! Sakit, Risa. Ternyata cubitan mautmu masih kamu berlakukan juga untukku. Sakit tau, Ris. Jahat banget sih!" gerutu Steven sambil mencebikkan bibirnya.


Marisa yang melihat wajah lucu Steven, langsung tertawa lepas. Sedangkan yang ditertawakan kini hanya memberikan senyuman kecil.

__ADS_1


'Tertawalah, Risa. Dan lupakan semua kesedihanmu!' batin Steven.


__ADS_2