
Keesokan harinya...
"Engh! Jam berapa sekarang?" gumam Marisa sambil mengucek matanya.
Tangan Marisa pun langsung meraba-raba benda pipih yang berada di atas nakas. Dan saat melihat jam yang terlihat di benda tersebut, Marisa langsung terlonjak dari ranjangnya.
"Astaghfirullah! Sudah jam setengah tujuh. Mengapa sama sekali tidak ada yang membangunkan aku? Dan Steven? Argh! Pasti dia masih marah kepadaku." maki Marisa yang merutuki dirinya sendiri.
Dengan cepat Marisa langsung berlari kecil ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Jurus jetsu kilatnya pun langsung keluar dan hanya dengan waktu 10 menit dia sudah siap dengan setelan kemeja putih lengan panjang.
Tap...
Tap...
Tap...
"Selamat pagi, Sayang? Bagaimana tidurmu? Apakah sangat nyenyak, sehingga bangun siang pagi ini?" goda Amara yang sudah duduk di samping suaminya.
Marisa yang baru saja tiba di lantai dasar, kini langsung mengerucutkan bibirnya sambil menatap wajah kedua orangtuanya secara bergantian.
"Mengapa Papah dan Mamah tidak membangunkan ku? Padahal pagi ini aku ada kelas pagi, dan Dosennya itu juga disiplin sekali, Mah, Pah." gerutu Marisa.
Sepasang suami-isteri itu pun langsung beradu pandang saat mendengar ucapan putri mereka.
"Maafkan kami, Sayang! Bukankah biasanya ada yang membangunkan mu dan juga menjemputmu? Jadi Mamah dan Papah mengira jika kamu bersantai pagi ini." cetus Amara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Wanita itu memang sengaja tidak membangunkan putrinya atas permintaan dari suami tercinta.
"Maksud kalian Steven? Huft! Sepertinya dia masih marah kepadaku, Mah. Nyatanya sejak kemarin, dia sama sekali tidak menghubungiku hingga saat ini. Jadi biarkan sajalah. Aku juga bisa sendiri kok tanpa dia." ujar Marisa dengan santai.
Amara dan Mario kini hanya saling beradu lirikan tanpa ingin ikut campur urusan anak muda.
"Ya sudah, Mah, Pah. Marisa berangkat ke Kampus dulu ya? Dan Marisa minta izin untuk membawa mobil sendiri. Okey? Bye? Assalamu'alaikum?" cetus Marisa yang langsung berlari keluar dari rumah.
"Kamu tidak sarapan dulu, Sayang?!" pekik Amara.
"Tidak, Mah. Sebentar lagi aku akan terlambat." sahut Marisa yang sudah sampai di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawab sepasang suami-isteri itu saat putrinya sudah tidak terlihat lagi.
Mario yang belum mengatakan sepatah katapun, akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dan membiarkan putrinya untuk belajar lebih mandiri.
"Papah membiarkan putri kita pergi sendiri?" tanya Amara dengan tatapan penuh selidik.
"Iya, Mah. Biarkan saja. Kita lihat saja dulu. Apakah Marisa bisa menerima kesendiriannya tanpa Steven yang selalu menemaninya? Biarkan waktu yang akan menentukan jalan hidupnya sendiri." jelas Mario sambil menatap kepergian putri semata wayangnya.
Akhirnya Amara memilih terdiam dan memasrahkan semuanya kepada sang suami. Wanita itu pun yakin jika suaminya sudah memiliki rencana lain untuk putri mereka.
"Baiklah, Pah. Mamah ikut Papah saja." ucap Amara dengan helaan napas berat.
.
.
"Akhirnya aku bisa mengendarai mobil ini lagi. Dan mulai sekarang aku juga harus membiasakan diri untuk mandiri tanpa ketergantungan pada Steven." gumam Marisa sambil mengemudikan mobilnya.
Dengan menambahkan kecepatan mobilnya, akhirnya Marisa bisa sampai di Kampus tepat waktu.
"Alhamdulillah. Akhirnya on time." ucap Marisa dengan napas lega.
Kelas pun akhirnya dimulai dan Marisa bisa mengikuti kelasnya dengan baik dan fokus. Akan tetapi saat melihat kembali jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia menjadi resah. Karena Steven sama sekali tidak memberinya kabar sejak kemarin.
'Kamu kemana, Stev? Mengapa kamu tidak memberikan kabar kepadaku sama sekali? Apakah kamu semarah itu kepadaku dan mencoba untuk menghindari ku?' batin Marisa.
Tak terasa waktu pun terus berjalan dengan cepat. Mata kuliah Marisa pun akhirnya selesai tepat di jam dua sore.
__ADS_1
"Hay, Risa?" panggil salah satu teman sekelasnya.
"Eh.. Hay, Naura?" sahut Marisa dengan seulas senyum.
"Setelah pulang dari Kampus, kamu mau kemana?" tanya Naura.
Sejenak Marisa pun terdiam, karena biasanya dia akan langsung pulang ke rumahnya, kecuali saat Steven yang mengajaknya keluar.
"Sepertinya aku akan langsung pulang saja, Nau. Memangnya kenapa?" ujar Marisa.
"Yah. Sayang sekali, Ris. Padahal aku ingin mengajakmu untuk keluar dan berkumpul dengan teman-teman. Tapi ya sudah kalau begitu, mungkin lain waktu kamu bisa bergabung dengan kita." jelas Naura.
Akhirnya kedua wanita itu berpisah saat tiba di luar kelas. Karena Marisa tidak pernah ikut berkumpul, jadi dia memutuskan untuk pulang dan memilih untuk bersantai di kamarnya.
Namun, saat dia hendak memasuki mobilnya. Tanpa sengaja dia melihat Steven yang sedang menjemput seorang wanita yang sama sekali tidak dia kenal.
"Itu kan Steven? Dia sama siapa ya?" gumam Marisa yang menerka-nerka.
Saat Marisa hendak menghampiri Steven, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya bersama dengan wanita itu.
"Ih! Siapa sih wanita itu? Apakah dia kekasih Steven, sehingga dia menghindari ku? Lalu mengapa kemarin dia mengatakan perasaannya kepadaku? Apa dia mencoba untuk mempermainkan ku?" gerutu Marisa sambil menghentakkan kakinya.
Entah mengapa, saat melihat Steven bersama dengan wanita lain. Di dalam hatinya terasa sedikit nyeri dan panas.
"Baiklah, Stev. Jika kamu memang hanya ingin bermain-main denganmu, maka aku sangat siap untuk meladeninya." cetus Marisa dengan tatapan datar.
Marisa yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya dengan membelah keramaian Ibukota, tanpa sadar dia melewati mobil Steven begitu saja.
Steven yang merasa terkejut dengan plat mobil sport itu, langsung teringat jika itu adalah mobil sahabatnya.
"Lho, itu bukannya Marisa?" gumam Steven.
"Kenapa, Kak Stev? Apa ada sesuatu?" tanya wanita yang saat ini duduk di samping Steven.
"Em... Begitu. Apakah dia juga satu Kampus denganku?" tanya wanita yang bernama Natasha.
"Iya. Tapi beberapa bulan lagi dia akan lulus dari Kampus itu." jelas Steven lagi.
Natasha yang sama sekali tidak tau menahu tentang wanita yang dimaksud oleh Steven, kini wanita muda itu memilih untuk diam dan menatap lurus ke depan.
.
.
"Sayang, kamu sudah pulang? Bagaimana dengan harimu? Apakah menyenangkan?" tanya Amara yang sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Mario.
Marisa yang baru saja tiba, kini langsung menghempaskan bokongnya di sofa ruang keluarga setelah mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Ya begitulah, Mah. Sedikit melelahkan. Karena aku juga harus mengejar ketertinggalan untuk mempersiapkan skripsiku juga." jelas Marisa dengan helaan napas berat.
"Ya sudah, Mah, Pah. Aku mau ke kamar dulu untuk membersihkan diri. Rasanya badanku lengket semua." pamit Marisa.
"Baiklah, Sayang." ucap keduanya secara bersamaan.
Setelah kepergian putrinya, sepasang suami-isteri itu pun kembali membahas tentang masalah yang sedang dihadapi oleh putri mereka dengan putra dari sahabatnya.
"Apakah Steven masih mendiamkan Marisa, Pah?" tanya Amara.
"Ya, mungkin." jawab Mario singkat.
.
.
Tak terasa hampir satu Minggu Steven tidak menghubungi Marisa, dan semua itu selalu membuatnya merasa gelisah karena tidak mendengar suara dari wanita yang dicintainya.
__ADS_1
"Apakah Marisa memang tidak memiliki perasaan apapun kepadaku, sehingga dia tidak pernah menghubungiku hingga saat ini? Padahal aku sangat berharap jika dia menghubungiku terlebih dahulu, dan membalas perasaanku. Huft!" gumam Steven dengan penuh harap.
Tring...
Tring...
Tring...
Dering ponsel Steven pun berbunyi, tanpa berpikir panjang pria muda itu langsung menggeser tombol berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Sha?"
"Wa'alaikumsalam, Kak Stev. Apakah saat ini Kakak sibuk?" tanya Natasha dari sebrang panggilan.
"Tidak. Ada apa?" sahut Steven.
"Em... Bisakah Kakak menjemput ku? Soalnya ban mobilku bocor, dan ini baru akan dibawa ke bengkel oleh Pak Maman." jelas Natasha.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu sekarang..Tunggu di tempat biasa ya?" ucap Steven.
"Oke, Kak Steven. Terimakasih. Assalamu'alaikum?"
"Siap. Wa'alaikumsalam, Adik manis."
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Steven segera beranjak dari kursi kebesarannya dan bergegas menuju ke lobby untuk menunggu mobilnya.
Setelah beberapa saat menunggu. Mobil sport berwarna hitam pun tiba di depannya dan scurity itu langsung menyodorkan kembali kunci mobil Steven.
"Terimakasih, Pak Reza." ucap Steven dengan seulas senyum.
"Sama-sama, Pak Steven." sahut Pak Reza dengan sopan.
Akhirnya mobil sport melaju meninggalkan gedung bertingkat itu untuk membelah keramaian Ibukota.
Saat di perjalanan, tiba-tiba Steven teringat kembali dengan Marisa. Sejujurnya dia sangat merindukan wanita muda itu, tetapi dia juga belum bisa untuk menemui wanita itu saat ini.
"Sekarang kamu sedang apa, Risa? Apakah kamu sudah makan siang?" gumam Steven saat melajukan mobilnya.
Namun, saat dia sudah hampir tiba di Kampus. Tiba-tiba pandangan tertuju ke sebuah cafe kecil yang jaraknya tidak jauh dari Kampus.
"Itu kan, Risa? Dia bersama dengan siapa? Bukankah dia pernah mengatakan jika tidak memiliki teman pria? Tetapi siapa pria yang sedang bersamanya? Apakah dia....."
CKIT!
Dengan cepat Steven langsung mengerem mendadak mobilnya dan bergegas turun untuk menghampiri sahabatnya.
"Marisa?!" pekik Steven dengan tegas.
Marisa yang sedang asyik mengobrol dengan pria muda itu, seketika langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Steven!" seru Marisa yang tak kalah terkejutnya.
Dengan langkah kaki panjang, Steven langsung berjalan dengan cepat untuk menghampiri sahabatnya.
"Oh... Jadi kamu sudah menemukan penggantinya, Ris? Pantas saja kamu melupakanku begitu saja. Ternyata kamu tidak pernah peka dan segampang itu dekat dengan pria manapun." cecar Steven saat berada tepat di samping Marisa.
PLAK!
Marisa yang tidak terima dengan ucapan Steven, dengan cepat dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan melayang sebuah tamparan keras di pipi putih Steven.
"Jaga bicaramu, Stev. Berkacalah terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain. Bukankah setelah kamu mengatakan perasaan palsumu itu, kamu juga langsung dekat dengan wanita lain, huh?! Apa kamu pikir aku adalah wanita bodooh yang bisa kamu kelabui?" maki Marisa setelah menampar pipi Steven.
"Oh... Ya, satu lagi. Aku pikir kamu berbeda dari pria rubah itu. Tetapi aku salah. Karena kamu dan dia itu sama saja. Sama-sama pemain wanita. Dan aku berharap, kamu jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di depanku!" kecam Marisa.
"Ayo, Nath! Kita pergi dari tempat ini!" titah Marisa kepada pria yang duduk berseberangan dengannya.
__ADS_1