Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
22. Lepaskan aku!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Steven yang sama sekali tidak diizinkan menemui Marisa. Hari ini pria muda itu bertindak nekat menemui pujaan hatinya di depan kampus setelah jam pulang tiba.


"Risa?! Tunggu!" pekik Steven saat melihat sahabatnya berjalan ke arah parkiran.


Marisa yang sangat terkejut dengan kehadiran Steven di Kampus, dengan cepat wanita muda itu bergegas menuju ke arah mobilnya berada.


Namun, gerakan wanita itu kalah cepat dari Steven yang secepat kilat mengejarnya. Saat hendak membuka pintu mobilnya, tangan Steven tiba-tiba langsung menyambar kuncinya yang masih berada di genggaman Marisa.


"Kembalikan kunci mobilku sekarang, Stev! Dan jangan pernah menggangguku lagi!" cetus Marisa dengan tatapan mata tajam.


"Tidak akan sebelum aku mendengarkan penjelasan mu terlebih dulu tentang maksud dua temanmu itu." timpal Steven.


Marisa yang masih berusaha untuk meraih kunci mobilnya, dengan susah payah dia berjinjit dan sesekali melompat untuk mendapatkannya kembali.


Tetapi karena Steven jauh lebih tinggi darinya, kini membuat Marisa kesulitan untuk merebutnya kembali.


"Sekali lagi aku peringatkan, Stev! Kembalikan kunci mobilku sekarang dan jangan menemuiku lagi, jika kamu tidak ingin menyesal!" gertak Marisa dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian.


"Risa, come on! Aku hanya ingin mendengarkan penjelasan darimu saja. Dan aku hanya ingin mengetahui cerita tentang apa yang kamu katakan kepada dua temanmu itu," pinta Steven.


Marisa yang sudah menyerah untuk merebut kuncinya kembali, kini memilih pergi dari tempat itu dan meninggalkan Steven begitu saja.


"Marisa?!" pekik Steven saat melihat sahabatnya yang tak acuh kepadanya.


Meskipun Steven sangat tau betul, apa yang membuat sahabatnya berubah seperti itu. Saat ini dia sedang berusaha untuk meminta maaf kepada wanita muda itu.


"Ris, ayolah! Aku hanya ingin kamu memberikan satu kesempatan kepadaku, agar aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu soal ucapanku kemarin." celetuk Steven dengan penuh permohonan.


Marisa yang masih mengacuhkan Steven, kini hanya diam dan memilih berhenti di pinggir jalan untuk menunggu taksi yang lewat.

__ADS_1


Setelah ada satu taksi yang melintas di depan mereka, wanita itu kini langsung menyetopnya dan hendak membuka pintu mobil tersebut.


Namun lagi, lagi Steven menahannya dan langsung mencekal pergelangan tangan wanita muda itu. Sedangkan Marisa yang tidak melihat gerakan tangan sahabatnya kini langsung terkejut.


"Lepaskan, Stev! Apa sebenarnya mau kamu, huh?! Apa kamu belum puas kemarin yang mengatakan jika aku wanita gampangan? Oh, ya satu lagi! Ku peringatkan kepadamu, Tuan Steven! Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapan ku, karena aku sudah sangat muak dengan semuanya!" pekik Marisa dengan lantang.


Steven yang tidak menerima penolakan dari wanita itu. Tanpa aba-aba dia langsung menyambar tubuh mungil Marisa dan menggendongnya menjauhi taksi itu.


"STEVEN! LEPASKAN!" pekik Marisa sambil memukul dada bidang Steven.


Pria muda itu kini langsung membawa sahabatnya menuju ke dalam mobilnya, tanpa mempedulikan makian dan umpatan dari wanita itu.


"Brengseek! Dasar lancang! Lepaskan aku, pria-"


"Sekali lagi kamu mengatakan aku pria brengseek, maka aku akan langsung menunjukkan kebrengseekan ku, Risa. Dan kamu tidak akan pernah menyangka jika aku bisa bertindak nekat jika sudah hilang kendali." ancam Steven dengan tatapan yang sulit diartikan.


Marisa yang melihat sosok lain dari Steven, seketika langsung tertegun. Sebelumnya pria itu tidak pernah memaksakan kehendak kepadanya, apalagi memaksanya untuk mengikuti kemauan pria itu.


"Aku tidak peduli jika kamu akan membenciku setelah ini. Yang terpenting aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Dan yang ku mau hanyalah dirimu, Marisa. Hanya kamu!" tegas Steven.


Marisa yang masih saja memberontak, tanpa dia sadari jika saat ini dia sudah tiba di samping mobil milik Steven.


Dengan cepat pria itu langsung membuka pintu mobilnya dan segera menghempaskan tubuh wanita itu di bangku belakang mobilnya.


Steven yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Pria itu langsung mengungkung tubuh Marisa yang saat ini sudah berada di bawahnya.


"Bukankah kamu sudah pernah melakukan ini dengan mantan suami palsumu, Risa? Dan apa kamu tau jika aku juga menginginkannya saat ini?" celetuk Steven.


Marisa yang sudah tidak bisa lagi membendung buliran bening itu, seketika luruh dengan derasnya. Sehingga membuat pria yang memiliki obsesi tinggi itu menjadi sangat terkejut.


"Ya. Aku memang wanita murahaan yang bisa memberikan tubuhku kepada siapa saja, Stev. Dan sekarang lakukan apapun yang kamu mau, karena aku sudah tidak peduli dengan diriku sendiri." cetus Marisa.

__ADS_1


Steven yang melihat sorot mata penuh luka dari pujaan hatinya, perlahan pria itu langsung melepaskan kungkungannya.


Melihat air mata yang keluar dari mata hazel Marisa, membuat pria itu semakin dilanda rasa bersalah.


"Maafkan aku, Risa! Maaf! Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku tau jika ucapanku kemarin sangat keterlaluan dan aku juga sangat menyesalinya." ujar Steven dengan tatapan mata sendu.


Marisa yang sudah benar-benar muak dengan sosok pria yang berada di depannya. Tanpa menjawab ucapan dari pria itu, dia langsung membuang wajah dan enggan untuk menatap wajah pria yang masih saja terus menatapnya.


"Aku mencintaimu, Marisa. Sangat mencintaimu. Tolong jangan benci aku, Risa! Aku tidak akan pernah bisa melihatmu bersanding dengan pria lain. Dan aku hany mau kamu yang berada di sisiku selamanya." ucap Steven dengan tulus.


Wanita itu masih bergeming dan memilih menghindari tatapan mata elang Steven. Meskipun sesekali Steven meraih dagunya, tetapi dia selalu menepisnya.


Sikap Marisa saat ini masih diterima oleh Steven, karena pria itu memang bersalah sehingga dia ingin menebusnya.


"Aku akan melakukan apapun untukmu, Risa. Apapun itu, jika kamu bersedia untuk memaafkan ku dan kita bisa menjalin hubungan seperti biasa lagi." ucap Steven lagi.


Rasa sakit dan sesak di dalam dada yang masih mendera, kini membuat Risa mengacuhkan setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu.


Hati yang terpatahkan untuk kedua kalinya membuat seorang Marisa seperti mati rasa, dan semua itu berimbas pada pria terakhir yang saat ini masih berusaha untuk meraihnya kembali.


"Aku membencimu, Steven. Aku sangat membencimu! Apa kamu tulii, huh?!" bentak Marisa dengan tatapan yang berapi-api.


Gejolak di dalam hatinya seketika membuat wanita itu tidak mempedulikan siapa saja yang saat ini sedang berada di hadapannya. Bahkan dia juga tidak memperdulikan tatapan mata dari sahabatnya.


"Risa, please!" mohon Steven.


"Lepaskan aku! Aku mau pulang dan aku harap jangan menemuiku lagi." tegas Marisa.


Melihat mata hazel yang masih digenangi air mata, kini semakin membuat hati Steven teriris dan terasa nyeri.


CUP!

__ADS_1


__ADS_2