
Karena tidak ingin memperumit keadaan, akhirnya Marisa langsung melenggang pergi meninggalkan Ibu dan anak itu. Gadis itu sejujurnya sudah merasa muak dengan semua pertengkaran diantara mereka.
Setelah sampai di tepi jalan raya, Marisa langsung mencari pangkalan ojek dan mengarahkannya ke alamat keluarga nya.
Hanya dengan menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit saja. Gadis itu pun akhirnya sampai di depan sebuah bangunan bertingkat tiga, dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Satpam yang melihat siapa tamu yang datang, tanpa meminta persetujuan dari sang pemilik rumah langsung membukakan pintu gerbang tersebut.
"Selamat datang kembali, Non Risa?" sapa pria paruh baya yang menjadi kepercayaan kedua orangtua Marisa.
Marisa yang sudah sangat mengenal pria paruh baya itu, kini langsung membalas sapaan tersebut.
"Terimakasih, Pak Setya." jawab Marisa dengan seulas senyum.
"Oh, iya, Pak. Papah dan Mamah ada 'kan?" tanya Marisa.
Pak Setya pun langsung menganggukkan kepalanya, dan langsung mempersilahkan Nona mudanya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ada, Non. Bapak juga belum berangkat ke kantor." jawab Pak Setya.
Setelah mendapatkan jawaban dari pria paruh baya itu, Marisa langsung berpamitan dan berjalan meninggalkan pria tersebut.
__ADS_1
Ting! Tong!
Tak berselang lama kemudian, pintu utama terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya, yang selalu menjadi sandaran kedua setelah orangtuanya.
"Non Risa?!" pekik wanita paruh baya tersebut.
Tanpa ba-bi-bu, wanita paruh baya itu langsung memeluk erat Marisa, dan Marisa pun juga membalas pelukan dari wanita itu.
"Bi Lila, Risa kangen sama Bibi." ucap Marisa dengan mata yang sudah berembun.
Namun, pelukan mereka tidak berlangsung lama, karena suara pria yang mengejutkan mereka.
Ya, pria itu adalah Mario Argantara, Ayah dari Marisa Aurelie Argantara.
Marisa yang bisa merasakan aura dingin dari sang Ayah, kini dengan susah payah dia menelan ludahnya dengan kasar.
"Papah?" panggil Marisa.
Mario pun langsung berjalan ke arah putri semata wayangnya untuk menghampirinya.
"Ternyata kamu masih ingat jika masih memiliki Papah? Aku kira kamu sudah menganggap kamu tiada, karena pernikahan mu pun juga sudah menganggap kami seperti itu 'kan?" cecar Mario sambil menyeringai.
__ADS_1
Amara yang baru saja datang untuk memberikan tas kerja kepada suaminya, kini langsung terperangah dengan sosok yang sangat dia rindukan.
"Risa?" panggil Amara dengan suara lirih.
Tatapan mata kedua Ibu dan anak itu pun bertemu. Amara yang selalu menantikan kehadiran putrinya, akhirnya wanita itu pun langsung berjalan ke arah gadis itu.
"Mamah?"
Buliran bening yang sedari tadi ditahan oleh Marisa, akhirnya luruh dan tidak bisa dibendung lagi.
"Papah? Mamah?" panggil Marisa.
Seketika gadis itu langsung terduduk bersimpuh di depan kedua orangtuanya. Mario yang melihat putrinya menangis sambil menundukkan kepalanya, kini masih bergeming di tempat.
Namun, berbeda dengan Amara yang langsung mensejajarkan dirinya dengan Marisa. Wanita itu pun juga langsung memeluk erat tubuh putrinya, dan pelukan itu juga langsung dibalas oleh Marisa.
"Maafkan Risa, Mah! Maafkan, Risa! Risa mengaku salah, karena tidak mengindahkan peringatan dari kalian. Dan kini Risa sudah merasakannya sendiri, akibat dari keputusan gegabah yang telah Risa lakukan." ujar Marisa dengan linangan airmata yang sudah membanjiri pipinya.
Amara yang sudah mengetahui semua tentang kejadian yang telah menimpa putrinya, kini hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Iya, Sayang. Kami sudah tau tentang semua yang telah dilakukan oleh mereka, dan kami juga sudah sangat geram dengan sikap mereka kepadamu." ucap Amara.
__ADS_1
"Bangunlah! Kita bicarakan semuanya di dalam!" titah Mario.