Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
13. Tua-tua Keladi


__ADS_3

Keesokan harinya...


Tring...


Tring...


Tring...


"Halo, Assalamu'alaikum?" salam Marisa.


"Wa'alaikumsalam. Lho, Ris kamu belum bangun?" tanya seorang pria melalui panggilan video.


"Ini juga baru bangun, karena telpon darimu, Stev." jawab Marisa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Astaghfirullah, Risa, Risa! Lihatlah jam berapa sekarang? Apa kamu tidak Sholat Subuh tadi?" tanya Steven sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Marisa pun langsung bergegas bangun saat melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Astaghfirullah, Steven! Kenapa kamu baru membangunkan aku sekarang? Ya sudah, kita sambung lagi nanti. Aku menunggumu di rumah. Assalamu'alaikum?"


Tut...


Tut...


Tut...


Tanpa menunggu jawaban dari Steven, wanita muda itu langsung bangkit dari ranjang dan berlari kecil ke arah kamar mandi.


Tak berselang lama kemudian, akhirnya Marisa keluar dari kamar kecil itu dan langsung menunaikan kewajibannya.


Setelah selesai, Marisa langsung menyiapkan pakaian dan beberapa berkas yang akan dia bawa ke Kampus.


"Sebaiknya aku mandi dulu, dan setelah itu aku akan mengecek kembali semua barang-barang yang perlu aku bawa." gumam Marisa.


.

__ADS_1


.


Tap...


Tap...


Tap...


"Selamat pagi, Sayang? Kenapa kamu baru turun? Coba lihatlah siapa yang sudah menunggumu." ujar Mario sambil tersenyum tipis saat melihat putrinya sedang menuruni anak tangga.


"Steven? Kenapa kamu datang sepagi ini? Bukankah kita akan pergi jam tujuh nanti?" tanya Marisa saat melihat sahabatnya sudah duduk manis di meja makan.


Steven yang melihat ekspresi wajah Marisa, kini hanya terkekeh kecil.


"Aku memang sengaja berangkat pagi, karena ingin numpang sarapan di sini, Ris. Habisnya makanan Tante Ara selalu membuatku ketagihan sih." jawab Steven sekenanya.


Marisa yang mendengar jawaban sahabatnya, kini langsung berjalan ke arah pria muda itu dan memberikan pukulan kecil di lengannya.


"Dasar! Sejak dulu kamu memang sukanya yang gratisan, Stev. Nggak modal banget sih." gerutu Marisa sambil mencebikkan bibirnya.


Steven dan Mario pun langsung terkekeh geli saat melihat ekspresi lucu dari wajah Marisa.


Dengan terpaksa mau tidak mau, Marisa menuruti perintah dari Ayahnya. Meskipun sebenarnya dia masih ingin mendebat sahabatnya yang selalu membuat naik darah.


"Awas kamu nanti, Stev! Habis kamu!" ancam Marisa dengan lirikan mata tajam.


Steven kini hanya menahan tawa agar suaranya tidak terdengar lagi oleh wanita muda itu.


'Inilah salah satu momen yang selalu aku rindukan, Risa. Karena sejak aku pergi, aku memang sengaja menghindari mu agar aku bisa lebih fokus dalam pendidikan ku. Meskipun aku tau, jika semua yang aku lakukan sangat menyiksaku.' gumam Steven dalam hati.


Setelah sarapan selesai, Marisa membantu Ibunya untuk membereskan meja makan dan membawa beberapa piring kotor ke wastafel.


Namun saat dia hendak mencuci piring-piring kotor itu, tiba-tiba Ibunya menghentikan gerakannya.


"Biarkan Bi Lila yang membersihkan, Sayang. Kasian kalau Steven harus menunggumu terlalu lama. Bisa-bisa nanti kalian terlambat." ucap Amara dengan suara lembut.

__ADS_1


Akhirnya Marisa memilih untuk mengalah dan membiarkan wanita paruh baya itu yang menggantikan tugasnya. Padahal sebenarnya dia sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.


"Sudah siap, Ris? Mau berangkat sekarang?" tawar Steven.


Kini dengan malas Marisa hanya menganggukkan kepalanya sambil memutar bola mata malas.


"Kalau begitu kami berangkat dulu, Om, Tante. Assalamu'alaikum?" pamit Steven sambil mencium punggung tangan orangtua sahabatnya.


Marisa pun melakukan hal yang sama, dan akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju ke mobil milik Steven.


Sedangkan Amara dan Mario kini hanya tersenyum saat menatap muda-mudi yang selalu bertingkah seperti anak kecil.


"Bukankah mereka sangat serasi, Pah?" tanya Amara tiba-tiba.


"Iya, Sayang. Mereka berdua memang sangat serasi dan cocok. Sepertinya kita harus bergerak cepat, agar Marisa bisa terlepas dari pria itu dan bisa lebih dekat dengan Steven." jawab Mario yang sependapat dengan istrinya.


"Kalau begitu kita juga harus menghubungi Bang Riko, agar kita bisa segera untuk membicarakan tentang rencana kita ini. Tetapi sebelum itu, kita harus memastikan jika Marisa mudah untuk melepaskan diri dari jeratan benalu itu." ujar Amara.


Wanita itu masih merasa sangat geram jika membahas tentang mantan menantunya yang hanya memanfaatkan putri semata wayangnya.


"Iya, Sayang. Kamu tenang saja, semuanya sudah aku atur dan kamu tinggal mendengar hasilnya saja. Tetapi sebelum itu, aku mau......"


Mario sengaja menggantungkan ucapannya sebagai kode untuk istrinya. Sedangkan Amara kini hanya tersipu malu sambil memukul perlahan dada bidang suaminya.


"Ah, Papah. Dasar tua-tua keladi!" gerutu Amara sambil mengerucutkan bibirnya.


Pria paruh baya itu pun langsung terkekeh, dan tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh seksi istrinya.


"Astaghfirullah, Papah! Ih, kebiasaan deh! Kan malu kalau ada yang li...hat." pekik Amara.


Namun saat mereka hendak pergi ke kamar, ternyata saat itu mereka berpas-pasan dengan Bi Lila yang hendak keluar.


"Maaf, Nyonya, Tuan! Saya tidak melihatnya." elak Bi Lila sambil menutupi sebagian wajahnya dengan kedua tangannya.


Amara yang tertangkap basah sedang digendong oleh Mario, kini hanya menahan malu. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka kepergok oleh beberapa pelayan mereka.

__ADS_1


"Tuh kan, Papah sih. Mamah kan jadi malu sama Bi Lila." gerutu Amara sambil mencebikkan bibirnya.


"Berhentilah menggerutu, Sayang! Atau aku akan memakanmu di sini!" ancam Mario.


__ADS_2