Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
9. Bertemu dengan Sahabat


__ADS_3

"Tunggu!"


Suara wanita yang masih asing di telinga Marisa, kini perlahan mulai mendekat ke arahnya. Dan saat gadis itu membalikkan badannya, ternyata selingkuhan suaminya saat itu sudah berada di belakangnya.


"Ada apa? Apakah kamu belum puas untuk menghancurkan rumah tanggaku, huh?!" pekik Marisa sambil menunjuk ke arah wanita itu.


Dengan akting ekspresi wajah terkejutnya, kini wanita itu langsung tergelak saat mendengar suara lantang seorang Marisa.


"UPS! Pelan saja, Risa. Jangan membuang-buang tenagamu untuk berbicara lantang kepadaku! Karena semua itu percuma saja. Suami dan mertuamu, ups! Maksudku mantan suami dan mertuamu tidak akan pernah membelamu lagi. Dan seharusnya kamu juga menyadari sejak awal, jika gembeel sepertimu tidak pantas untuk bersanding dengan pria cerdas seperti Kevin." ujar wanita itu dengan penuh percaya diri.


Marisa yang masih bergeming tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya, kini masih menyimak setiap ucapan yang dilontarkan oleh wanita muda itu.


"Oh, iya. Perkenalkan namaku Stella Aleta Atmajaya, salah satu pewaris dari Atmajaya Group. Dan sebentar lagi suamimu akan menjadi menantu di dalam keluargaku." ucap wanita yang bernama Stella.


Marisa yang merasa tidak asing dengan nama marga wanita itu, kini masih diam sambil mengingat tentang nama itu.


'Sepertinya nama itu tidak asing untukku, dan sepertinya aku juga sangat mengenali nama itu. Tapi siapa?' batin Marisa yang saat ini masih mengingat kembali nama marga itu.


"Hey, gadis gembeel! Segera enyahlah dari rumah ini! Aku sudah sangat muak dengan mu. Pergi!" usir Ema sambil menatap tajam ke arah Marisa.


Marisa yang sejak tadi sudah ingin pergi dari rumah itu, kini terpaksa harus berhenti sejenak saat mendengar ucapan wanita muda itu.


"Ckk! Bukankah sejak tadi aku sudah ingin pergi dari rumah ini, tetapi calon menantu barumu saja yang mencegahku. Em, sepertinya dia memang sudah tidak sabar untuk menikah dengan pria arogan itu." jelas Marisa sambil tersenyum meremehkan.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Marisa memilih untuk pergi dan pulang kembali ke rumah kedua orangtuanya. Karena hanya disanalah satu-satunya tempat yang paling aman untuknya.


"Huft! Beruntung sekali aku, karena aku bisa terlepas dari keluarga Toxic itu secepatnya. Dan untung saja aku belum memberikan hak itu kepada pria bodooh itu." gumam Marisa di sepanjang perjalanan.


Setelah sampai di tepi jalan raya, gadis itu pun masih menunggu taksi yang lewat. Namun saat dia sedang berdiri di tepi jalan, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat disampingnya.

__ADS_1


Pintu kaca mobil pun akhirnya terbuka, dan menampilkan sosok pria yang dulu selalu menjadi sahabat sekaligus tempat curhatnya.


"Marisa 'kan?" tanya pria itu.


Marisa yang masih bergeming di tempat, kini masih enggan untuk bersuara. Karena dia belum tau, apakah pria di depannya adalah sahabatnya dulu atau bukan.


"Hey, Risa? Ini aku Steven. Apakah kamu sudah melupakan aku?" sapa pria itu.


Marisa yang akhirnya sudah bisa memastikan jika pria itu benar sahabatnya, kini hanya menatapnya dengan diam. Dan akhirnya diamnya Marisa membuat Steven merasa sangat gemas.


Pria itu pun juga langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Marisa. Namun saat pria itu hendak merangkul pundak sahabatnya, tiba-tiba saja Marisa langsung menepisnya.


"Beraninya kamu menampakkan wajahmu di depanku, Stev. Setelah kamu pergi begitu saja tanpa memberitahu ku terlebih dahulu. Dan sekarang kamu datang lagi, dan berharap kita bisa seperti dulu lagi. Jangan harap!" cecar Marisa.


Ya, Steven adalah salah satu sahabat Marisa yang terpaksa harus menuruti permintaan kedua orangtuanya, untuk melanjutkan pendidikannya di California.


"Sorry, Risa! Aku tidak bermaksud untuk meninggalkan sahabat terbaikku ini. Tetapi semua itu diluar rencana ku, Ris." ucap Steven sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.


Marisa yang masih merasa kesal dengan sahabatnya, kini hanya membuang wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ikutlah denganku, Ris. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu." pinta Steven.


Marisa yang sedang merajuk, kini langsung membuka pintu mobil Steven sambil melirik tajam ke arah pria muda itu. Sedangkan Steven kini langsung mengembangkan senyumnya, saat melihat Marisa memasuki mobilnya.


Di sepanjang perjalanan, Steven mencoba untuk mengajak Marisa bercerita tentang masa lalu mereka. Namun semua itu diacuhkan begitu saja oleh gadis itu.


Steven yang sudah sangat mengenal bagaimana perangai seorang Marisa Aurelie Argantara, kini hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang.


"Baiklah. Sepertinya gadis manis ini masih marah kepadaku. Karena sejak tadi aku selalu diabaikan, dan sama sekali tidak dipedulikan." sindir Steven.

__ADS_1


Marisa yang masih merajuk, kini masih memilih untuk bungkam. Dan Steven kini juga menyadari jika semua ini adalah murni karena kesalahannya.


"Maafkan aku, Ris! Sungguh aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermak-"


"Berhentilah bersikap seperti kamu yang tersakiti disini, Stev! Dan diamlah!" potong Marisa.


Steven akhirnya mengalah dan tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena semua itu hanya akan menjadi sia-sia saja.


Setelah beberapa menit mencari tempat untuk melanjutkan obrolan mereka. Akhirnya mereka sampai di depan cafe milik Steven, dan Marisa segera turun sebelum Steven membukakan pintu untuknya.


Dengan langkah kaki jenjangnya, Marisa langsung memasuki cafe itu dan memesan private room untuk mereka. Semua itu dilakukan oleh gadis itu, sekedar untuk jaga-jaga jika nanti emosinya akan meledak-ledak.


"Baiklah. Kamu mau pesan apa, Ris?" tanya Steven dengan sabar.


"Seperti biasa, jika kamu masih mengingat semuanya." jawab Marisa sekenanya.


Steven pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat tingkah kekanak-kanakan dari sahabatnya. Benar-benar terlihat sangat manis dan menggemaskan untuknya.


"Uwh! Ternyata sejak dulu kamu tidak pernah berubah ya, Ris? Masih sangat menggemaskan dan terlihat semakin cantik sekali." puji Steven sambil menatap lekat wajah Marisa.


Marisa yang tersipu dengan pujian dari sahabatnya, kini dibuat salah tingkah dan langsung membuang muka.


"Jangan mencoba untuk merayuku, pria culun! Karena semua itu percuma saja, tidak akan pernah mempan untukku." sewot Marisa.


Steven kini hanya terkekeh saat melihat tingkah Marisa. Jika saja Marisa sedang tidak merajuk. Pasti pria itu akan mencubit pipi dan mengacak-acak rambut gadis itu.


Setelah pesanan mereka sampai, akhirnya kedua orang itu memilih diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


'Ternyata setelah aku pergi, kamu jauh lebih baik dari yang aku perkirakan, Risa. Apakah saat ini kamu masih sendiri atau justru sudah memiliki kekasih, Marisa Aurelie?' batin Steven sambil menerka-nerka.

__ADS_1


__ADS_2