Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
28. Menjadi Tamu Undangan


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian...


Hari yang dinantikan oleh Marisa pun tiba. Hari ini tepat hari pernikahan Kevin dan Stella di sebuah Hotel milik Keluarga Atmajaya. Dan Steven sengaja mengajak Marisa sebagai pasangannya agar bisa menunjukkan kepada para benalu itu siapa Marisa sebenarnya.


"Sayang, hari ini kita pakai baju yang kemarin aku pesan ya? Agar nanti saat berada di acara mereka, kita menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir." pinta Steven saat mengantar Marisa pulang ke rumahnya.


Marisa yang sudah mematangkan rencananya, mau tidak mau harus menuruti permintaan kekasihnya yang selalu bersikap manja kepadanya.


(Sejak kapan mereka jadian? Jawabannya: Sejak mereka pulang dari pantai satu Minggu yang lalu. hehehe..)


"Iya, Hubby. Apa aku pernah menolak rengekan bayi besarku yang sangat manja ini, hm?" cetus Marisa.


"Sayang?" rengek Steven.


Jika sudah seperti ini wanita muda itu tau apa yang diinginkan oleh kekasihnya.


CUP!


"Sudah 'kan? Kalau begitu, ayo kita turun! Pasti Mamah dan Papah juga sudah menunggu kita." pinta Marisa setelah memberikan ciuman singkat di pipi kekasihnya.


Steven pun patuh dan segera mengekor di belakang Marisa yang lebih dulu keluar dari mobilnya.


"Sepertinya setelah ini kita harus menikahkan mereka, Sayang. Karena pria yang selalu menculik putri kesayangan kita semakin tidak tau diri. Dan coba lihatlah, ini sudah jam berapa?" sindir Mario saat melihat pasangan kekasih itu memasuki rumah.


Marisa pun hanya mengulum senyum karena saat ini tersangka utamanya adalah Steven yang sudah lupa waktu, sehingga membuat mereka pulang melewati batas waktu yang diberikan oleh Mario.


"Maaf, Om! Tadi kami mampir dulu ke apartemenku untuk mengambil barang yang lupa tertinggal. Jadi Om jangan marahi Marisa ya? Karena disini aku yang bertanggungjawab atas kesalahan ini." ujar Steven setelah menyalami punggung tangan orangtua kekasihnya.


"Baiklah. Kali ini kamu, aku maafkan. Tetapi ingat, Stev. Malam ini kamu harus benar-benar bisa aku andalkan. Karena malam ini kalian sedang berisi dengan tiga orang yang tidak waras. Dan lebih parahnya lagi, nanti disekitar kalian akan ada beberapa orang kepercayaan mereka selalu memantau pergerakan para tamu yang hadir." jelas Mario.


Steven yang belum mengetahui tentang rencana para benalu itu, kini akhirnya langsung mengerti apa yang harus dilakukan saat bersama dengan kekasihnya.


"Siap, Om. Aku akan selalu mengikuti kemana Risa pergi dan aku juga yang akan menjamin keselamatannya saat di pesta pernikahan mereka." sahut Steven dengan mantap.

__ADS_1


Akhirnya setelah melakukan kesepakatan ulang, Steven langsung meminta izin untuk numpang membersihkan diri di rumah kekasihnya.


Karena jika dia harus bolak-balik ke apartemennya lagi, pasti mereka akan tertinggal acara intinya.Meskipun nanti mereka akan muncul setelah mereka Ijab Qobul sudah terlaksana.


Marisa yang juga langsung bergegas ke kamarnya, kini bersiap dengan gaun yang senada dengan jas yang dipakai oleh Steven.


"It's okey. Perfect! Sepertinya sudah tidak ada yang terlewatkan. Sebaiknya aku segera turun untuk menemui Steven lagi." gumam Marisa setelah merapikan gaun dan riasannya.


Penampilan sederhana tetapi juga terlihat sangat elegan. Kini seorang Marisa berjalan dengan anggun sambil menenteng tas wanita yang senada dengan gaunnya.


Setelah sampai pada pijakan terakhir anak tangga, wanita muda itu langsung berjalan dengan baik saat menggunakan sepatu hak tingginya.


"Maaf sudah menunggu lama, Hubby! Bagaimana penampilanku sekarang? Apakah ada yang terlewatkan?" celetuk Marisa saat tiba di depan kekasihnya.


Steven yang melihat kecantikan wanita muda itu, seketika terpana dengan mulut yang menganga sehingga air liurnya juga hampir menetes.


Marisa yang melihat wajah lucu kekasihnya. Kini langsung melambaikan tangannya tepat di depan wajah pria muda itu.


Steven yang tersadar kini dari lamunannya, kini langsung gelagapan dan salah tingkah.


"Eh, iya. Maaf, Sayang! Aku baru saja melihat bidadari tak bersayap jatuh dari kahyangan." jawab Steven sekenanya.


Entah sebuah pujian atau apa, jawaban yang Steven berikan sukses membuat wanita itu mengulum senyum.


"Kalian sudah siap?" tanya Amara yang baru saja keluar dari dapur.


"Sudah, Ma."


"Sudah, Tante."


Keduanya menjawab pertanyaan Amara secara bersamaan. Dan semua itu sukses membuat Steven dan Marisa terkekeh.


"Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Semoga setelah badai ini selesai, aku berharap jika kebahagiaan kalian akan segera datang." harap Amara.

__ADS_1


Amara dan Mario yang juga mendapatkan undangan secara langsung dari Riko. Mau tidak mau mereka juga harus hadir, meskipun sebenarnya mereka sangat enggan.


"Mamah terlihat sangat cantik dan awet muda. Pasti nanti semua tamu akan terpana dengan penampilan Mamah." puji Marisa.


"Tentu saja Mamah mu terlihat cantik dan awet muda. Karena Papah selalu rajin memberikan perawatan dan keperluan yang Mamah butuhkan. Dan aku juga berharap jika nanti kamu akan mendapatkannya juga setelah menikah." ujar Mario sambil melirik ke arah putra dari sahabatnya.


GLEK!


'Mengapa Om Mario selalu menatapku seperti musuhnya? Apakah sebenarnya Om Mario mempunyai dendam tersendiri kepadaku, sehingga dia selalu bersikap seperti itu?' batin Steven.


"Ayo, kita berangkat!" pinta Marisa sambil menggenggam tangan kekasihnya.


Steven pun patuh dan segera mensejajarkan langkahnya dengan Marisa. Melihat wajah cantik kekasihnya membuat pria itu enggan untuk mengajaknya keluar.


Karena sebenarnya dia tidak ingin membuat wanitanya menjadi pusat perhatian, termasuk para pria hidung belang.


"Sayang, bisakah kita tidak jadi pergi saja? Sejujurnya aku sangat tidak rela jika kamu menjadi pusat perhatian semua orang. Dan aku sangat yakin jika nanti para tamu akan terpana saat melihat bidadariku." rengek Steven sambil berbisik.


Amara dan Mario yang berjalan lebih dulu sama sekali tidak bisa mendengar bisikan dari calon menantu mereka.


"Ayolah! Kenapa kalian lama sekali? Bisa-bisa kita terlambat dan melewatkan momen yang sangat penting itu." protes Mario yang mulai tidak sabaran.


Akhirnya Steven dan Marisa langsung mempercepat langkahnya. Padahal sebelumnya Marisa ingin menjawab rengekan bayi besarnya itu.


Tetapi karena sang Ayah sudah tidak sabaran, wanita itu pun langsung mengurungkan niatnya dan memilih untuk memberikan isyarat melalui kedipan mata.


Steven yang mulai mengemudikan mobilnya untuk membelah keramaian kota, kini langsung menambah kecepatan mobilnya agar mereka bisa segera sampai.


Setelah sampai di depan lobby hotel, Steven langsung menyerah kunci mobilnya kepada resepsionis dan meminta petugas untuk memarkirkan mobilnya.


Petugas yang sudah sangat hafal siapa pria yang baru saja datang. Kini langsung memberikan sambutan dan segera mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Apakah itu calon istri Tuan Steven? Cantik sekali. Mereka benar-benar sangat serasi." ucap salah satu pegawai hotel yang saat ini sedang bertugas.

__ADS_1


__ADS_2