
Acara resepsi pernikahan Stella dan Kevin pun telah usai. Steven yang langsung mengantar keluarga kekasihnya untuk pulang setelah berpamitan kepada sang Ayah.
"Bagaimana perasaanmu tadi, Sayang? Apakah kamu masih cemburu melihat mereka?" tanya Steven saat tiba di teras rumah Argantara.
"Kamu bicara apa sih, Hubby? Apa kamu pikir aku masih memiliki perasaan kepada pra rubah itu? Dan kamu ingin aku merebutnya dari kakak kesayangan mu itu?" cecar Marisa dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
GLEK!
'Kenapa sekarang justru aku yang disudutkan? Astaghfirullah! Ternyata benar jika wanita adanya jika wanita itu tidak ingin disalahkan apalagi dipojokkan.' batin Steven.
"Bukan seperti it--"
"Ah, sudahlah! Kamu memang hanya ingin mempermainkan perasaanku saja, Hubby. Kamu dan dia memang sama saja dan tidak ada bedanya." celetuk Marisa sambil mengibaskan tangannya saat tangan Steven hampir menyentuh tangannya.
Hati siapa yang tidak merasa sakit, saat seorang wanita sudah menetapkan hatinya untuk satu pria yang sangat istimewa di dalam hidupnya.
Tetapi kini pria itu justru meragukan perasaannya itu. Dan hal itu dirasakan oleh Marisa yang sudah terang-terangan mengatakan jika dia sudah siap menjadi pendamping hidup Steven.
"Lebih baik kamu pulang saja! Dan besok tidak perlu menjemputku. Karena aku bisa pergi sendiri." cetus Marisa yang langsung melenggang pergi setelah mengatakan hal itu kepada kekasihnya.
"Astaghfirullah! Kenapa kamu justru memancing masalah baru sih, Stev? Harusnya kamu jangan memancing perkara itu setelah dia terang-terangan sudah menerimamu. Bodooh kamu, Steven! Kamu benar-benar pria bodooh! Argh!" umpat Steven sambil memukul udara.
Mario yang tanpa sengaja mendengar perdebatan kecil muda-mudi itu, kini langsung menghampiri pemuda yang masih mengacak-acak rambutnya di depan rumahnya.
"Makanya, Stev. Jangan memancing singa betina yang sedang tidur! Sekarang kamu bisa merasakannya sendiri 'kan? Bagaimana sifat dan karakter kaum wanita yang sama sekali tidak ingin disalahkan apalagi disudutkan. Bisa-bisa mereka yang akan meragukan perasaanmu terhadapnya." ujar Mario sambil menepuk-nepuk pundak putra dari sahabatnya.
Steven pun langsung menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah pria paruh baya itu dengan tatapan yang memelas.
__ADS_1
"Om, tolong bantuin aku dong! Please! Aku janji setelah ini akan lebih berhati-hati lagi dalam berbicara kepada putri kesayangan Om. Ya, ya? Mau ya? Please, Om!" pinta Steven sambil terus memohon kepada Ayah kekasihnya.
Mario yang merasa kasihan kepada Steven, kini hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Baiklah. Om akan membantumu untuk membujuk wanita manja itu agar tidak salah paham karena ucapanmu. Semoga saja dia bisa luluh dan memaafkan mu besok. Sekarang pulanglah dulu dan jangan terlalu dipikirkan tentang masalah ini." ujar Mario.
Mau tidak mau pria posesif itu menuruti ucapan Ayah kekasihnya. Karena percuma saja jika dia tetap di sana hanya akan membuang-buang waktu saja.
"Baik, Om. Semoga saja besok pagi Marisa bisa memaafkan ku." harap Steven.
Setelah mengatakan hal itu, Steven langsung berpamitan dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
Di sepanjang perjalanan menuju apartemennya. Pikiran Steven pun kembali berkecamuk dan dia pun juga merutuki ucapannya yang asal-asalan tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.
"Kenapa tadi aku harus menanyakan hal itu kepada Marisa sih? Padahal sebelumnya hubungan kita sudah baik-baik saja dan dengan bodoohnya aku mencari perkara baru kepadanya." gumam Steven yang masih merutuki dirinya sendiri.
Steven yang terus menekan pedal gas dan menambahkan kecepatan mobilnya. Akhirnya pria itu sampai di depan lobby apartemen, kemudian dia langsung mengemudikan kembali ke arah basemen apartemen itu.
Hanya dengan waktu 5 menit saja, pria itu sudah sampai di dalam kamarnya. Kemudian pria itu langsung merogoh benda pipihnya yang masih tersimpan di saku celana.
Steven kini langsung mencari nama seseorang yang membuat pikirannya tidak tenang. Bahkan beberapa kali dia melakukan panggilan suara dan video, wanita itu sama sekali tidak menjawabnya.
"Sayang, angkat dong! Aku mohon maafkan aku!" gumam Steven dengan penuh harap.
Sepuluh kali panggilan sama sekali tidak ada jawaban. Steven yang sudah merasa frustasi, pria itu kini langsung mengetik sebuah pesan di aplikasi hijau miliknya.
Steven : "Sayang?"
__ADS_1
Steven : "Please! Angkat dong!"
Steven : "Tolong, jangan marah!"
Steven : "Aku mengaku jika aku salah. Dan aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Please!"
Setelah beberapa kali Steven menyepam pesan singkat kepada wanitanya. Akhirnya centang abu-abu berubah menjadi hijau, sehingga senyum Steven langsung mengembang.
Pria itu berpikir jika kekasihnya akan segera membalas pesan singkatnya. Dia juga berharap jika wanita itu akan memaafkannya.
Ting!
Satu pesan singkat pun akhirnya masuk dan pria itu langsung membuka pesan singkat itu secepat mungkin.
My Heart : "DASAR, JAMBU! AKU PERINGATKAN KEPADAMU, JANGAN TEMUI AKU HINGGA AKU SENDIRI YANG AKAN MEMINTANYA SECARA LANGSUNG KEPADAMU! JADI JANGAN MENGGANGGUKU APALAGI SAMPAI MENEMUIKU DI RUMAH. DAN KALAU KAMU SAMPAI NEKAT DATANG, MAKA KITA AKHIRI SAJA HUBUNGAN INI!!!"
Isi pesan Marisa sukses membuat senyuman Steven langsung meredup. Sedangkan wanita yang sudah mengirim pesan itu kini hanya cekikikan sendiri.
Sejujurnya Marisa tidak marah kepada kekasihnya, hanya saja dia kecewa karena Steven masih meragukan perasaannya kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Maafkan aku, Hubby! Sebenarnya aku tidak ingin membuat kamu seperti ini. Hanya saja aku tidak ingin jika nanti kamu terus meragukan perasaanku yang sangat tulus ini.. Apalagi nanti setelah kita menikah dan sebelum kita menyingkirkan para benalu itu. Kita akan lebih sering bertemu dengan mereka dan aku yakin kamu pasti akan menanyakan hal itu lagi kepadaku." gumam Marisa sambil menatap benda pipih yang masih tergenggam erat di tangan mungilnya.
Marisa yang melihat Steven sedang mengetik untuk membalas pesannya. Dengan cepat wanita itu segera mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas.
"Maaf, Hubby! Aku harap esok hari kamu bisa merenungkan tentang perasaan ini dan aku harap kamu tidak akan meragukannya lagi dan setelah itu kamu bisa menyadari seberapa besar rasa cinta ini untukmu." harap Marisa.
Setelah beberapa menit kemudian, wanita itu sudah terlelap di dalam mimpinya. Sedangkan Steven yang baru saja selesai mengetik balasan pesan kekasihnya. Kini kembali merasa frustasi, karena pesan singkatnya hanya centang satu dan itu tandanya ponsel wanita itu sudah dinonaktifkan.
__ADS_1
"Ya Allah, Sayang! Mengapa untuk mendapatkanmu harus melewati banyak perjuangan dan pengorbanan? Apakah aku salah jika ingin memastikan bahwa hatimu benar-benar hanya ada aku saja?" gumam Steven setelah melempar ponselnya ke sembarang arah.
Disaat Marisa sudah terlelap di dalam mimpi indahnya. Kini justru Steven masih terjaga hingga menjelang pagi datang rasa kantuk itu baru datang.