Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
3. Bertengkar Lagi?


__ADS_3

TING! TONG!


CEKLEK!


"Lho, Den Steven. Mari silahkan masuk, Den!" pinta Bi Lila.


Steven pun langsung patuh dan mengekor di belakang Bi Lila yang lebih dulu masuk ke dalam.


"Eh, ada tamu ternyata. Sini, Stev! Sarapan bersama yuk!" pinta Mario.


Marisa yang hari ini tidak ada kelas pagi, kini masih berada di rumah dengan pakaian santainya. Bahkan wanita muda itu juga belum mandi pagi ini.


Namun, tetap saja penampilan sederhana wanita itu masih bisa membuat seorang Steven terpana saat melihatnya. 'Cantik.' puji Steven dalam hati.


Wanita itu biasanya langsung menyambut kekasihnya saat melihat kedatangannya. Tetapi tidak pagi ini, karena Marisa masih berpura-pura merajuk kepada Steven.


Amara yang sudah mengetahui tentang permasalahan muda-mudi itu kini hanya bisa mengulum senyum, karena wanita berkepala empat itu juga sudah pernah merasakannya di masa muda.


"Sini, Stev! Duduk di samping Risa." titah Amara sambil tersenyum tipis.


"Baik, Tante." sahut Steven.


Tetapi siapa sangka di saat Steven hendak menghempaskan bokongnya, tiba-tiba kekasihnya justru langsung berdiri dan hendak pergi dari tempat duduknya.


Steven yang langsung menyadari gerakan itu, kini langsung meraih tangan Marisa kemudian langsung menariknya ke belakang. Sehingga saat ini posisi Marisa berada tepat di atas pangkuan kekasihnya.


"Aakh! Hubby!" pekik Marisa.


"Mau kemana, Sayang? Mengapa kamu mau meninggalkan aku di sini? Kamu masih marah soal semalam?" tanya Steven yang masih mengunci pergerakan Marisa.


"Lepaskan aku, Steven!" titah Marisa sambil memberontak.

__ADS_1


Amara dan Mario yang melihat sepasang kekasih tidak tau malu itu, memilih untuk berpura-pura untuk tidak melihatnya dengan melanjutkan sarapan pagi mereka.


Tanpa ba-bi-bu Steven langsung menggendong tubuh mungil Marisa dan membawanya ke halaman belakang. Wanita itu langsung mengalungkan tangannya di leher kekasihnya, saat kakinya tidak menyentuh lantai.


"Turunkan aku, Stev!" titah Marisa lagi sambil mencebikkan bibirnya.


Pria itu hanya bergeming dan tetap fokus ke arah tujuannya tanpa mengindahkan perintah dari kekasihnya. Steven juga tidak menoleh ke arah Marisa di saat wajahnya terlihat memerah.


Setelah sampai di halaman belakang. Steven langsung mendudukkan Marisa di pangkuannya. "Sayang, please! Maafkan aku! Aku tau jika aku salah karena aku masih meragukan tentang perasaanmu kepadaku. Tetapi percayalah! Jika aku hanya ingin menjadi satu-satunya raja di hatimu, sama seperti kamu satu-satunya ratu di hatiku." ujar Steven.


Marisa yang mendengar ucapan sekaligus permintaan dari kekasihnya, kini justru memilih untuk bungkam dan membuang muka darinya.


Namun bukan Steven namanya jika menyerah begitu saja tanpa ingin mencari cara untuk meluluhkan hati batu kekasihnya.


"Please look at me, honey! Look me in the eye! Apakah di sana kamu menemukan sebuah kebohongan, hm?" pinta Steven meraih dagu Marisa.


Marisa yang masih menatap mata kekasihnya. Perlahan wanita itu langsung menyelami iris mata elang pria yang saat ini masih memangkunya.


Benar saja yang dikatakan oleh Steven. Di dalam bola mata elang itu sama sekali tidak ada kebohongan sedikitpun. 'Aku tau jika kamu tidak pernah berbohong jika tentang perasaanmu kepadaku, Stev. Tetapi mengapa kamu justru masih meragukan tentang perasaanku kepadamu? Apakah kamu juga tidak bisa melihat ketulusan cintaku?' batin Marisa.


Tes...


Tes...


Tes...


"Honey, no! Don't cry! I'm really sorry, honey." pinta Steven.


Setiap kali dia melihat tetesan embun yang mengalir dari peluk mata kekasihnya. Justru membuat hatinya terasa nyeri, karena bukan seperti itu yang dia inginkan.


Bahkan dia tidak pernah menginginkan embun itu menetes dan membasahi pipi mulus kekasihnya. "Sayang, tolong jangan seperti ini!" pinta Steven sambil menyeka embun itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku dan pergilah dari sini, Stev! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang masih meragukan perasaanku. Silahkan pergi dan cari penggantiku!"


Entah kata-kata dari mana, tiba-tiba bibir ranum Marisa mengucapkan kata itu secara tidak langsung. Padahal sebelumnya dia sudah menyiapkan dirinya untuk memberikan maaf kepada pria itu.


Namun, setiap kali dia menatap mata elang yang selalu membuat hatinya bergetar. Marisa selalu merasakan jika tatapan penuh intimidasi itu akan selalu dia dapatkan dilain waktu.


Meskipun hatinya sangat tidak rela mengucapkan kata-kata itu kepada kekasihnya, tetapi bibirnya bisa berucap kata yang tak sanggup dia tahan.


"No, Honey! Jangan pernah berpikir jika aku akan mencari penggantimu! Dan jika aku menginginkannya pasti aku sudah melakukannya sejak dulu daripada menantimu selama bertahun-tahun. Seharusnya kamu juga tau, bagaimana rasanya jika orang yang sejak dulu kamu cintai pernah mencintai seseorang dengan sangat dalam. Sampai-sampai dia rela menentang restu orangtuanya, hanya demi orang brengseek seperti DIA!"


DEGH!


Mendapatkan bentakan dari pria yang sangat dicintainya, membuat hati yang retak langsung pecah dan hancur. Bahkan Marisa tidak pernah menyangka jika Steven akan membentaknya karena ucapannya yang asal-asalan.


Sedangkan Steven yang sudah tidak bisa membendung lagi amarahnya. Tanpa sengaja dia menaikan satu oktaf intonasi suaranya, sebingga tanpa sadar dia juga semakin mengiris hati wanita muda itu.


"Ya. Kamu memang benar, Stev. Jadi sekarang lepaskan aku daripada kamu mempertahankan wanita yang sangat mudah dibodohi sepertiku!" cetus Marisa dengan embun yang semakin menetes dengan derasnya.


"Katakan sekali lagi jika kamu ingin lepas dariku, Ris! Maka aku akan langsung memberikan pelajaran yang sama sekali tidak pernah kamu duga sebelumnya. Bahkan jika kamu mengingat kembali kejadian saat di mobil waktu itu, pasti kamu langsung bisa mengerti apa yang aku maksud saat ini." ujar Steven dengan tatapan mata tajam.


Perdebatan yang semakin memanas dan cengkeraman tangan Steven yang semakin erat. Kini justru membuat Marisa semakin merasa kesakitan, bukan hanya hatinya yang sakit tetapi juga raganya ikut merasakannya.


"Lakukanlah sesukamu, Steven! Dan percayalah! Setelah ini aku akan pergi sejauh mungkin darimu dan aku tidak akan pernah ingin melihat wajahmu lagi!" tegas Marisa disela isakan tangisannya.


Suara tangis yang terdengar memilukan dan menyayat hati, seketika membuat Steven tertegun. Awalnya pria itu hanya ingin memperingatkan kekasihnya, tetapi siapa sangka kini wanita itu justru semakin berbicara tidak jelas arahnya.


Karena tidak ingin mendengarkan ucapan nyeleneh kekasihnya. Tanpa ba-bi-bu Steven langsung menyambar bibir ranum itu dan memberikan ciuman kasar disertai dengan gigitan kecil di bibir bawah Marisa.


Marisa yang terus saja memberontak dan memukul dada bidang Steven, sama sekali tidak membuat pria itu bergeming dari tempatnya.


Justru pria itu semakin memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar jika ada dua pasang mata yang sangat terkejut dengan tindakan nekatnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Kenapa lama-lama pria itu bertindak semaunya sendiri sih? Dasar pemuda tidak tau malu! Lebih baik aku mengusirnya, sebelum dia semakin menyakiti putriku." celetuk Amara.


"Jangan!"


__ADS_2