
Hari demi hari terlewati dengan penuh kebahagiaan dirasakan oleh sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Bahkan keseharian mereka pun menjadi penuh warna seperti hari ini.
"Sayang, maaf! Bukannya aku tidak mau membangunkanmu pagi ini. Tetapi aku juga bangun kesiangan, karena semalaman aku tidak bisa tidur setelah panggilan video terputus." jelas Steven dengan tatapan yang memelas.
Marisa yang sedang merajuk karena hari ini terlambat di kelas paginya. Mau tidak mau Steven harus mengeluarkan jurus jetsunya untuk membujuk wanitanya.
"Please! Maafkan aku! Kalau kamu memaafkan aku, maka aku akan memberitahumu tentang hal yang sangat penting. Dan aku yakin kamu pasti akan menyukainya." cetus Steven dengan penuh permohonan.
Marisa yang merasa penasaran dengan hal penting yang akan dikatakan oleh Steven. Mau tidak mau akhirnya wanita itu memilih untuk menyerah.
"Baiklah. Tapi aku harap hal penting ini tidak menyangkut tentang permintaan konyolmu." celetuk Marisa disertai dengan lirikan mata tajam.
Seketika senyum pria itu langsung mengembang dan tanpa berpikir panjang lagi dia langsung menyambar tangan Marisa kemudian menciuminya.
"Okey, Sayang. Dengarkan aku baik-baik! Satu Minggu lagi adalah hari pernikahan mereka. Pasti kamu tau dong, siapa yang aku maksud saat ini?" ujar Steven sambil menaik-turunkan alisnya.
Marisa yang mendapatkan kabar itu kini langsung menyeringai kecil. Karena itu adalah salah satu kabar istimewa untuk melanjutkan rencananya.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan saat ini, Sayang. Dan aku siap membantumu untuk melakukannya." ucap Steven.
Setelah kembali sepakat, akhirnya sepasang muda-mudi itu melanjutkan perjalanan kembali. Tetapi tidak ke arah Kampus, karena saat ini Steven memberikan tugasnya kepada sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Syahril sang pria jenius.
"Apakah hari ini kamu sama sekali tidak ada pekerjaan, Stev?" tanya Marisa saat moodnya kembali membaik.
Steven yang mendengar pertanyaan itu, kini justru mengerucutkan bibirnya dan masih fokus pada jalanan yang masih padat merayap.
"Bisakah jika sehari ini kamu memanggilku dengan sebutan Sayang, Honey, atau apalah itu. Yang terpenting panggilan yang mesra dan enak di dengar." protes Steven.
Seketika mata hazel Marisa membulat sempurna saat mendengar permintaan konyol sahabatnya.
"Tap-"
"Jangan protes, Sayang! Please! Sehari saja. Itung-itung latihanlah sebelum kita menikah." potong Steven.
Wanita itu langsung menghela napas panjang. Permintaan konyol dari Steven sukses membuat mood Marisa membaik.
__ADS_1
Sebenarnya dia sama sekali tidak masalah dengan panggilan itu, tetapi karena rasa gengsinya. Dia hanya ingin menguji kesabaran pria posesif itu dengan menggunakan panggilan seperti biasanya.
"Terus, kamu maunya aku panggil apa, Hubby? Hm?" tanya Marisa sambil menahan tawa.
Steven yang mendengar panggilan itu langsung mengembangkan senyumannya.
"Nah, begitu dong, Sayang. Aku suka panggilan itu, Honey." balas Steven disertai cubitan kecil di hidung Marisa.
Saat melihat sorot kebahagiaan dari pria yang berada di sampingnya. Marisa hanya mengulum senyum karena hanya dengan hal sederhana saja bisa membuat seorang Steven tersenyum bahagia.
'Terimakasih, Stev. Karena kamu telah memberikan cahaya lagi di dalam hidupku yang sempat redup. Semoga saja kamu tidak akan pernah berubah.' harap Marisa dalam hati.
Tak terasa saat ini mereka tiba di sebuah pesisir pantai yang berada di pinggiran kota. Marisa yang sudah lama tidak pergi ke tempat-tempat wisata, dengan cepat wanita itu langsung turun tanpa ingin menunggu Steven.
"Tunggu, Honey! Masa aku ditinggal sih." protes Steven saat melihat sahabat sekaligus calon istrinya berlari ke arah pinggir pantai.
Marisa yang sudah berada tak jauh dari Steven langsung melambaikan tangannya, agar pria itu segera menyusulnya.
Semilir angin pagi yang berhembus, kini membuat wanita muda itu langsung mengurai rambutnya sehingga mereka menari-nari dengan lincahnya.
Steven yang masih berjalan dengan santai dan tanpa Marisa sadari jika saat ini pria itu sedang merekamnya.
"Sebentar, Honey. Tunggu aku di sana!" ucap Steven dengan penuh semangat.
Setelah berhasil mendapatkan video wanitanya, Steven langsung berlari ke arah Marisa berada. "Kamu menyukainya, Honey?" tanya Steven saat berada di samping Marisa.
Marisa yang sangat menikmati paginya yang sangat berwarna langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Tentu saja, Hubby. Aku sangat-sangat bahagia sekali. Terimakasih untuk semua kesabaran dan kegigihan mu untuk terus meyakinkanku." ujar Marisa disertai dengan senyuman manisnya.
CUP!
"I LOVE YOU, HUBBY?" ucap Marisa dengan wajah yang tersipu.
Tiba-tiba mendapatkan perlakuan manis dari sahabatnya, Steven langsung meraih tubuh mungil Marisa kemudian langsung memutarkan ke atas. (Seperti drama Korea saja ya, guys? hehe).
__ADS_1
"I LOVE YOU MORE." sahut Steven dengan penuh semangat.
Mendapatkan pernyataan secara tak terduga dari wanita yang sangat dicintainya. Membuat Steven seperti sedang terbang bersama dengan Marisa ke langit ke tujuh. (Wah! Khayalan tingkat tinggi ini mah, wkwkw).
Suasana yang masih sepi membuat sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara itu merasa bebas tanpa adanya seseorang yang mengganggu.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, sang mentari kini sudah berada tepat di atas kepala sehingga cahayanya mulai menyengat.
"Hubby, kita pindah yuk! Panas." keluh Marisa sambil menutupi wajahnya menggunakan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain masih menggenggam erat tangan Steven.
Seandainya ada orang yang melihatnya, pasti akan menduga jika mereka adalah sepasang kekasih. Namun semua dugaan itu belum menjadi nyata, karena Marisa belum menerima sepenuhnya hubungan itu atas dasar sebuah kesempatan.
"Aku ingin segera menyingkirkan para benalu itu, Honey. Agar aku bisa segera menikahimu dan aku sudah tidak sabar untuk menantikan kedatangan hari itu." ujar Steven saat berada di dalam mobilnya.
Marisa hanya mengulum senyum dan membalas genggaman tangan Steven tanpa ingin melepaskannya.
Akhirnya setelah Marisa semakin mengenal lebih dekat sosok pria posesif itu, kini membuat hatinya semakin nyaman dan enggan untuk berjauhan dengan Steven terlalu lama.
Entah mengapa, perasaannya yang saat ini tiba-tiba menjadi sensitif saat melihat pria itu dekat dengan wanita lain, seperti beberapa hari yang lalu.
Tiga hari sebelumnya.. Flashback On!
"Siapa wanita itu, Stev? Mengapa kamu sangat senang saat sedang berbicara dengannya?" tanya Marisa dengan tatapan penuh selidik.
Steven yang tidak menyangka, jika dia akan bertemu dengan Marisa di sebuah Cafe dekat kantornya. Kini langsung kelabakan saat mendapati wanita itu berada di Cafe yang sama dengannya.
"Sayang, jangan salah paham dulu! Kemarilah, biar aku jelaskan!" pinta Steven sambil menggandeng tangan Marisa.
Marisa hanya bisa menurutinya dengan bibir yang sudah membentuk kerucut. Bahkan setelah menanyakan hal itu pun wanita itu memilih untuk bungkam dan menunggu penjelasan dari Steven.
"Sayang, dia hanya teman lamaku yang tidak sengaja bertemu di sini. Tadi aku memang meeting di sini bersama dengan klien ku dan kebetulan setelah meetingnya selesai, dia datang ke sini bersama dengan temannya. Tetapi karena temannya masih ada kepentingan, jadi dia pamit pulang lebih dulu. Percayalah! Aku sama sekali tidak pernah berbohong kepadamu." jelas Steven.
Marisa yang melihat kejujuran dan ketulusan dari sorot mata Steven, kini hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa wanita itu mempercayainya.
Namun, setelah kejadian itu Steven selalu mewanti-wanti dirinya sendiri agar lebih berhati-hati lagi dalam berteman dengan lawan jenisnya.
__ADS_1
Flashback off!