
"Jangan dengarkan Om Mario, Stev! Biarkan saja dia ingin menjodohkan putrinya dengan sahabat karibnya itu. Karena aku juga akan mendukungnya seratus persen." timpal Amara sambil terkekeh dan baru datang dari arah belakang.
Steven dan Marisa pun saling beradu pandang. Bahkan Amara pun sangat mendukung perjodohan putrinya, padahal secara terang-terangan Steven lebih dulu ingin melamar putri mereka.
"Apa sebenarnya maksud Om dan Tante? Mengapa kalian sangat kekeuh untuk menjodohkan Marisa dengan putra sahabat kalian?" celetuk Steven dengan penuh selidik.
Sepasang suami-istri paruh baya itu langsung tergelak karena telah berhasil mengerjai sepasang kekasih itu.
"Hahaha.. Dasar, pembucin! Bisa-bisanya kalian mudah dipermainkan oleh ucapan orang lain, bahkan kalian juga mudah sekali terpancing emosi. Apakah kalian percaya jika aku akan memisahkan kalian, di saat aku sudah meminta Riko untuk datang kesini malam ini?" cetus Mario.
"HAH?!"
Sepasang kekasih itu langsung memekik karena merasa terkejut dengan rencana dadakan Mario. Bahkan Steven yang sama sekali tidak memiliki persiapan apapun, hanya bisa ngedumel dalam hati.
'Apa-apaab sih, Om Mario? Mengapa dia tidak memberi tahu kepadaku terlebih dahulu? Lantas apa yang akan aku berikan kepada calon istriku, sedangkan aku belum membeli apapun untuknya?' gerutu Steven dalam hati.
"Jangan ngedumel, Stev! Aku tau jika hatimu saat ini sedang memakiku 'kan? Kamu tenang saja, semua persiapan sudah kami siapkan semua. Lebih baik sekarang kalian bersiap-siap. Tapi ingat! Steven tidak boleh menemui Risa sebelum acara dimulai." ujar Mario sambil menepuk-nepuk pundak putra dari sahabatnya.
Akhirnya Steven hanya bisa pasrah dan patuh dengan perintah calon mertuanya. Awalnya dia sangat menentang perintah dari Mario karena dia berpikir jika Ayah kekasihnya akan memisahkan mereka.
Namun siapa sangka semua itu justru sebaliknya, karena mereka memiliki rencana lain untuk mempersatukan sepasang kekasih itu agar bisa terikat satu sama lain.
"Jadi kamu masih mau membawaku pergi dari keluargaku, Hubby?" bisik Marisa saat berjalan beriringan.
Steven pun langsung mengerucutkan bibirnya sambil mendengus. "Tidak, Sayang. Saat ini aku justru ingin mencium mu berkali-kali. Boleh?" goda Steven.
Melihat sepasang kekasih yang sudah saling menyatakan perasaannya masing-masing, membuat Mario bertekad untuk segera mengikat mereka dengan hubungan yang SAH dimata agama dan negara.
"Semoga saja kamu bisa membuat Marisa bahagia, Stev?" gumam Mario saat memandang dua muda-mudi itu saling melempar candaan.
"Papah tenang saja. Aku sangat mempercayai pemuda itu tanpa meragukannya sedikitpun." bisik Amara sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Steven dan Marisa yang sudah melenggang pergi kini harus terpaksa berpisah di lantai dasar. Karena Marisa juga harus bersiap di kamarnya, begitupun dengan Steven.
"Bye, Hubby. Emuach," goda Marisa sambil memberikan kiss bye saat menaiki anak tangga.
__ADS_1
Steven yang hampir berpijak, seketika langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang dari arah belakang.
"Berhenti, Stev! Atau acaranya batal?!" ancam seseorang.
"PAPI?!" pekik Steven.
.
.
"MasyaALLAH! Jadi Mamah dan Papah sudah mempersiapkan semuanya, termasuk gaun untukku." pekik Marisa saat tiba di dalam kamarnya.
Melihat gaun sederhana dan tidak ribet membuat wanita itu, segera meraih gaun berwarna coklat muda dan mematutkan dirinya di depan cermin.
"MasyaALLAH! Indah sekali." puji Marisa.
"Lebih baik aku segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk bertemu kembali dengan pria posesif itu. Dan aku akan membuatnya tidak berkedip saat melihatku." gumam Marisa.
Di saat Marisa sedang bersiap-siap, Steven pun juga melakukan hal yang sama. Karena dia juga mendapatkan sepasang pakaian yang senada dengan milik kekasihnya.
"Aku tidak menyangka jika Om Mario akan memberikan kejutan ini kepadaku. Dan setelah ini aku akan mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepadanya, karena telah membuatku menjadi seorang pria yang sempurna saat bersanding dengan putri semata wayangnya." gumam Steven.
"Stev, boleh Papi masuk?" tanya Riko dari balik pintu kamar.
"Masuk saja, Pi." sahut Steven.
CEKLEK!
Saat pintu terbuka sosok pria paruh baya menyembul dari balik pintu kamar tersebut. "Kamu sudah siap, Stev?" tanya Riko lagi sambil berjalan ke arah putranya berada.
"Sudah, Pi. Apakah aku sudah terlihat keren?" timpal Steven sambil terkekeh.
"Kamu selalu terlihat keren dan tampan, Stev. Kamu memang sangat mirip dengan mendiang Mami mu, yang selalu menanyakan hal itu kepada Papi saat akan pergi ke sebuah acara." ucap Riko dengan seulas senyum tipis.
Terlihat sangat jelas jika mata elang Riko telah mengembun saat mengatakan hal itu kepada putranya. Bahkan rasa rindu yang tak tersampaikan saat ini semakin menggebu di dalam hati seorang Riko Atmajaya.
__ADS_1
Dengan cepat pria itu langsung memeluk tubuh sang Ayah. "Sudah, Pi. Jangan membuat Mami sedih saat melihat kita! Aku sangat yakin jika saat ini Mami sudah tenang dan bahagia di surga. Dan beliau juga berharap jika suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi di sana." ucap Steven dengan suara parau.
Sebenarnya Steven juga sangat merindukan cinta pertamanya, bahkan seringkali pria itu teringat akan perlakuan dan kata-kata lembutnya.
"Iya, Stev. Maafkan, Papi! Jika melihatmu, pasti Papi selalu mengingat Mamimu. Karena wajahmu sangat mirip sekali dengannya, kalian bagai pinang terbelah dua." ujar Riko sambil menepuk-nepuk punggung Steven.
"Yasudah. Lebih baik kita keluar dan segera menemui calon mertuamu. Papi yakin saat ini mereka sudah siap." sambung Riko.
"Siap, kapten!" sahut Steven sambil terkekeh.
Akhirnya pria beda usia itu langsung melenggang keluar dari kamar itu untuk menghampiri sang pemilik rumah.
"Nah! Kalau akur begitu kan enak dilihatnya." cetus Mario saat melihat dua tamunya sedang berjalan beriringan.
Riko yang mendapatkan sindiran dari sahabatnya, kini langsung memberikan pukulan kecil di lengannya.
"Bukankah kamu selalu akur, Ri?" tanya Riko sambil terkekeh.
"Heleh. Sekarang saja kamu bilang begitu. Kemarin-kemarin kapan kamu bisa seakur ini dengan putramu setelah kehadiran....."
Mario sengaja menggantungkan ucapannya saat hendak menyebutkan dua wanita benalu yang telah menghancurkan keluarga kecil sahabatnya.
"Sudahlah. Jangan diungkit lagi! Aku tau siapa yang kamu maksud, Ri. Biarkanlah waktu yang menjawab setiap prasangkaku, karena saat ini aku belum bisa melakukan apapun untuk membuat mereka jera." ucap Riko dengan seulas senyum getir.
Bukan tanpa sebab pria itu ingin menyelidiki dua wanita itu, karena beberapa Minggu terakhir ini pengeluaran keduanya melebihi batas maksimal.
'Mengapa sekarang aku selalu mencurigai gelagat mereka? Apalagi setelah pernikahan mereka, semuanya mendadak berubah drastis dan pengeluaran mereka juga over limit.' batin Riko.
Tap...
Tap...
Tap...
Di saat mereka sendang bersenda gurau, tiba-tiba suara langkah kaki membuat mereka langsung mengalihkan pandangan kepada sosok yang sangat mereka nantikan.
__ADS_1