Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
30. Rencana B


__ADS_3

'APA?! JADI MARISA ADALAH PUTRI SEMATA WAYANG KELUARGA ARGANTARA? DAN AKU SAMA SEKALI TIDAK MENGETAHUINYA?' pekik Kevin dalam hati.


Kevin yang baru saja mengetahui fakta tentang identitas asli mantan kekasihnya. Seketika tubuhnya langsung memutar ke arah sumber suara.


Dan benar saja, tepat di saat dia melihat mertuanya bersama dengan keluarga Argantara. Kevin melihat tatapan maut Marisa yang sama sekali tidak bisa dia pahami.


'Nah, kan! Kena kamu, Vin. Ini baru permulaan saja dan aku yakin jika kamu akan mendapatkan hadiah istimewa yang lainnya setelah ini.' batin Marisa disertai dengan seringai tipis, hanya tipis dan nyaris tak terlihat.


'Sialan! Pasti saat ini Risa sedang menertawakan aku. Dan aku yakin jika memiliki rencana untukku dan kedua wanita itu.' batin Kevin sambil menerka-nerka.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh istrinya. Kevin bergegas untuk kembali ke atas pelaminan dengan raut wajah yang sudah memucat.


"Sayang, ada apa? Mengapa kamu terlihat pucat? Apa kamu sakit? Tetapi sepertinya aku lihat kamu baik-baik saja." cecar Stella sambil menangkup kedua sisi wajah suaminya.


Bukan tanpa sebab pria itu menjadi pucat karena dia tidak ingin rahasianya terbongkar di malam pengantinnya. Apalagi tadi Marisa seperti sedang menyalakan api peperangan kepadanya.


"Ti-tidak, Sayang. Aku baik-baik saja." timpal Kevin sambil terbata.


Stella pun langsung menelisik ke arah meja panjang yang baru saja didatangi oleh Kevin. Namun, baru beberapa centi bola matanya langsung menangkap sekumpulan orang yang salah satunya adalah Ayahnya sendiri.


"Apa yang baru saja kamu dengar, Sayang?" tanya Stella dengan penuh selidik.


Mau tidak mau akhirnya Kevin mengatakan apa yang baru saja dia dengar beberapa menit yang lalu.


"Ternyata Marisa adalah putri semata wayang Argantara, Sayang. Dan tadi tanpa sengaja aku melihat tatapannya seperti sedang menyalakan peperangan kepada kita. Bagaimana ini?" ujar Kevin sambil menatap lekat wajah wanita muda yang sudah resmi menjadi istrinya.


DUAARR!


Mendengar penjelasan dari suaminya membuat mata Stella membulat sempurna. Wanita itu juga tidak menyangka, jika wanita yang mereka permainan adalah anak tunggal dari salah satu konglomerat di kota ini.

__ADS_1


"Ja-jadi wanita itu? Ah, tidak! Kamu pasti bercanda 'kan?" celetuk Stella yang mencoba untuk menolak kenyataan yang ada.


Bagaimana bisa wanita yang dia rendahkan beberapa Minggu yang lalu bisa langsung menjelma menjadi seorang putri dari sahabat Ayahnya.


Siapa yang tidak mengenal dua kubu yang saling berhubungan satu sama lain. Bahkan hal sekecil apapun itu, dengan mudah mereka langsung bisa mengendusnya.


'Gawat! Kalau dia benar putri dari sahabat Papi, pasti aku akan sering bertemu dengannya. Dan sepertinya Steven sialaan itu juga sudah menjalin hubungan khusus dengan wanita rendahan itu.' batin Stella dengan pikiran yang berkecamuk.


Renata yang baru saja berkeliling untuk menemui para tamunya. Kini langsung menghampiri sepasang pengantin baru itu di atas pelaminan.


"Ada apa, Sayang? Mengapa kalian terlihat sangat gelisah? apakah ada yang mengganggu kalian?" cecar Renata kepada sepasang pengantin baru yang masih duduk di atas pelaminan.


"Gawat, Mi! Ternyata wanita yang aku rendahkan beberapa Minggu yang lalu adalah putri semata wayang Argantara. Dan pasti Mami juga tau dong, seberapa dekat keluarga Argantara dengan Papi?" cetus Stella.


Renata yang baru mengetahui bahwa wanita yang dipermainkan oleh putrinya adalah putri dari sahabat suaminya. Wanita itu pun langsung mengumpat putri kandungnya sendiri.


Wanita ular itu tidak ingin jika rencana yang sudah tersusun rapi akan dihancurkan dalam sekejap oleh putri bodoohnya itu.


Wanita dengan seribu kelicikannya kini langsung memutar otaknya kembali. Namun, karena dia belum bisa berpikir jernih. Dia menjadi merasa frustasi sendiri.


Di saat Renata merasa frustasi karena kecerobohan putrinya. Di lain pihak Marisa sedang mencari celah untuk melanjutkan rencana selanjutnya.


Steven yang menyadari gelagat kekasihnya, kini langsung menuntunnya ke tempat yang sedikit sepi. Agar mereka bisa membicarakan kembali tentang rencana itu.


"Sayang, mungkin sekarang saatnya kita menemui mereka dan memperkenalkan mu sebagai calon istriku. Dan pasti kamu tau 'kan bagaimana reaksi mereka nanti?" ujar Steven sambil berbisik.


Meskipun di sana tidak ada yang mendengar obrolan mereka, tetapi dia sangat yakin jika ada seseorang yang terus mengawasi pergerakan mereka.


Bahkan sesekali pria itu juga menangkap gelagat seseorang yang sangat mencurigakan. Namun, setiap kali dia berhasil melihatnya, seseorang itu langsung menghindari tatapannya.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus lebih waspada. Karena saat ini aku melihat di sekitar sini banyak orang yang menjadi mata-mata untuk mengintai pergerakan kami.' batin Steven.


Benar saja, baru saja mereka hendak mengayunkan kakinya. Kini Steven kembali menangkap sosok mencurigakan yang tidak jauh darinya.


Tetapi pria itu tidak langsung menghampirinya. Karena dia sangat yakin, jika itu hanya sebagai pengalih perhatian saja.


"Ayo, Sayang! Sepertinya kita juga harus memberikan selamat untuk Kakak tersayang ku. Dan aku yakin jika mereka juga masih menunggu ucapan selamat dari kita." ucap Steven yang sedikit meninggikan intonasi suaranya agar bisa didengar oleh orang yang dicurigainya.


Marisa yang sudah menunggu, akhirnya mengikuti langkah kaki jenjang kekasihnya tanpa ingin melepaskan genggaman tangan kekar itu.


"Tetaplah waspada, Sayang. Karena di sini banyak orang yang menjadi mata-mata untuk kita. Jadi jangan pernah melepaskan genggaman tanganku." bisik Steven tepat di samping telinga Marisa.


Marisa yang mengerti apa maksud dari bisikan itu, kini langsung menganggukkan kepalanya tanpa ingin membantahnya sedikitpun.


"Baik, Hubby. Aku akan selalu berada di sisimu." sahut Marisa sambil berbisik.


Setelah sampai di depan pelaminan. Steven dan Marisa langsung menyalami pengantin baru itu dan memberikannya selamat juga.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian berbahagia selalu. Dan tentunya kalian segera diberikan keturunan yang sangat menggemaskan." ucap Steven dengan intonasi suara yang naik satu oktaf.


Marisa pun tidak mau tertinggal untuk memberikan ucapan kepada sepasang rubah itu. Bahkan saat menyalami mereka, Marisa sedikit meremaas tangan itu hingga mereka meringis menahan rasa sakit.


"Nikmati waktu bahagia kalian, sebelum waktu itu menghilang." bisik Marisa tepat di tengah-tengah pengantin baru itu.


Kevin dan Stella yang mendengar bisikan maut Marisa, seketika langsung tertegun saat mendengarnya.


"Selamat ya? Bahagia selalu calon Kakak ipar. Semoga kalian selalu bahagia dengan hidup baru kalian." ucap Marisa sambil tersenyum penuh arti.


Kevin dan Stella pun juga langsung membelalakkan matanya, saat mendengar kata calon Kakak ipar. 'Berarti Marisa dan Steven sebentar lagi akan menikah? Dan aku dan dia akan menjadi ipar?' batin Kevin.

__ADS_1


__ADS_2