Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
44. Kandidat Baru


__ADS_3

ATMAJAYA GROUP


Tak terasa siang pun tiba. Kevin yang sejak pagi diberikan tugas yang sangat banyak dari Steven, kini masih berkutat di depan laptopnya. Bahkan untuk beranjak dari tempat duduknya saja dia seperti enggan saat melihat tumpukan berkas yang masih menggunung.


"Astaga! Apakah Steven saat ini sedang mengerjaiku? Mengapa dia tega sekali memberikan tugas sebanyak ini kepadaku? Sedangkan ada beberapa karyawan lainnya juga yang bisa melakukannya." keluh Kevin.


Steven dan Marisa yang saat ini sedang memantau Kevin melalui CCTV yang berada di ruangan itu. Saat ini mereka masih menikmati pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.


"Ini baru permulaan, Vin! Lihat saja! Beberapa waktu kedepannya kamu akan lebih tersiksa dari ini. Bahkan kemewahan yang kamu dambakan akan lenyap dalam sekejap." kecam Steven disertai dengan seringai licik.


Marisa yang melihat tatapan mematikan dari tunangannya kepada MANTAN kekasihnya. Ya, jelaskan kepada Marisa jika mereka hanya MANTAN kekasih yang belum pernah menikah.


"Sudahlah, Hubby. Jangan terlalu serius gitu, ah! Di sini ada aku lho. Masa sih dari tadi hanya merhatiin pria rubah itu," ucap Marisa sambil menangkup kedua sisi wajah tunangannya.


"Tidak bisa dong, Sayang. Aku juga harus bergerak cepat untuk menghancurkan kehidupan mereka, sebelum mereka bergerak cepat satu langkah dari kita. Kamu belum tau saja, bagaimana liciknya dua wanita ular itu." timpal Steven sambil menatap lekat wajah Marisa.


Wanita yang saat ini berstatus sebagai tunangan seorang Steven, kini langsung memahami bagaimana situasi yang sedang dihadapi oleh kekasihnya.


"Iya, Hubby. Aku tau. Tapi ini sudah siang lho. Apa kamu mau melihat aku kelaparan karena menunggumu disini, hm?" sahut Marisa disertai dengan senyuman manis.


Bukan hanya karena merasa lapar saja, tetapi Marisa juga tidak ingin jika calon suaminya mengabaikan tentang kesehatannya karena aksi balas dendam itu.


"Astaghfirullah! Maafkan aku, Sayang! Ya sudah. Kamu mau makan apa? Mau makan di sini apa keluar?" tawar Steven sambil mengusap surai rambut coklat Marisa.


Sejenak wanita itu berpikir untuk memutuskan tempat dan makanan yang akan mereka santap siang ini. "Bagaimana kalau makan nasi padang yang ada di seberang jalan itu, Hubby? Bukankah kamu juga sangat cocok masakan di sana?" usul Marisa.


Tanpa berpikir panjang, Steven langsung menganggukinya karena dia tidak ingin membuat kekasihnya kelaparan karena keegoisannya.


"Baiklah. Kita pergi sekarang, Sayang?" ucap Steven yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Namun, dengan cepat Marisa langsung menarik tangan kekar pria itu. "Minta tolong OB saja yang membelikan, Hubby. Kita makan di sini sambil memantaunya." timpal Marisa.


Akhirnya pria itu segera memanggil salah satu OB untuk membelikan makan siang mereka sesuai dengan keinginan wanitanya.


.


.


"Lho, kamu tidak makan siang dulu, Vin? Sebentar lagi waktu istirahat akan usai. Apa kamu tidak lapar?" tanya salah satu rekan kerjanya.


Kevin pun langsung mendengus kesal saat mendengar pertanyaan dari rekan kerjanya. "Apakah kamu tidak melihat berkas-berkas yang masih menggunung di depanku, Roy?" ketus Kevin.


Pria yang bernama Roy itu seketika bungkam. Bukan tanpa sebab dia menanyakan hal itu kepada rekannya. Karena dia tidak ingin jika nanti clon Manager baru jatuh sakit sebelum hari penobatannya.


"Em, ya sudah kalau begitu, Vin. Kalau begitu aku pesankan makanan saja ya? Biar kamu juga bisa berpikir jernih saat melihat tumpukan berkas-berkas ini." ujar Roy sambil mengotak-atik ponsel pintarnya.


"Nah, dari tadi kek, Roy. Sebenarnya aku juga sudah sangat lapar sekali. Tetapi aku juga tidak bisa meninggalkan berkas-berkas penting ini. Karena Pak Steven memintaku untuk menyelesaikan setengahnya agar dia bisa mengeceknya nanti malam. Bahkan malam ini aku juga harus lembur karena masih ada beberapa berkas yang belum selesai." timpal Kevin.


"Ya sudah. Lebih baik kamu lanjutin dulu aja. Aku juga mau menyerahkan beberapa berkas kepada Pak Steven." jelas Roy.


Kevin hanya menganggukinya dan kembali menatap layar persegi itu. "Jika aku tau syarat untuk menjadi Manager di perusahaan ini akan serumit ini. Maka aku akan langsung menolak syarat-syarat itu." gerutu Kevin.


Tak berselang lama kemudian, makanan yang tadi dipesan oleh Roy akhirnya datang dengan cepat. Kevin yang sudah kelaparan kini langsung menyantap makanan itu sambil menatap layar laptopnya.


"Untung aku punya rekan kerja yang pengertian seperti, Roy. Jadi aku tidak akan mati konyol karena kelaparan di sini." gumam Kevin.


Di saat Kevin sedang mengerjakan tugasnya sambil menyantap makanannya. Di sisi lain Steven dan Marisa sedang cekikikan karena melihat betapa nelangsanya Kevin saat ini.


"Huh! Baru segitu aja ngeluh. Bagaimana nanti kalau dia beneran jadi Manager? Bisa-bisa pekerjaannya akan terbengkalai karena dia tidak fokus dengan tugas yang diembannya." cetus Steven.

__ADS_1


Tok...


Tok...


Tok...


"Masuk!" titah Steven saat mendengar suara ketukan pintu.


"Permisi, Pak Steven! Maaf, Saya hanya ingin memberikan beberapa berkas untuk Anda tandatangani." ucap pria yang sebaya dengan Kevin.


"Oh, iya. Mana Ry?" pinta Steven.


Ya, pria itu adalah Ryo. Orang yang baru saja bertemu dengan Kevin dan pria itu juga yang berbaik hati untuk membelikan makanan untuknya.


"Oke. Sudah. Kerja bagus. Kamu memang selalu bisa aku andalkan, Ry." puji Kevin.


"Terimakasih, Pak Steven. Semua ini juga tidak luput dari bimbingan Anda yang selalu mengarahkan Saya untuk menjadi seseorang yang amanah dan bertanggungjawab atas tugas yang Saya emban." jelas Ryo dengan sopan.


Melihat Steven yang begitu ramah dan tidak membedakan kasta, membuat wanita yang masih duduk di samping pria itu mengulum senyum.


'Ternyata kamu memang seorang pemimpin yang baik dan bijaksana, Hubby. Bahkan dengan karyawanmu saja kamu bisa sehumble itu.' puji Marisa dalam hati.


"Semua ini juga karena kegigihan dan kerja kerasmu, Ry. Oh, iya.. Apakah kamu mau jika aku jadikan kandidat calon Manager sebagai pengganti Pak Dhanu?" ujar Steven.


Seketika mata Ryo membulat sempurna. Karena pria itu tidak pernah memimpikan posisi dan jabatan penting di perubahan itu. Bahkan untuk memimpikannya saja dia juga cukup sadar diri, karena dia hanya lulusan D3.


"Maaf, Pak Steven! Bukannya saja menolaknya. Tetapi bukankah saat ini kandidatnya adalah Pak Kevin? Lantas mengapa Pak Steven juga ingin menjadikan kandidat di sini?" tanya Ryo dengan sopan.


Steven yang sudah sangat mengenal bagaimana perangai seorang Ryo Pratama. Tanpa ada keraguan sedikitpun dia sudah sangat yakin jika pilihannya tidak pernah meleset.

__ADS_1


"Jawab saja, Ry. Tentunya kamu sudah sangat mengenalku 'kan? Dan pastinya kamu juga bisa memahami apa maksud dan tujuanku ini. Jadi sekarang jawab saja, mau atau tidak!" tegas Steven.


__ADS_2