Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
42. Kemarahan Kevin


__ADS_3

"Brengseek! Ternyata aku kalah selangkah dari pria sialaan itu." umpat Kevin.


Setelah mengantar istri dan Ibu mertuanya pulang, Kevin langsung berpamitan ke rumah Ibunya atau lebih tepatnya rumah pemberian Stella setelah pernikahan mereka.


"Ada apa sih, Vin? Baru datang langsung marah-marah aja." omel Ema.


Wanita itu memang belum mengetahui fakta tentang Marisa yang notabenenya adalah pewaris tunggal keluarga Argantara.


"Gimana aku tidak kesal, Bu? Apa Ibu tau, jika Risa sebenarnya adalah pewaris tunggal Argantara. Dan dengan bodoohnya kita tidak mengetahui fakta yang sangat penting itu. Bahkan kita juga harus mengikuti rencana yang diminta oleh wanita sialaan itu..." maki Kevin.


"Jika saja aku bisa mendapatkan Risa kembali, pasti hidup kita akan jauh lebih baik dari ini, Bu. Kita juga bisa ikut menjadi orang terpandang setelah menjadi bagian dari keluarga Konglomerat itu, Bu." sambung Kevin.


Seketika mata Ema membola sempurna saat mendengar fakta yang sangat mengejutkan untuknya. Karena dia juga sama sekali tidak mengetahui tentang seluk beluk Marisa.


"Jadi selama ini kita juga dibohongi oleh Risa? Sehingga kita hanya mempercayainya jika dia adalah yatim-piatu? Astaga! Mengapa kita tidak menyelidikinya terlebih dahulu sebelum mengikuti rencana wanita ular itu?" rutuk Ema.


Kedua orang itu saat ini hanya bisa merutuki nasib mereka karena telah membuang berlian yang berada tepat di depan mata.


"Seandainya dulu kamu menikahi wanita itu secara sah agama dan negara, pasti kamu bisa menjeratnya kembali dengan adanya drama anak, Vin. Kamu memang sangat bodooh, karena mendengarkan perintah dari wanita licik itu." gerutu Ema sambil mencebikkan bibirnya.


Kevin yang selalu disalahkan oleh Ibunya, kini langsung naik pitam. Pria itu awalnya pulang ke rumah itu untuk mendinginkan otaknya, tetapi tak disangka ternyata di tempat itu justru semakin membuatnya merasa pusing.


"Jadi Ibu menyalahkan aku?! Apakah sebelumnya Ibu tidak merasa jika menjadi dalang dalam rencana ini, huh?!" hardik Kevin.


Ema yang melihat wajah putranya yang memerah disertai dengan urat yang sudah terlihat sangat jelas. Wanita itu kini langsung memucat dan tidak bisa berkutik, karena dia juga menjadi penyebab utamanya dalam rencana Stella.


Perdebatan diantara Ibu dan anak itu tidak bisa terelakkan, meskipun Kevin menjadi pemenangnya. Karena saat ini Ema hanya bisa bergantung kepada Kevin untuk kelangsungan hidupnya, jadi mau tidak mau dia harus mengalah.


"Ma-maafkan Ibu, Vin! Ibu tidak bermaksud untuk --"

__ADS_1


"Ah! Sudahlah! Lebih baik aku pergi dari sini daripada aku tidak bisa mengontrol diriku untuk mengobrak-abrik isi rumah ini." potong Kevin sambil mengibaskan tangannya.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Kevin langsung melenggang pergi dan membanting pintu utama. Sedangkan Ema hanya bisa pasrah dan melihat punggung putranya yang semakin menjauh darinya.


"Brengseek! Benar-benar sialaan! Ternyata wanita itu tidak sebodoh dan selugu yang aku pikirkan." umpat Ema.


.


.


Kevin yang sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini tidak bisa fokus ke arah jalanan yang ramai. Sehingga saat tiba di persimpangan, mobil yang dia kendarai hampir menabrak sebuah truk jika dia tidak langsung membanting stirnya.


"Argh! Hampir saja aku mati. Sialaan kamu, Steven! Aku bersumpah akan merebut Risa dari tanganmu dan membawanya pergi sejauh mungkin darimu. Dan aku akan langsung mendapatkan apa yang aku mau." kecam Kevin.


Setelah berhasil mengatur napasnya kembali, akhirnya Kevin memutuskan untuk segera pulang kembali ke kediaman Atmajaya.


"Sebaiknya aku segera pulang daripada nanti burung beo di rumah itu terus berkicau tiada hentinya." gumam Kevin.


CEKLEK!


"Akhirnya kamu pulang cepat, Sayang. Aku pikir kamu akan menginap di rumah Ibu." rengek Stella sambil bergelayut manja.


Pria dengan seribu wajah itu kembali melakukan sandiwaranya di depan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Mana mungkin aku membiarkan istriku kedinginan malam ini. Apalagi aku tau jika dia tidak bisa terlalu lama jauh dariku." timpal Kevin.


"Kamu memang yang terbaik, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Sangat dan sangat." ucap Stella dengan antusias.


Melihat wajah istrinya yang kembali berbinar, dengan cepat Kevin langsung menggendong tubuh seksi istrinya ala bridal style.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Dan aku juga selalu menginginkanmu. Kamu sudah siap untuk begadang sampai pagi, hm?" bisik Kevin tepat di samping telinga Stella.


Seketika telinga wanita itu langsung memanas disertai dengan bulu kuduknya yang langsung berdiri. Bisikan diiringi dengan hembusan hangat Kevin membuat hasrat Stella kembali membara.


"Aku selalu siap untuk membuatmu terpuaskan oleh permainan panas kita, Sayang." sahut Stella.


Setelah tiba di dalam kamar, Kevin langsung menurunkan secara perlahan tubuh istrinya di atas ranjang. Tatapan haus dan menggelora semakin membuat hasrat Kevin memuncak.


'Aku akan menjadikanmu pelampiasan emosiku yang masih meletup-letup di dalam dada, Stell. Karena hanya dengan ini aku bisa meluapkan emosi itu.' batin Kevin.


Seperti biasa sebelum permainan panas dilakukan, Kevin selalu melakukan pemanasan hingga Stella yang merengek untuk meminta penyatuan itu.


.


.


"Sayang, boleh tidak aku menginap di sini saja? Aku takut diculik sama tante-tante girang jika pulang terlalu malam." rengek Steven dengan raut wajah yang memelas.


Marisa pun langsung mendelik disertai dengan kekehan kecil saat mendengar rengekan bayi besarnya. "Mana ada tante-tante yang mau sama kamu, Hubby? Bukankah hanya aku yang mau menerimamu menjadi pendamping hidupku?" celetuk Marisa.


"Kamu menantangku, Sayang? Apa kamu pikir aku ini sudah tidak laku? Asal kamu tau ya? Di luar sana banyak wanita yang selalu mengejar-ngejar ku, apalagi waktu di California. Banyak bule-bule seksi yang sukarela mendekatiku." timpal Steven dengan penuh percaya diri.


Wanita itu kembali mendelik disertai dengan tatapan mata tajam. Bukan kekehan atau lelucon lagi yang saat ini dihadapi oleh Steven, tetapi sebuah pedang tajam yang sewaktu-waktu bisa menusuknya.


"Sa-sayang, a-aku hanya --"


"Jadi wanita di luar sana juga sangat menggoda untuk kamu lihat, Hubby? Lalu mengapa kamu memilihku, jika diluar sana masih banyak yang lebih baik dariku? Apa kamu ingin lepas dariku sekarang juga? Baiklah. Aku akan segera mengabulkannya." cecar Marisa sambil melepaskan cincin yang baru tersematkan beberapa jam yang lalu.


Steven yang melihat gerakan tangan tunangannya, dengan cepat pria itu langsung menarik tangan Marisa dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Aku hanya bercanda. Mana ada wanita yang lebih baik darimu. Sungguh, Sayang. Aku tidak ingin melakukan hal bodooh lagi dengan melepaskanmu lagi." timpal Steven.


__ADS_2