
Setelah melakukan obrolan dan perdebatan, Steven terus memaksa Marisa agar gadis itu bersedia untuk diantar pulang olehnya.
Di sepanjang perjalanan Steven terus saja mengalihkan perhatian Marisa, agar gadis itu sejenak bisa melupakan tentang masalah yang sedang dia hadapi.
"Oh.. Iya, Ris. Boleh tidak kalau aku mampir ke rumah kamu? Sepertinya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Om Mario dan Tante Ara." ujar Steven yang terus mengemudikan mobilnya, tetapi sesekali pria itu juga menoleh ke arah Marisa.
"Tentu saja. Pasti nanti kamu akan mendapatkan hadiah dari mereka, karena sekarang kamu sangat sombong dan tidak pernah memberikan kabar kepada mereka." ucap Marisa sambil terkekeh.
Steven langsung paham tentang hadiah yang akan diberikan oleh kedua orangtua sahabatnya. Dan itu juga sudah menjadi hal biasa, karena setiap kali dia membawa keluar Marisa melewati batas waktu yang diberikan Mario. Pasti pria paruh baya itu langsung menjewer telinganya hingga terasa panas.
"Nah. Justru itu yang aku nantikan, Ris. Jujur aku sangat merindukan momen-momen kita dulu, sekaligus hadiah-hadiah yang diberikan oleh mereka. Jadi ini adalah kesempatan juga untukku, agar bisa merasakan momen itu lagi. Hehehe..." balas Steven.
Marisa pun langsung tergelak sambil memberikan pukulan kecil di lengan sahabatnya. Karena Steven memang tidak pernah berubah dan masih sama seperti yang dia kenal dulu.
"Dasar kamu, Stev! Bukannya takut, eh malah menantang. Hahaha... Steven, Steven..." maki Marisa disertai dengan gelak tawa renyahnya.
Saat melihat Marisa kembali tertawa, kini ada perasaan lega dan bahagia. Karena pria muda itu bisa melihat senyuman yang selalu dia rindukan setiap waktunya.
'Teruslah tertawa, Ris. Dan aku berharap, hanya aku yang bisa membuat senyum dan tawa itu terus menghiasi wajah cantikmu.' batin Steven.
Tak terasa mereka pun akhirnya sampai di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Satpam yang selalu bertugas, dengan siaga langsung membukakan pintu setelah mengetahui siapa yang datang.
"Selamat sore, Non Risa?" sapa Pak Setya dengan rasa hormatnya.
"Selamat sore juga, Pak Setya. Masih ingat tidak siapa pria yang berada di sebelahku ini?" tanya Marisa sambil menunjuk Steven menggunakan dagunya.
Pak Setya pun langsung mengingat kembali, siapa pria yang datang bersama dengan Nona mudanya.
"Sepertinya wajah dia tidak asing, Non. Tapi siapa ya? Soalnya sudah lama sekali Non Risa tidak membawa teman pra, kecuali....." ujar Pak Setya yang menggantungkan ucapannya, dan merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Lupakan tentang dia, Pak. Oh... Iya, Pak Setya. Dia itu si culun, masa sih lupa? Hehehe..." ucap Marisa sambil terkekeh.
Pak Setya kembali mengingat tentang pria yang sangat familiar untuknya. Dan setelah pria paruh baya itu mengingatnya, dia pun sedikit merasa terkejut dengan perubahan teman Nona mudanya.
"Astaghfirullah! Apa jangan-jangan dia adalah..... Den Steven putra Tuan Atmajaya kan?" tanya Pak Setya dengan ragu-ragu.
"Nah, kan. Pak Setya memang sangat luar biasa, ternyata Pak Setya masih mengingat tentang Saya ya? Hehehe..." goda Steven.
Akhirnya kedua pria beda usia itu saling melempar canda dan tawa, tetapi tidak untuk Marisa yang masih tertegun dengan ucapan pria paruh baya itu.
'Astaghfirullah! Ternyata wanita itu adalah saudara Steven. Lantas apa yang harus aku lakukan? Sedangkan wanita yang menjadi perusak rumah tanggaku adalah saudara dari sahabat ku sendiri.' batin Marisa yang kini menjadi dilema.
"Yasudah kalau begitu, Pak Setya. Kita lanjutkan nanti ya? Sekarang aku mau menemui Om dan Tante dulu." pamit Steven dengan sopan.
"Oke, Den Steven. Siap." jawab Pak Setya dengan seulas senyum.
Setelah sampai di depan rumah, Steven yang melihat Marisa sedang melamun. Kini dengan keisengannya, pria itu mulai menjahilinya.
Marisa yang sempat terkejut, kini langsung mengerucutkan bibirnya. Gadis yang masih memikirkan cara untuk melanjutkan aksi balas dendamnya, kini harus kehilangan konsentrasinya karena kejahilan sahabatnya.
"Dasar, pangeran kodok! Jahil banget sih!" gerutu Marisa.
Steven yang melihat raut wajah cemberut Marisa langsung tergelak sambil memegangi perutnya yang hampir keram, karena terus menahan tawa.
Tanpa basa-basi, Marisa pun langsung keluar dari mobil Steven sambil membanting pintu tersebut. Sedangkan Steven langsung menggelengkan kepalanya, saat melihat sahabatnya merajuk.
"Hey, Ris. Tunggu!" panggil Steven.
Namun, sayangnya panggilan itu sama sekali tidak diindahkan oleh gadis muda itu. Dengan cepat pria itu segera menyusul sahabatnya sambil berlari kecil.
__ADS_1
"Ris, Ya ALLAH! Jangan tinggalin aku dong!" rengek Steven.
Marisa pun masih mengacuhkan Steven tanpa berniat untuk menoleh ke arahnya. Akhirnya Steven pun hanya bisa pasrah sambil menghela napas panjang.
Ting! Tong!
CEKLEK!
"Non Risa? Yuk, masuk! Tuan dan Nyonya memang sedang menunggu Non Risa." ujar Bi Lila.
Marisa pun langsung menganggukkan kepalanya. Tetapi sebelum mereka kembali melangkah, tiba-tiba Bi Lila menghentikan langkahnya saat melihat Steven yang terus mengikuti mereka.
"Tenang saja, Bi. Dia Steven, putranya Om Riko Atmajaya. Pasti Bi Lila masih ingat kan?" ucap Marisa sambil melirik ke arah Steven.
Sedangkan pria muda itu hanya tersenyum lebar sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
"Astaghfirullah! Ini benar Den Steven? Bukannya dulu penampilannya......."
"Dulu dia memang culun sekali, Bi. Tapi lihat saja sekarang, setelah menjadi pengusaha sukses penampilannya berubah kan?" jelas Marisa.
Bi Lila pun langsung menghampiri Steven sambil menatap lekat wajah pria muda itu. Dan yang di tatap saat ini hanya tersenyum dengan tingkah konyolnya.
Kemudian tanpa aba-aba, Bi Lila langsung memeluk tubuh pria jangkung itu dengan erat. Pria muda yang dia anggap seperti putranya sendiri, dan sudah lama tidak mengabarinya. Kini dia pun muncul begitu saja tanpa basa-basi sedikitpun kepada wanita paruh baya itu.
"Dasar, anak nakal! Kemana saja kamu selama ini? Apakah kamu tidak merindukan wanita tua ini?" cecar Bi Lila.
Marisa kini langsung tersenyum, saat melihat keakraban antara pelayannya dan sahabatnya. Karena diantara mereka sama sekali tidak membuat jarak, dan menganggap semuanya sama.
"Maafkan Steven, Bi! Selama tiga tahun ini, aku harus menuruti keinginan Papi untuk melanjutkan pendidikan ku di California." jelas Steven sambil membalas pelukan hangat Bi Lila.
__ADS_1
Bi Lila pun langsung melepaskan pelukannya, dan kembali menatap wajah yang tampan itu. Kini mata wanita paruh baya itu pun mengembun dan membuat Steven merasa bersalah kepada wanita paruh baya yang saat ini masih berada di depannya.
"Sudah yuk, Bi. Katanya Papah dan Mamah sudah menungguku." ucap Marisa yang mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka.