Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
18. Mario Menemui Steven


__ADS_3

"Lho, Sayang? Kenapa kamu pulang sendiri? Apa Steven tidak mengantarkan mu pulang?" tanya Amara yang melihat wajah putrinya yang terlihat kusut.


Marisa yang melihat Ibunya sedang bersantai di ruang keluarga seorang diri, kini langsung menghempaskan bokongnya di sofa.


"Steven tadi hanya mengantarkan aku sampai di depan rumah, Mah. Katanya dia masih ada urusan lain." jujur Marisa.


Amara yang melihat wajah putrinya yang tidak secerah tadi pagi, kini langsung meraih tangan putrinya untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja.


"Em, apakah kamu sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu tidak seceria tadi pagi, Sayang?" tanya Amara yang memastikan jika putrinya sedang tidak terlibat masalah.


Dengan cepat wanita muda itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Mah. Aku baik-baik saja kok." jawab Marisa dengan seulas senyum tipis.


"Baiklah. Jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan atau ceritakan kepada Mamah. Mamah akan selalu siap untuk mendengarkannya, Sayang." ujar Amara dengan penuh kasih sayang.


Sejenak Marisa diam dengan pikirannya sendiri.


'Apakah aku harus menanyakan hal ini kepada Mamah? Tapi bagaimana kalau Mamah akan meledekku nanti?' keluh Marisa dalam hati.


"Hey, kenapa melamun? Apa kamu yakin bahwa tidak ada masalah hari ini?" tanya Amara memastikan.


Setelah memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada Ibunya. Marisa langsung duduk tegap dan menghadap ke arah Ibunya.


"Mah, apakah mungkin jika sebuah persahabatan didalamnya tersimpan sebuah perasaan lain? Em, Maksudku apakah mungkin jika sahabat bisa berubah menjadi cinta?" tanya Marisa dengan ragu-ragu.


Amara yang mendengar pertanyaan dari putrinya, seketika langsung mengernyitkan keningnya.


"Apakah kamu sedang membahas tentang Steven?" tanya Amara dengan tatapan penuh selidik.


Marisa yang tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Ibunya, kini hanya memberikan sebuah anggukan kecil. Dan sang Ibu pun juga langsung tanggap dengan anggukan itu.


"Baiklah. Mamah akan menjelaskan tentang seorang pria yang diam-diam memendam perasaannya kepada sahabat wanitanya." ucap Amara.


Marisa pun langsung mendengar dan menyimak setiap cerita dari Ibunya. Bahkan sesekali dia merasa jika cerita itu hampir mirip dengan kehidupannya.


"Nah, jadi kamu bisa menyimpulkan sendiri, Sayang. Apakah benar jika sahabat bisa menjadi pasangan hidup? Karena Papah dan Mamah juga sudah merasakannya sendiri." ujar Amara dengan seulas senyum.


Marisa yang baru mengetahui fakta tentang kisah cinta kedua orangtuanya, seketika langsung membungkam mulutnya dengan satu tangannya.


"Jadi, Mamah dan Papah dulu hanya bersahabat dan Papah yang menyatakan perasaannya terlebih dulu kepada Mamah?" tanya Marisa dengan mulut yang masih menganga.


Tap...


Tap...


Tap...


"Iya, Sayang. Papah yang menyatakan perasaan itu lebih dulu. Karena Mamah kamu tidak pernah peka dengan perhatian-perhatian yang Papah berikan. Jadi mau tidak mau, terpaksa Papah harus membuang rasa gengsi itu agar bisa mendapatkan balasan cinta Mamah kamu." jelas Mario yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


Marisa yang mendengar kisah cinta dari orangtuanya, kini langsung menangkap penjelasan itu.


'Apa mungkin tadi Steven juga mengatakan itu karena dia juga menyimpan perasaan itu kepadaku? Tetapi mengapa aku tidak bisa merasakan semua itu saat bersamanya?' gumam Marisa dalam hati.


"Sayang, kenapa kamu melamun? Apakah tadi Steven.....?" Amara sengaja menggantungkan pertanyaan, agar putrinya bisa lebih terbuka kepada mereka.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu Marisa pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mah, Pah. Tadi Steven memang menyatakan perasaannya kepada Marisa. Tetapi setelah Steven mengatakan hal itu, aku langsung menertawakannya. Dan setelah itu sikapnya kepadaku dalam sekejap berubah dan menjadi dingin." jelas Marisa dengan wajah yang tertunduk.


"Lalu?" tanya Mario yang saat ini duduk di samping putrinya.


"Lalu Steven langsung mengajakku pulang dan dia tidak mau mampir ke rumah dengan alasan dia masih ada urusan." jelas Marisa lagi.


Amara dan Mario yang mendengar penjelasan dari putri mereka, kini langsung beradu pandang dan paham dengan masalah yang sedang dihadapi oleh putri semata wayang mereka.


"Apakah kamu sekarang paham? Mengapa sikap Steven menjadi berubah kepadamu, Sayang?" tanya Amara sambil mengusap lembut lengan putrinya.


Marisa yang masih merasa ragu, kini hanya terdiam dengan lamunannya sendiri.


"Coba kamu perhatikan sikap Steven besok, apakah dia masih bersikap sama seperti hari ini? Jika dia masih seperti itu, berarti ucapannya hari ini adalah fakta yang selama ini dia pendam sendiri." jelas Mario dengan suara lembut.


"Oh... Iya. Satu lagi. Memendam perasaan sendiri dan terlalu lama itu hanya akan menyakiti diri sendiri, Sayang. Apalagi Steven pernah mendengar jika kamu pernah menikah. Ya, meskipun pernikahan kalian hanya permainan saja." jelas Mario lagi.


Marisa kini langsung menatap kedua orangtuanya secara bergantian disertai helaan napas panjang.


"Baiklah. Aku sudah mengerti, apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan besok aku akan menunggu Steven menjemput ku." ucap Marisa dengan seulas senyum tipis.


Akhirnya ketiga orang beda usia itu saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.


.


.


"Argh! Mengapa kamu tidak peka sekali sih, Ris? Apakah aku harus menjelaskan semuanya kepadamu, agar kamu bisa memahami bagaimana perasaan ku kepadamu?" keluh Steven setelah sampai di depan apartemennya.


Steven bukanlah tipikal orang yang memiliki masalah langsung lari ke bar dan minuman beralkohol. Semua itu sangat dia hindari dan haram untuk dia sentuh.


Pikiran dan hatinya saat ini sedang dilanda oleh rasa kecewa karena ketidakpekaan wanita yang masih berstatus sebagai sahabatnya.


Tring...


Tring...


Tring...


Saat ponsel pintarnya berdering, Steven hanya mengacuhkannya tanpa ingin melihat siapa penelpon itu.


Hingga dering terakhir pun Steven masih bergeming dengan posisi yang sama.


Namun di saat dering kedua, Steven langsung meraih ponselnya dan hendak mematikan panggilan itu. Namun, dia segera mengurungkan niatnya karena sang penelpon adalah salah satu sosok yang selalu dia hormati.


"Halo? Assalamu'alaikum, Om?" sapa Steven.


Steven yang langsung menyalakan Loud speakernya, terdengar jelas suara seseorang itu.


"Wa'alaikumsalam, Stev. Bagaimana dengan harimu? Apakah kamu sedang ada masalah? Sehingga tidak mampir sebentar untuk menemui kami?" cecar seseorang yang berada di panggilan suara tersebut.


"Maafkan Steven, Om Mario! Bukannya Steven tidak ingin menemui Om dan Tante, tetapi aku masih ada urusan penting." kilah Steven dengan kebohongannya.


Ya, seseorang itu adalah Mario, Ayah dari Marisa sahabatnya.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu sekarang kamu dimana, Stev? Om akan mengunjungi mu, karena ada hal penting yang ingin Om sampaikan kepadamu." cetus Mario.


Steven yang awalnya sedang bersantai, kini langsung gelagapan dan langsung duduk dengan tegap sambil memikirkan cara, untuk membuat alasan yang tepat agar terhindar dari keluarga sahabatnya.


'Duh! Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada Om Mario?' batin Steven.


"Halo, Stev? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Mario.


"Eh.. I-iya, Om. Maaf, Om! Aku tidak bisa bertemu dengan Om Mario saat ini, karena aku harus bersiap untuk keluar kota sore ini." bohong Steven.


"Ya sudah kalau begitu. Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumsalam, Om."


Ting! Tong!


Setelah panggilan suara terputus. Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.


Dengan langkah gontai Steven langsung membukakan pintu begitu saja, tanpa mengecek terlebih dahulu siapa tamunya.


"Siapa sih yang datang? Ganggu aja!" gerutu Steven.


CEKLEK!


Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok seorang pria paruh baya yang sedang berdiri santai di depan pintu apartemen milik Steven.


"Lho, Om Mario? Kok bisa di sini? Bukannya -"


"Bukannya aku harusnya di rumah dengan mereka, begitu?" tebak Mario dengan santai.


"Apakah kamu akan membiarkan tamu mu tetap berdiri di sini, Steven?" sewot Mario.


Steven yang tidak menduga, jika Ayah dari sahabatnya berkunjung ke apartemennya. Kini pria muda itu langsung mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.


"Jadi ini tempat pelarian dari masalah-masalah yang kamu hadapi, Stev? Bukankah sebaiknya kamu menyelesaikannya daripada bersembunyi seperti seorang PECUNDANG?" cecar Mario.


Steven yang berjalan di belakang pria paruh baya itu, kini hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Tegakkan tubuhmu, Steven! Pria sejati tidak akan menundukkan kepalanya ataupun merasa takut dengan masalah serumit apapun yang saat ini dia hadapi. Termasuk masalah HATI." tegas Mario dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


Seketika mata elang Steven membola sempurna saat mendengar kalimat terakhir dari pria itu.


"Ma-maksud, Om?" tanya Steven yang berpura-pura tidak tahu apapun.


Mario yang melihat raut wajah Steven yang semakin memucat, kini langsung menepuk-nepuk pundak pria muda itu.


"Mendekatlah, Nak! Aku tau apa yang kamu katakan kepada putriku. Karena setelah sampai di rumah, dia langsung menceritakan semuanya kepada kami. Jadi kamu jangan mencoba untuk menutupi apapun sehingga membuat aku layaknya pria tua yang bodooh!" pinta Mario yang menurunkan intonasi suaranya.


Sebelum membuka suara kembali, sesaat Steven menatap lekat wajah pria paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Baiklah. Mungkin Om juga sudah mengerti apa maksud dari ucapan ku tadi siang, dan aku juga tau jika Marisa sudah menceritakan semuanya kepada kalian. Oleh karena itu, aku ingin menjelaskan kepada Om Mario, aku Steven Milano Atmajaya mengatakan dengan jujur jika sejak kecil sudah memiliki perasaan kepada putri Om Mario yang bernama Marisa Aurelie Argantara." jelas Steven dengan lugas tanpa adanya keraguan sedikit dari dalam hatinya.


Mario yang melihat kejujuran dan ketulusan melalui sorot mata pria muda itu. Kini pria paruh baya itu sedikit merasa lega, karena dugaannya sejak dulu tidak pernah meleset.


"Baiklah. Aku menerima pernyataan mu itu, Stev. Tetapi sebelumnya kamu juga harus bisa meyakinkan putriku, jika kamu tidak sama seperti pria rubah itu." ujar Mario dengan seulas senyum tipis.

__ADS_1


Steven pun. sedikit merasa lega, karena perasaan yang selama ini terpendam akhirnya bisa tersampaikan meskipun secara tidak langsung.


"Baiklah, Om. Aku akan segera melakukan semua itu. Tetapi sebelumnya aku ingin meminta bantuan dari Om Mario, agar aku bisa membuat Marisa bisa menyadari tentang perasaanku kepadanya. Apakah Om bersedia?" tawar Steven yang sedang melakukan negosiasi dengan calon mertuanya.


__ADS_2