Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
36. Atmajaya Group


__ADS_3

ATMAJAYA GROUP


Sesampainya di depan lobby Kantor, Steven bergegas untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian dia langsung memutar ke arah pintu samping untuk membuka pintu tersebut agar kekasihnya bisa segera turun.


"Silahkan, Tuan Putri!" ucap Steven sambil membungkukkan badannya.


Marisa pun langsung tersipu saat melihat tingkah pria posesif itu. Bahkan saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana.


"Hubby, jangan seperti itu! Please! Aku malu. Coba lihatlah mereka semua sedang memperhatikan kita." bisik Marisa.


Steven yang juga menyadarinya, kini langsung merengkuh tubuh mungil kekasihnya agar semakin merapat padanya. "Biarkan saja, Sayang. Aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka, jika sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya muda Atmajaya." ucap Steven dengan penuh percaya diri.


Mau tidak mau, akhirnya wanita itu patuh tanpa ingin mendebatnya lagi. Bahkan saat ini mereka berjalan memasuki Kantor tanpa ingin menanggapi berbagai macam kasak-kusuk yang mereka dengar.


"*Eh, itu siapa sih? Kok aku baru melihatnya?"


"Iya. Apakah dia calon istrinya Pak Steven?"


"Haduh! Patah hati dong gue. Ternyata gebetan gue udah punya calon istri."


"Tapi mereka serasi sekali ya? Pak Steven yang sangat tampan dan sempurna, sedangkan wanita itu juga spek bidadari yang cantik dan anggun sekali. Benar-benar sangat cocok sekali*."


Kasak-kusuk yang mereka dengar hanya sebagian kecil dari beberapa karyawan/i yang masih berada di ruangan itu. Meskipun sebenarnya Steven sudah ingin memperkenalkan Marisa sebagai calon istrinya, tetapi dia juga tidak ingin bertindak terlalu gegabah.


"Kamu dengar 'kan tadi, Sayang? Bahkan mereka saja ada yang mengatakan jika kita serasi. Hm! Aku jadi ingin segera untuk memperistri kamu, Cinta." ujar Steven saat mereka sudah berada di dalam lift khusus.


Marisa yang juga sempat mendengar ucapan beberapa karyawan Steven, kini hanya bisa mengulum senyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Steven.


Entah mengapa setelah kejadian tadi pagi, junior Steven menjadi sangat sensitif dengan sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan oleh Marisa.


Namun Steven sama sekali tidak berani untuk meminta kekasihnya untuk memberikan jarak apalagi melepaskan pelukannya.


'Shitt! Mengapa sekarang python ku sensitif sekali saat berada di dekat, Risa? Bagaimana jika nanti Marisa menyadarinya?' batin Steven yang mulai merasa resah.

__ADS_1


Ting!


Pintu lift terbuka dan mereka pun bergegas ke arah ruangan Direktur Utama Atmajaya, dimana tempat itu adalah posisi paling atas di perusahaan tersebut.


Marisa yang menyadari kegelisahan Steven, saat itu juga wanita itu langsung mendudukkan dirinya diatas pangkuan kekasihnya.


"Kamu baik-baik saja, Hubby? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Marisa sambil menangkup kedua sisi wajah kekasihnya.


Namun baru saja dia menggeser posisinya agar lebih dekat dengan pria itu. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan benda yang sudah mengeras dari arah bawah.


Dengan cepat wanita itu langsung berdiri dengan mata yang membola sempurna. "Hubby?! Kenapa kamu menjadi sensitif sekali sih?" protes Marisa sambil mencebikkan bibirnya.


Steven pun langsung gelagapan saat tertangkap basah oleh kekasihnya. Karena sebenarnya dia masih terkontaminasi dengan godaan wanita yang saat ini masih berada tidak jauh darinya.


"Sayang, a-aku juga tidak tau. Tetapi setelah kejadian tadi, aku selalu teringat dengan godaanmu. Sehingga setiap kali aku berada di dekatmu, tubuhku bagai tersengat aliran listrik sehingga dalam sekejap langsung menegang." jujur Steven.


Tok...


Tok...


Tok...


Setelah saling beradu pandang sejenak, akhirnya Steven langsung mempersilahkan seseorang itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Ya. Masuk!" titah Steven.


Saat pintu terbuka, muncul seorang wanita yang menggunakan pakaian ketat dan sedikit terbuka. Bahkan Marisa yang melihatnya menjadi panas, karena Steven terus saja menatap wanita itu.


"Ada apa, Bella?" tanya Steven dengan ekspresi wajah datar.


Dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya, wanita yang bernama Bella itu langsung mendekat ke arah meja kerja Steven sambil membawa map berwarna biru.


"Ini, Pak Steven. Pagi ini saya membutuhkan tanda tangan Anda untuk menindaklanjuti laporan keuangan di Kantor cabang." jelas Bella sambil menyodorkan map tersebut.

__ADS_1


Steven pun langsung menganggukkan kepalanya dan segera meraih map itu, kemudian pria itu membaca isi laporan itu dengan sangat teliti sebelum dia membubuhkan tanda tangannya.


Namun di saat Steven sedang memeriksa laporan itu, Bella dan Marisa saling beradu lirikan persaingan. 'Oh, jadi dia ingin menggoda calon suamiku? Baiklah. Aku akan melayaninya.' batin Marisa.


'Apa seperti ini selera Pak Steven? Jika dibandingkan denganku sebenarnya aku masih jauh lebih baik. Apalagi dilihat dari bodynya juga aku menang banyak darinya. Hm! Sepertinya aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan perhatian dari Pak Steven.' batin Bella dengan penuh percaya diri.


Setelah selesai membubuhkan tanda tangan pada laporan itu, Steven langsung mendongak ke arah Bella yang masih beradu lirikan dengan kekasihnya.


"Ini, sudah selesai, Bell. Kalau tidak ada kepentingan lagi. Silahkan keluar!" ucap Steven dengan tegas.


Bukan tanpa sebab pria itu langsung mengusir karyawannya. Karena melalui lirikan mata tajam kekasihnya, dia bisa melihat jika saat ini peperangan akan kembali terjadi.


"Baik, Pak. Terimakasih." sahut Bella disertai dengan senyuman menggoda.


Marisa yang melihat tatapan karyawan itu, kini langsung tersulut emosi. Bahkan setelah punggung wanita itu menghilang dari balik pintu, tatapan maut itu belum kunjung redup.


"Sayang?" panggil Steven dengan lembut.


Pria itu dengan cepat langsung menarik tangan kekasihnya dan membawanya untuk duduk kembali di pangkuannya.


Marisa hanya bergeming tanpa berniat untuk menyahuti panggilan dari pria itu. Saat ini gemuruh di dadanya saat melihat wanita itu yang mempunyai niat tertentu kepada calon suaminya.


Kini membuat wanita muda itu langsung terpancing emosi kembali. Bukan tanpa sebab Marisa bisa seemosi itu, karena sebelumnya dia pernah diselingkuhi oleh mantan suami palsunya.


"Honey, please look at me!" pinta Steven.


Tanpa di sadari, mata wanita itu kini mulai mengembun dan itu semua membuat Steven semakin serba salah. "Hey, ada apa?" tanya Steven.


"Apa kamu tertarik dengan wanita itu, Hubby? Apakah dia lebih menarik dibandingkan dengan aku?" celetuk Marisa.


Steven pun langsung terkekeh saat mendengar dugaan kekasihnya. Karena sedikitpun dia tidak memiliki niat untuk menggaet wanita seperti Bella.


"Kamu bicara apa sih, Sayang? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu, jika wanita di depanku saja jauh lebih menarik dari pada wanita sepertinya." timpal Steven.

__ADS_1


"Percayalah! Hanya ada nama Marisa Aurelie Argantara di dalam hatiku. Sejak dulu dan selamanya. Dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun, meskipun kamu sendiri yang memintanya. Karena kamu adalah sosok paling sempurna untukku, Sayang. I love you?" ujar Steven dengan tulus.


"Tetapi, tadi...."


__ADS_2