Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
8. TALAK


__ADS_3

"Bukankah sejak awal Papah sudah memperingatkan mu tentang pria itu? Kamu saja yang keras kepala dan bebal, sehingga membuat keputusan secepat itu tanpa mencari tau tentang latarbelakang dan kehidupannya." cecar Mario.


Setelah selesai menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya, kini Marisa hanya bisa pasrah saat Ayahnya kembali memberikan wejangan kepadanya.


Amara yang bisa merasakan sebuah kehancuran di dalam hati putrinya, kini hanya mencoba untuk terus menguatnya. Meskipun sebenarnya wanita itu juga merasa sangat geram dengan perlakuan semena-mena dari besan dan menantunya, yang hanya memanfaatkan putri kesayangannya layaknya seperti seorang pembantu.


"Iya, Pah. Maafkan, Risa! Risa memang salah karena tidak mendengarkan ucapan Papah dan memilih untuk mengacuhkan peringatan dari kalian." sesal Marisa.


Mario yang mendengar suara parau putri kesayangannya, kini langsung menghampiri dan menangkup kedua sisi pipi Marisa.


Ini adalah salah satu momen yang paling tidak dia suka, karena Marisa adalah salah satu kelemahannya. Sehingga saat dalam kondisi semarah dan sekecewa apapun pria itu, dia pasti akan memaafkannya.


"Maafkan Papah juga, karena telah mengabaikan mu selama satu bulan ini, Sayang. Papah tau, jika sejak awal suamimu hanya ingin memanfaatkan dan memeras tenagamu saja. Papah juga tau, jika sebelum menikah denganmu diam-diam dia bermain api dibelakangmu dengan atasannya." jelas Mario sambil menatap lekat manik mata putrinya.


Mata hazel yang selalu meneduhkan dan mampu meredam emosi seorang Mario, kini pria itu pun bisa kembali memiliki putrinya setelah perpisahan itu terjadi.


"Papah?"


Dengan cepat Marisa langsung memeluk cinta pertamanya, dan kini buliran bening itu pun luruh dengan derasnya. Sehingga membuat dada bidang sang Ayah kini menjadi basah, karena buliran bening itu.


"Ssttt! Sudah ya, Sayang. Sekarang langkah apa yang ingin kamu ambil? Apakah kamu akan tetap mempertahankan hubungan mu dengan pria brengseek itu? Atau....?"


Kini pria paruh baya itu sengaja memotong pertanyaannya, agar dia bisa mendengar sendiri keputusan yang akan diambil oleh putri semata wayangnya.


"Tidak, Pah. Aku tidak sebodooh itu, yang akan diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk membalas mereka. Tetapi apakah Papah mau membantuku, jika aku memintanya?" ujar Marisa saat masih menenangkan dirinya di dalam pelukan hangat sang Ayah.


"Tentu, Sayang. Apapun itu, asalkan semuanya demi kebaikanmu. Tetapi ingat! Papah tidak akan pernah membantumu, jika kamu masih ingin bertahan dengan pria brengseek seperti dia." tegas Mario.

__ADS_1


.


.


Setelah melakukan perundingan dengan kedua orangtuanya, dengan terpaksa Marisa pun mau tidak mau harus pulang terlebih dahulu ke rumah suaminya.


Meskipun di dalam hatinya saat ini dia sangat enggan untuk menginjakkan kakinya di rumah itu lagi. Namun, demi melancarkan aksi balas dendam nya, dia harus kembali terlebih dahulu dan melihat apa yang akan dilakukan oleh keluarga Toxic itu kepadanya.


Setelah sampai di tepi jalan raya, Marisa kini mengayunkan kakinya dengan santai sambil memutar otaknya untuk melakukan sesuatu kepada Ibu dan anak itu.


'Aha! Aku tau apa yang harus aku lakukan!' batin Marisa sambil menyeringai.


Dan setelah mendapatkan ide, akhirnya Marisa memilih untuk mempercepat langkah kakinya agar dia bisa segera sampai di rumah sederhana tersebut.


CEKLEK!


Marisa yang sudah menyiapkan mentalnya, kini masih bergeming dan menatap tajam ke arah Ibu mertuanya. Kata-kata yang sepantasnya tidak diucapkan oleh seorang mertua kepada menantunya, saat ini gadis itu pun menyadari satu hal. Jika mertuanya sebenarnya tidak pernah menginginkannya lagi.


Tap...


Tap...


Tap...


"Ada apa, Bu? Mengapa Ibu masih saja meladeni gadis seperti dia? Biarkan saja dia pergi dari rumah ini. Toh, kita juga sudah tidak membutuhkannya lagi. Karena sebentar lagi kita akan pindah ke rumah yang lebih besar dari ini. Iya kan, Sayang?" ujar Kevin sambil memeluk pinggang ramping seorang wanita yang usianya lebih tua darinya.


Marisa yang sudah paham dengan situasi yang sedang dia hadapi. Dengan langkah kaki jenjangnya, kini gadis itu langsung berjalan untuk mendekati pria yang masih berstatus sebagai suaminya.

__ADS_1


"CIH! Jadi seperti ini pria yang selama ini aku banggakan? Ternyata kamu lebih kotor daripada SAMPAH, Mas. Untung saja aku belum sepenuhnya menjadi istrimu. Jadi sekarang aku bisa bebas dengan status janda kembang plus perawan ku." tegas Marisa sambil berdecih.


Kevin yang merasa tidak terima dengan ucapan istrinya, kini pria itu langsung melayangkan tamparan di pipi mulus istrinya. Namun gerakan tangannya bisa dibaca oleh gadis itu, dan dia pun langsung menepisnya.


"Jangan pernah berpikir, jika kalian masih bisa untuk menginjak-injak harga diriku lagi! Karena aku sudah sangat muak dengan kalian semua, terutama kamu Mas! Dasar pria menjijikkan!" cecar Marisa.


"KAMU-"


"Kamu apa, Mas? Apa, huh?! Oh, iya.. Dan untuk kamu, wanita perebut suami orang. Silahkan kalian bersenang-senang diatas penderitaan ku saat ini, karena tidak akan lama lagi kalian semua yang akan aku hancurkan!" kecam Marisa.


BUGH!


Tepat setelah Marisa mengancam ketiga orang itu, tiba-tiba tas ranselnya langsung dilempar tepat di depannya. Dan semua itu semakin membuat gadis itu percaya dengan ucapan kedua orangtuamu.


"Tidak perlu bertele-tele, Risa. Karena mulai hari ini kamu, MARISA AURELIE SAYA TALAK TIGA!" ucap Kevin dengan suara lantang.


Wanita yang saat ini masih bergelayut manja di samping Kevin langsung menyeringai licik, saat talak diucapkan kepada Marisa.


"Baik. Dengan senang hati aku akan keluar dari rumah ini, dan aku harap kalian semua tidak akan pernah menyesal karena telah mempermainkan ku." ucap Marisa dengan tatapan tajam.


Ketiga orang itu kini hanya menertawakan ucapan Marisa, karena saat ini mereka hanya menganggap Marisa seperti gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tujuan.


"Oh, ya? Baiklah. Semoga kamu berhasil, gadis gembeel! Dan aku yakin jika suatu hari nanti, kamu akan mengemis kepadaku agar aku mau memberikan penampungan lagi kepadamu." ucap Kevin dengan penuh percaya diri.


Marisa kini langsung mengambil ranselnya dan membawanya keluar dari rumah itu. Namun langkah kakinya terhenti saat dia mendapatkan panggilan dari seseorang.


"Tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2