
Keesokan harinya...
Saat terbangun dari tidurnya, Steven Langsung mengingat drama semalam yang hampir membuat napasnya terhenti akibat ucapan asal-asalannya.
"Huft! Untung saja Risa tidak benar-benar serius untuk membatalkan pertunangan ini. Bagaimana jika semalam dia bersungguh-sungguh? Mungkin pagi ini napasku sudah menghilang dari raga ini." gumam Steven.
Karena tidak ingin terjadi drama terbaru sekaligus kesalahan lagi, akhirnya pria itu segera meraih ponselnya dan bergegas untuk menghubungi kekasihnya agar segera menunaikan kewajibannya.
Tepat di dering pertama, Marisa langsung menyambar benda pipih itu dan segera mengeluarkan suara serak manjanya. "Assalamu'alaikum, Hubby?" sapa Marisa dari seberang panggilan video.
"Wa'alaikumsalam, Honey. Sudah bangun?" sahut Steven disertai dengan senyuman manis.
"Sudah. Baru saja. Tepat saat Hubby meneleponku." ucap Marisa sambil mengucek matanya.
"Ya sudah. Kalau begitu kita Sholat dulu dan setelah itu bersiap-siap. Sekitar dua puluh menit lagi aku akan sampai di rumah untuk menjemputmu, Sayang." ujar Steven.
Melihat kesabaran dan kasih sayang yang tulus dari tunangannya, membuat wanita itu menjadi yakin jika pria itu memang tepat untuk menjadi pendampingnya.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti, Hubby! Emuuach!" timpal Marisa sambil mengecup layar ponselnya.
Steven pun langsung terkekeh saat melihat tingkah menggemaskan wanita yang sudah resmi menjadi tunangannya.
"Iya, Sayang. Emuuach! I love you?" balas Steven.
"I love you more." sahut Marisa.
"Assalamu'alaikum, calon imam?" sambung Marisa.
"Wa'alaikumsalam, calon istri." balas Steven.
Tut...
Tut...
Tut...
Akhirnya panggilan video pun terputus. Steven yang sudah tidak sabar untuk menuju satu langkah selanjutnya kini langsung bergegas menuju ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu.
Menunaikan kewajibannya sebagai tanda bahwa dia tidak akan pernah bisa lepas dari bantuan sang Pencipta. Apalagi jika mengenai hati manusia, bahwa DIALAH sang Pemilik-NYA.
__ADS_1
.
.
Sesuai dengan janjinya, tepat dua puluh menit kemudian Steven sudah sampai di depan rumah Argantara. Bahkan Pak Setya yang senantiasa menjaga pintu gerbang kini turut mengembangkan senyuman, saat melihat calon menantu Bos-nya berseri-seri.
TING! TONG!
CEKLEK!
"Hubby!" seru Marisa sambil tersenyum manis di ambang pintu.
Wanita itu memang sengaja ingin menyambut kedatangan calon suaminya, sehingga dia mempercepat mandi dan merias diri.
"Sayang? Kamu sudah siap?" tanya Steven dengan raut wajah yang sedikit terkejut.
Pasalnya wanita itu biasanya membuatnya menunggu hampir setengah jam, dan kali ini baru dia datang ternyata sudah terlihat rapi, wangi dan tentunya sangat cantik.
"Iya dong. Kan aku juga ingin menyiapkan sarapan dulu untuk calon suamiku. Ya, meskipun bukan aku yang memasak, setidaknya aku bisa sedikit belajar untuk menjadi istri yang baik." jelas Marisa.
Dengan cepat Steven langsung merengkuh tubuh mungil Marisa dan mengikis jarak diantara mereka. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, Sayang. Jika sudah menjadi istriku, kamu cukup melayaniku saja di satu tempat istimewa dan tidak perlu melakukan hal-hal ini." bisik Steven.
"Hubby, jangan menggodaku!" rengek Marisa sambil memukul kecil dada bidang Steven.
Melihat raut wajah yang memerah seperti kepiting rebus, tanpa ba-bi-bu pria itu justru menambahkan sebuah ciuman singkat di pipi Marisa.
CUP!
"Kamu sudah datang, Stev?" tanya Mario yang baru saja tiba di ruangan depan.
"Sudah, Om. Baru saja. Karena semalam Risa mengatakan kepadaku jika ada kelas pagi. Jadi aku akan menjemputnya lebih awal agar dia tidak terlambat pagi ini." jelas Steven.
Mario pun langsung mengacungkan jempolnya kepada Steven, sebagai tanda jika pria itu memang melakukan hal yang sangat tepat.
Mendapat dukungan dari calon Ayah mertua semakin membuat senyum Steven mengembang sempurna. Bahkan dia tidak merasa sungkan untuk berdekatan dengan putrinya tepat di depannya.
"Kalau begitu, segeralah bergabung dengan kami untuk sarapan pagi bersama, Stev!" pinta Mario.
Dengan senang hati Steven langsung berjalan sambil tersenyum manis ke arah Marisa yang sejak tadi mengulum senyum.
__ADS_1
"Come on, Baby!" pinta Steven disertai dengan kekehan kecil.
Marisa pun langsung patuh dan mengikuti permintaan kedua pria beda usia itu. "Iya, Hubby." sahut Marisa.
Setelah tiba di meja makan, ternyata Amara sudah menyiapkan sarapan mereka dan dibantu oleh salah satu pelayan di rumah itu.
"Sini, Sayang! Katanya kamu ingin belajar menjadi istri yang baik." ucap Amara sambil tersenyum manis.
Marisa kembali patuh dan mengikuti permintaan dari Ibunya. "Baik, Mah." sahut Marisa.
Wanita itu langsung melepaskan diri dari tunangannya dan bergegas menghampiri Ibunya. Steven pun juga turut mengekor di belakang wanitanya.
"Oh, iya, Stev. Tadi pagi aku dengar dari Marisa jika kamu sudah mempunyai rencana untuk membalas perbuatan para tikus got itu. Apakah itu benar?" ujar Mario saat berada di bangku sebelah Steven.
"Iya, Pah. Aku memang sudah memiliki rencana untuk membalas mereka, dan Risa pun juga sudah mengetahui rencana itu. Jadi pagi ini adalah permulaan untuk pria rubah itu untuk menuju ke sebuah penderitaannya." jelas Steven.
"Baiklah. Tetapi jika kamu membutuhkan bantuanku, katakan saja. Karena ini juga menyangkut tentang harga diri putriku." cetus Mario.
Steven pun langsung menganggukinya, karena dia juga tidak ingin mengecewakan calon mertuanya yang sudah mempercayakan putri mereka kepadanya.
" Tentu saja, Om. Aku pasti akan selalu mengabari kalian mengenai perkembangan rencanaku ini. Jadi untuk sementara waktu kalian cukup melihat dan mendengar kabar baik saja dariku, setelah itu kalian juga bisa ikut andil di dalam rencanaku selanjutnya." ucap Steven dengan penuh keyakinan.
Marisa yang sudah mengetahui rencana itu, kini hanya bisa mengulum senyum dan mengikuti alur permainan yang tunangannya lakukan kepada mantan kekasih atau lebih tepatnya pengkhianat untuknya.
Sarapan pagi pun terasa sangat hangat saat mereka saling bertukar pikiran dengan hati yang damai. Bahkan beberapa pelayan yang melihat keharmonisan keluarga Bos-nya juga turut bahagia.
"Semoga saja keluarga ini selalu dilimpahkan kebahagiaan dan kedamaian. Aamiin." harap salah satu pelayan.
"Aamiin." sahut pelayan lainnya.
Meskipun mereka hanyalah sebatas pelayan dan majikan, tetapi keluarga Argantara sama sekali tidak pernah memandang rendah kasta dibawahnya.
Bahkan mereka tidak pernah membedakan antara satu dengan yang lainnya. Karena menurut mereka tidak ada bedanya dan mereka pun sama-sama makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah SWT.
Setelah sarapan pagi selesai. Steven dan Marisa segera berpamitan kepada Mario dan Amara. Sepasang kekasih itu tidak lupa dengan kebiasaan mereka yang mencium punggung tangan sebelum bepergian.
"Kami berangkat dulu, Mah, Pah. Assalamu'alaikum?" pamit keduanya secara bersamaan.
"Baiklah. Wa'alaikumsalam. Hati-hati." sahut sepasang suami-istri itu.
__ADS_1