
"Jangan!"
Suara Mario seketika langsung menghentikan langkah istrinya yang hendak melabrak pemuda tidak tau malu itu. Bahkan Amara yang awalnya hanya mengacuhkan perdebatan sepasang kekasih itu kini sedikit merasa geram.
Apalagi saat melihat putri semata wayangnya sedang tersakiti. Ibu mana yang rela dan tega melihat putrinya menangis hingga sepilu itu.
"Kamu tenang saja, Sayang. Aku yakin Steven tidak akan berani untuk bertindak lebih jauh dari ini. Bahkan aku juga sangat yakin jika sebenarnya putri kita juga tidak ingin mendebatkan hal-hal sepele seperti itu.
Tetapi karena emosi mereka masih sama-sama labil, jadi emosi mereka mudah sekali terpancing. Apalagi kamu juga sangat mengenal bagaimana sikap keras kepala putri kesayangan kita itu 'kan?" ujar Mario.
Amara yang mendengar ucapan panjang kali lebar suaminya, seketika langsung mencebikkan bibirnya. "Bukankah wataknya memang menurun darimu, Pah? Dan pastinya kamu tidak lupa 'kan perihal tentang hal itu?" sindir Amara.
Mario yang mendapatkan sindiran dari istrinya, tanpa ba-bi-bu pria paruh baya itu langsung mencium singkat bibir ranum Amara.
"Dasar, tua-tua keladi! Bukannya sadar diri dan ingat umur, eh ini malah makin jadi aja." ketus Amara.
Sejenak sepasang suami-istri paruh baya itu melupakan tentang tujuan yang berada di dekat pintu belakang rumah. Sedangkan sepasang kekasih itu saat ini masih belum melepaskan ciuman bibir yang semakin lembut dan dalam.
Namun saat Marisa merasakan sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Wanita itu dengan cepat langsung melepaskan ciuman itu dan sedikit memberikan dorongan agar pria itu bisa sedikit mundur darinya.
"Kenapa dilepaskan? Bukankah kamu mau hal yang lebih dariku? Dan tentunya kamu sudah mengerti apa maksud dari benda yang sudah mengeras di bawahmu itu 'kan?" cecar Steven sambil menatap lekat wajah Marisa yang mulai memucat.
Bukan tanpa sebab wajah Marisa menjadi sepucat itu, karena dia hanya khawatir jika Steven benar-benar akan melewati batasannya.
"Kamu akan benar-benar melakukannya, Hubby? Apakah kamu benar-benar menganggap ku serendah itu?" tanya Marisa dengan suara parau.
Steven masih bergeming sambil menahan hasratnya yang tiba-tiba muncul saat sedang mencium bibir ranum itu.
'Astaghfirullah, Stev! Mengapa adik kecilmu kini justru ingin ikut menyerang Karisa? Dasar, adik kecil mesum!' gerutu Steven dalam hati.
Karena tidak ingin membuat Marisa salah paham kembali kepadanya. Sebisa mungkin dia menekan hasratnya agar tidak melewati batas.
__ADS_1
Dengan cepat pria itu langsung menarik tubuh mungil kekasihnya ke dalam pelukannya. Steven yang sangat merasa bersalah karena telah membuat wanitanya bersedih, kini langsung memberikan ciuman singkat di puncak kepalanya secara bertubi-tubi.
"Maaf, Sayang! Maafkan aku! Maaf, maaf, dan maaf! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu. Maaf, Sayang! Aku benar-benar menyesal." ucap Steven dengan penuh penyesalan.
Marisa yang masih berada di dalam pelukan hangat Steven justru semakin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa rasa nyaman kembali hadir di saat Steven bersikap lembut kepadanya, sehingga pertahankan wanita itu akhirnya kembali goyah dengan permintaan maaf dari kekasihnya.
Tak terasa tiga puluh menit pun berlalu dengan sangat cepat. Pelukan yang semula sangat erat, kini perlahan mulai mengendur dan akhirnya terlepas.
Steven yang menyadari jika isakan tangis wanitanya sudah mereda, perlahan pria itu membuka wajah ayu kekasihnya yang diam-diam sudah terlelap di dalam pelukannya.
"Ternyata kamu kelelahan menangis hingga tertidur ya, Sayang. Maafkan aku ya? Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu." ucap Steven sambil menatap wajah teduh kekasihnya.
Karena tidak ingin mengusik tidur Marisa, akhirnya Steven menggendong tubuh mungil itu masuk kembali. Tetapi sebelum dia menaiki anak tangga, sesaat dia menatap kedua orangtua kekasihnya yang masih duduk di meja makan.
Setelah mereka saling melempar kode melalui senyuman dan sebuah anggukan, Steven langsung menaiki anak tangga satu persatu hingga tiba di depan pintu kamar.
Sangat pelan dan hati-hati, pria itu pun berhasil membuka pintu tersebut menggunakan satu tangannya. "Alhamdulillah, akhirnya terbuka juga." gumam Steven.
CUP!
Setelah memberikan kecupan singkat dan lembut di kening Marisa, Steven hendak pergi dari kamar itu agar tidak mengusik tidur kekasaran.
Namun baru satu langkah pria itu mengayunkan kakinya, tiba-tiba sebuah tangan mungil kembali menahan dan sedikit menariknya.
Sedangkan Steven yang tidak ada persiapan kini justru langsung terjerembap ke arah Marisa hingga tubuhnya menindih tubuh mungil itu.
"Akh!"
"Sayang, maafkan aku! Aku tidak bisa menahan tubuhku sehingga aku menindihmu saat ini." jelas Steven.
Marisa pun masih menahan gerakan pria itu sehingga tubuh mereka saat ini tak memiliki jarak. Steven yang tidak mengerti maksud dari kekasihnya, kini mencoba untuk melepaskan diri.
__ADS_1
"Bukankah kamu tadi menginginkan hal yang lebih dariku, Hubby? Mengapa kamu tidak melakukannya sekarang?" tanya Marisa sambil mengerlingkan matanya.
GLEK!
Siapa yang tidak tergoda dengan tatapan mata yang menggoda seorang Marisa. Steven yang sejak tadi masih turn on, dengan susah payah dia menahannya.
Bahkan saat dia mendengar suara yang sangat menggoda itu, kini justru semakin membuat hasratnya semakin menggebu.
Namun semua itu segera dia tepis jauh-jauh. Karena dia tidak ingin melakukannya sebelum menikahi wanita yang saat ini terus saja menggoyahkan pertahanannya.
"Sa-sayang? Tolong, jangan membuatku semakin tersiksa dengan godaanmu ini!" pinta Steven dengan raut wajah yang sudah memerah.
Bukannya dia menolak di saat Marisa menyuguhi sesuatu yang sangat mengiurkan itu, tetapi dia tidak ingin menjadi seorang pria yang hanya menginginkan kehangatan dan kepuasan sesaat.
Sesuai dengan prinsipnya, dia tidak akan menyentuh seorang wanita sebelum mereka sah menjadi sepasang suami-istri. Karena dia juga tidak ingin terjebak dalam dosa akibat perzinaan.
"Tapi aku juga sangat menginginkannya, Hubby. Apakah aku masih kurang menggoda? Bagaimana kalau dengan ini?" goda Marisa sembari menurunkan piyamanya.
Entah setan apa yang telah merasuki tubuh wanita itu sehingga dia bisa melakukan hal diluar nalar. Bahkan Steven sama sekali tidak pernah menduga jika kekasihnya akan menjadi seperti itu.
"Please, Honey! Stop! Aku mohon, jangan terus memancingku! Apakah kamu tau jika python ku sudah terasa sangat sesak." rengek Steven.
CEKLEK!
"Stev, kenapa kamu--?"
"Apa-apaan ini, Steven, Marisa? Apakah kalian sudah tidak memiliki akal sehat lagi, huh?!" pekik Mario saat disuguhi pemandangan yang tidak senonoh oleh sepasang muda-mudi itu.
Steven yang tertangkap basah kini masih mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan kekasihnya. Tetapi karena saat ini kaki Steven dikunci oleh Marisa, pria itu sedikit merasa kesulitan untuk melakukannya.
"Om, Tante... Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku--"
__ADS_1
"Aku yang menginginkannya, Pah. Dan segera hubungi Om Riko agar secepatnya menikahkan kami!" potong Marisa.