Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
38. Syarat Steven


__ADS_3

"Apa sebenarnya rencanamu, Hubby? Mengapa kamu terus memaksaku untuk ikut pergi ke Kantor ini?" tanya Marisa yang masih merasa kebingungan.


Entah apa yang sebenarnya rencana dari Steven. Karena sejauh ini pria itu sama sekali belum memberi tahu apapun kepadanya.


"Sebentar lagi kamu juga akan mengetahuinya, Sayang. Dan pasti kamu akan terkejut sekaligus menyukainya nanti." jelas Steven.


Namun jawaban yang diberikan oleh pria itu sama sekali tidak membuat Marisa puas. Bahkan saat ini tatapan mata penuh intimidasi tertuju ke arah Steven berada.


"Jadi sekarang kamu ingin main kucing-kucingan denganku, Hubby?" celetuk Marisa dengan mata yang sudah menyipit.


Steven yang melihat wajah lucu kekasihnya, kini langsung merengkuh tubuh mungil Marisa agar bisa lebih dekat dengannya.


"Jangan sering-sering merajuk, Sayang. Nanti kamu akan cepat tua lho." goda Steven.


Marisa pun langsung mengibaskan tangan Steven sehingga membuat pria itu sedikit merasa terkejut. Tetapi sebelum wanitanya kembali merajuk, Steven langsung mengeluarkan jurus jetsunya untuk membujuk wanita muda itu.


"Sayangku, Cintaku, Honey bunny sweety ku. Dengarkan aku ya? Aku sama sekali tidak ingin bermain apapun denganmu. Hanya saja aku ingin memberikan sedikit kejutan kepadamu dengan kedatangan seseorang di sini." ujar Steven sambil menangkup kedua sisi wajah Marisa.


Wanita itu pun kembali berpikir dan kembali menerka-nerka, siapa seseorang yang di maksud oleh kekasihnya? Apakah dia orang istimewa? Atau justru......?


Di saat Marisa sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan dua sosok yang sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.


"Yuhuuu... Steven?" panggil wanita itu saat pintu baru terbuka.


Namun saat wanita itu melihat siapa yang saat ini sedang bersama dengan adik tirinya. Seketika senyuman itu langsung redup karena pandangannya langsung tertuju ke arah Marisa berada.


Kevin yang juga melihat wajah familiar wanita itu, kini langsung terpaku dan terpana di tempat. 'Cantik sekali kamu, Risa.' puji Kevin dalam hati.


Marisa pun langsung menoleh ke arah kekasihnya, sedangkan Steven hanya memberikan sebuah jawaban melalui anggukan kepala.

__ADS_1


Wanita itu juga langsung menyadari tentang kejutan yang dimaksud oleh kekasihnya. 'Jadi ini kejutan yang dimaksud oleh Hubby? Baiklah. Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.' batin Marisa.


Empat pasang mata yang saling melempar tatapan mata tertentu. Kini langsung membuat seorang pria posesif menyadari jika ada sepasang mata yang menatap lapar wanitanya.


"Silahkan duduk Kak Stella dan Kak Kevin!" titah Steven dengan seulas senyum tipis, hanya tipis sekali.


Kevin yang masih terpana dengan penampilan anggun Marisa, seketika pria itu langsung gelagapan. Kemudian Kevin langsung mengekor istrinya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Jadi Kak Kevin masih ingin menempati posisi Manager?" tanya Steven memastikan.


Kevin yang merasa canggung dengan kehadiran seseorang yang masih menempati setengah hatinya. Kini hanya memberikan sebuah jawaban melalui anggukan kepala.


"Baiklah. Kalau begitu Kakak harus menyetujui persyaratan yang akan aku ajukan saat ini. Dan aku harap Kak Kevin menyetujuinya, karena semua persyaratan ini wajib dipenuhi oleh para kandidat Manager di perusahaan ini." jelas Steven.


Marisa yang saat ini masih ditahan di atas pangkuan kekasihnya, saat ini hanya bisa pasrah sambil mengulum senyum.


"Jaga pandanganmu, Sayang! Jangan terus menerus melihatnya! Aku sangat tidak menyukainya." bisik Steven.


Perintah dari Steven seketika membuat Marisa merinding. Bisikan yang penuh intimidasi dan terdapat ancaman didalamnya, membuat Marisa langsung menatap ke arah pria posesif itu.


CUP!


Kecupan singkat di bibir ranum Marisa pun tidak bisa terelakkan. Bahkan Kevin dan Stella yang melihat tingkah kekanak-kanakan Steven hanya terdiam sambil menatap tidak suka.


"Jika kamu lelah, kamu bisa beristirahat di ruangan pribadiku, Sayang." ucap Steven dengan suara lembut.


"Iya, Hubby. Tapi aku masih ingin disini, di dekatmu." rengek manja Marisa.


Steven yang melihat tingkah manja Marisa, saat ini langsung tersenyum puas. Karena dia telah memulai permainannya sendiri dengan kedua parasit itu.

__ADS_1


"Ehm! Bisakah kita membicarakan tentang pekerjaan terlebih dahulu, Stev? Aku harap kamu bisa bersikap profesional, karena kamu adalah pimpinan tertinggi di sini. Jadi jangan sampai kamu membuat Papi malu dengan tingkah kekanak-kanakanmu saat ini." sindir Stella.


Sesuai dengan dugaan Steven, jika Stella pasti akan menyeret nama Ayahnya ke dalam urusannya saat ini. Jadi sebelum dia merencanakan semuanya, pria itu sudah memikirkannya dengan matang.


"Tentu saja aku bisa bersikap profesional, Kak. Tapi sepertinya jika hanya berurusan dengan kalian, kita bisa sedikit bersikap santai seperti biasanya. Bukankah kita juga keluarga? Jadi apa salahnya jika kita saling berdekatan agar saling mengenal satu sama lain?" ujar Steven dengan santainya.


Marisa yang melihat sikap santai kekasihnya, kini masih menyimak setiap ucapan maupun sindiran yang mereka lontarkan.


"Baiklah. Terserah kamu. Jadi apa syarat yang akan kamu ajukan kepada Mas Kevin, Stev?" celetuk Stella.


"Okey. Aku akan memberikan beberapa poin itu setelah jam makan siang. Karena kalian datang di saat jam istirahat tiba, jadi lebih baik kalian menunggu terlebih dahulu." timpal Steven.


Stella yang sedikit terpancing dengan ucapan-ucapan Steven, tiba-tiba wanita itu langsung menggebrak meja kerja adik tirinya.


BRAK!


"Apa kamu sedang mempermainkan kami, Stev? Bukankah kamu yang meminta kami untuk datang ke sini? Jadi kenapa sekarang kamu bertindak seenaknya? Apakah seperti ini sidta dari putra Atmajaya?" cecar Stella.


Steven yang tidak ingin tersulut emosi, kini masih menyikapinya dengan santai. "Bukankah seharusnya aku yang mempertanyakan semua ini kepada kalian? Apakah kalian tidak sadar, jika aku meminta kalian untuk datang tadi pagi? Dan sekarang lihat! Jam berapa sekarang? Apakah kalian ingin membuat kami kelaparan, karena terlalu lama mengurusi urusan kalian?" sindir Steven.


Akhirnya Steven dan Stella saling beradu mulut, karena sifat Stella yang juga sudah melewati batas kesabaran. Bahkan Kevin yang melihat perdebatan sengit antara Kakak beradik itu sama sekali tidak menggubrisnya.


Saat ini fokus Kevin hanya pada Marisa yang masih berada di atas pangkuan Steven. '****! Seharusnya aku yang memiliki Marisa saat ini. Bodooh kamu, Kevin! Bodooh! Mengapa kamu melepaskan berlian hanya untuk mendapatkan emas berkarat. Bahkan saat ini Marisa sangat terlihat sempurna dengan penampilannya sekarang.' gumam Kevin dalam hati.


"Baiklah. Setelah jam makan siang kami akan kembali. Dan ingat! Jangan mempermainkan kami lagi, Stev!" tegas Stella.


Wanita itu akhirnya menarik lengan suaminya untuk keluar dari ruangan itu. Meskipun sebenarnya Kevin masih enggan untuk meninggalkan ruangan itu, tetapi mau tidak mau dia harus melakukannya.


'Tunggu aku, Risa! Aku pasti akan merebutmu kembali darinya!'

__ADS_1


__ADS_2