Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)

Kebangkitan Istri Yang Tersakiti (Pembalasan Marisa)
23. Meminta Penjelasan


__ADS_3

CUP!


"Jangan menangis lagi, Risa! Maaf, maaf dan maaf! Aku hanya ingin kamu tau, jika aku tidak suka kalau kamu dekat dengan pria lain seperti kemarin." ujar Steven dengan rasa bersalah yang masih mendera di dalam hatinya.


Marisa yang masih bergeming dengan posisi meringkuk, kini tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bahkan saat Steven terus mengucapkan kata maaf, dia sama sekali tidak mengindahkannya.


'Aku tau Stev, jika kamu sangat mencintaiku dan tidak suka saat aku dekat dengan pria lain. Tetapi apakah kamu tau, jika aku juga tidak suka saat kamu dekat dengan wanita lain? Sakit, Stev! Sakit! Kamu hanya ingin menerbangkan aku setinggi langit, tetapi secara tiba-tiba kamu juga menghempaskan aku ke dasar bumi hingga hancur berkeping-keping.' batin Marisa sambil menahan sesak di dalam dada.


"Ris, aku mohon katakan sesuatu kepadaku. Tolong, jangan diamkan aku seperti ini, Risa! Jika ada kata-kata lain selain kata maaf agar kamu bisa memaafkan aku, maka aku akan terus mengucapkannya sampai kamu bisa memaafkan aku, Ris. Percayalah! Jika perasaanku kepadamu benar-benar tulus." jelas Steven.


Sesekali wanita itu melirik ke arah pria yang saat ini masih berada di sebelahnya. Namun semua ucapan dan kata-kata pria itu sama sekali tidak membuat Marisa berkutik.


"Risa, come one, Baby! Aku hanya ingin kamu tau, jika aku benar-benar tulus menyayangimu. Tolonglah, Risa! Jangan semakin membuatku tersiksa dengan rasa bersalah ini!" pinta Steven dengan raut wajah yang memelas.


Marisa yang melihat sorot ketulusan dari mata elang Steven, kini memilih untuk sedikit menyingkirkan rasa ego-nya dan langsung menegakkan tubuhnya, sehingga saat ini tatapan mereka saling beradu.


"Apa jaminanmu jika kamu tidak akan pernah mempermainkan ku, Steven?" celetuk Marisa dengan pelupuk mata yang masih digenangi buliran kristal bening.


Sejenak pria muda itu pun terdiam dan memikirkan cara untuk meyakinkan wanita yang saat ini masih berada di depannya.


"Jika nanti aku menyakitimu lagi, maka aku siap untuk menerima konsekuensinya, Risa. Tetapi aku tidak mau kalau kamu meninggalkan aku dan pergi dariku." ujar Steven sambil menggenggam erat tangan Marisa.


'Kenapa Steven tiba-tiba seperti seorang cenayang yang bisa menebak apa yang akan aku katakan nanti? Huft!' keluh Marisa dalam hati.


"Aku tau jika kamu pasti akan mengatakan hal itu kepadaku, Marisa. Jadi sebelum kamu mengatakannya, maka aku memintamu untuk tidak mengatakan sekaligus melakukannya. Karena aku tidak bisa untuk kehilanganmu." sambung Steven lagi.


Setelah menimbang-nimbang ucapan sahabatnya, akhirnya Marisa sedikit membuang rasa ego dan keras kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah. Tetapi aku mau kamu menjelaskan semuanya kepadaku, Stev. Karena aku tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, sehingga aku seperti wanita bodooh yang mudah dikelabui." cetus Marisa setelah mengusap air matanya dengan kasar.


Steven yang masih melihat wajah sembab pujaan hatinya, kini langsung menyetujuinya tanpa ingin mendebatnya lagi.


"Okey, deal! Tetapi sebelum aku menjelaskan semuanya, aku ingin kamu menjelaskan tentang cerita yang dimaksud oleh kedua temanmu itu." pinta Steven dengan penuh harap.


Marisa yang mengerti maksud dari pria itu, sejenak dia menghirup pasokan oksigen untuk mengisi rongga dadanya yang sempat merasa sesak.


"Itu hanya cerita biasa saja. Karena hanya mereka yang mempedulikan aku saat itu, jadi aku hanya sedikit sharing tentang seorang pria yang menyatakan perasaannya kepada seorang wanita. Tetapi pria itu justru diam-diam sedang bermesraan dengan wanita lain. Bukankah itu lucu 'kan? Wanita yang polos dan lugu pada akhirnya tertipu dan merasakan patah hati juga keduakalinya." jelas Marisa diiringi tawa disela suara paraunya.


Steven yang belum memahami apa maksud dari sahabatnya, kini masih mencoba untuk menelisik melalui celah-celah iris mata hazel Marisa.


"Maksud kamu, Sayang?" tanya Steven yang masih kebingungan.


Kini tawa Marisa pun kembali pecah, bahkan buliran bening itu pun kembali mengalir di sela tawanya.


"Risa? Please! Jangan seperti ini! Cobalah menanyakan hal yang jelas. Bahkan aku sama sekali tidak pernah mendekati wanita lain selain dirimu, Sayang." jelas Steven dengan tatapan mata sendu.


Melihat wanita itu menangis disertai dengan tawa renyah yang terdengar sangat memilukan. Kini Steven memutuskan untuk menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan.


"Lepaskan aku, Stev! Apa kamu benar-benar ingin terlihat bodooh saat bersamaku, sehingga kamu bisa mempermainkan wanita polos sepertiku, huh?!" sentak Marisa.


"Kalau kamu tidak mau mengatakan siapa wanita yang bersikap manja kepadamu beberapa hari yang lalu, maka aku bersumpah tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu, Steven Milano Atmajaya!" ancam Marisa.


Seketika Steven pun tertegun dengan ancaman yang dilontarkan oleh sahabatnya. Pria itu kini mulai mengingat kembali siapa wanita yang dimaksud oleh pujaan hatinya.


'Apa yang dimaksud Risa adalah Natasha? Astaghfirullah!' batin Steven.

__ADS_1


"Aku yakin jika kamu sudah salah paham, Sayang. Pasti yang kamu maksud adalah Natasha, sepupuku yang baru datang dari California. Bahkan saat ini dia juga sedang kuliah di Kampus ini, dan bisa dipastikan kamu melihatku bersamanya saat Natasha bersikap manja kepadamu 'kan?" ujar Steven.


Perlahan Steven melepaskan pelukannya, dan langsung menangkup kedua sisi wajah Marisa.


"Kalau kamu tidak percaya, kita bisa menunggunya hingga dia keluar. Karena sebentar lagi kelasnya juga akan usai dan aku pastikan dia akan ke sini untuk mengambil mobilnya." sambung Steven.


Beberapa saat kemudian, seorang gadis tiba-tiba datang dan mengetuk pintu mobil Steven. Sedangkan Marisa kini masih bergeming sambil menatap wajah gadis itu.


'Nah, kan?! Dia pasti akan membuat kekacauan sebentar lagi.' batin Marisa.


Tok...


Tok...


Tok...


Steven yang saat ini berada tepat di samping jendela mobilnya, tanpa meminta persetujuan dari wanita yang masih terdiam di sampingnya. Pria itu langsung menurunkan kaca mobilnya yang masih tertutup rapat sebelumnya.


"Kak Steven kok ada di sini? Aku kan tidak meminta Kakak untuk menjemputku?" tanya gadis itu.


"Aku memang sengaja ke sini untuk menemui seseorang, Sha." jawab Steven sambil melirik ke arah samping.


Tiba-tiba gadis itu langsung berteriak histeris saat melihat siapa wanita yang saat ini sedang duduk di samping sepupunya.


"Kak Marisa 'kan? MasyaALLAH! Ternyata Kak Marisa lebih cantik dari fotonya ya? Duh, aku jadi ingin pamer dengan teman-teman ku, kalau aku bertemu langsung dengan primadona Kampus ini. Pasti mereka akan merasa iri kepadaku." ujar Natasha dengan penuh semangat.


Seketika pria muda itu langsung membelalakkan matanya saat mendengar ucapan gadis remaja itu.

__ADS_1


"HAH?! PRIMADONA KAMPUS?!" pekik Steven.


__ADS_2