
"Tunggu, Risa! Jangan tinggalin kekasih gue dong! Masa sih Naura ditinggal gitu aja. Nanti kalau dia ngamuk sama gue, bisa habis gue sama dia." cecar Nathan saat tiba di dalam mobil Marisa.
Marisa yang baru sadar kalau temannya masih tertinggal di cafe itu, dengan cepat wanita muda itu langsung mengambil ponselnya dan mencari nama Naura.
Saat dering pertama, Naura langsung menjawab panggilan dari Marisa.
"Assalamu'alaikum, Nau? Aku dan Nathan sudah ada di mobil, jadi kamu langsung ke sini saja ya?" pinta Marisa tanpa basa-basi.
Setelah mendapatkan jawaban dari Naura. Marisa langsung memutuskan panggilan suara tersebut dan menunggu Naura di dalam mobilnya.
"Lo baik-baik aja, Ris?" tanya Nathan.
"Ya. Seperti yang kamu lihat, Nath." jawab Marisa sekenanya.
Nathan yang masih melihat wajah kesal Marisa, kini memilih diam dan duduk dengan tenang di belakang kemudi.
Tak berselang lama kemudian, akhirnya Naura tiba di samping mobil Marisa dan bergegas untuk duduk di bangku depan.
"Ada apa, Beb? Kok kalian ninggalin aku sih?" protes Naura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, Honey! Nanti aku akan ceritakan semuanya kepada kamu. Lebih baik sekarang kita balik dulu ke Kampus untuk mengambil mobilku." ujar Nathan dengan suara lembut.
Marisa yang mendengar perbincangan kedua sejoli itu hanya diam tanpa ingin membuka suaranya.
Setelah sampai di Kampus. Marisa memutuskan untuk segera pulang dan meninggalkan kedua temannya setelah berpamitan.
Di sepanjang perjalanan, suara Steven yang menuduhnya masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Apakah kamu memandang ku serendah itu, Stev? Setelah kamu mengetahui jika aku pernah terjebak dalam pernikahan palsu itu." gumam Marisa sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tes...
Tes...
Tes...
Tak terasa buliran bening pun menetes membasahi pipi mulusnya. Dadanya terasa sangat sesak dan hatinya seketika dipatahkan oleh ucapan yang menohok itu.
"Baiklah, Stev. Mulai sekarang aku akan menjauhi mu. Dan aku seharusnya juga sadar diri, jika pria sukses sepertimu bisa mendekati wanita manapun. Bahkan kamu juga bisa membodohi wanita polos sepertiku." cetus Marisa disela tetasan air matanya.
Di saat Marisa sedang bergelut dengan hati dan pikirannya. Di lain pihak Steven masih menunggu Natasha di depan Kampusnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok pria yang beberapa waktu lalu ditemui bersama dengan Marisa.
"Lho, bukannya dia pria yang bersama dengan Marisa tadi? Tetapi kenapa sekarang dia bersama dengan wanita lain?" gumam Steven sambil menyipitkan matanya.
"Apakah dia hanya mempermainkan Marisa saja dan memiliki wanita lain? Wah, sepertinya aku harus memberikan pelajaran kepada pria brengseek seperti itu!" cetus Steven dengan sorot mata tajam.
Steven pun bergegas untuk keluar dari mobilnya dan segera menghampiri Nathan.
BUGH!
BUGH!
"Dasar, pria brengseek! Berani-beraninya kamu mempermainkan Marisa, huh?!" pekik Steven sambil mencengkeram kerah kemeja Nathan.
"Eh... Mas? Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba kamu memukul kekasihku? Apa masalahmu? Dan apa hubungannya dengan Marisa?" cecar Naura yang tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Steven.
Kemudian tatapan mata tajam Steven beralih kepada Naura.
"Kamu jangan mau dibodohi oleh pria seperti dia! Apa kamu tau jika dia telah selingkuh dengan sahabatku?" tegas Steven.
__ADS_1
Naura pun langsung mengernyitkan keningnya dan beralih menatap wajah lebam kekasihnya.
"Ada apa, Beb? Kenapa Mas ini bisa menuduhmu seperti itu?" tanya Naura.
Sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya. Nathan menghela napas panjang agar sedikit mengurangi rasa nyeri di wajahnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian. Tapi tolong lepaskan dulu tanganmu dari kemejaku!" pinta Nathan.
Akhirnya Steven langsung melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Nathan untuk menjelaskan semuanya kepada mereka.
"Jadi setelah Naura pergi ke toilet tadi, aku dan Marisa sedang melempar sedikit candaan. Karena beberapa hari terakhir ini aku dan Naura juga melihat wajah kusut Marisa. Sehingga kami memutuskan untuk mengajaknya berkumpul di cafe tadi....." jelas Nathan.
Keduanya saat ini masih bergeming dan menunggu kelanjutan cerita dari Nathan.
"Tanpa di duga, tiba-tiba pria yang mengaku sebagai sahabat Marisa menuduhnya sebagai wanita murahan. Sehingga membuat Marisa langsung naik pitam. Dan apa kamu tau Sayang? Ternyata pria yang diceritakan oleh Marisa tadi adalah DIA!" jelas Nathan lagi sambil menunjuk ke arah Steven.
Seketika mata elang Steven membola sempurna saat mendengar penjelasan dari teman sahabatnya.
"Maksud kamu cerita tentang aku? Tentang apa?" tanya Steven yang masih merasa bingung.
Nathan pun langsung menyunggingkan sebelah bibirnya, dan langsung menggandeng tangan Naura.
"Itu bukan urusan kami. Dan sebaiknya kamu segera meminta maaf kepada Marisa, sebelum kamu menyesali semuanya." tegas Nathan.
Steven pun masih bergeming di tempat. Sedangkan Nathan dan Naura kini langsung berjalan meninggalkan pria muda itu.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka mengatakan hal itu kepadaku? Dan hal apa yang sudah diceritakan oleh Marisa kepada mereka?" gumam Steven.
Tiba-tiba dari arah belakang muncul seseorang yang sangat mengejutkan Steven.
"DOORR!! Kak Steven?!" pekik Natasha.
Steven yang masih sibuk dengan lamunannya, seketika langsung terkejut dengan kehadiran adik sepupunya.
"NATASHA?!" pekik Steven sambil memegangi dadanya.
"Hahaha... Makanya jangan melamun, Kak. Nanti kesambet penunggu Kampus ini baru tau rasa lho." ucap Natasha disertai dengan gelak tawa renyahnya.
Steven yang merasa gemas dengan tingkah kekanak-kanakan sepupunya. Kini langsung meninggalkan wanita muda itu tanpa mengajaknya.
"Eh... Tunggu, Kak Stev! Jangan tinggalin aku dong!" rengek Natasha.
Steven yang masih memikirkan tentang ucapan pria yang bernama Nathan, saat ini merasa kebingungan dengan ucapan yang terdengar ambigu.
'Apa maksud dari ucapan pria tadi? Dan apa yang diceritakan oleh Marisa kepada mereka?' batin Steven.
Di sepanjang perjalanan Steven hanya terdiam dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Natasha sibuk berbicara sendiri dan menceritakan tentang kehidupan barunya di Indonesia.
"Kak Steven? Hello? Kenapa Kakak diam saja sih? Aku seperti orang gilaa tau nggak? Dari tadi berbicara sendiri terus." protes Natasha sambil mengerucutkan bibirnya.
Steven yang sedang merasakan kepalanya yang pusing dan berdenyut-denyut, kini hanya bisa memijit pelipisnya.
"Bisakah kamu diam dulu, Sha? Kepalaku sekarang sedang pusing dan aku butuh ketenangan saat ini." pinta Steven.
Natasha yang melihat perubahan raut wajah Kakak sepupunya, kini langsung bungkam tanpa ingin bersuara lagi.
'Apa aku harus menemui Marisa sekarang? Tetapi bagaimana jika dia masih marah kepadaku? Aku sadar, jika ucapanku tadi memang sangat keterlaluan." batin Steven yang sedang merutuki dirinya sendiri.
Setelah tiba di sebuah gedung bertingkat, Steven langsung menurunkan Natasha di depan lobby.
"Kak Steven tidak mau mampir dulu ke apartemenku?" tawar Natasha.
__ADS_1
"Tidak, Sha. Aku masih ada urusan lain, mungkin lain waktu aku akan berkunjung ke apartemenku." ujar Steven dengan seulas senyum tipis.
"Baiklah. Kalau begitu hati-hati, Kak Stev. Assalamu'alaikum?" ucap Natasha dengan seulas senyum manis.
"Siap, Tuan Putri. Wa'alaikumsalam." sahut Steven.
Kemudian pria muda itu meninggalkan adik sepupunya yang masih berada di lobby apartemen.
Dengan menambahkan kecepatan mobilnya, akhirnya Steven memutuskan untuk pergi ke rumah kediaman Argantara.
"Semoga kamu mau menemui ku, Ris. Karena aku ingin tau, apa yang kamu ceritakan kepada kedua temanmu itu. Dan aku yakin jika ini adalah hal yang sangat penting untuk ku ketahui." gumam Steven.
Setelah tiba di depan pintu gerbang, Steven langsung meminta kepada Pak Setya untuk membukakan pintu gerbang tersebut.
"Maaf, Den Steven! Tuan Mario melarang Saya untuk membukakan pintu untuk Den Steven." ujar Pak Setya.
Steven pun langsung tertegun saat mendengar ucapan ucapan pria paruh baya itu.
"Lho, memangnya kenapa, Pak Setya? Apakah Om Mario mengatakan alasannya?" tanya Steven yang masih kekeuh.
"Maaf, Den! Saya juga tidak tau. Soalnya Tuan Mario hanya meminta Saya agar tidak membukakan pintu untuk Den Steven." jelas Pak Setya.
Akhirnya Steven langsung mengambil ponselnya dan mencari nama Ayah dari sahabatnya.
Tepat di dering pertama, Mario langsung menjawab panggilan dari Steven.
"Ada apa kamu menelpon ku? Apakah kamu belum puas membuat putriku menangis di sepanjang jalan, huh?!" pekik Mario tanpa basa-basi.
Steven yang mendengar intonasi suara Mario yang meninggi, kini langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Maafkan Steven, Om! Steven tidak bermaksud ingin membuat Marisa menangis. Aku mohon, tolong bukakan pintu gerbangnya agar aku bisa menjelaskan semuanya kepada kalian." pinta Steven dengan penuh harap.
"Jangan pernah bermimpi, Stev! Bukankah sebelumnya sudah pernah aku katakan, sekali lagi kamu membuat putri kesayanganku menangis. Maka aku tidak akan pernah mengijinkanmu untuk menemuinya." cetus Mario dengan tegas.
Tut...
Tut...
Tut...
Panggilan suara pun akhirnya langsung terputus. Saat ini Steven merasa sangat frustasi karena tindakan gegabahnya.
Pak Setya yang melihat sahabat Nona mudanya, kini hanya bisa menghela napas panjang. Sejujurnya pria paruh baya itu merasa kasihan kepada Steven, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Apalagi kalau sampai menentang perintah dari Bos-nya.
"Yang sabar ya, Den." ucap Pak Setya yang merasa tidak enak hati.
Steven yang masih berada di depan pintu gerbang, kini hanya bisa mengangguk dan tersenyum getir.
"Tidak apa-apa, Pak Setya. Kalau begitu aku permisi dulu. Assalamu'alaikum?" pamit Steven dengan sopan.
"Baik, Den. Hati-hati. Wa'alaikumsalam." jawab Pak Setya.
Mau tidak mau, akhirnya Steven langsung berputar arah menuju ke tempat yang sering dia kunjungi jika sedang merasa gelisah.
'Maafkan aku, Risa! Maaf!' batin Steven.
Di sepanjang perjalanan, Steven terus saja memikirkan tentang ucapan yang dia lontarkan kepada sahabatnya beberapa waktu lalu.
"Mengapa aku bisa mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan kepada Marisa? Argh! Bodooh kamu, Steven! Bodooh!"
Saat ini Steven terus saja memaki dirinya sendiri. Karena ucapannya yang sudah keterlaluan dan akhirnya berakibat fatal.
__ADS_1
"Sebaiknya aku menemui seseorang yang bisa memberikan solusi untuk masalah ini." gumam Steven yang langsung membanting stir nya dan memutar arah tujuannya.