
"Tapi ma nanti Cindy bakal cari tahu kebenarannya seperti apa, apa benar Raihan selingkuh atau bagaimana. Biar bagaimanapun pernikahan mereka belum ada setahun, kan bisa malu kita kalau sampai cerai" ujar Cindy.
" Iya Cindy, coba kamu cari tahu kebenarannya. Terus terang mama pusing mikirin masalah ini" sahut mama memegang kepalanya
"Sudah ma, jangan terlalu dipikirkan. Toh belum jelas duduk masalahnya. Kan kita baru dengar dari sisi Keenar, belum dari sisi Raihan" Cindy menenangkan mamanya.
Cindy diam-diam mencari tahu tentang semuanya. Dilihatnya sosal media Raihan, tidak ada yang aneh. Hanya foto-foto dengan teman-temannya, semasa belum menikah dan foto saat pernikahan mereka saja. Selebihnya tidak ada foto lagi. Di sosial media Keenar pun sama. Tidak ada foto-foto mencurigakan, hanya ada foto saat kuliah dulu dan foto pernikahan mereka.
Kandungan Keenar sudah memasuki bulan ke 9, tapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan.Raihan pun semakin berubah dan semakin jarang pulang. Sama sekali tidak ingin melihat Keenar. Entah pulang kemana dia selama ini.
Sampai pada suatu hari Cindy pergi berkunjung ke rumah Raihan dan Keenar. Sengaja dia tidak memberi tahu sebelumnya. Niatnya ingin memberi kejutan mereka, namun saat sampai disana dirinyalah yg diberi kejutan. Di dengarnya Teriakan amarah Raihan pada Keenar, dan suara tangisan Keenar yang sangat memilukan. Tidak hanya itu, suara bantingan barang pun ikut menambah riuhnya pertengkaran mereka pagi itu.
"Sudah aku bilang Keenar!! anak itu bukan anak aku!! kamu sudah selingkuh sama Doni, bisa jadi itu anak Doni atau anak laki-laki lain mungkin!!" teriak Raihan penuh kemarahan.
"Kamu jahat mas, kamu yang selingkuh tapi kamu yg nuduh aku selingkuh, kamu juga tidak mengakui anak ini, dimana hati kamu mas!!" Teriakan bercampur tangisan Keenar melebur jadi satu.
Cindy hanya diam di depan pintu, ragu untuk mengetuknya. Di dengarkannya semua pertengkaran mereka. Tidak lama kemudian, Mbak Aminah datang dari pasar dan menegur Cindy.
"Non Cindy, udah lama datengnya?" mbak Aminah kaget melihat Cindy di depan pintu.
Cindy terkejut dan berbalik
"Loh mbak Aminah, dari mana? belum lama banget sih mbak, mau masuk tapi lagi ada perang dunia"
"Dari pasar Non. Ya gitu non, akhir-akhir ini selalu seperti itu" Mbak Aminah menghela napas.
"mbak Aminah tahu tidak masalahnya apa?" Tanya Cindy berharap dapat informasi dari mbak Aminah.
"Tahu sekali juga tidak Non, hanya garis besarnya saja" jawab mbak Aminah.
"Bisa kita bicara di luar mbak?"
"Untuk apa ya Non?"
"Saya butuh informasi mengenai masalah mereka, sepertinya bukan masalah biasa. Tidak seperti biasanya Raihan kasar seperti itu. Bisa kita bicara mbak? mungkin saja mbak Aminah bisa membantu kami menyelesaikan masalah mereka" terang Cindy
__ADS_1
"Baik Non, tapi mohon jangan beritahu pak Raihan atau ibu Keenar kalau saya yang memberitahu ke non Cindy"
Cindy dan Aminah akhirnya pergi ke kafe dekat rumah Keenar.
Setelah memesan minuman dan camilan, Cindy mulai menggali informasi dari Aminah.
"Jadi sebenarnya bagaimana masalahnya mbak? pelik sekali sepertinya"
"Masalah sebenarnya saya tidak tahu jelas mbak, hanya saja beberapa waktu ini pak Raihan sering pulang malam bahkan pernah tidak pulang, bu Keenar sering menangis sampai puncaknya beberapa hari yang lalu" Mbak Aminah berhenti sebentar saat pelayan kafe mengantar minuman
"Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya dengar pak Raihan bilang kalau anak yang dikandung bu Keenar bukan anaknya, dan saya juga dengar kalau pak Raihan selingkuh tapi menuduh bu Keenar yang selingkuh" Lanjut Aminah
"Itu kapan kejadiannya?"
"Beberapa hari yang lalu, saat teman bu Keenar pulang dari rumah, tiba-tiba Pak Raihan masuk dan menuduh bu Keenar"
"Teman? siapa namanya? mungkin saya kenal"
"Mas Doni dan mbak Sandra. Pak Raihan menuduh bu Keenar selingkuh dengan mas Doni, dan anak itu katanya anak mas Doni" jelas Mbak Aminah.
"Tidak Non , selama saya kerja di rumah mereka, saya baru bertemu mas Doni hari itu. Itu juga katanya mas Doni baru pulang dari luar kota atau luar negeri gitu, saya juga lupa"
"Berarti bisa jadi yang gak beres sebenarnya Raihan? Tapi menuduh Keenar agar belangnya gak ada yang tahu? dengan siapa dia selingkuh?" gumam Cindy.
"Sudah ya Non, nanti saya dimarah bu Keenar kalau kelamaan" Pamit mbak Aminah.
"Oh iya mbak, terima kasih atas bantuannya. Saya antar pulang sekalian ingin melihat keadaan mereka sekarang. Sudah selesai apa belum"
Mbak Aminah dan Cindy bergegas pulang dan sesampainya dirumah, mereka mendapati keadaan rumah yang seperti kapal dibalik. Dan Keenar yang terduduk di lantai sambil menangis dan memegangi perut seperti kesakitan.
"Astaghfirullah Keenar, kamu kenapa" Teriak Cindy panik dan menghampiri Keenar.
"Sakit banget mbak" Keenar memegangi perutnya.
"Sepertinya bu Keenar akan melahirkan Non"
__ADS_1
"Cepat kita bawa Keenar ke Rumah Sakit. Ini kemana Raihan?"
"Gak Tahu mbak, tadi langsung pergi setelah dorong aku" isak Keenar sambil menahan sakit.
"Astaghfirullah.. keterlaluan Raihan. ayo Keenar mbak bantu berdiri, bisa jalan kan? pelan-pelan aja"
"Gak usah ke Rumah Sakit mbak, ke bidan Santi aja yg di depan gang itu, aku gak kuat kalau ke Rumah sakit. Ini udah gak tahan" pinta Keenar.
Cindy mengangguk dan berjalan pelan keluar rumah sambil memegangi Keenar. Setelah mbak Aminah mengunci pintu, Mereka bergegas ke bidan Santi.
Beruntung Bidan Santi sedang ada di rumah, jadi Keenar bisa langsung ditindak. Setelah Keenar diperiksa ternyata sudah bukaan 6. Jadi bidan Santi dan asistennya langsung bersiap-siap.
Cindy dan mbak Aminah menunggu di depan kamar, sesekali ditengoknya Keenar dari pintu, Karena Mbak Aminah dan Cindy takut melihat orang melahirkan jadi mereka memilih menunggu di depan kamar.
Cindy pun menghubungi mama dan papanya. Namun respon mereka sangat datar. Mereka akan datang saat Keenar sudah dibawa pulang saja. Menurut mereka anak itu belum tentu anak Raihan jadi buat apa mereka repot-repot kesana. Cindy malas berdebat dengan orang tuanya, akhirnya Cindy menelpon bapak dan ibunya Keenar.
Bapak dan Ibu Keenar tentu saja kaget mendengar Keenar akan melahirkan, terlebih yang memberitahu adalah Cindy bukan Raihan karena tidak berpikir macam-macam, mereka bergegas pergi ke rumah Bidan Santi, seperti yang diinformasikan Cindy.
Cindy juga menelpon Raihan, namun ponselnya tidak aktif. Mungkin sengaja dimatikan karena keributan tadi.
Cindy menghela napas berat, kenapa masalah adiknya menjadi sangat rumit. Adik lelakinya yang terlihat pendiam, tenang, dan tidak pernah macam-macam menjadi seperti singa liar.
Tidak lama kemudian, terdengar tangis bayi yang sangat kencang. Bidan Santi keluar ruangan dan memberi tahu Cindy dan mbak Aminah.
"Alhamdulillah bu, bayiny sehat. Laki-laki. Ibunya juga sehat. Selamat ya bu, sekarang sedang dibersihkan oleh asisten saya. Setelah selesai bisa di Adzankan oleh ayahnya" tutur bidan Santi.
"Alhamdulillah.. terima kasih bantuannya bu bidan" Ujar Cindy lega.
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya, ada pasien lagi" pamit bidan Santi.
"Iya bu, terima kasih" ujar Cindy dan Mbak Aminah bersamaan.
"Non, saya apa pulang dulu ya? membereskan rumah. Nanti takutnya orang tua bu Keenar datang dan saya tidak sempat membereskan rumah malah jadi masalah lagi. Nanti mereka tahu kalau rumah tangga anak mereka bermasalah. Menurut saya sebaiknya mereka jangan tahu dulu" pendapat mbak Aminah bijak.
"Iya mbak, pulang saja duluan. Nanti setelah orang tua Keenar datang, saya akan pulang membantu mbak Aminah. Iya mereka jangan tahu dulu, kita lihat perkembangannya nanti bagaimana". Cindy setuju dengan pendapat mbak Aminah.
__ADS_1
"