
Keenar masih terdiam dikursinya. Melihat adegan kemesraan yang diperlihatkan Vivian dan tunangannya, bisa disimpulkan kalau Vivian serius dengan ucapannya. Tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Raihan. Tapi kenapa Raihan masih bersikap aneh? sikap normal Raihan hanya bertahan beberapa bulan lalu kembali berubah. Maksudnya apa? Keenar masih tak habis pikir. Keenar bangkit dari kursinya dan kembali pulang dengan segudang pertanyaan.
Di rumah Keenar melihat Raihan yang kusut dan uring-uringan. Disebelahnya ada Zafran yang belajar berjalan ditemani mbak Aminah. Sekarang tugas mbak Aminah hanya mengasuh Zafran, sedangkan masak dan pekerjaan rumah tangga lain dikerjakan oleh ART baru, Alifa namanya. Tetangga mbak Aminah di kampung. Gadis cantik yang baru tamat SMA.
"Assalamualaikum, anak mama lagi apa ini?" Keenar menghampiri anaknya yang tertawa girang melihat mamanya pulang.
Raihan yang tiduran di sofa ruang tamu hanya melihat Keenar sekilas lalu kembali mengalihkan tatapannya di layar ponsel sambil bersungut-sungut. Keenar hanya bisa menghela napas melihat tingkah Raihan kali ini.
"Mas, kamu kok gak kerja hari ini?" tanya Keenar heran. karena biasanya Raihan paling rajin masuk kantor. Jadi tumben hari kerja, Raihan ada di rumah.
"Males" jawab Raihan singkat.
"Kamu kenapa sih mas? kok uring-uringan gak jelas terus dari beberapa hari ini" Keenar bertanya dengan hati-hati.
"Gak kenapa-napa. Lagipula mungkin cuma perasaan kamu aja. Aku ngerasa biasa aja. Cuma lagi males aja". jawab Raihan tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya.
"Yasudah, aku ke kamar dulu" pamit Keenar dengan kesal.
"Hhmmmm"
"Semakin mencurigakan. Pasti ada apa-apa lagi" batin Keenar.
Raihan semakin kesal saat telponnya tidak diangkat oleh Vivian. Karena bosan,. Raihan berjalan keluar dan bertemu Alifa yang baru pulang dari warung.
Sejenak mereka bertukar pandang dan Alifa segera menunduk malu. Sedangkan Raihan sedikit terkesima dengan pembantu barunya yang cantik.
"Permisi pak" pamit Alifa dengan berjalan masuk sambil menunduk.
"Cantik juga, kasian cantik-cantik jadi pembantu. ckcckck" gumam Raihan.
Raihan masuk ke mobilnya dan menuju Kafeny Randy. Saat ini dia butuh teman bicara. Raihan merasa aneh dengan dirinya sendiri, yang beberapa waktu lalu sangat membenci Vivian, tapi sekarang dia tidak bisa melupakannya. Perasaannya seperti dibolak-balik.
__ADS_1
Sesampainya di kafe, Raihan memesan minuman favoritnya. Tidak lama kemudian, Randy datang menemuinya dan seakan tahu permasalahn sahabatnya, Randy hanya menggelengkan kepala melihat wajah kusut Raihan.
"Makin berantakan lo Han, masih masalah yang sama?" tanya Randy langsung tanpa basa-basi.
"Iyaaaa, apalagi. Yang gue heran, entah kenapa hidup dan pikiran gue kayaknya gak bisa lepas dari Vivian". Raihan kesal pada dirinya sendiri.
"Gue kasian sama Keenar, gue kayakny selalu nyakitin dia. Gue kalo liat Keenar bawaannya kesel, males banget. Tapi gue gak tahu kenapa, Keenar gak ada salah apa-apa sama gue, tetap jadi istri yang patuh, nurut sama gue. Gak ada kurangnya dimata gue. Tapi entah kenapa gue bisa jadi males banget gitu liatnya" curhat Raihan.
"Kayaknya ada yang gak beres sama diri lo Han"
"Memang, gue sadar itu. Tapi apa, kenapa?"
"Bisa jadi lo di guna-guna atau di pelet" ucap Randy.
Sejenak Raihan terdiam lalu tertawa terbahak-bahak.
"ahahaahaha Randy.. masih aja lo percaya begituan. Jaman sekarang bro, masih aja lo kepikiran kayak gitu. Hahaahah" Raihan masih menertawai pemikirian Randy.
"Maybe sih.. gue bukan percaya, tapi mungkin aja. Karena dilihat dari ciri-ciri lo kayaknya ada yang gak beres dari segi ghaib gtu"
Randy mengendikkan bahu.
"Terserah sih mau percaya atau enggak, itu hak lo juga. Tapi saran gue sebaiknya lo pikirin ucapan gue tadi. Gue serius gak maen-maen, ada yang aneh kayaknya dari diri lo"
Raihan terdiam mendengar ucapan Randy yang mengatakan mungkin ada hubungannya dengan hal ghaib. Selama ini Raihan tidak begitu percaya dengan hal-hal semacam itu. Namun dia juga tidak menafikan kalau hal ghaib itu ada. Bukankah kita tidak sendirian? ada bangsa lembut lain disekitar kita?
"Terus kalau misalnya tebakan lo bener gue kena guna-guna atau apalah itu, gue harus gimana?" tanya Raihan yang pemikiran rasionalnya mulai goyah.
"Ya harus dibersihin lah. Entah di ruqyah atau apa gitu. Gue punya kenalan kalau lo minat" Randy memberikan info paranormal kenalannya.
Tentang paranormal, dukun atau apapun sebutannya, Raihan juga tidak percaya. Baginya mereka hanya sekelompok orang yang memanfaatkan kesusahan orang lain demi mencari keuntungan.
__ADS_1
"Percaya amat sama dukun" ujar Raihan.
"Lah dia mulai, sekarang ini ya pemikiran rasional lo disingkirin dulu. Lo patut nyoba saran gue buat bersihin badan lo"
Raihan memutar bola matanya keatas lalu beranjak bangun.
"Gue percaya ghaib itu ada, tapi gue gak percaya sama dukun. Kurang kerjaan banget ke dukun, yang ada lo cuma dibohongin buat kepentingan dia. Udah ah gue cabut dulu, saran lo kali ini unfaedah banget". Raihan pamit dan melangkah keluar dengan langkah malas.
Randy hanya menatap kepergian Raihan dengan tatapan iba.
"Dibilangin malah ngeyel. Ntar kalau udah parah baru ribet" umpat Randy kesal.
Vivian yang sedang berjalan-jalan ke mall dengan Vano terlihat sangat mesra dan sangat cocok. Vivian yang cantik bagai Barbie dan Vano yang tampan bagai bintang korea. Vivian melihat-lihat kemeja pria yang akan dibeli Vano. Setelah memilih beberapa warna, akhirnya pilihan mereka jatuh pada kemeja berwarna coklat, hitam dan biru muda. Sangat pantas saat dikenakan Vano.
"Aku bayar dulu ya bebh"
Vivian mengangguk.
Vano dan Vivian menuju kasir dan saat akan membayar ternyata dompet Vano tertinggal di rumah.
"Aduh dompetku ketinggalan, bisa pakai uang kamu dulu bebh?" pinta Vano penuh harap.
Vivian yang memang sedang kasmaran, mau saja ketika diminta bayar kemeja Vano yang harganya mahal.
"Makasih bebh.. i love you" Bisik Vano saat Vivian mengeluarkan kartu kreditnya.
Vivian teresenyum senang mendapat ucapan cinta dari Vano. Perempuan yang sedang kasmaran memang selalu gampang dibodohi. Begitu juga dengan Vivian yang tidak sadar kalau selama ini Vano tidak pernah membayar semua belanjaan mereka. Bahkan makan di restoran pun selalu Vivian yang membayar. Selalu ada saja alasannya.
Namun otak Vivian sekarang tertutup cinta. Pikiran rasionalnya tertutup kabut cinta, jadi apapun permintaan Vano selalu diturutinya dengan senang hati.
Biaya pernikahan pun lebih banyak Vivian yang menanggung. Banyal sekali alasan yang dibuat Vano agar tidak mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
__ADS_1
Entah Vano memang kaya tapi Kikir bin medit atau hanya pura-pura kaya dengan memanfaatkan wajah tampannya untuk mencari mangsa wanita bodoh seperti Vivian apalagi Vivian sedang hamil. Semakin gampang saja Vano mencuci otak Vivian dengan alasan "Siapa lagi yang mau sama perempuan yang hamil besar kayak gitu selain gue?"
Kasihan Vivian, percuma susuk seluruh badannya. Sama sekali tidak berguna dihadapan Vano.