
"Lu pasang susuk dimana aja sih Vi?" tanya Kayana keesokan harinya.
"Banyak. Lu kepo amat Kay, tumben" sahut Vivian sambil makan camilan dan nonton TV.
"Gak takut kena azab lu? sakit gak sih?"
"Heleh kebanyakan nonton sinetron lu Kay. Gak sakit kok. Pengen pasang juga lu?" Vivian menautkan kedua alisnya.
"Ih enggak, biar kata muka gue pas-pasan terus pakde gue juga dukun, gue gak mau pasang begituan Vi. Ngeri ah" Kayana bergidik ngeri.
"Tapi dengan ini gue bisa dapetin apa aja Kay, yaa belum semua yang gue mau sih.. seenggaknya ada beberapa list di hidup gue yang tercapai lah.."
"Pesugihan aja Vi, biar cepet kaya mah. Lu kan gak takut dosa" Kayana memberi saran asal.
"Serem ah, syaratnya berat. Gue pernah tanya dulu ke pakde Gimo" Sahut Vivian santai.
"Ebuseeett udah sempet tanya Pesugihan segala. Niat amat Vi???" Kayana terkejut mendengar pengakuan Vivian.
"Biasa aja kalik.. namanya juga usaha"
Kayana menggelengkan kepalanya heran. Tak menyangka Vivian bisa berpikir tentang pesugihan pada Pakde Gimo.
"Udah ah serem bahasannya. Bikin merinding.Mending gue sarapan terus gue balik ke rumah. Lu udah bisa ditinggal kan?"
"Lu duluan yang ngebahas yaa Kay.. ahahahaa malah takut sendiri. Bisa bisa, gue gak apa-apa sendirian, udah sehat gue mah. Ntar tinggal panggil Vano buat nemenin. Beres. Btw, enak nih nasgornya." Vivian mengambil nasi goreng dari tangan Kayana.
"Otak lu ya Vi, demen banget mainin cowok cakep terus kaya. Hati-hati aja kena karma Vi" Nasihat Kayana yang sudah pasti dicibir oleh Vivian.
"Kalau doa itu yang baik-baik Kay, biar berbalik ke kita juga baik. Karma ya? Gue gak peduli, yang penting hidup gue terjamin, gue seneng, gue bahagia" ucap Vivian.
Bahagia? Bahagia pura-pura. Pikir Vivian.
Ddrrrtt
Drrtttt
Ponsel Vivian berbunyi, Vivian melirik sekilas pada layar ponselnya.
"Raihan" gumamnya lalu dibiarkannya panggilan Raihan.
"Kok gak di angkat? kasian loh,semalem pulang dari sini kucel banget mukanya" info Kayana.
__ADS_1
"Males. Gak tahu kenapa, gue males"
"Kalau lu serius dengan Vano ya putusin Raihan. Lu kasih penjelasan logisnya kenapa lu mutusin dia. Akhiri pelet atau apapun yang lu lakuin ke Raihan, kasian. Biarin mereka hidup bahagia" nasihat Kayana.
"Gak lah. Biarin aja" keukeuh Vivian.
Raihan yang telponnya tidak di angkat oleh Vivian, terlihat kesal. Keenar yang melihat ekspresi suaminya, juga merasa heran.
"Kenapa lagi ini orang" batin Keenar.
"Mas, sarapan dulu yuk, atau mas mau mandi dulu?" ajak Keenar.
"Duluan aja, mas masih ada urusan" tolak Raihan tanpa menatap Keenar, tatapannya tak lepas dari ponselnya.
Raihan mengacak rambutnya dan terlihat frustasi. Padahal minggu kemarin Raihan masih terlihat hangat bersama Keenar.
"Mas kenapa? ada masalah? cerita,.siapa tahu aku bisa bantu" Keenar mencoba mencari tahu.
"Gak apa-apa. Biasa aja. Yuk sarapan" Raihan berjalan menuju meja makan.
"Mencurigakan, pasti ada yang aneh" gumam Keenar.
"Jadi Raihan kumat lagi?" tanya Cindy heran.
" ya gitu.. mungkin masih gila sama Vivian"
"Udah kamu cari tahu?"
"Sudah, tapi belum dapet buktinya. Aku buka ponselnya juga nihil. Eh sekarang malah di password dong. Biasanya mah enggak" Curhat Keenar.
"Mencurigakan memang ya? udah kamu tanya baik-baik?" tanya Cindy.
" Sudah mbak, tapi jawabannya ya males-males. Tapi setidaknya setiap hari masih pulang, masih ngajak main anaknya. Walaupun sama aku dingin kayak gitu, tapi sama anaknya enggak. Udah cukup buat aku" tutur Keenar.
Cindy menghela napas, Keenar terlalu lemah menurutnya.
"Maaf ya Kee, menurut mbak kamu kurang tegas loh sama Raihan" Cindy memberi pendapatnya dengan hati-hati.
"Kee tahu mbak. Prioritas Kee sekarang Zafran. Kalau Kee nurutin ego Kee, dari awal masalah dulu, Kee sudah minta cerai dari mas Raihan. Tapi mas Raihan janji berubah demi kami. Kee mau lihat sampai mana janji mas Raihan ditepatinya. Beberapa bulan mas Raihan sempat hangat sama Kee, sayang banget, perhatian. Tapi sekarang seperti ini pasti ada sesuatunya. Kee belum tahu apa, tapi akan Kee cari tahu"
"Kalau ternyata Raihan kembali lagi dengan Vivian? Rencana kamu gimana?"
__ADS_1
" Kalau dia kembali lagi dengan perempuan itu ya berarti kebahagiaan mas Raihan memang di perempuan itu. Bukan di aku. Buat apa aku pertahankan sesuatu yang memang tidak mau jadi milikku? Lepasin aja. Mungkin dengan melepaskan dia, aku bisa lega dan dia bisa bahagia. Sakit memang, tapi kalau dipaksa jadi lebih sakit. Aku gak mau. Dulu Aku udah berusaha memaafkan mas Raihan, berat memang. Seiring waktu ya bisa. Tapi kalau diulangi lagi ya maaf maaf aja..aku juga berhak bahagia." Terang Keenar panjang lebar.
"Mbak setuju Kee, kamu juga berhak bahagia. Mungkin bahagia kamu bukan di adik mbak". Cindy memeluk bahu Keenar.
Sampai suatu hari Keenar tidak sengaja bertemu Vivian di sebuah Cafe. Vivian tidak sendiri tapi dengan seorang pria tampan.
"Loh Keenar? apa kabar? sendiri aja?" basa-basi Vivian.
"Iya, lagi pengen sendiri. Kebetulan bertemu disini, bisa kita bicara?" ajak Keenar. Kebetulan, pikirnya. Saatnya bicara sebagai wanita dewasa. Gak perlu pakai emosi seperti yang lalu.
"Uhhm Van maaf, aku mau ngobrol sebentar sama temen aku. Gak apa-apa ya?" pinta Vivian manja.
"Oke, aku tunggu disana" Vano menunjuk meja yang berada di ujung dekat jendela.
Sepeninggal Vano, Vivian dan Keenar duduk berhadapan dan masih saling diam.
"Jadi mau ngobrol apa? katanya ada yang mau diobrolin? kalau cuma diem aja gue mending nyamperin tunangan gue" Vivian memulai pembicaraan.
Mendengar Vivian mengucapkan kata "Tunangan gue", membuat Keenar kaget dan sedikit senang. Kemungkinan, Raihan tidak berhubungan lagi dengan Vivian tapi Keenar harus memperjelasnya.
"Masalah mas Raihan" jawab Keenar singkat.
"Kenapa lagi? gue kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Raihan. Lihat sendiri kan? kalau gue udah punya tunangan dan gak lama lagi gue nikah"
"Mas Raihan tahu kamu mau menikah?"
"Gak tahu gue. Belum kayaknya. Ada masalah apa?"
"Ah enggak. Gak ada apa-apa. Gue cuma mau tanya gitu aja" sahut Keenar menutupi masalah rumah tangganya dari Vivian si rubah licik.
"Owh.. oke. masih ada yang mau di omongin? kalo enggak gue mau ke tempat tunangan gue"
"Enggak, gak ada lagi. Makasih waktunya Vi. eh Btw, udah berapa bulan?" tanya Keenar melihat kandungan Vivian yang sudah terlihat menonjol.
" jalan 6 bulan. Minta doany aja semoga lancar" Vivian beranjak dari kursi Keenar dan menuju meja tempat kekasihnya menunggu.
"Lu pasti tadi mau ngelabrak gue, lu kira gue masih berhubungan sama laki lu. pas gue bilang tunangan gue baru lu kicep. Rasain lu. ahaahaa" batin Vivian licik.
"Doain kandungan lu? males banget malah kalo bisa lu mati aja pas ngelahirin. Aman dunia. kagak ada pelakor lagi macem lu. lagian gimana maksudnya lagi hamil gede gitu mau nikah? ngadi-ngadi tuh orang" gumam Keenar.
"Berarti gak ada masalah sama Vivian? terus kenapa mas Raihan jadi kayak gitu? apa ada perempuan lain?". Keenar berpikir keras.
__ADS_1