Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Kedatangan Raihan


__ADS_3

Cindy menunggu kedatangan orang tua Keenar. Sembari menunggu, Cindy menggendong bayi laki-laki Keenar dan mengobrol bersama Keenar yang masih lemas pasca melahirkan.


"Keenar, maafin Raihan ya? Raihan gak bisa datang saat kamu melahirkan. Mbak malu sekali atas perbuatan Raihan ke kamu" mbak Cindy meminta maaf pada Keenar.


"Iya mbak, gak apa-apa. Aku udah jauh-jauh hari menyiapkan hati untuk hari ini" ucap Keenar.


"maksud kamu?"


"Iya, aku udah tahu kalau mas Raihan gak mungkin mau datang saat aku melahirkan, dan aku udah mempersiapkan semuanya, ya uang bersalin, ya hatiku" Keenar terlihat sedih dan kecewa.


"Mbak percaya kamu Kee, justru mbak penasaran siapa selingkuhan Raihan" ujar Cindy.


"Vivian, namanya Vivian mbak" lirih Keenar, air matanya luruh tanpa bisa ditahan


"Apa?? Vivian?? itu mantan Raihan yang dulu meninggalkan Raihan. Kenapa Raihan mau kembali sama wanita itu??? setahu mbak, setelah kejadian itu, Raihan membenci Vivian" Cindy terkejut dan merasa heran.


"Tidak tahu mbak, mas Raihan bilang, dia sangat mencintai Vivian" Keenar semakin terisak.


"Yasudah nanti mbak bantu menyelesaikan masalah kalian, sekarang kamu jangan sedih lagi. Kan ada kamu ini.. yuk coba disusui dulu" Cindy mencium anak gemas anak Keenar lalu memberikannya ke Keenar.


Cindy membantu Keenar menyusui bayinya karena baru pertama kali menyusui bayi jadi Keenar perlu bantuan.


"Ini rencananya mau dikasih nama apa Kee?" tanya Cindy


"Zafran Muhammad Raihan mbak, dulu mas Raihan yang memberi nama sebelum negara api menyerang" Keenar terkekeh.


Saat Cindy dan Keenar sedang bercengkerama, tiba-tiba Raihan datang. Cindy dan keenar yang kaget melihat kedatangan Raihan langsung diam.


"Kok diam? tadi seru banget kayaknya" ujar Raihan langsung duduk di kursi.


"Kamu datang kok gak tanya keadaan anak istri kamu?"


"Baik-baik aja kan? kelihatan kok tadi sudah bisa tertawa-tawa" sahut Raihan.


"Terus kamu kesini mau apa?" tanya Cindy dengan menahan marah.


"Penasaran aja, itu anak mirip siapa" jawab Raihan sambil berjalan ke tempat tidur Keenar dan melihat bayinya yang sedang dalam dekapan Keenar.


"Lihat mas, mirip kamu banget. Ganteng" ucap Keenar


"Baguslah, kalau memang itu anak aku ya memang seharusnya mirip aku bukan mirip orang lain" ujar Raihan seenaknya.


"Mulut kamu Raihan!!! mbak gak nyangka kamu bisa-bisanya menuduh istri kamu" bentak


Cindy.

__ADS_1


"Mbak sudah, ini masih di klinik. Nanti kita selesaikan di rumah" Keenar memegang tangan Cindy, menenangkan.


"Pergi kamu Raihan kalau kamu kemari hanya membuat masalah" Usir Cindy.


"Oke aku pergi, buang-buang waktu aja kesini" Raihan berjalan keluar dan menemui Bidan Santi yang kebetulan baru selesai menangani pasien lain.


"Loh pak Raihan, baru datang kok langsung pergi?" tegur bidan Santi.


"Oh iya bu bidan, saya masih ada urusan yang gak bisa ditinggal. Lagipula sudah ada kakak saya yang menemani. Maaf bu, bisa saya selesaikan sekarang pembayarannya?" Raihan merasa tetap harus bertanggung jawab untuk membayar persalinan istrinya.


Sepeninggal Raihan, Cindy dan Keenar terlihat gusar.


"Mbak heran, kenapa Raihan bisa berubah seperti itu ya?" Cindy heran melihat perubahan perilaku adiknya.


"Mbak saja heran, apalagi aku mbak yang setiap hari bersamanya" ujar Keenar sedih.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Raihan"


Saat mereka sedang membahas Raihan, tiba-tiba ibu dan bapak Keenar datang.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam ibu, bapak" Cindy menyambut kedatangan ibu dan bapak Keenar.


"Loh nak Cindy disini?" Ibu Keenar terkejut


Seperti mengerti keterkejutan orang tua Keenar, Cindy pun berusaha menutupinya.


"Iya bu, kemarin kebetulan saya sedang berkunjung ke rumah Keenar" ujar Cindy


"Mana Raihan?" bapak Keenar bertanya.


"Mas Raihan tadi ada urusan kantor bu, jadi gak bisa nungguin disini". Keenar berusaha menutupi masalahnya dari orang tuanya.


"Gimana sih, istri lahiran kok malah ditinggal" gerutu ibu Keenar.


"Sudahlah bu, Raihan kan sedang ada urusan di kantor, sekarang yang penting Keenar dan bayinya sehat" ucap Bapak Keenar menenangkan istrinya.


"Mana cucu eyang? duuhh gantengnya, mirip ayahnya ya? " Ibu Keenar melupakan kekesalannya dengan menggendong cucunya.


"Sudah di adzani nak?" tanya bapak Keenar tiba-tiba.


"Astaghfirullah.. belum bu" Keenar kaget karena tadi lupa untuk meminta Raihan mengadzani anaknya.


"Gimana sih, Raihan apa belum datang dari tadi? sampai belum di adzani begini??" Ibu Keenar kembali menggerutu kesal.

__ADS_1


"Yasudah, sini eyang kakung aja yang adzani ya?" pinta bapak Keenar sambil mengambil bayi Keenar dari gendongan istrinya.


Keenar dan Cindy hanya bisa terdiam. Bagaimana bisa mereka melupakan itu, padahal tadi Raihan datang, begitu pikir mereka.


Setelah di adzani oleh pak Narto, bapaknya Keenar., Cindy pamit pulang.


"Bapak, Ibu, Cindy pamit pulang dulu ya sebentar, nanti Cindy balik lagi" pamit Cindy.


"Iya nak Cindy, terimakasih ya sudah menemani Keenar, kalau nak Cindy tidak ada bagaimana Keenar" ucap bu Fatmah, ibu Keenar.


"Iya bu sama-sama, oh iya bu. Nanti jam 5 sore, katanya Keenar sudah boleh pulang ke rumah"


"Oh, sudah boleh langsung pulang hari ini juga?" tanya bu Fatmah


"Iya bu, karena tidak ada keluhan lain lagi, jadi Keenar sudah boleh langsung pulang. mari bu.. pak"


Cindy pamit dan menuju kasir. Saat bertanya biaya persalinan, Cindy terkejut kalau ternyata sudah dibayar oleh Raihan. Cindy bersyukur karena ternyata adiknya masih punya hati.


Cindy pulang ke rumah Keenar karena ingin membantu mbak Aminah membersihkan rumah untuk menyambut keluarga baru mereka, anak Keenar.


Karena bekas perang dunia kemarin, dapat dipastikan seperti apa keadaan rumah Keenar.


Sampai di rumah, dilihatnya mbak Aminah sedang membersihkan lantai ruang tamu. Pecahan kaca meja, Vas bunga, guci dan lain-lain sudah tidak ada.


"Waahh mbak Aminah sudah bersih begini rumahnya. Saya jadi malu karena telat datang membantu mbak Aminah" ujar Cindy tersenyum malu.


"Hahaaa tidak apa-apa mbak, saya sudah biasa membersihkan bekas perang dunia begini" kelakar mbak Aminah.


Cindy tertawa dan mulai membantu mbak Aminah memindahkan meja yang kacanya pecah.


"Meja ini bisa pecah begini, harus dibuang ini mah, udah gak bisa dipakai lagi" gerutu Cindy.


"Ada meja di gudang mbak, sepertinya masih bagus. Bisalah untuk mengganti meja ini, setidaknya lebih pantas daripada meja pecah begini" mbak Aminah memberi ide.


"Oke mbak, ayo ambil mejanya. Meja ini kita taruh di gudang saja". Cindy mulai mengangkat meja ruang tamu.


Di gudang


"Saya baru pertama loh masuk ke gudang ini, besar juga ya mbak gudangnya. Barangnya juga banyak yang masih bisa dipakai" ucap Cindy sambil melihat-lihat isi gudang


"Iya mbak, ini masih ada guci-guci yang bisa dipakai untuk mengganti guci yang pecah itu. Masih bagus ditaruh diruang tamu" Usul mbak Aminah.


"Iya mbak, benar". Cindy setuju dengan usul mbak Aminah.


Saat Cindy sedang melihat-lihat isi gudang, tak disangka dia melihat buku catatan milik Raihan.

__ADS_1


"Sepertinya catatan kuliah" Cindy membolak-balik buku itu dan terkejut karena membaca sebuah tulisan di salah satu halaman buku catatan tersebut.


__ADS_2