Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi

Keenar, Ketika Hati Dipaksa Untuk Berbagi
Meminta Bantuan


__ADS_3

Harlan sudah sampai di rumah Raihan. Dilihatnya mobil Raihan di garasi yang artinya Raihan ada di rumah.


Harlan berjalan ke arah pintu mengetuknya. Setelah beberapa kali mengetuk dan mengucap salam, akhirnya pintu terbuka dan ternyata Raihan yang membuka pintu.


"Mas Harlan.... " ucap Raihan terkejut.


Harlan yang melihat ekspresi Raihan yang seperti menahan marah saat melihatnya ada di rumahnya jadi salah tingkah.


"Hai Han, bisa kita bicara?" ucap Harlan kemudian.


Raihan pun mempersilahkan Harlan masuk dan memintanya mengikutinya ke ruang kerja Raihan.


"Ada apa mas? maaf sebelumnya kalau mas ingin membicarakan tentang Vivian, saya sudah tidak peduli lagi dengannya. Jika mas Harlan ingin bersama Vivjian, saya persilahkan" Raihan memulai pembicaraan dengan wajah datar.


"Maaf Han, bukan itu yang ingin mas bicarakan" Harlan menarik napas.


"lalu?"


"Tentang Cindy"


"Kenapa mbak Cindy?"


"Cindy minta cerai, karena dia tahu hubunganku dan Vivian.


"Lalu?"


"hmmm bagaimana ya? jadi begini, tujuanku kemari ingin meminta bantuanmu dan Keenar untuk membujuk Cindy agar tidak menuntut cerai. Jujur, aku masih mencintai Cindy".


"Kalau mas mencintainya kenapa mas selingkuh?" tanya Raihan sinis.


"Apa bedanyan denganmu?" Harlan balik bertanya.


"Jelas beda mas. Aku dan Vivian memang pernah menjalin hubungan dimasa lalu, dan saat aku bertemu lagi dengannya ternyata aku masih mencintai Vivian. Jujur saat menikahi Keenar, aku belum mencintainya".


"Lalu kenapa kamu menikahinya kalau kamu tidak mencintainy?"


Raihan tersenyum dan berkata:


"Untuk masalah itu biarlah jadi urusanku. Yang penting sekarang setelah berbagai masalah yang ku buat di rumah tangga kami, aku mendapat banyak pelajaran besar. Yang paling penting sekarang aku mencintai istriku terlebih setelah anakku lahir"


"Sekarang yang jadi masalah adalah kamu mas, kenapa kamu selingkuh jika kamu mencintai mbak Cindy, bahkan sampai Vivian Hamil".


"Aku merasa Vivian bukan hamil anakku, Han."


"Kenapa begitu?" Raihan mengernyit bingung.

__ADS_1


Harlan mengendikkan bahunya..


"Entahlah, hati kecilku berkata kalau itu bukan anakku. Lagipula kau tahu Vivian, dia tidak hanya berhubungan denganku tapi juga dengan banyak lelaki lain di luar sana. Bukankah termasuk denganmu juga? Bisa jadi itu anakmu" Harlan menaikkan sebelah alisny dan tersenyum penuh arti.


"Bukan. Aku juga merasa itu bukan anakku. Dasar Ja****!!" maki Raihan.


Harlan tertawa...


"Jadi menjawab pertanyaanmu tadi, kenapa aku sampai menyelingkuhi Cindy padahal aku mencintainya adalah karena setahun terakhir, Cindy tidak melayaniku sebagaimana biasanya".


"Maksudnya????? "


"Iya, Cindy sering menolak saat aku ajak berhubungan, kau tahulah kebutuhan kita para lelaki"


Raihan mengangguk.


"Tapi kan itu masih bisa dibicarakan mas, tidak perlu sampai selingkuh seperti itu"


"Sudah berulang kali aku mengajak Cindy bicara, tapi selalu gagal. Karena ujung-ujungnya Cindy akan marah-marah dan malah menyuruhku untuk mencari yang lain saja. Nah kaaann... aku hanya menuruti keinginannya saja, mencari yang lain demi kepuasanku" ujar Harlan santai.


Raihan tertawa


"Lelaki Br*ng***!!" maki Raihan.


"Ayolah Han, kita sama-sama br*ng*** disini jadi bantulah aku".


Harlan mulai bercerita:


"Jadi waktu itu aku sedang duduk sendiri di sebuah kafe, sedang memikirkan masalahku dan Cindy. Karena Kafe penuh, banyak pengunjung dan tidak ada tempat duduk tersisa kecuali di mejaku. Pada saat itu Vivian menghampiriku dan meminta izin untuk duduk disitu juga. Aku yang sedang kacau, melihat wanita cantik dan sexy tiba-tiba menghampiriku, terang saja mana mungkin ku tolak kan? saat itu kami hanya mengobrol biasa, setelahnya kami bertukar nomor ponsel. Aku merasa cocok saat mengobrol dengannya. Selanjutnya hubungan kami makin intens dan yaaaa begitulah sampai masalah ini terjadi"


"Darimana mas tahu kalau Vivian juga berhubungan dengan banyak lelaki?"


"Vivian menceritakan kehidupannya padaku, bahkan sampai pekerjaannya yang menjadi simpanan beberapa pria" Jawab Harlan.


"Lalu mas masih mau berhubungan dengannya??" Raihan mengernyit heran.


"Aku sudah terlanjur nyaman dengannya dan aku juga profesional, aku memberinya uang setiap kami bertemu. Ya kamu tahulah yaaa setiap kami bertemu ujungny akan bagaimana".


Raihan menatap Harlan tidak percaya.


"Apa bedanya dengan menyewa pel**** di luaran sana? tidak akan menuntut kalau hamil, tidak merepotkan".


"Sudah ku bilang, aku sudah terlanjur nyaman dengannya. aku merasa dia lebih mengerti aku. Aku tidak peduli apa statusnya. Pel**** di luaran sana belum tentu mengerti dan mau mendengarku bercerita tentang masalahku, bukan hanya masalah rumah tangga tapi juga masalah pekerjaan" sergah Harlan.


"Iya benar, Vivian memang cerdas dan mau mendengar. Aku akui itu" ujar Raihan.

__ADS_1


"Kalau mas merasa nyaman kenapa tidak mas nikahi saja? mas bilang tidak peduli apa statusnya" skak Raihan.


"Tidak. Untuk menikahi jelas tidak. Aku hanya butuh teman bercerita dan teman di ranjang, itu yang tidak aku dapatkan dari Cindy. Kalau menikah tentu harus dengan cinta, dan aku tidak mencintainya"


"Kalau nyaman pasti cinta" Ucap Raihan.


"Tidak, nyaman belum tentu Cinta" sergah Harlan.


"Jadi mbak Cindy minta cerai? baguslah. Kalian berpisah mungkin jalan terbaik, daripada kau terus menyiksa batin mbak Cindy"


"Tolong lah Han, aku tidak ingin menceraikan Cindy. Aku masih mencintainya. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi". Harlan memohon.


"Baiklah nanti aku bicarakan dulu dengan Keenar, langkah apa yang harus kami ambil. Biasanya kan wanita lebih tahu, apalagi pernah mengalami hal yang sama bahkan dengan wanita yang sama".


Harlan tersenyum dan merasa lega.


"Jangan senang dulu mas, belum tentu ini berhasil. Mas tahu sendiri bagaimana kerasnya mbak Cindy"


Ekspresi Harlan langsung berubah setelah mendengar perkataan Raihan.


"Baiklah, aku pasrah saja Han. Aku menurut saja apapun keputusan Cindy nanti" ujar Harlan lemas.


"Ngomong-ngomong bagaimana dengan Vivian?" Harlan menanyakan Vivian.


"Tidak tahu, aku tidak mau tahu lagi tentang Vivian". Jawab Raihan.


"Bagaimana kalau dia menemuimu lagi untuk meminta pertanggung jawaban?"


"Aku tidak peduli. Aku yakin itu bukan anakku, tunggu saja sampai anak itu lahir lalu kita minta tes DNA. Selesai". ucap Raihan santai.


"Lalu kalau hasil tes DNA ternyata itu benar anakmu?"


"Entahlah mas, aku belum siap berpikir ke arah sana" Raihan mengacak rambutnya.


"Lalu bagaimana dengan mas sendiri? Kalau ternyata itu anak mas bagaimana? " lanjut Raihan.


Harlan mengendikkan bahu.


"Entahlah Han, kamu tahu sendiri kalau sampai saat ini aku dan Cindy belum memiliki anak. Jika itu benar anakku..... Ah entahlah, bingung" Harlan terlihat frustasi.


"Kita bingung dengan masalah yang kita buat sendiri" Raihan tertawa.


"Baiklah terima kasih karena sudah membantuku kali ini dan juga sampaikan salamku pada Keenar. Aku pamit dulu, ada meeting siang nanti" Harlan melirik arlojinya dan berpamitan.


"Iya sama-sama mas, semoga kita tidak lagi direpotkan oleh wanita yang sama. Masalah ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya" Raihan menyalami Harlan dan mengantarnya keluar.

__ADS_1


Tepat saat mobil Harlan keluar dari halaman, Keenar muncul dari dalam...


__ADS_2